Rabu, 19 Oktober 2011

Ambon kembali rusuh, pihak Kristen gunakan panah besi

AMBON – Ambon kembali rusuh! Setelah berulang kali memprovokasi dan menyusup ke kampung Muslim, hari ini, Kamis (20/10/2011) sekitar pukul 03.30 WIT kaum salibis memprovokasi kaum Muslimin dengan melakukan pemukulan yang berakhir dengan bentrok dan perang senjata. Pihak Kristen bahkan menggunakan panah besi untuk menyerang kaum Muslimin yang jarak tembaknya bisa mencapai 50 – 70 meter. Inikah yang dikatakan kondisi Ambon sudah kondusif?
Kaum salibis terus saja memprovokasi
Belum hilang dari ingatan kaum Muslimin kerusuhan Ambon tanggal 11 September 2011 lalu, yang telah menewaskan 8 orang kaum Muslimin, ratusan luka, dan ratusan rumah kaum Muslimin terbakar di Waringin dan Mardika. Hari ini, Kamis (20/10/2011) kaum Nasrani kembali berulah, sekitar pukul 03.30 WIT. Mereka menyerang kaum Muslimin yang bermukin di Jalan Baru. Mereka mengawali penyerangan dengan melakukan provokasi terhadap kaum Muslimin dengan cara memukul pemuda Muslim yang sedang jaga malam.
Berawal dari pemukulan, berlanjut dengan saling memaki antar dua kelompok sampai akhirnya terjadi bentrokan dengan menggunakan senjata berupa batu, parang, dan panah besi. Anak-anak panah besi tersebut berbentuk runcing ujungnya yang diluncurkan dengan alat yang menyerupai ketapel. Jarak tembak panah besi tersebut bisa mencapai 50 – 70 meter.
Anak-anak muda Muslim yang berkumpul di jalan Baru ketika terjadi bentrokan tidak dari 50 orang. Adapun massa Kristen dalam hitungan beberapa menit saja telah berkumpul lebih dari 300 orang. Mereka terkonsentrasi dari Tugu Trikora, Pohon Pule, sampai jalan Baru. Dengan jumlah yang tidak seimbang terjadilah bentrokan antar 2 komunitas massa tersebut. 2 orang Muslim terluka dalam bentrokan tersebut.
Massa Kristen yang berkonsentrasi di Tugu Trikora sampai jembatan Pohon Pule terus melakukan penyerangan kea rah kaum Muslimin, sampai akhirnya massa Kristen berhasil membakar 3 bangunan milik kaum Muslimin. Ke-3 bangunan milik kaum Muslimin yang dibakar oleh kaum Salibis adalah : Toko Kayu Liani, Salon, dan tempat pembuatan kerajinan Gypsum. Ketiga tempat tersebut sekarang diharis dengan police line.
Massa Kristen juga menyusup dan memprovokasi di Mardika dan Talake
Bersamaan dengan terjadinya bentrokan di wilayah Jalan Baru sampai Pohon Pule, kaum nasrani juga menyusup dan memprovokasi di daerah Muslim lainnya. Di Talake pihak Kristen mencoba memprovokasi kaum Muslimin dengan cara melempari pemukiman kaum Muslimin dengan batu. Sedangkan di Mardika, beberapa orang Kristen dengan berkendaraan sepeda motor mencoba menyusup ke daerah Muslim. Ketika dipergoki oleh masyarakat Muslim, mereka melarikan diri ke arah kampung Kristen.
Kejadian di 3 tempat yang berbeda tersebut terjadi secara bersamaan waktunya, yaitu antara pukul 03.30 WIT. Maka nampak dengan jelas bahwa pihak Kristen telah melakukan perencanaan dengan matang untuk menyerang secara serentak ke wilayah-wilayah Islam. Ternyata situasi dan kondisi di Ambon belum aman, dan kondusif sebagaimana digembar-gemborkan selama ini. Mudah-mudahan kaum Muslimin tetap waspada dan mempersiapkan diri untuk mengantisipasi serangan susulan dari pihak salibis. Allahu Akbar!

Pria bersenjata api dan sniper Kristen bersiaga di Ambon

Menyusul bentrokan terbaru di Ambon hari ini, Kamis (20/10/2011) pukul 03.30 WIT, di Jalan Baru, nampaknya sudah direncanakan dengan matang oleh pihak Kristen. Hal ini diperjelas dengan cepatnya massa Kristen berkumpul dan persenjataan yang dipergunakan. Senjata api dan sniper pun berkeliaran. Akankah kaum Muslimin Ambon kembali menjadi korban kedzaliman pihak salibis?
Pihak Kristen Ambon sudah merencanakan?
Bentrokan antar massa Muslim dan Kristen di Jalan Baru, Ambon, pada hari ini, Kamis (20/10/2011) sekitar pukul 03.30 WIT, sepertinya sudah direncanakan oleh pihak Kristen dengan matang dan terorganisir dengan rapi. Hal ini bisa dlihat dari kronologis kejadian di TKP, banyaknya massa Kristen yang berkumpul dengan cepat hanya dalam hitungan menit dan persiapan mereka dengan perlengkapan perang yang memadai untuk ukuran bentrok antar warga. Massa Kristen sebagian besar mempersenjatai diri dengan panah besi, batu, dan parang.
Koresponden Arrahmah.com melaporkan bahwa berdasarkan pengamatan langsung di TKP, ketika terjadi bentrokan memang yang tampak massa Kristen bersenjatakan batu, parang, dan panah besi saja. Namun, sebenarnya tidak demikian. Pasukan Kristen yang berada di garis depan memang bersenjata batu, parang, dan panah besi, namun pada bagian belakang pasukan Kristen ada beberapa pria yang membawa senjata api laras panjang dan pendek.
Keterangan dari saksi mata yang bernama Fajar (nama samaran) yang berada di lokasi kejadian mengatakan bahwa ia melihat ada dua orang berpakaian hitam membawa senjata api. Tidak jelas senjata api jenis apa yang dibawa karena suasana masih gelap. Ke-2 pria tersebut berada di dekat tempat pencucian mobil di samping lorong yang menuju kampung Kristen, Pardais. Tidak jauh dari tempat tersebut juga terlihat beberapa orang membawa senjata api laras pendek.
Ketika 2 pria bersenjata api laras panjang mengarahkan senjatanya ke arah kaum Muslimin, saksi Fajar berteriak kepada anggota Brimob dari Makassar yang sedang mengamankan massa dengan mengatakan, “Pak! Itu ada orang yang mau menembak kea rah kita.” Mendengar teriakan itu, ke-2 orang pria bersenjata tersebut lari dengan cepat menuju perkampungan Kristen Pardais. Bukan hanya pasukan Kristen bersenjata api yang turun dalam bentrokan di Jalan Baru, beberapa sniper Kristen pun telah siaga di beberapa titik menunggu kesempatan untuk membidik ke arah kaum Muslimin.
Akankah kaum Muslimin Ambon kembali didzolimi?
Dengan perbandingan jumlah pasukan dan persenjataan yang tidak seimbang terjadilah bentrokan antara kelompok Islam dan Kristen di Jalan Baru. Akankah kaum Muslimin Ambon kembali menjadi korban kedzaliman kaum salibis? Mudah-mudahan Allah SWT., menjaga mereka dan kaum Muslimin di tempat lainnya yang peduli dengan nasib saudara-saudaranya di Ambon. Insya Allah!
(M Fachry/arrahmah.com)  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar