Rabu, 30 November 2011

Filipina memanas, polisi tangkap anggota Abu Sayyaf


MANILA  – Situasi politik di Filipina memanas, pasca insiden pengeboman yang terjadi di sebuah hotel di Zamboanga, Senin (28/11/2011) kemarin. Kepolisian Filipina dikabarkan berhasil menangkap seorang anggota Abu Sayyaf yang dianggap sebagai pengebom dan memiliki kaitan dengan Al Qaeda. Sementara itu, dua video dirilis oleh sebuah kelompok yang menamakan diri Jamaah Al-Tawhid wal Jihad Filipina, meminta bantuan Mujahidin dunia untuk membantu jihad di Filipina. Sebuah peluang jihad fie sabilillah?
Abu Sayyaf terlibat pengeboman hotel?
Husein Ahaddin, seorang anggota Abu Sayyaf, kelompok perjuangan Islam di Filipina, ditangkap kepolisian Filipina karena diduga terlibat pengeboman hotal di Zamboanga, Senin (28/11/2011). Kepolisian Filipina juga menduga kelompok Abu Sayyaf memiliki kaitan dengan Al Qaeda, dan menduga Ahaddin terlibat pembunuhan anggota personel militer kafir AS di tahun 2002 lalu.
“Intelijen polisi dan militer Filipina berhasil menangkap Hussein Ahaddin di tempat persembunyiannya di Zamboanga,” ungkap Kepala Dewan Anti-Teror Filipina Paquito Ochoa seperti dikutip Associated Press, Rabu (30/11/2011).
Polisi juga menduga Ahaddin terlibat dalam enam aksi pengeboman di Filipina, dan salah satunya adalah pengeboman di sebuah hotel di Zamboanga, Senin kemarin. Saat itu sebuah bom meledak dan menewaskan tiga orang serta melukai 27 lainnya.
Hingga saat ini, Pemerintah Filipina masih terus menekan keberadaan Abu Sayyaf. Kekuatan mereka yang biasa beroperasi di Filipina Selatan, dikabarkan terus melemah akibat operasi militer Filipina yang dibantu oleh Amerika Serikat (AS).
Kelompok Abu Sayyaf tetap menjadi ancaman bagi Filipina dikarenakan mereka tidak akan pernah berhenti melancarkan serangan agar wilayah Filipina Selatan lepas dari rezim kafir Filipina dan mereka mendirikan wilayah sendiri berdasarkan syariat Islam.
Seruan untuk membantu jihad Filipina
Sementara itu, baru-baru ini dua buah video dirilis oleh sebuah kelompok jihad yang menamakan diri mereka dengan Jamaah Al-Tawhid wal-Jihad. Dalam rilis mereka yang diposting di forum jihad al-Shumukh, seseorang bernama Abu Jihad Al-Luzuni menuduh AS menduduki Filipina, melakukan penyiksaan dan pembunuhan terhadap Muslim.  Ia melanjutkan bersumpah setia kepada pemimpin Al Qaeda, Syeikh Ayman az-Zawahiri dan kelompok afiliasi Al Qaeda lainnya.
Abu Abdallah Al-Faris Al Mulatham, orang kedua dalam rekaman video tersebut menyeru kepada Mujahidin di seluruh dunia untuk secepatnya memberikan bantuan kepada saudara mereka, Muslim di Filipina, yang ia klaim telah dibunuh dan dirampok oleh penjajah Amerika dan untuk membantu Mujahidin di sana dengan uang, bala bantuan, pengetahuan dan pelatihan.
Selain itu, Abu Abdallah juga bersumpah setia kepada pemimpin jihad di seluruh dunia, pertama dan terutama kepada pemimpin Imarah Islam Afghanistan, Mullah Muhammad Umar dan pemimpin Al Qaeda, Syeikh Ayman az-Zawahiri.
Melihat kondisi ini, jihad kaum Muslimin di Filipina akan semakin “semarak” dengan kedatangan para mujahidin dari seluruh dunia, khususnya anggota-anggota Al Qaeda. Wallahu’alam bis showab!
(M Fachry/arrahmah.com)
Read More..

The great story about Syaikh Usamah bin Ladin: Hari-hari bersama sang Imam (2/tamat)



Syaikh Dr. Aiman azh-Zhawahiri hafizhahullah, pemimpin umum tanzhim Al-Qaeda, kembali menceritakan pengalaman berharga yang penuh hikmah selama mendampingi syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah. Banyak sisi kemanusiaan syaikh Usamah yang diangkatnya.
Di antaranya, bagaimana syaikh Usamah mendidik anak-anak beliau sebelum dan selama kecamuk invasi salibis internasional bulan Oktober 2001 sampai saat beliau syahid di Pakistan? Bagaimana kelembutan hati dan kasih sayang syaikh Usamah kepada sesama muslim? Inilah lanjutan terjemahan video syaikh Dr. Aiman azh-Zhawahiri berjudul ‘Ayyamun ma’a al-Imam’ yang dirilis oleh Yayasan Media as-Sahab pada tanggal 20 Dzulhijah 1432 H/16 November 2011 M.
***
Kejadian yang juga saya ingat pada kesempatan ini, yang saya ketahui dan mungkin tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Semua orang melihat ketika sang singa Islam, Syaikh Usamah bin Ladin, meraung dengan meneriakkan: Amerika sekali-kali tidak akan bermimpi aman, beliau mengancam Amerika dan mengancam Bush, mungkin orang tidak tahu bahwa beliau adalah orang yang sangat kasih sayang, santun, dan lembut. Beliau memiliki perasaan yang sangat lembut dan sangat pemalu yang belum pernah kami lihat orang seperti itu sebelumnya. Akhak mulianya diakui oleh kawan dan lawan. Tidak ada seorang pun yang pernah duduk bersama Syaikh Usamah bin Ladin kecuali pasti memuji akhlaknya, kebaikannya, rasa malu yang besar, dan sangat lapang dada.
Syaikh Ayman Az Zhawahiri hafizhahullah bersama Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah
Misalnya, saya ingat Syaikh Usamah bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau — ada sebuah peristiwa bersamaku yang menunjukkan betapa sangat lembut perasaan beliau. Ketika itu sampai kepada kami berita syahidnya keluargaku — semoga Allah merahmati mereka semua dan juga ikhwan-ikhwan yang syahid bersama mereka —, orang yang membawa berita tersebut — ketika itu kami tengah berada di Tora Bora — Syaikh Usamah meminta kepada ikhwah yang membawa berita tersebut agar tidak berbicara denganku. Lalu kami melaksanakan shalat Subuh dan Syaikh Usamah mempersilahkan saya untuk mengimami para ikhwah shalat Subuh. Selesai shalat Subuh kami duduk untuk membaca dzikir habis shalat, saya lihat para ikhwah keluar satu persatu, sehingga tinggal saya sendirian yang ada di situ.
Kemudian ikhwah yang membawa berita itu masuk, mengucapkan salam kepadaku dan menyampaikan ta’ziyahnya kepadaku. Ia juga mengingatkanku supaya bersabar dan ikhlas. Ikhwah tersebut menyampaikan kepadaku bahwa istriku, anak laki-lakiku, dan anak perempuanku terbunuh. Ia menyampaikan kepadaku bahwa tiga saudaraku terbunuh, sebagian anak-anak laki-laki dan perempuan mereka juga terbunuh. Saya pun mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya ikhlas dan memohon kepada Allah SWT agar membantuku.
Pada saat itulah Syaikh Usamah —semoga Allah merahmati beliau— masuk dan memelukku, dengan berlinangan air mata dan menangis tersedu-sedu. Beliau menyampaikan ta’ziyahnya lalu para ikhwah masuk satu persatu menyampaikan ta’ziyahnya kepada saya, menyabarkan saya dan meneguhkan saya.
