Rabu, 22 Mei 2013

Ulama dan Penguasa Pada Masa Kejayaan Islam

Ulama dan Penguasa Pada Masa Kejayaan Islam

Ulama dan Penguasa Pada Masa Kejayaan Islam

Ummu Fauzi Untuk Al-Mustaqbal.net
Ummat Islam pernah mencapai masa kejayaannya yang ditandai oleh kemakmuran, keadilan, ketentraman serta kebahagiaan hidup. Kesemuanya itu terwujud berkat naungan hukum Islam yang diterapkan secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Penerapan hukum Islam tersebut tidak bisa dilepaskan dari peranan para pemimpin dan penguasa Muslim yang benar-benar beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. Para pemimpin senantiasa memelihara dan mengikuti ajaran-ajaran Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Para pemimpin selalu menyatu dengan rakyatnya dan membuka diri untuk menerima pengaduan mengenai segala persoalan. Pemimpin yang senantiasa menghormati para ulama, menghargai nasihat dan fatwa mereka. Pemimpin yang tidak hanya bisa memerintah dari belakang meja kekuasaan, tetapi juga melibatkan diri dalam setiap gerakan jihad fie sabilillah. Mereka selalu ingat dengan nasihat Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq r.a ; “Suatu kaum yang meninggalkan jihad pasti akan jatuh hina.”
Oleh karenanya, tidaklah heran kalau pada masa itu para pemimpin kaum Muslimin mampu mencapai kemenangan yang membawa harum nama Islam dan sekaligus membawa mereka pada puncak kejayaan. Kemenangan gemilang yang telah membebaskan manusia dari segala macam bentuk perbudakan dan kejatuhan moral. Sejarah telah mencatat kejayaan tersebut, dan bukti-buktinya masih bisa disaksikan sampai sekarang.Bukti-bukti sejarah itu tidak dapat dipungkiri, kecuali bagi orang-orang  yang merasa dengki terhadap kebangkitan Islam.
Para sejarawan Muslim juga banyak menulis tentang kedzaliman yang dilakukan para penguasa. Selain itu kita juga bisa mempelajari peran para ulama yang tidak tinggal diam terhadap  kedzaliman yang melanda umat. Para ulama serentak bangkit melawan kemunkaran dan kesewenang-wenangan para penguasa yang telah menyalah gunakan kekuasaannya. Apabila ada seorang pejabat yang bertindak merugikan rakyat, maka ulamalah yang pertama kali berkewajiban untuk memperingatkannya. Rasulullah saw bersabda ;
“Tolonglah saudaramu yang dzalim dan yang didzalimi.” Seorang shahabat bertanya ,”Ya Rasulullah, aku menolong orang yang didzalimi dan bagaimana aku akan menolong orang yang dzalim ?” Beliau berkata, “Engkau melarangnya dari perbuatan dzalim, itulah upayamu untuk menolongnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Pada masa kejayaan Islam dahulu, tidak ada seorang penguasa yang menyalah gunakan kekuasaannya tanpa mendapatkan teguran dan peringatan dari ulamanya. Bagaimanapun kedudukannya, apakah dia sultan, khalifah atau pemegang jabatan lain, apabila menyalah gunakan jabatan sehingga merugikan masyarakat, pasti akan mendapatkan peringatan dari para ulama hingga mereka memperbaiki kesalahan dan kembali ke jalan yang benar. Tetapi pada bagian sejarah yang lain, tercatat pula suatu masa dengan penguasa penuh keangkuhan dan mengabaikan kedudukan para ulama. Sikap demikian sebenarnya hanyalah dipengaruhi oleh perasaan gengsi, karena menganggap dirinya lebih berkuasa, dan apa yang diperbuatnya tidak boleh diganggu gugat.
Para ulama, lengkap dengan suka dan duka, menghadapi segala tantangan dalam segala bentuknya tatkala berhadapan dengan penguasa yang dihinggapi penyakit ‘cinta dunia’ (wahn). Para ulama telah berjuang dengan gigih dan penuh keberanian dalam memberikan sumbangan nyata bagi kemaslahatan ummat. Sejarah keberhasilan mereka telah memenuhi lembaran kitab dalam berbagai bahasa . Semua itu membuktikan kepada dunia, betapa besar jasa Islam dan yang telah berkorban bagi kepentingan seluruh ummat. Harus diakui, bahwa syarat untuk mencapai suatu masyarakat yang adil dan makmur, yaitu adanya hubungan kerja sama yang baik antara penguasa dan ulama. Masing-masing saling menghormati , saling memberi dan menerima, serta memahami kedudukannya dalam menegakkan kepentingan umum.
Pada hakikatnya jabatan hakim atau qadhi itu haruslah dipegang oleh ulama yang luas pengetahuannya serta mengerti benar hukum-hukum syari’at, sebagaimana telah dicontohkan sejak jaman Rasulullah saw dan para shahabat. Para ulamalah yang diserahi tugas sebagai hakim yang menyelesaikan setiap perkara baik itu pidana, perdata, atau segala persoalan yang berkenaan dengan warisan dan pernikahan.
Tetapi masa kejayaan itu memudar dengan jatuhnya pemerintahan Islam. Terjadilah perbedaan arah antara para ulama dan penguasa. Penguasa cenderung mengikuti keinginan nafsunya untuk berbuat kemunkaran, sedangkan sebagian ulama tidak memiliki keberanian untuk melarangnya. Maka di saat itulah hukum Islam diputar balikkan dan diganti dengan hukum yang dibuat menurut pemikiran manusia. Meskipun kaum Muslimin telah dijajah oleh penjajah kafir, namun pendirian para ulama masih tetap teguh pada prinsip. Pada saat itu para hakim diserahi tugas mengawasi segala kepentingan Islam yang berkaitan dengan sosial budaya, perdagangan dan ekonomi, pendidikan, politik dalam dan luar negeri, dan masalah-masalah yang berhubungan dengan hukum, sebagaimana yang juga berlaku pada masa kekuasaan Islam. Masalah yang berkaitan dengan hukum perkawinan seperti nikah, talak, rujuk, nafkah dan masalah-masalah rumah tangga lainnya tetap diberlakukan seperti biasa meskipun di sana-sini sudah ada perubahan.
Adapun sektor hukum yang berlaku pada masa pemerintahan Islam dibagi dalam tujuh bagian ;
1.Khalifah sebagai kepala negara.
2.Menteri-menteri (wazir) sebagai pembantu-pembantu Khalifah.
3.Gubernur atau wali sebagai pengatur pemerintahan di wilayah atau daerah tertentu.
4.Hakim (Qadhi) sebagai aparat peradilan.
5. Angkatan Bersenjata sebagai aparat keamanan dan ketertiban.
6.Para pegawai sebagai petugas administrasi negara.
7.Majelis Syura.
Kepala negara atau Khalifah diangkat melalui bai’at, bukan dijabat secara turun-temurun. Sistem pewarisan kekuasaan seperti yang banyak diterapkan pada kerajaan-kerajaan Islam pada masa-masa selanjutnya, sebetulnya sudah menyimpang dari ajaran Islam. Islam mengajarkan bahwa seorang Khalifah atau kepala negara harus dipilih oleh rakyat dan bertanggung jawab kepada rakyat. Dalam pelaksanaannya pembai’atan itu dapat diwakilkan kepada Ahlul-halli wal-Aqdi atau Syaikhul Islam (ulama besar). Walaupun pada hakikatnya Islam sangat menekankan pembai’atan itu dilakukan oleh rakyat secara langsung, tetapi dengan melalui Ahlul-hilli wal-Aqdi atau Syaikhul Islam dapat dihilangkan faham pewarisan dalam jabatan pemerintahan.
Banyak terjadi salah pengertian dalam menilai pemerintahan Islam. Banyak yang menganggap bahwa hukum Islam itu tidak dilaksanakan sepenuhnya. Kesalahan pengertian tersebut dapat dihindari apabila diperhatikan hal-hal sebagai berikut ;
Pertama ; Sejarah pelaksanaan hukum Islam banyak yang ditulis oleh orang-orang yang membenci Islam, atau oleh orang-orang munafik yang berpura-pura masuk Islam karena maksud-maksud tertentu. Pelaksanaan hukum Islam hendaknya dipelajari melalui tulisan-tulisan para sejarawan Muslim yang adil dan jujur, bukan sejarah yang ditulis oleh orang-orang yang senantiasa menitikberatkan pada pertentangan madzhab. Bahkan ada pula sebagian penulis yang tunduk pada keinginan para penguasa, sehingga cenderung mengadakan penilaian secara sepihak. Para penulis sejarah itu hanya melihat dari satu segi, sesuai dengan keinginan penguasa dalam usahanya menyalah gunakan kekuasaan.
Kedua ; Penulisan sejarah sebetulnya tidak dibenarkan hanya bersandar pada perkiraan atau ucapan para pejabat. Demikian pula tidak dibenarkan orang hanya memberikan penilaian dari segi negatif saja dengan kesimpulan, bahwa semuanya negatif. Demikian halnya apa yang dilakukan oleh seorang penulis sejarah, dengan hanya membandingkan sejarah Bani Umayyah dengan Yazid bin Muawiyah dan Al-Hajjaj bin Yusuf. Kemudian menjatuhkan hukuman kepada Bani Abbas dengan berbagai macam tuduhan. Sebenarnya seorang penulis sejarah yang jujur tentulah akan menyoroti segenap persoalan itu dari berbagai segi, baik segi positif ataupun negatifnya, sehingga permasalahannya yang ditulis menjadi jelas.
Ketiga ; Untuk dapat mengetahui keadaan dan kehidupan suatu masyarakat, seharusnya ditinjau dari bentuk yang diterapkan oleh penguasa terhadap rakyatnya, serta cara-cara pelaksanaannya. Untuk mengetahui hal tersebut dapat ditempuh melalui dua jalan ;
a.Mengetahui sumber pemberitaan hukum atau peraturan yang pernah berlaku. Hukum dan peraturan yang pernah berlaku dalam suatu masyarakat dapat difahami dengan mempelajari bagaimana suatu masalah sosial dipecahkan. Sesungguhnya sumber hukum dan peraturan Islam adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah yang diperjelas dalam kitab-kitab fiqih.
b.Mengetahui sumber pemberitaan tentang bagaimana hukum dan peraturan itu dijalankan oleh paa hakim terhadap para pelanggar hukum tersebut untuk mengetahui pelaksanaan hukum tersebut, para penulis sejarah dapat mengkaji melalui hal-hal sebagai berikut ; melalui buku-buku sejarah yang terpercaya, melalui bukti-bukti peninggalan sejarah, dan sumber-sumber pemberitaan yang terpercaya.
Sesungguhnya kedaulatan Islam pada masa kejayaan Islam dahulu seperti halnya bunga yang harum di tengah-tengah masyarakat dunia. Kepadanya tertujulah harapan ummat yang terbelenggu dan tertindas yang ingin bernaung di bawah perlindungannya. Setiap penyelewengan dan pelanggaran yang dilakukan oleh pejabat negara tidak akan luput dari teguran para ulama. Para ulama tidak merasa gentar menghadapi segala macam ancaman, sekalipun membawa resiko kematian. Mereka berjuang karena dan untuk Allah swt, karena merasa berkewajiban melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Tetapi ada juga di antara para ulama yang mau bekerja sama dengan penguasa, yang mana ulama semacam ini tidak merasa segan untuk menukar yang haq dengan yang bathil, membenarkan atau menutup-nutupi kesalahan para penguasa. Ulama semacam ini telah berani menjual agamanya dengan perhiasan kebendaan. Tetapi kejadian seperti itu bukanlah hal yang mengherankan, karena para ulama adalah manusia biasa, bukan malaikat. Mereka bisa salah dan keliru seperti yang disinggung dalam sebuah hadits,
“Setiap anak Adam bisa salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, apabila ia lekas bertaubat.” (Hadits)
Sumber : Buku “Al Islaamu Bainal Ulama Wal Hukkaam” Penulis ; Syekh Abdul ‘Azis Al-Badri. Penerbit ; Maktabah Ilmiyah, Madinah Munawaroh.
Read More..

