Perubahan Besar Siasat Perang di Mogadishu

Pada tanggal 5 Agustus 2011 –bertepatan dengan 5 Romadhon 1432 H– akan menjadi hari yang dikenang penduduk Mogadishu; ini bermula pada malam jum’at 4 Romadhon ketika sebagian Toyota Surf 4x4 terlihat meninggalkan kota membawa orang dan dan peralatan rumah tangga, tetapi tidak ada seorang pun yang memiliki petunjuk tentang apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi. Antek mata-mata yang ditempatkan di kota terlihat lengah, mereka lebih fokus pada pengalih perhatian yang telah dipersiapkan oleh Mujahidin untuk mereka dengan sebuah “James Lorry” laden dengan senjata ZU-24-1 anti-pesawat membawa sepasukan mujahidin yang sengaja berteriak ‘Allahu Akbar!!’, dan melantunkan Nasyid untuk menginspirasi orang-orang beriman dan untuk mengelabui mata-mata musuh di ibukota untuk menyampaikan laporan yang salah kepada pejabatnya bahwa serangan dapat dimulai.

Para kafir dan antek budak mereka menderita banyak korban kolektif ketika mereka mencoba untuk meluncurkan serangan dengan tujuan menguasai Stadion Mogadishu. Tetapi atas karunia Allah mereka gagal total karena mujahidin melancarkan serangan balasan yang hebat. Hal ini mengakibatkan dibakarnya dua tank mereka dan lebih dari 40 tentara uganda tewas –seperti yang dikonfirmasi oleh Menteri Pertahanan Uganda– sementara korban dari pihak Burundi disembunyikan, seperti biasa. Selanjutnya, penembak jitu amerika tewas dan serangan balasan dilancarkan, yang menyebabkan tentara salib afrika buru-buru melarikan diri menjauh, meninggalkan barang-barangnya yang berharga dan senjata–senjatanya yang mahal untuk menjadi bagian dari barang rampasan perang (Ghonimah) yang baik, yang Allah telah berikan sebagai rizki kepada mujahidin.

Selain itu, operasi bom syahid (Istisyhad) yang dilakukan oleh dua pahlawan Islam terhadap pusat komando musuh di Wardigle, yang menyebabkan kematian lima orang kaukasoid (Ras Kulit Putih) – kemungkinan besar merupakan sebagian pejabat amerika– dan lebih dari 20 pejabat uganda. Ini mungkin hanya sedikit sentuhan awal atas apa yang tentara salib dan sekutu mereka lalui pada malam yang berbarokah tersebut, pada tanggal 4 Romadhon.

Pagi datang seperti biasa di Mogadishu, hanya sekarang sudah resmi, apa yang dilakukan mujahidin telah direncanakan berbulan –bulan sebelumnya– mundur taktis dari semua garis depan di Mogadishu dan mengantisipasi awal dari perang gerilya. Jika ada orang di antara pasukan musuh yang sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi pagi itu maka itu adalah orang ethiopia, mereka dipastikan lebih menderita dibanding pihak lain di Mogadishu –bahkan lebih dari pihak amerika– selama Pertempuran 9 Hari yang terkenal dan historis, ketika pasukan mujahidin di Mogadishu berjuang disalah satu pertempuran paling mematikan dalam sejarah jihad di Somalia.

Etiopia –dengan lebih dari 50.000 tentara yang didukung oleh 20.000 tentara boneka– menghadapi kekuatan beberapa ratus mujahidin yang ditempatkan pada posisi–posisi strategis. Pertempuran berlangsung sengit dan berdarah dan setelah banyak pertimbangan oleh komandan–komandan mujahidin menganggap bahwa yang terbaik adalah menarik mundur pasukan dan memulai perang gerilya. Selama 9 malam pertempuran, mujahidin mundur dengan cepat dan pasukan etiopia muncul keesokan harinya mengharapkan perlawanan keras tapi mereka terkejut menemukan pertahanan kosong. Seperti biasanya, mereka menyatakan kemenangan dan mulai untuk menempati pangkalan di kota, dan seperti yang diperkirakan mereka menduduki Stadion Mogadishu dan tempat-tempat lain yang jelas layaknya seorang komandan yang berpikiran secara konvensional.

Mujahidin dengan sabar menunggu waktu yang tepat dan kemudian seranganpun dimulai : hanya dipersenjatai dengan senjata ringan batalyon mujahidin menyerang pasukan salib diluar wilayah ibukota sementara batalyon yang lain melakukan pembunuhan yang luas yang menyebabkan para pejabat musuh takut bahkan untuk berjalan di luar atau hanya untuk sekedar minum teh di kafe manapun! Pasar Bakara menyaksikan korban paling banyak, dalam 4-5 bulan, tentara boneka ditembak mati setiap hari. Adapun etiopia, mereka putus asa untuk menemukan jalan keluar, karena mujahidin menyerang basis mereka setiap hari dan setiap malam menjadi mimpi buruk bagi tentara salib ethiopia dimana mortir dan peluru menghujani mereka. Rute pasokan untuk mereka juga dipotong dan mereka bahkan tidak bisa mengatur untuk menggunakan pesawat mereka karena unit khusus mujahidin dipersenjatai dengan senjata anti-pesawat telah siap menunggu.

Penjajah ethiopia menjadi begitu putus asa sehingga mereka berusaha untuk membawa makanan untuk basis mereka dengan gerobak tangan roda empat, dengan seluruh batalyon menjaga mereka disisinya, tetapi ini juga gagal total karena ranjau telah ditanam mujahidin bagi mereka dan meledakkan mereka berkeping-keping. Tidak mampu mencari jalan keluar, para penjajah ethiopia memilih untuk menyalurkan kemarahan mereka kepada kaum muslimin kalangan sipil (seperti semua tentara salib lakukan). Mereka menindas warga sipil muslim dengan artileri berat dalam upaya untuk mematahkan semangat para mujahidin atau setidaknya untuk mengurangi gelombang serangan namun kebodohan mereka dan kedengkian hanya menyebabkan terjadinya peningkatan serangan serangan, yang menjadikan mereka membuat upaya terakhir dengan membawa pasukan mereka bersama-sama - mereka melarikan diri dari Masalah, WarshadaParfunka, dan daerah lainnya dan datang bersama di WarshadaBastada, Mogadishu Stadion, Gashaandiga, Kuliyada dan di area kepresidenan.Kekuatan mereka dikonsentrasikan pada langkah ini dan hanya membawa ke pembantaian lebih jauh terhadap pasukan mereka! Pahlawan seperti Abu Sulaim (semoga Allah merahmatinya) memastikan bahwa tidak satu hari pun berlalu kecuali membunuh 10-20 tentara sekutu dan puluhan tentara salibis. Hasil akhirnya adalah jelas, penarikan segera semua kekuatan tentara salib: dipermalukan, takluk dan penuh penyesalan – tanpa hasil apapun.

Seperti yang dapat ditebak, mengikuti strategi terbaru untuk mundur dari Mogadishu - Sharif Sheikh Ahmed - agen dari kekuatan tentara salib global di Somalia, segera menyatakan kemenangan dan mengatur penerbangan langsung ke Kampala untuk bertemu tuannya, YoweriMuseveni. Keduanya senang muncul di depan amerika dan NATO, mengklaim kemenangan fiktif mereka, dalam rangka untuk mendapatkan 'imbalan' mereka, dari peningkatan 60 persen dalam pendanaan. Sementara itu di Mogadishu, mujahidin tidak pernah sebahagia ini, karena mereka menunggu di posisi strategis di Mogadishu sementara pasukan tentara salib dan boneka mereka bergerak sangat lambat - bahkan mungkin dalam cara yang paling lambat – dalam bergerak maju. Prajurit yang berjalan kaki adalah orang-orang yang memiliki ide setidaknya ketika datang ke realitas di lapangan. Mereka harus realistis karena itu adalah hidup mereka yang dipertaruhkan, dan setiap salah belok bisa berarti hanya satu dari dua hal: baik cedera yang mengerikan atau kematian dan mayat mereka diseret di jalan-jalan Mogadishu oleh kaum muslim sambil bersorak-sorai.