Hari itu jadwalnya kami setelah shalat Subuh bergerak ke tempat lain. Saat itu jumlah kelompok kami kira-kira 30an orang lebih. Syaikh Usamah meminta sebagian besar ikhwah untuk bergerak, dan beliau mengatakan kepada saya: “Saya, antum dan beberapa ikhwah tinggal di sini.” Saya pun menjawab: “Tidak usah wahai Syaikh, kita bergerak saja, insya Allah pergerakan itu akan melupakan orang dari kesedihannya.” Beliau menyahut lagi: “Tidak .. tidak … tidak, tidak usah.” Syaikh Usamah pun tetap dalam pendiriannya dan kami pun tinggal di tempat tersebut satu hari —semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan—. Beliau menunggu urat-urat saya rilek dan perasaan saya tenang, setelah itu kami baru bergerak. Setelah itu hilanglah goncangan pertama saya al-hamdulillah, kami memohon kepada Allah agar memberikan kepada kita semua ganti dari orang-orang kita yang telah syahid, dan juga kaum muslimin yang meninggal dunia.
Setelah itu, ketika saya bercerita tetang anakku yang bernama Muhammad di hadapan Syaikh Usamah, saya menceritakannya ketika goncangan jiwa dan perasaan itu telah hilang. Saya melihat-lihat kedua mata Syaikh Usamah mencucurkan air mata. Padahal, mataku tidak meneteskan air mata karena semua sudah berlalu. Setiap kali saya menceritakan anakku, Muhammad, saya melihat kedua mata Syaikh Usamah mengucurkan air mata —semoga Allah merahmati beliau—.
Kisah lain, di antara sikap beliau yang indah yang saya ingat beliau adalah orang yang pertama kali menyampaikan ta’ziyahnya kepadaku atas meninggalnya ibuku — semoga Allah merahmati ibuku dan juga seluruh kaum muslimin baik yang sudah meninggal ataupun yang masih hidup —. Beliau menyampaikan ta’ziyahnya yang indah kepadaku dan beliau mengirim sebuah surat yang indah kepadaku yang berisi ucapan ta’ziyah. Saya berterima kasih kepada beliau dan saya katakan: “Wahai Syaikh, engkau lebih dahulu tahu tentang wafatnya ibuku sebelum aku tahu, semoga Allah membalasmu dengan balasan yang paling baik.”
Selain itu, di antara hal yang diketahui oleh semua orang yang dekat dengan Syaikh Usamah adalah bahwa beliau itu berhati lembut dan mudah meneteskan airmata. Mata beliau selalu meneteskan air mata apabila beliau berkhotbah atau berbicara atau berdoa. Syaikh Usamah bin Ladin dikenal sebagai orang yang sangat mudah meneteskan air mata. Sampai-sampai suatu saat beliau pernah meminta pendapat kepadaku. Beliau mengatakan kepadaku: “Beberapa ikhwah mengatakan kepadaku bahwa engkau (syaikh Usamah, edt) terkadang sebelum berbicara pun meneteskan air mata, bisakah kiranya antum tahan sedikit?” Beliau kemudian bertanya kepadaku: “Apa pendapatmu?” Saya menjawab: “Wahai Syaikh ini adalah kasih sayang yang Allah ciptakan dalam hatimu, maka jangan bersedih karenanya. Ini adalah karunia Allah SWT yang dianugerahkan kepadamu.”
Hal yang lain lagi, sisi-sisi yang saya lihat dari Syaikh Usamah  bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau —, pernah suatu saat ketika kami berada di kamp ‘Ainuk dekat Kabul — tepatnya selatan Kabul — waktu itu Syaikh Usamah ada di sana bersama saya, datang beberapa ikhwah dan duduk-duduk bersama kami. Pada kesempatan itu Syaikh Usamah berbicara mengenai Palestina, terjadi demonstrasi di Gaza … seingat saya pada waktu itu beliau mengatakan: “Wahai ikhwan-ikhwan di Palestina! Darah kalian adalah darah kami, anak kalian adalah anak kami. Darah dibalas darah, penghancuran dibalas penghancuran.” Sepertinya ini kata-kata yang beliau sampaikan ketika itu, saya tidak ingat persisnya. Sebuah kalimat dari sekian kalimat beliau yang menyatakan sumpahnya untuk membela Palestina.
Kisah tentang kecintaan Syaikh Usamah adalah sebuah kisah tersendiri yang harus saya ceritakan secara lebih rinci, insya Allah. Seorang ikhwah datang dan mengatakan kepada Syaikh Usamah: “Saya melihat di media massa para wanita keluar dalam sebuah demonstrasi. Para wanita itu berdemo dengan membawa spanduk yang bertuliskan kata-kata yang artinya ‘kami menunggu janjimu wahai Usamah’ atau kata kata semacam itu.”
Syaikh Usamah pun terdiam demi mendengar hal itu. Beliau sangat tersentuh. Setelah itu Syaikh Usamah pergi shalat Isya’ di masjid yang ada di kompleks kamp latihan. Suasana sangat hening. Setelah melaksanakan shalat, Syaikh Usamah bersandar begini ke dinding masjid. Beliau shalat sunnah dan saya mendengar beliau menangis tersedu-sedu. Saya bertanya-tanya dalam hati; kenapa beliau menangis seperti ini? Beliau menangis seperti ini lantaran mendengar berita yang menyebutkan bahwa wanita-wanita Palestina menunggu janji Usamah bin Ladin. Padahal menurut pandangan saya beliau telah memenuhi janjinya. Kita memohon kepada Allah agar merahmati beliau, kita semua dan seluruh kaum muslimin.
Sisi indah lainnya dalam kehidupan Syaikh Usamah bersama anak-anak beliau adalah,  bahwa setiap orang yang dekat dengan beliau pasti melihat adab yang tinggi dan mulia pada anak-anak beliau — semoga Allah menjaga mereka semua, menjaga kita, anak-anak kita, juga anak-anak kaum muslimin, serta membimbing mereka semua untuk taat kepada-Nya —.
Syaikh Usamah bin Ladin adalah seorang milyader yang kaya raya. Namun anak-anak beliau biasa melayani tamu-tamu beliau dan anak-anak beliau tidak membiarkan para tamu melakukan apapun sendirian. Mencucikan tangan, menyiapkan makanan, mengeringkan tangan, menyiapkan tempat. Semua itu mereka lakukan dengan penuh adab dan penghormatan terhadap tamu-tamu Syaikh Usamah bin Ladin.
Saya sering sekali mendengar orang mengatakan: “Masya Allah! Tarbiyah mulia macam apa yang dilakukan oleh Syaikh Usamah kepada anak-anaknya?!” Syaikh Usamah bin Ladin, meskipun dalam kondisi berpindah-pindah dan tidak menetap, beliau sangat perhatian terhadap tarbiyah dan taklim anak-anaknya. Beliau berusaha sungguh-sungguh agar anak-anaknya menghafal Al-Qur’an sebelum belajar pelajaran yang lain-lain. Dan perkiraan saya beberapa orang di antara mereka telah banyak juz yang mereka hafal, atau bahkan mungkin — saya tidak tahu persis — beberapa orang di antara mereka telah selesai menghafalkan Al Qur’an. Kita memohon kepada Allah agar membimbing anak-anak kaum muslimin untuk hal yang seperti itu.
Inilah kisah Syaikh Usamah bin Ladin pada sisi ilmu dan taklim. Sisi ini mungkin telah saya paparkan sebagiannya dalam buku Fursan Tahta Rayatun Nabi, cet. II. Namun sisi ini belum mendapatkan porsi penjelasan yang cukup. Yakni bahwa Syaikh Usamah sangat serius dalam menebarkan dakwah dan taklim.
Syaikh Usamah mendatangkan seorang pengajar khusus untuk anak-anaknya untuk mengajarkan Al Qur’an. Pengajar yang beliau datangkan itu bukanlah seorang pengajar biasa. Dia adalah seorang ulama’ mulia dari Syinqith (Kota Chinguetti di Mauritania, terletak di sebelah timur Mandat Adrar, Mauritania –pen.). Dia adalah seorang yang sangat mahir dalam ilmu-ilmu bahasa Arab, ilmu Qira-at dan Rasmul Qur’an. Banyak ikhwah yang belajar darinya. Saya sendiri belajar darinya dan dia adalah Syaikh saya juga. Sebagian dari biografinya yang elok telah saya sampaikan dalam buku Tabri’ah.
Beliau (pengajar yang didatangkan oleh Syaikh Usamah) itu bukanlah seorang Syaikh biasa. Beliau adalah seorang muhajir dan murabith di jalan Allah. Beliau adalah seorang petempur perwira sebagaimana Syaikh Usamah bin Ladin juga. Beliau memiliki seekor kuda di kampung Arab. Kampung Arab ini juga menyimpan cerita yang sangat panjang. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan supaya saya dapat menceritakan kampung yang penuh berkah ini. Sebuah kampung yang hebat yan belum pernah saya lihat seumur hidupku selain kampung itu. Saya juga tidak pernah merasakan bahagia sebagaimana kebahagiaan saya ketika tinggal di kampung yang sangat sederhana ini.
Syaikh tersebut memiliki seekor kuda yang kemudian Syaikh Usamah membelinya lalu beliau gabungkan dalam koleksi kuda beliau. Kami dulu selalu pergi belajar kepada Syaikh ini dan beliau pun memperlakukan kami dengan hormat, menyiapkan teh asal Muritania yang khas dengan tangan beliau sendiri. Beliau menyiapkan makanan buat kami. Kami katakan kepada beliau: “Jangan wahai Syaikh, karena engkau adalah Syaikh kami.” Beliau tidak pernah mengijinkan sama sekali, beliau harus melayani kami dengan tangan beliau sendiri.
Syaikh DR. Mahfudh Waladul Walid Al-Muritani (ulama dan mujahid dari Mauritania yang menjadi guru privat mujahidin Arab dan anak-anak syaikh Usamah bin Ladin di Afghan).
Saya ingat dulu saya pernah meminta kepada beliau supaya saya dapat belajar kepada beliau mengenai Ulumul Qur’an dan bahasa Arab. Lalu beliau mengatakan kepadaku: “Kita mulai pertama dengan membenarkan bacaan Al-Qur’an. Karena Kitabullah itu lebih berhak untuk diperhatikan daripada perkataan manusia. Setelah itu baru kita belajar ilmu-ilmu bahasa Arab.” Hal ini sebagaimana yang telah saya ceritakan sebelumnya dalam buku At Tabri-ah.
Pertama kali beliau membacakan kepada saya sebuah muqadimah sedang (tidak panjang dan tidak pendek) tentang Tajwid. Setelah itu kami mempelajari Nudhum Al- Jazariyah. Dan beliau masya Allah merupakan lautan ilmu, namun kalau menjelaskan pelajaran kepada kami, beliau membeberkannya dengan sangat panjang lebar. Sampai-sampai saya pernah melihat beliau di masjid kampung, beliau menjelaskan ilmu tajwid kepada para ikhwah dengan sangat panjang lebar.
Misalnya beliau pernah menjelaskan tentang perbendaan antara ikhfa’ dan idgham, beliau membawa sesuatu dan mengatakan kepada para ikhwah: “Sesuatu ini saya masukkan dalam jubahku ini. Inilah yang dimaksud dengan ikhfa’. Sesuatu ini sudah tidak ada lagi bekasnya, inilah yang dimaksud idgham.” Begitulah beliau menjelaskannya dengan sangat mudah.
Waktu itu ketika saya ikut pelajaran beliau dengan materi Al-Jazariyah, terkadang ikut bersama saya Syaikh Abu Hafsh Al-Kumandani, dan terkadang ikut juga Syaikh Abu Ubaidah Al-Mauritani yang telah syahid — semoga Allah merahmati beliau. Beliau sendiri yang melayani kami. Terkadang ketika kami pulang dari tempat beliau, beliau ikut bersama kami pergi ke pasar, tiba-tiba beliau membelikan buah-buahan buat saya. Saya katakan kepada beliau: “Wahai Maulana, ini adalah kewajibanku.” Beliau menjawab: “Tidak … tidak … tidak. Ini bukan untukmu tapi ini untuk Muhammad, anakmu. Jangan kamu tolak!”