Kebangkitan Semu Nasionalisme Versus Kebangkitan Shahih Islam

Kebangkitan Semu Nasionalisme Versus Kebangkitan Shahih Islam

Kebangkitan Semu Nasionalisme Versus Kebangkitan Shahih Islam

Nasionalisme adalah faham sesat dan menyesatkan, sebuah isme yang bertentangan dengan Islam. Mempercayai, menerapkan, dan mendakwahkan nasionalisme adalah sebuah perbuatan haram, karena bagi seorang Muslim hanya Islam dien (agama) yang diterima Allah SWT., dan siapa saja yang mengambil dien (agama) selain Islam, tertolak (QS Ali Imran (3) : 85)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bahkan mencela persatuan yang dilandasi fanatisme golongan, baik itu persamaan bangsa, suku, atau warna kulit.
“Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashobiyyah (fanatisme golongan).” (HR Abu Dawud 4456)
Seruan nasionalisme adalah seruan batil, seruan jahiliyah, yang Rasulullah SAW sangat larang untuk dilakukan oleh kaum Muslimin. Beliau SAW., bersabda :
“Barangsiapa berbangga-bangga dengan slogan-slogan jahiliyah, maka suruhlah ia menggigit kemaluan ayahnya dan tidak usah pakai bahasa kiasan terhadapnya,” (Shahih, HR Bukhari dalam Adabul Mufrad [963]).
Seruan Islam Universal, Untuk Seluruh Umat Manusia
Islam telah mengharamkan seruan nasionalisme atau kebangsaan. Seruan Islam adalah seruan yang bersifat universal, untuk seluruh umat manusia, dimana semua manusia berkedudukan sama di mata Allah SWT, dan hanya taqwa sajalah yang membedakan siapa yang lebih mulia di sisi-Nya.
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu  bersuku-suku dan berkabilah-kabilah supaya kamu saling kenal mengenal. . Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu  di sisi Allah SWT adalah orang yang palingber taqwa di antara waktu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat (49) : 13)
Rosulullah SAW bersabda :
“Wahai sekalian manusia, kalian adalah umat yang satu. Bapak kalian adalah satu (Nabi Adam as) Tidak ada kemuliaan orang Arab terhadap orang ‘ajam (bukan Arab) tidak ada kemuliaan orang kulit putih atas orang kulit hitam. Yang menbedakan diantara kalian adalah karena taqwa.”
Jadi, tinggalkanlah seruan nasionalisme, karena memang tidak ada dalam Islam. Seruan nasionalisme hanyalah seruan jahiliyah yang harus segera dienyahkan dan dibuang jauh-jauh. Gantilah seruan nasionalisme tersebut dengan seruan Islam, seruan universal untuk seluruh umat manusia di bawah panji-panji syahadah, La ilaha ilallah Muhamad Rasulullah.
Bersatu Di Bawah Bendera Islam
Kaum Muslimin saat ini, siapa pun dan dimana pun harus bersatu di bawah bendera Islam, bendera tauhid. Bendera Islam itu adalah : Al Liwa dan Arrayah, dan bendera Islam itu lah yang seharusnya diperjuangkan oleh seluruh umat Islam hingga tetes darah yang terakhir, bukan bendera lainnya.
Islam merupakan dien yang lengkap yang mengatur segala aspek hidup salah satunya dalam masalah tata negara, termasuk pengaturan bendera. Bendera Islam telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Bendera Rasulullah terdiri dari:
1. Al-liwa (bendera putih)
2. Ar-rayah (panji hitam)
Di dalam bahasa Arab, bendera dinamai dengan liwa (jamaknya adalah alwiyah). Sedangkan panji-panji perang dinamakan dengan rayah. Disebut juga dengan al-‘alam. Bendera Islam (liwa) di masa Rasulullah saw adalah berwarna putih, berbentuk segi empat dan di dalamnya terdapat tulisan Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah dengan warna hitam. Dan panji-panji perang (rayah) di masa Rasulullah saw berwarna dasar hitam, berbentuk persegi empat, dengan tulisan di dalamnya Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah berwarna putih.
Untuk itu, umat Islam saat ini harus kembali menggunakan dan bersatu di bawah hanya satu bendera, yakni bendera tauhid. Bendera dengan pasukan umat Islam inilah yang akan membebaskan negeri negeri Islam dari penjajahan AS di Iraq, Afgahanistan, dll serta penjajahan Zionis Yahudi di Palestina.
Bendera ini pulalah yang akan mempersatukan Ummat dalam Negara Khilafah dan membebaskan mesjidil Aqsha, dan akan menjadi bendera Negara Khilafah yang di Janjikan oleh Rasulullah, Insya Allah.
Jadi, bendera Islam, Alliwa dan Arrayah-lah yang seharusnya diperjuangkan oleh seluruh umat Islam hingga tetes darah yang terakhir, bukan bendera lainnya.
Wallahu’alam bis showab!
M Fachry
Read More..

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir : Tolak Deradikalisasi, Tegakkan Negara Islam!

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir : Tolak Deradikalisasi, Tegakkan Negara Islam!

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir : Tolak Deradikalisasi, Tegakkan Negara Islam!

Dalam berbagai kesempatan, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir selalu mengingatkan kaum Muslimin akan bahaya deradikalisasi yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Di sisi yang lain, beliau selalu menyemangati kaum Muslimin agar menerapkan syariat Islam secara sempurna, dalam bentuk negara Islam. Berikut rangkumannya.
Tolak Deradikalisasi
Deradikalisasi adalah kemungkaran yang dilaknat oleh Allah SWT. Umat Islam dipaksa untuk bersikap lunak terhadap kemusyrikan dan kemungkaran sehingga pengamalan tauhid mereka bercampur dengan kemusyrikan dan iman mereka bercampur dengan kemungkaran dan ideologi kekafiran. Maka Allah melarang mengikutinya!
Menurut ustadz Abu Bakar Ba’asyir, proyek deradikalisasi yang gencar dilakukan oleh Ansyad Mbai melalui BNPT adalah kemungkaran yang dilaknat oleh Allah SWT.
Beliau mengutip Al Qur’an Surat Al Qolam dalam ayat 8 dan 9. Allah SWT berfirman : “Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).”
Deradikalisasi itu dimaksudkan untuk melunakkan ummat Islam terhadap kemusyrikan dan kemungkaran sehingga pengamalan tauhid mereka bercampur dengan kemusyrikan dan iman mereka bercampur dengan kemungkaran dan ideologi kekafiran. Maka Allah melarang mengikutinya!
Tegakkan Negara Islam!
Ustadz Abu Bakar Ba’asyir juga menegaskan bahwa sejak rezim Soekarno sampai rezim SBY penguasa/pemerintah NKRI adalah toghut yang berperan merusak hakekat kemurnian tauhid dan iman ummat Islam. Maka rusaklah tauhid dan iman mereka, sehingga Islam yang mereka amalkan bercampur aduk antara yang hak (syariat Islam) dengan yang batil (ideologi ciptaan manusia).
Dalam buku beliau yang berjudul Risalah Tauhid & Iman, Ustadz Abu menjelaskan bahwa rezim SBY dan Densus 88 aktif memerangi kemurnian tauhid dan iman dengan cara “deradikalisasi” agar ummat Islam bersikap lunak terhadap kemusyrikan dan kemungkaran sehingga pengamalan tauhid mereka bercampur dengan kemusyrikan dan iman mereka bercampur dengan kemungkaran dan ideologi kekafiran. Maka Allah melarang mengikutinya, sebagaimana QS Al Qolam, ayat 8 dan 9.
Beliau menjelaskan kewajiban umat Islam untuk mengganti sistem toghut ini menjadi sistem Negara Islam agar umat dapat menjalankan tauhid secara murni. Menurut beliau, mustahil ummat Islam dapat menjalankan kemurnian aqidah atau tauhid dan imannya dengan sistem yang syirik seperti sekarang ini.
Beliau juga berpesan kepada ummat Islam agar mengganti rezim toghut ini dengan sistem Islam. Ummat Islam harus memiliki kekuasaan, negara Islam, Daulah Islam, atau apapun namanya, agar syariat Islam dapat diterapkan secara sempurna, dan hal ini adalah tuntutan tauhid.
Strategi untuk mencapai hal itu menurut beliau hanya dua, yakni dakwah dan jihad. Tidak akan pernah bisa negara Islam diterapkan dengan jalan demokrasi yang syirik, karena itu mencapur adukkan antara yang haq (Islam) dengan yang batil (demokrasi). Hanya dengan dakwah dan jihad, ummat Islam dapat mendirikan negara Islam yang kemudian menerapkan syariat Islam secara kaafah (sempurna). Allahu Akbar!(al-Mustaqbal)
Read More..