Dengan ketakutan ekstrim dalam hati mereka, pasukan salib bergerak maju dengan sangat hati-hati, secara terbuka menempatkan kacung di depan diri mereka sendiri, sehingga jika terjadi sesuatu,maka itu adalah para murtadin yang akan harus berurusan pertama kali. Bentrokan pertama terjadi di Sana'a, di mana para murtadin yang berlomba untuk merampok muslim di Karaan disambut dengan tembakan senjata otomatis berat dari semua sisi - beberapa yang selamat terpaksa melarikan diri dalam teror - tentara salib uganda yang terkepung menginformasikan kepada siapa saja yang mereka temui selama mundur bahwa itu semua jebakan, dan bahwa mujahidin sedang menunggu untuk menyergap mereka. Situasi serupa di tempat-tempat SuuqBacad dan lainnya, pasukan invasi bergerak perlahan-lahan sampai mereka menetap di Stadion Mogadishu. Mereka mengeluarkan kamera dan mengambil foto dan merekam video, membual kepada para wartawan tentang bagaimana mereka telah menaklukkan Mogadishu sendirian.

Sementara wartawan sayangnya meninggalkan lokasi dengan cepat karena beberapa alasan, semua yang berkaitan dengan keselamatan mereka sendiri, mereka melihat seperti orang lain bahwa tentara salib dan sekutu mereka tidak melewati bagian lain dari kota. Ada banyak daerah dimana tentara salib tidak akan pergi mendekat, seperti Gubta, Arafat, Horwaa dan Sos. Tapi daerah yang paling ditakuti adalah yang kaum murtaddin telah memberikan beberapa julukan: "Fallujah Kecil", "Negara Islam" dan nama lain yang semuanya menyinggung kengerian yang dialami mereka dan majikan ethiopia mereka selama pendudukan ethiopia di Mogadishu.

Daerah ini adalah SuuqHoola yang ditakuti, daerah itu benar-benar dibenci oleh semua musuh Allah, terutama mereka yang selamat dan mengalami pertempuran di area yang diberkahi tersebut. Jangan terkejut ketika saya memberitahu Anda bahwa hingga tanggal saya menulis esai ini - tanggal 27 Ramadhan - tentara salibis masih sekitar 4-5 kilometer jauhnya dari SuuqHoola.

Malam datang dan tentara salibis dan para antek murtad diserang di 8 lokasi yang berbeda oleh para prajurit Islam, meninggalkan mereka dengan banyak korban sedangkan Mujahidin tidak menderita satu korbanpun, dan segala puji bagi Allah. Bahkan 6 hari setelah mundur strategis lebih dari 50 tentara salib telah dibunuh oleh hanya satu pahlawan Islam yang telah diberikan Syahid, semoga Allah menerima dia.

Hari-hari berikutnya menyaksikan tentara salib dan antek-anteknya mendapatkan banyak korban , dengan bandara Mogadishu tiba-tiba berubah menjadi pusat kesibukan sebagai penghubung yang secara konstan dan terus menerus dimana tentara salib yang terluka dan para murtaddin diterbangkan ke Nairobi untuk pengobatan. Hal ini menyebabkan perubahan dalam suasana hati para tentara salib, dengan juru bicara AMISOM mengklaim bahwa mereka membutuhkan "lebih banyak tentara untuk menduduki wilayah-wilayah yang ditinggalkan oleh mujahidin" dan bahwa "strategi baru mujahidin lebih mematikan". Perwakilan PBB sendiri tidak membuang waktu dalam menyadari seperti biasa bahwa para pemimpin murtad itu, yang mereka sudah lelah menjaganya, sekali lagi membuat bodoh diri mereka sendiri oleh masing-masing berlomba untuk mendapatkan perhatian di media, mengklaim ia adalah orang yang telah meletakkan strategi yang telah menyebabkan "kekalahan" dari mujahidin. Agustinus Mahiga, perwakilan PBB untuk Somalia, mengatakan kepada media bahwa "taktik baru ditetapkan oleh mujahidin" bahkan lebih berbahaya daripada taktik mereka sebelumnya.