Jaish Muhajirin wa Ansar Menyeru Hamas untuk Mengakhiri Perlawanan terhadap Mujahidin Salafi Jihadi

Jaish Muhajirin wa Ansar Menyeru Hamas untuk Mengakhiri Perlawanan terhadap Mujahidin Salafi Jihadi

Jaish Muhajirin wa Ansar Menyeru Hamas untuk Mengakhiri Perlawanan terhadap Mujahidin Salafi Jihadi

Elite Janisary untuk Al-Mustaqbal.net

SURIAH – Pada 20 Mei Ibn Taymiyyah Media Center (ITMC) unit media Dewan Syura Mujahidin di Sekitar Baitul Maqdis (DSM), mempublikasi sebuah video di mana Abu Talha al Libi hafidzahullah yang menjabat sebagai staf Syariah dari Kataib Al Muhajirin (Sekarang, Jaish Muhajirin wa Ansar) di bumi Asy Syam, ke forum-forum jihadi dan laman media sosial mereka.
Dalam video berjudul “Takutlah kepada Allah, wahai Hamas” yang diterjemahkan oleh (SITE) Intelligence Group’. Al Libi mengecam keras operasi yang menentang (penangkapan) mujahidin Salafi Jihadi di Jalur Gaza. Al Libi juga menyatakan bahwa Hamas telah melakukan penyiksaan dan menahan anggota mujahidin salafi jihadi.
Al Libi juga mempertanyakan tujuan operasi Hamas. “Apakah untuk kepentingan kalian, atau untuk Islam dan kaum Muslimin? Demi Allah, dengan menahan dan menyiksa mujahidin untuk melindungi Israel bukanlah untuk kepentingan Islam dan kaum Muslimin,” kata Al Libi. Al Libi melanjutkan bahwa aktivitas Hamas sekarang tidaklah sejalan tujuan pendiri Hamas, Syeikh Ahmed Yassin rahimahullah dan Abdul Aziz al Rantisi rahimahullah, dimana keduanya (syahid insyaaAllah) dibunuh Israel pada 2004.
Al Libi juga menegaskan bahwa Hamas telah menyimpang dari jalan Jihad dan dakwah untuk kembali ke tujuan awal, “Jangan sia-siakan amunisi kalian.” Pada bagian akhir video tersebut, Al Libi menyeru pada anggota Hamas untuk “meletakan tangan kalian di tangan para mujahidin dan bersama melawan Israel.”
Ketegangan antara Hamas dan mujahidin salafi jihadi di Jalur Gaza meningkat setelah pembunuhan Hithem Ziad Ibrahim Masshal rahimahullah oleh Israel pada 30 April. Keesokan harinya pada 1 Mei, ITMC mengeluarkan pernyataan di forum jihadi bahwa Masshal dijebak oleh elemen Hamas sebagai umpan “di atas piring emas” untuk Israel.
Dewan Syura Mujahidin di Lingkungan Yerusalem (MSC) adalah gabungan beberapa kelompok mujahidin salafi jihadi namun tidak terbatas pada kelompok Jihad dan Tauhid di Yerusalem dan Anshar al Sunnah yang bergerak di Jalur Gaza. Sheikh Anas Abdul Rahman hafidzahullah, salah satu pemimpin, mengatakan bahwa tujuan kelompok jihadi adalah untuk “melawan Yahudi dan mengupayakan penerapan syariat Islam tidak hanya di Palestina namun juga di seluruh dunia.”
Kataib Al Muhajirin Bergabung Dengan Beberapa Brigade Mujahidin Suriah
Kataib Al Muhajirin adalah unit mujahidin yang dibentuk oleh mujahidin dari luar Suriah yang berjihad di Suriah dan berafiliasi dekat dengan Jabhat Al Nusrah, afiliasi Al Qaeda di Suriah lainnya. Abu Umar As Syisani hafidzahullah adalah komandan Brigade Muhajirin, seorang mujahidin dari Imarah Islam Kauskasus.
Pada bulan Maret 2013, sebuah unit dari Mujahidin Kataib al-Muhajirin atau brigade migran yang berada di bawah komando Abu Umar As Syisani hafidzahullah bergabung dengan beberapa brigade Mujahidin Suriah, termasuk brigade Khattab dan Jaish Muhammad (shalallahu alaihi wasalam), setelah itu diputuskan untuk mengorganisasikan ulang struktur brigade tersebut.
Sehingga di umumkan bahwa brigade yang baru ini bernama Jaish al-Muhajirin wa Ansar, sebuah brigade gabungan antara mujahidin yang berasal dari luar Suriah dan mujahidin yang asli berasal dari suriah.
Pasukan gabungan yang baru dibentuk ini beroperasi terutama di provinsi Aleppo. Hari ini menjadi salah satu kelompok yang paling menonjol dalam Jihad Suriah. Pasukan muhajirin memiliki lebih dari 1000 Mujahidin, yang terdiri dari relawan muslim dari berbagai negara, termasuk dari Emirat Kaukasus dengan dominasinya.
sumber : kdi/lwj/kc
Read More..

Nasehat Kepada Ikhwan Tauhid : Perihal Fenomena Pengambilan Harta Orang Kafir

Nasehat Kepada Ikhwan Tauhid : Perihal Fenomena Pengambilan Harta Orang Kafir

Nasehat Kepada Ikhwan Tauhid : Perihal Fenomena Pengambilan Harta Orang Kafir

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘aalamiin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Imamul Mujahidin, keluarga, para sahabat dan para pengikutnya sampai hari kiamat…
Ini adalah kepedulian pena dan kepedihan penjara yang saya tuangkan dalam tulisan sebagai bentuk kepedulian terhadap ikhwan saya serta sebagai ketulusan terhadap da’wah, para da’i, jihad dan mujahidin.
Sesungguhnya da’wah tauhid adalah da’wah yang suci….. Walaupun benar bahwa keterjagaan darah dan harta dikaitkan terhadap perealisasian tauhid secara dhahir, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam: “Barang siapa mengucapkan laa ilaaha illallaah dan dia ingkar terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Alloh, maka terjagalah harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya atas Alloh Subhaananahu wa Ta’ala. (HR. Muslim),” namun penempatan suatu hukum bila bukan pada tempatnya, maka mafsadahnya akan lebih besar daripada mashlahatnya.
Sesungguhnya da’wah tauhid adalah da’wah yang suci….  Kehalalan harta itu bukanlah sesuatu yang harus atau wajib diambil, namun hanya sekedar mubah dan itupun harus dengan mempertimbangkan kondisi negeri dan juga mafsadat yang ditimbulkan. Kita hidup di negeri yang mana tauhid dan muwahhidin adalah sangat terasing, semestinya da’wah tauhidlah yang digencarkan. Lihatlah siroh nabawiyyah… Ketika rasulullah telah hijrah dan jihad sudah tegak di Madinah,  terjadilah peperangan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya melawan kafir Quraisy. Di sekitar Madinah banyak suku-suku yang mayoritas anggotanya masih kafir, sedang sebagiannya sudah masuk Islam dan sebagiannya tinggal di tengah mereka dan di kota Mekkah pun masih banyak kaum muslimin yang belum hijrah, namun tidak pernah sampai kabar kepada kita dalam satu atsar pun bahwa ada orang muslim yang mengambil harta orang kafir tetangganya atau yang sama-sama hidup di bawah naungan penguasa kabilah yang kafir, karena hal itu mendatangkan mafsadah terhadap da’wah yang membuat manusia antipati dengannya dan juga mafsadah bagi dirinya andai ditangkap penguasa kafir akibat pengambilan harta itu. Bagaimana mungkin orang muslim di sana saat itu mengejar hal yang mubah yang bisa mendatangkan mafsadah bagi da’wah dan diri, padahal kewajiban penampakkan tauhid di tengah orang-orang kafir itu belum bisa dilakukannya… Begitu juga realita kita di bawah payung penguasa murtad masa kita ini, di mana untuk menampakan tauhid di hadapan ummat saja banyak yang belum sanggup, tapi anehnya ada sebagian  pemuda yang hanya berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan harta orang kafir, sehingga saat dilakukan, maka yang terjadi adalah sum’ah (citra) dan kesucian da’wah tauhid ini tercoreng dan kaum muslimin banyak yang antipati dengan da’wah tauhid ini akibat tindakan segelintir mereka yang kurang wawasan. Akibatnya… yang memikul beban berat tindakan itu adalah para du’at tauhid, merekalah yang selalu menjadi sorotan dan menuai fitnah serta cacian… Bila para pemuda yang gegabah itu berdalil dengan kisah Abu Bashir semestinya mereka terapkan pada kondisi yang sama dengan kondisi Abu Bashir, yaitu beliau dan sahabatnya memiliki wilayah otoritas sendiri yang di luar penguasaan orang-orang kafir…
Haruslah kita ingat bahwa hal yang hukumnya mubah itu bila penempatannya tidak tepat, maka malah menjadi buruk dan memperburuk…. Syaikh ‘Abdullah ‘Azzam, ketika ditanya tentang tawanan wanita kafir komunis bangsa Afghan di Afghanistan; Apakah mereka boleh diperbudak dan digauli oleh mujahid yang mendapatkannya? Karena dalam hukum Islam, tawanan perang wanita kafir asli boleh dijadikan budak dan digauli, namun Syaikh ‘Abdullah ‘Azzam menjawab bahwa haram melakukan hal itu karena besar madlaratnya kepada mujahidin Arab di mana bangsa Afghan (mujahidin mereka) akan marah besar melihat anak bangsanya dijadikan budak, padahal secara teori fiqh itu adalah mubah, tapi beliau mengatakan haram dilakukan dalam kondisi tersebut, karena hal yang mubah kalau menghantarkan kepada mafsadah, maka menjadi haram pada kondisi itu.
Berikut ini adalah petikan ucapan beliau dari kitabnya “An Nihayah wal Khulashoh” yang disebarkan oleh Forum Islam at-Tawbah: [ (Ada, ed.) Orang yang datang kepada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz lalu mengatakan: Wahai Syaikh ‘Abdul ‘Aziz, bolehkah kita menawan wanita-wanita komunis -menjadikannya sebagai budak-. Tentu beliau menjawab berdasarkan teori.. “ya, boleh menjadikan mereka sebagai budak”. Seandainya ia datang dan menanyakannya kepadaku, tentu akan aku jawab: Haram hukumnya menjadikan wanita-wanita komunis itu sebagai budak... Kenapa?! Karena saya mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. Saya tahu bahwa seandainya ada seorang wanita dari Jalalabad yang menjadi istri orang komunis lalu dijadikan budak tawanan oleh seorang Arab, pasti seluruh orang Arab akan dibantai… Kenapa?! karena wanita yang menjadi istri orang komunis itu adalah seorang wanita yang berasal dari Kabilah si Fulan, yang mana kebanyakan orang-orangnya adalah mujahidin. Bagaimana puteri (suku) mujahidin menjadi sesuatu yang diincar dan dicuri oleh orang Arab dan dijadikannya sebagai budak tawanan?!! Hukumnya secara teori boleh karena dia adalah mujahid. Akan tetapi Syaikh (‘Abdul ‘Aziz bin Baz) tidak memahami tabi’at mereka... tabi’at permasalahannya. Ini adalah sedikit (maksudnya: urusan yang sepele, ed.) dan  (sedangkan, ed.) kehormatan sangatlah mahal, yang lebih mashlahat dalam keadaan seperti ini adalah hukumnya haram dan dilarang dengan alasan kemashlahatan yang syar’i...
Sesungguhnya da’wah tauhid ini adalah da’wah yang suci… Menjaga kesucian da’wah tauhid adalah kewajiban semua muslim, sedangkan harta orang kafir harbi hanyalah berstatus halal, maka bukan termasuk manhaj Rasulullah sikap orang yang mengejar hal mubah dengan menjadikan kewajiban tercoreng... Perhatikanlah Syaikh ‘Abdullah ‘Azzam tadi yang menfatwakan hal mubah menjadi haram di saat mendatangkan mafsadah, padahal itu di front perang terbuka, maka apa gerangan dengan kondisi yang masih buram dan fenomena kebodohan yang hampir merata di tengah kaum muslimin...??????
Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy fakkallahu asrah berkata dalam Waqafaat-nya: [[Para du’at dan mujahidin tidak akan mencapai kemenangan yang mereka inginkan dan tidak akan menghadirkan manfaat bagi ummat mereka dan jihad mereka sebagaimana yang mereka inginkan sampai mereka meningkat dari level penglihatan kepada hal yang boleh dan yang tidak boleh saja; kepada level perbandingan antara hal yang manfaat dan yang tidak manfaat dari hal yang boleh itu pada waktu ini, apa yang rajih dan yang marjuh darinya, apa yang utama dan yang tidak utama darinya, hal-hal yang mashlahat dalam amal yang telah dipilih serta hal-hal yang rusak yang beraneka ragam dari hal-hal yang boleh itu. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus,” (QS. Al Isra: 9), yaitu yang lebih mashlahat. Dan firman-Nya Ta’ala:
وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ
“Ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu,” (Az Zumar: 55).
Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengikuti amalan yang paling mashlahat, paling baik dan paling bermanfaat bagi dien kita. Dan firman-Nya Ta’ala:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya”, (Az Zumar: 18)
Saya mengingatkan bahwa jihad dan nushrah dien serta kaum muslimin ini wajib dikendalikan dengan batasan-batasan syari’at seraya di dalamnya memperhatikan fiqh waqi’ (kepahaman terhadap realita) dan mashlahat Islam dan kaum muslimin dengan mengedepankan sesuatu yang paling bermanfaat bagi dienullah dan sesuatu yang paling memukul dan paling membuat geram musuh-musuh Allah. Maka agar sang mujahid dengan jihadnya mendapatkan ridha Allah, maka dia wajib menggabungkan antara pemahaman terhadap tujuan-tujuan syari’at pada faridhah jihad dengan penguasaan pengetahuan terhadap realita di mana ia hidup di dalamnya, agar ia bisa memperhitungkan apa yang paling bermanfaat bagi jihad dan kaum muslimin serta apa yang paling memukul bagi musuh-musuh dien ini,[1] itu dikarenakan al haq itu sebagaimana apa yang telah dijelaskan oleh ulama kita adalah tidak tercapai kecuali dengan menggabungkan antara dua pemahaman ini, sedangkan kebodohan terhadap salah satu dari dua fiqh (pemahaman) ini adalah (mengakibatkan,ed.) penyia-nyiaan terhadap banyaknya nyawa orang-orang yang tidak berdosa, bahkan juga nyawa para mujahidin serta pembuangan sia-sia bagi kekuatan-kekuatan kaum muslimin dan penceceran bagi hasil-hasil jihad mereka, maka bagaimana bila digabungkan antara dua kebodohan ini semuanya??…]]
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sudah memberi contoh kepada kita dalam hal ini: Ketika terjadi peristiwa futuh Mekkah, saat Quraisy dan Mekkah sudah di bawah genggaman beliau dan Ka’bah pun di bawah kekuasaan beliau, sedangkan Ka’bah dulu telah dibangun Quraisy tidak tepat pada pondasi yang didirikan oleh Nabi Ibrahim dan mengembalikannya kepada pondasi Ibrahim adalah hal utama yang lebih dari sekedar mubah, tapi karena beliau khawatir Quraisy lari lagi dari tauhid maka beliau tidak merenovasi Ka’bah sesuai pondasi Ibrahim dan beliau berkata kepada ‘Aisyah dalam hadits Bukhari: “Seandainya kaummu tidak baru masuk Islam, tentu aku robohkan Ka’bah dan aku jadikan lagi di atas pondasi Ibrahim.” Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Meninggalkan sebagian hal-hal yang mandub (sunnah) karena hal yang menyelisihinya yang kuat adalah lebih utama.” (Ar Risalah Muniriyyah dari fatwa Syaikh Abdullah Azzam, MTJ) dan bahkan Al Bukhariy membuat bab dalam Shahih-nya: (Bab: Imam meninggalkan hal afdlal lagi terpilih karena khawatir membuat manusia lari). Perhatikanlah wahai ikhwan, beliau shallallahu ‘alayhi wasallam meninggalkan sesuatu yang afdlal, karena khawatir manusia lari dari tauhid…. padahal itu berkaitan dengan Ka’bah, Baitullaah…
Dalil lain: Kita telah mengetahui bahwa menghina Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam adalah kekafiran dan hukuman bagi pelakunya adalah dibunuh, akan tetapi Rasul diberi hak BOLEH memaafkan orang yang menghina beliau. Pada suatu ketika ada orang yang menghina beliau dan para sahabat memandang baik untuk membunuhnya, akan tetapi beliau berkata:
دعهم ، يتحدث الناس محمدٌ يقتل أصحابه
“Biarkan mereka, (agar) manusia (tidak) membicarakan Muhammad membunuhi para sahabatnya”. (HR. Bukhari-Muslim)
Beliau meninggalkan yang mubah bagi beliau demi menjaga pembicaraan manusia yang negatif tentang beliau, karena orang munafiq yang menghina beliau itu dalam pandangan orang- orang luar adalah dianggap sahabat beliau. Maka dalam hal ini, beliau meninggalkan sesuatu yang MUBAH demi menjaga sum’ah/ citra/ kehormatan da’wah… Jadi jelaslah dalam menyikapi yang mubah itu harus mempertimbangkan hal-hal lain. Aktivis da’wah itu bukan hanya harus tahu status halal haram, tapi harus bisa memilah di antara hal yang halal itu apakah mendatangkan mafsadah atau tidak… jadi jangan asal bicara: ini kan halal..!!!  Ucapan semacam itu bukan lahir dari ilmu aktivis da’wah tapi dari ilmu orang umum,  orang awam… Orang yang mengejar-ngejar harta orang kafir dengan alasan mubah lalu dengan tindakannya itu membuat citra da’wah menjadi buruk dan ummat menjadi lari dari da’wah, maka dia sungguh akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah karena telah menjauhkan ummat dari tauhid dan menjadi sebab mereka mencela da’wah ini…