Ya, dia tidak berbohong untuk saat ini, karena ada tank yang terbakar di persimpangan Fagah setelah serangan yang dilancarkan mujahidin melawan tentara salib dan murtaddin ketika mereka mencoba untuk mengambil kendali Hotel Ramadhan. Tiga tentara boneka ditangkap, dengan dua kemudian dieksekusi oleh mujahidin, sementara yang satu ditampilkan ke media bertelanjang kaki dan bingung di WarshadaBaastada - hanya dua kilometer dari Stadion Mogadishu! Selain itu, beberapa ledakan yang menargetkan tentara salib dan tentara murtad telah terjadi di sekitar kota sementara tiga pejabat murtad telah ditembak mati di Pasar Bakaara. tentara salib yang bingung, dan tentara bayaran asing yang telah dikirim untuk mengajar mereka tentang cara terbaik untuk mengatasi mujahidin juga hanya bisa menggaruk-garuk kepala - tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ini adalah realitas dari "kemenangan" yang telah dinyatakan oleh Sharif Sheikh Ahmed sebelumnya - pimpinan tentara salib di Mogadishu tidak pernah sebelumnya lebih marah seperti ini dengan dia!

Sementara para murtaddin dan tentara salib berurusan dengan pukulan berat yang diarahkan pada mereka, dan juga menghadapi perpecahan internal yang mendalam, para pejuang tauhid tersenyum dan bersujud kepada Allah (AzzawaJal), semuanya berjalan sangat baik bagi mereka. mujahidin, segala puji bagi bagi Allah, telah mendapatkan pengalaman yang luar biasa dari bertahun-tahun mereka telah berjuang di Mogadishu, dari hari-hari amerika, sampai ke etiopia, dan sekarang tentara – tentara pengecut uganda dan burundi, dan setiap langkah yang diambil berdasarkan banyaknya pengalaman. Strategi untuk mundur itu terjadi hanya setelah secara bulat disepakati diantara mujahidin bahwa rencana pertempuran saat ini memberikan lebih banyak keuntungan kepada pihak musuh. Untuk lebih memperjelas, saya akan menyebutkan beberapa poin:

Rencana pertempuran di Mogadishu pada dasarnya yaitu strategi militer untuk melakukan pengepungan, musuh telah dikurung di daerah sekitar 4 KM dengan mujahidin memegang garis pertahanan panjang sekitar 12 kilometer menghadapi tentara salib dan pertahanan murtadin. tentara salib yang terlalu pengecut untuk menyerang pertahanan mujahidin kecuali dalam kasus yang sangat sedikit mereka sangat bergantung khususnya dengan dilancarkannya serangan mortir dan roket BM. tentara salib setidaknya menembakkan 300 mortir setiap hari, menjadi lelucon dikalangan Mujahidin bahwa mungkin setiap prajurit perang salib telah dilengkapi dengan mortir pribadi. Hal ini menyebabkan banyaknya mujahidin menjadi syahid (insya Allah) akibat mortir daripada peluru. Juga, setiap orang militer yang berpengalaman akan setuju, ini adalah taktik konvensional yang menjadikan untuk pertama kalinya - tentara salib harus duduk di depan mujahidin, mengetahui bahwa 50 meter di depannya ada pertahanan mujahidin atau dalam beberapa kasus, pertahanan hanya sejauh sekitar 10 meter!