Berikut ini adalah cuplikan yang sangat berharga dari nasehat Syaikh Al Maqdisiy kepada ikhwan muwahhidin di Belgia, yang mana di sana muncul fenomena pengambilan harta orang kafir dengan dalih ghanimah dan fa’i. Beliau berkata: […Oleh sebab itu, maka di dalam bidang interaksi (ta’amul) dalam ladang da’wah dengan manusia, maka saya tidak menganjurkan untuk berpegang kepada dhahir definisi fiqh taqlidiy/klasik terhadap pembagian manusia menjadi harbiyyin dan mu’ahidin atau dzimmiyyin kemudian berinteraksi dengan manusia di atas dasar tekstualnya dan hukum-hukum cabangnya yang termaktub dalam kitab-kitab fiqh dalam kondisi lenyapnya Negara Islam yang di dalam payungnya diberlakukan pembagian-pembagian (manusia) ini dengan gambarannya yang sempurna dan sebenarnya; dan ia adalah suatu yang menyibukkan sebagian para pemuda di Barat dalam mencari-cari permasalahan ghanimah atau menyibukkan diri dengan pencurian bahkan sabyu (perbudakan wanita dan anak-anak orang kafir) dan yang serupa itu sebagaimana yang sampai beritanya kepada kami, dan (justeru) menelantarkan da’wah dan pembelaan terhadap dien serta beramal serius untuknya; sehingga mereka itu dengan tindakan-tindakannya tadi malah mendatangkan mafsadah dan kemungkaran terhadap diri mereka dan terhadap Islam.
Namun dalam kondisi lenyapnya Negara Islam ini saya menasehatkan agar berinteraksi dengan manusia sesuai dengan siyasah syar’iyyah, mashlahat Islam dan kaum muslimin serta mashlahat da’wah sesuai dengan batasan-batasan syar’iyyah dan mempertimbangkan kondisi istidl’af (ketertindasan) kaum muslimin. Barangsiapa di antara orang kafir itu dia tergolong yang tidak memusuhi kaum muslimin dan tidak menampakkan hujatan terhadap dien mereka, maka tidak ada halangan dari berbuat baik kepadanya dan berinteraksi bersamanya dengan hal yang bisa membuatnya tertarik kepada dienul Islam dan menda’wahinya kepada Islam. Dan barangsiapa di antara orang kafir itu dia tergolong yang menghujat Islam dan memperolok-olokkan syari’atnya serta membuat makar buruk terhadap pemeluknya sedangkan kaum muslimin di negerinya itu lemah dari menanggulanginya dengan apa yang semestinya karena kelemahan mereka dan ketidakberdayaan mereka, maka berpaling darinya dan berlepas diri darinya dan dari perbuatannya, dan ditampakkan kepadanya keberlepasan diri atau permusuhan sesuai kemampuan, dan dibenci serta dijauhi, dan bila dia itu tergolong orang yang layak diajak diskusi maka diajak diskusi dan dipatahkan (hujjahnya), dan bila ia itu pedagang maka diboikot dan dihajr dan seterusnya…] (http://wp.me/pm3Zd-oL)
Demikianlah nasehat bagi orang-orang yang intima kepada da’wah mubarakah ini namun terjatuh ke dalam kekeliruan tadi (yaitu menyibukan diri dengan harta orang kafir harbiy…) Maka ambillah faidah darinya… perbanyaklah mengkaji sirah nabawiyyah, agar kita memahami bagaimana perjalananan Rasul dan para sahabatnya dalam berucap dan beramal… Sesungguhnya da’wah tauhid ini adalah da’wah yang suci……..
Kemudian kepada orang-orang yang senang menghujat dan menjelek-jelekan para muwahhidin yang terjatuh ke dalam kekeliruan tersebut atau yang melakukan ‘amaliyyat ijtihadiyyah (oprasi-oprasi jihad yang sifatnya ijtihadiy) yang tidak mereka sepakati, maka hendaklah mereka bersikap adil, karena telah jelas bahwa para penguasa thaghut dan aparatnya adalah lebih buruk dari itu dalam segala sisinya, selain kekafiran dan kemusyrikan mereka, dengan gaya kapitalisnya, mereka tak henti-henti menjarah dan merampas harta ummat ini, baik secara paksa maupun dengan dalih undang-undang yang menghalalkan pengambilan harta ummat tanpa hak, di samping mereka juga memonopoli kekayaan alam yang Allah sediakan bagi kaum muslimin.
Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy fakkallahu asrah dalam kitabnya Ar Risalah Ats Tsalatsiniyyah berkata: [...di antara yang wajib diketahui dan diperhatikan serta dijaga di sini adalah bahwa mayoritas metode-metode yang dicela atas sebagian du’at tauhid itu terkubur beserta kekeliruan-kekeliruan lainnya di dalam sisi yang dibawa oleh para pemuda itu, berupa pembelaan terhadap tauhid, penegakan akan hal itu serta sikap bara’ah dari syirik dan para pelakunya. Ini adalah dasar penilaian kami terhadap ahlut tauhid, dan tidak halal sama sekali mengenyampingkan keutamaan yang agung ini, dan bagian yang penting yang kartu lembarannya melebihi berat puluhan lembaran dosa, maksiat dan kesalahan, dengan sebab sebagian kekeliruan yang mana ia itu termasuk hal furu’, dan itu bisa hilang bagi orang-orang yang ikhlas dengan pencarian ilmu, pengalaman dan kematangan serta dengan nasihat dan pembenahan dari orang-orang yang bertanggung jawab atas pengarahan mereka atau orang-orang yang menangani urusan mereka atau orang-orang yang bergaul langsung dengan mereka. Itu adalah sesuatu yang selalu kami upayakan dengan karunia Allah. Dan lembaran ini membahas bagian dari hal itu, sebagaimana yang engkau lihat….]
Demikian risalah ini saya tulis seraya memohon taufiq, pertolongan dan ampunan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, semoga bermanfaat….
Alhamdulillaahirrobbil ‘aalamiin…
LP Kembang Kuning – NK
2 Rajab 1434 H
Abu Sulaiman

[1] Dan dalam keharusan menggabungkan antara pemahaman terhadap syari’at dengan pemahaman terhadap waqi’ (realita), agar tetap pada al haq, silahkan rujuk muqadimmah Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah dalam fatwanya tentang Tartar dan ucapan muridnya Ibnul Qayyim dalam (‘A’lamul Muwaqqi’in).
Read More..

Kesadisan Densus 88!! Basari Disiksa & Dianiaya Hingga Meninggal Dunia

Kesadisan Densus 88!! Basari Disiksa & Dianiaya Hingga Meninggal Dunia

BATANG (voa-islam.com) -  Kesedihan yang begitu mendalam, terlihat sangat jelas sekali dimata keluarga maupun kerabat Basari Rahman alias Ahmad Basari ketika melihat jenazah Basari. Pasalnya, tubuh Basari hancur dan rusak di bagian pulung ati (dada bagian depan) hingga kepala, baik depan maupun belakang.
Duka yang mereka alami juga bertambah ketika media massa melalui sumber dari kepolisian menyebutkan bahwa Basari adalah seorang perampok. Tak hanya itu saja, media massa yang diharapkan bisa menjadi penyeimbang informasi dari dua belah pihak, seolah-olah hanya menjadi “kepanjangan tangan” dan alat Densus 88 dalam perang melawan terorisme.
Penyebab kematian para aktivis Islam yang baru diduga sebagai teroris, termasuk penyebab kematian Basari juga bersumber hanya dari satu sisi saja, yakni kepolisian. Kepolisian merilis penyebab kematian para terduga teroris itu setelah "baku tembak" dengan Densus 88.
...Dada ke bawah hingga kaki masih utuh dan bagus. Namun, dada keatas hingga kepala hancur dan rusak...
Namun, ketika ada sebuah fakta yang terungkap bahwa ditubuh jenazah Basari tidak satu-pun bekas luka tembakan, media massa seolah diam saja dengan fakta dan realita yang ada. Bermula dari hal inilah, keluarga dan kerabat Basari sangat menyayangkan sikap media massa dalam memberitakan kasus terorisme.
Dari pihak keluarga dan beberapa ikhwan saat menjemput dan berhasil melihat jenazah Basari di RS Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, mereka mengungkapkan bahwa tubuh jenazah hancur dan rusak dibagian dada hingga kepala. Sedangkan bagian dada ke bawah hingga kaki masih utuh dan bagus.
“Dada ke bawah hingga kaki masih utuh dan bagus. Namun, dada keatas hingga kepala hancur dan rusak,” kata SDN, kerabat Basari kepada voa-islam.com sebelum jenazah dimakamkan, Selasa (21/5/2013) pagi.
...Pulung ati (dada depan -red) ini lebam-lebam seperti terkena hantaman gagang senjata laras panjang. Bahunya sebelah kanan itu juga putus urat nadinya dan ada bekas sobek dikulitnya karena sayatan. Tulang tengkuknya (tulang leher belakang -red) itu juga hancur, sebab waktu saya pegang kok tulangnya sudah gak ada...
SDN menambahkan, bahwa kerusakan yang ada ditubuh Basari bukan lantaran terkena sebuah ledakan bom. Tapi, SDN menduga kerusakan itu diakibatkan siksaan dan penganiayaan yang dilakukan Densus 88 terhadap kerabatnya tersebut. Jadi, Basari sudah ditangkap dalam keadaan hidup, lalu di interogasi sambil disiksa hingga meninggal.
“Kemarin waktu saya di RS Polri juga sempat tanya-tanya dengan dokter yang ada disana. Menurutnya, kerusakan itu tidak diakibatkan karena ledakan bom,” ujarnya.
Lebih lanjut, SDN lalu menceritakan secara rinci kerusakan yang ada di tubuh Basari yang diperkirakan oleh para kerabat dan tetangga Basari, merupakan penyebab dirinya meninggal dunia.
...Bagian wajah sebelah kiri juga rusak dan mengelupas, telinganya sebelah kanan juga sama, bahkan darahnya masih mengalir terus dari situ (telinga -red). Giginya itu habis dan rusak, hanya tinggal satu atau dua gigi saja yang tersisa...
“Pulung ati (dada depan -red) ini lebam-lebam seperti terkena hantaman gagang senjata laras panjang. Bahunya sebelah kanan itu juga putus urat nadinya dan ada bekas sobek dikulitnya karena sayatan. Tulang tengkuknya (tulang leher belakang -red) itu juga hancur, sebab waktu saya pegang kok tulangnya sudah gak ada,” ungkap SDN.
“Bagian wajah sebelah kiri juga rusak dan mengelupas, telinganya sebelah kanan juga sama, bahkan darahnya masih mengalir terus dari situ (telinga -red). Giginya itu habis dan rusak, hanya tinggal satu atau dua gigi saja yang tersisa,” tandasnya. [Khalid Khalifah]
Read More..

Polisi Pembohong!! Tak Ada Satu-pun Bekas Luka Tembakan Ditubuh Basari

Polisi Pembohong!! Tak Ada Satu-pun Bekas Luka Tembakan Ditubuh Basari

BATANG (voa-islam.com) -  Keluarga korban dan para ikhwan yang menjemput jenazah Basari Rahman alias Ahmad Basari di RS Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur menyatakan bahwa kepolisian dan Densus 88 telah berbohong besar soal penyebab kematian Basari.
Pasalnya, tak ada satu bekas luka tembak-pun yang ada ditubuh Basari. Hal ini tentu saja bertolakbelakang dengan pernyataan Mabes Polri melalui Karo Penmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Ammar dalam jumpa pers di kantornya, Senin (13/5/2013). Boy menyebutkan bahwa para jenazah aktivis Islam yang baru diduga sebagai teroris itu meniggal setelah terjadi baku tembak dengan Densus 88.
...Tak ada luka tembak. Satupun tak ada bekas luka tembakan di tubuh jenazah (Basari -red)...
“Tak ada luka tembak. Satupun tak ada bekas luka tembakan di tubuh jenazah (Basari -red),” kata SDN, kerabat Basari kepada voa-islam.com sesaat setelah jenazah Basari tiba dirumahnya di dukuh Buntusari, Rt 03/Rw 02, desa Sidorejo, kecamatan Gringsing, kabupaten Batang, Jateng pada Selasa (21/5/2013) dinihari.
Hal senada juga di ungkapkan oleh tetangga Basari. Pak Joyo (nama samaran), tetangga dekat Basari ini juga berkomentar soal penyebab meninggalnya Basari. Menurutnya, penyebab kematian Basari seperti yang diberitakan media massa pada umumnya sungguh menyesatkan.
...Wong jenazahe ora ono tembakane kok neng berita jarene matine bar tembak-tembakan (Wong jenazah Basari tidak ada luka tembaknya kok di berita kabarnya meninggalnya habis terjadi baku tembak -red)...
“Wong jenazahe ora ono tembakane kok neng berita jarene matine bar tembak-tembakan (Wong jenazah Basari tidak ada luka tembaknya kok di berita kabarnya meninggalnya habis terjadi baku tembak -red),” ujarnya dengan penuh haru.
Sebagaimana diberitakan media massa, Basari adalah salah satu aktivis Islam yang dibunuh Densus 88 di rumah kontrakan milik almarhum Suswandi di Dusun Kembaran, Desa Ungaran, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Rabu (8/5/2013) malam. Selain Basari, ada dua orang aktivis Islam lagi yang juga dibunuh Densus 88 di Kebumen. [Khalid Khalifah]
Read More..