Ini berarti bahwa situasi di Somalia suatu pengecualian, karena tidak ada front jihad lainnya yang mengalami perang semacam ini. Ini memberikan keuntungan bagi tentara salib, karena ini adalah jenis perang yang mereka sukai. Jadi mereka membangun menara pertahanan sementara juga mengamankan mereka dengan ratusan prajurit dan menjaga mereka dengan tank. Kemudian mulai meluncurkan serangan, dengan tidak ada yang sukses, dan semua berakhir dengan mereka sangat menderita kekalahan ketika melebih-lebihkan segala prestasi kecil yang dibuat. Mereka menguasai kediaman Menteri Pertahanan setelah seminggu pertempuran besar dengan ratusan tentara mereka tewas dan seorang tentara burundi ditangkap, pada akhirnya mereka mengklaim bahwa mereka telah mengamankan 70% dari Mogadishu. Meskipun kondisi memberikan keuntungan bagi musuh, yang menakjubkan bahwa Allah memberikan kesabaran kepada mujahidin, dan singa–singa Islam akan tetap teguh. Pada saatnya, serangan berskala besar akan diluncurkan untuk menguasai sebagian besar area dan merubah pertahanan musuh menjadi neraka bagi tentara salib dan antek-anteknya. Taktik serangan Gerilya - akan dilakukan oleh unit-unit kecil mujahidin yang akan menyerang pertahanan mereka dan kemudian mundur kembali, dengan Bon Dheere, Dabka dan Hotel Juba pada saat tertentu berubah menjadi neraka bagi tentara salib. Kemuliaan bagi Allah! Allah telah membalik keadaan bagi mereka, dan dalam situasi di mana mereka seharusnya memiliki keuntungan mereka tidak mampu untuk memanfaatkan hal itu.

Seperti di semua front Jihad-, pihak musuh tentara salib selalu bergantung pada serangan udara, tidak diketahui banyak tentang situasi di Somalia yang juga akan mendapat giliran pemboman dan tentara salib berencana untuk meluncurkan serangan dari udara setelah pasukan salib afrika tidak mampu menekan balik mujahidin dari pertahanan mereka. Jika serangan udara itu dimulai sementara mujahidin masih berkumpul di pertahanan mereka maka hasilnya adalah bencana dan akan menyebabkan pasukan tentara salib mendapat kemenangan yang cepat, kita mencari perlindungan kepada Allah dari itu. Satu-satunya alasan bahwa serangan udara akan memiliki efek yang diinginkan pada mujahidin adalah karena musuh tahu dengan keyakinan 100% lokasi pasukan mujahidin. Strategi untuk mundur telah berhasil membingungkan para tentara salib seperti sekarang mereka tidak tahu di mana mujahidin sehingga mereka tidak dapat meluncurkan serangan darat atau serangan udara –dan jika mereka berusaha menyerang– pasukan mujahidin dapat bergerak cepat dan aktif menyerang mereka dari arah yang berbeda, atau bahkan di sekitar mereka jika mereka ingin.

Ada satu prinsip utama dalam seni perang, yaitu bahwa Anda harus tidak memungkinkan musuh untuk menguasai/mendikte di medan perang, yaitu, membiarkan dia memutuskan kapan Anda akan menyerang atau kapan anda harus bertahan atau bagaimana pertempuran harus berlangsung. Dengan strategi mundur dari mujahidin telah memastikan bahwa mereka adalah pihak yang mendikte sehingga musuh dipaksa untuk selalu berada dalam keadaan ketakutan, karena ia tidak tahu kapan serangan jarak dekat akan datang.

Alasan–alasan sebenarnya cukup banyak dan tidak akan muat di esai kecil ini dan mungkin membuatnya agak panjang. Untuk jumlah itu, Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. ” [Al Anfal: 15-16]

Allah Azza wa Jalla telah jelas memungkinkan mujahidin untuk membuat strategi untuk mundur yang disebutkan ayat di atas. Mujahidin telah membaca Alquran dengan baik dan mengikuti instruksi secara ketat, tidak peduli dengan pihak–pihak yang suka menyalahkan, mereka mengikuti jejak Nabi Muhammad tercinta mereka, Nabi yang dirahmati dan hebat dalam peperangan, komandan jenius yang diajarkan oleh beliau shalallahu ‘alayhi wassalam kata-kata "Perang adalah tipudaya", dan pernyataannya bahwa "Perang adalah penipuan". Mereka juga mengikuti jejak para Sahabat, orang-orang yang menginjak tahta kerajaan penyembah api - Persia, dan membuat Roma mencicipi semua warna penghinaan dengan taktik mereka yang luar biasa, yang masih dipelajari oleh para intelektual dalam peperangan sampai hari ini. Para sahabat seperti Kholid bin Walid, Amr ibn al-'Ash, Abu Ubaidah ibnul Jarroh, Sa'ad bin Abi Waqqosh dan sisanya dari mereka, semoga Allah senang dengan mereka semua. Mereka mengikuti jejak orang-orang benar yang datang setelah mereka, para penakluk yang menyebarkan cahaya tauhid ke timur sejauh pantai Indonesia, dan ke barat ke ladang–ladang di Andalusia; penyemarak Kemenangan seperti Sholahuddin al Ayyubi, Thoriq ibn Ziyad, Sayfudin al-Quds dan sisanya dari para pahlawan yang telah mengisi lembaran sejarah dengan cahaya, semoga Allah merahmati mereka. Dari sejarah yang kaya ini di belakang mereka, mengharapkan kemenangan yang mudah adalah seharusnya menjadi hal terakhir dari angan–angan para tentara salib karena mereka melawan para laki-laki yang melihat perang sebagai jalan hidup - sebenarnya itu adalah satu-satunya cara hidup untuk kita, laki-laki yang telah dibesarkan dan dibangkitkan untuk perang, pria yang menganggap kematian di medan perang menjadi kemenangan dan pencapaian gemilang, orang-orang yang membenci dunia ini yang segala sesuatu di dalamnya harus dikutuk kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang terkait dengan itu, pria yang lebih suka mati terhormat daripada hidup terhina, pria yang tidak akan berkompromi pada keyakinan mereka tidak peduli apa yang dilakukan kepada mereka. "Ya!", Ini adalah pria Muslim, seperti Tahir Jang, Amir syahid dari Gerakan Islam Uzbekistan yang telah mengatakan, "Kami baik hidup sebagai orang beriman sejati atau mati sebagai orang beriman sejati", jadi jangan harapkan dari kami kecuali kekerasan seperti Tuhan kita telah memerintahkan kita:

“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. ” [At-Tahrim: 9]

Perang adalah seperti itu - yang rentan terhadap perubahan dan perubahan tidak bisa dihindari - terutama di tempat seperti Somalia dan dalam perang dengan musuh yang tidak memiliki rasa malu dalam taktiknya, itu adalah suatu keharusan untuk beradaptasi dan mengarahkan jalannya perang untuk memimpin musuh dari arah yang kita inginkan, dan memaksanya untuk masuk ke jurang dan menghukum dia karena kejahatannya.

Adapun kepada musuh: ketahuilah, bahwa Anda telah memilih perang dengan kaumnya Muhammad dan mereka adalah pria yang tidak akan tidur sampai musuh mereka dihancurkan. Dan apa yang kalian telah alami hanya permulaan, dan apa yang akan datang lebih buruk dan berita adalah apa yang Anda akan lihat bukan apa yang Anda dengar!

Ditulis oleh al akh al mujahid
Abu al-Qarni qital

27 Ramadhan 1432 / 27 Agustus 2011
"Little Fallujah" (Mogadishu)

o - O - o

Diterjemah oleh : Saroya Media Istisyhadiyun

o - O - o

Tolong di segera setting dan diterbitkan ayyuhal ikhwah, semoga Allooh meridhoi setiap amal kita semua. Walhamdulillaahirobbil'alamiin.