Satu saat lagi tiba-tiba beliau membelikan ikan. Saya katakan kepada beliau: “Wahai Maulana, ini adalah kewajibanku. Bagaimana ini?!”  Beliau menjawab: “Tidak … tidak … tidak. Ini untuk Muhammad, anakmu.”
Orang mulia ini, yang saya mendapatkan kehormatan untuk belajar dari beliau, adalah ustadznya anak-anak Syaikh Usamah dalam menghafal Al Qur’an. Beliau sangat keras dalam memperlakukan mereka. Saya ingat suatu kali pernah beliau berteriak kepada salah seorang anak Syaikh Usamah: “Wahai bocah, kamu tidak bisa diajak bicara, yang bisa diajak bicara adalah ayahmu. Kamu hanya bisa diomongi dengan tongkat.” Sementara anak-anak Syaikh Usamah dalam keadaan tunduk dan diam. Mereka tidak sanggup memandang beliau, karena mereka memiliki adab yang telah mereka pelajari dari Syaikh Usamah terhadap ustadz-ustadz mereka.
Muhammad ‘Athif als Abu Hafs Al-Kumandani als Abu Hafs Al-Mishri
Tentu saja Syaikh Al-Muritani ini sangat serius dalam masalah tarbiyah, sampai–sampai terkadang di masjid kampung beliau mengajarkan materi tarbiyah. Beliau menjelaskan kitab Tarbiyatul Abna’ Fil Islam, dan beliau sangat memperhatikan masalah tarbiyah ini.
Saya ingat, anak-anak Syaikh Usamah sangat rekat dengan beliau. Di medan-medan perang dan di daerah-daerah perbatasan perang, mereka menjaga beliau sebagaimana anak-anak singa menjaga induknya, mereka tidak pernah berpisah dengan bayangannya. Mereka menjaga beliau dengan mempertaruhkan nyawa mereka.
Keterikatan anak-anak Syaikh Usamah dan juga para pengawal Syaikh Usamah dengan Syaikh ini ada kisahnya tersendiri, insya Allah akan kami ceritakan, akan tetapi ingatan saya masih tumpang-tindih. Saya ingat dua peristiwa yang terjadi antara anak-anak Syaikh Usamah dengan Syaikh ini dan anak-anaknya. Dua peristiwa yang sangat-sangat menyentuh perasaan.
Peristiwa pertama: Dahulu ketika kami di Jalalabad, ketika orang-orang munafik telah menguasai Jalalabad. Ketika itu kami memutuskan untuk mendaki gunung Tora Bora. Pada saat itu anak-anak Syaikh Usamah telah datang  bersamanya. Kami sudah memperkirakan bahwa keadaannya akan berjalan seperti ini, dan Kabul akan jatuh. Dan demikianlah yang terjadi. Waktu itu beberapa anak Syaikh Usamah yang masih kecil, di antaranya adalah Khalid — semoga Allah merahmatinya, dia syahid bersama Syaikh Usamah dalam peristiwa penyergapan ayahnya —. Dialah yang paling besar dan ada lagi dua orang yang umurnya lebih muda daripada Khalid. Kami memutuskan untuk bergerak. Kami keluar dari kota dan kami putuskan untuk mendaki gunung Tora Bora ketika waktu Maghrib.
Pada waktu antara Ashar dan Maghrib datang salah seorang ikhwah, dan Syaikh Al-Muritani tersebut mempersilahkan anak-anak syaikh Usamah untuk menyalami ayah mereka. Ikhwah ini adalah orang yang diamanahi oleh Syaikh Usamah untuk membawa anak-anak tersebut ke tempat yang aman, untuk kemudian membawa mereka kepada keluarganya sehingga mereka bisa berkumpul dengan keluarga Syaikh Usamah.
Kemudian tibalah saat perpisahan. Syaikh Usamah membawa mereka menyendiri agak jauh, sedangkan saya memperhatikan peristiwa ini dari jauh dengan perasaan yang sangat haru. Seorang ayah berpamitan dengan tiga orang anaknya yang masih kecil, sementara mereka tidak tahu kapan akan bertemu lagi. Di duniakah atau di akhirat? Apakah ini awal wasiat buat mereka ataukah wasiat terakhir? Syaikh Usamah berpamitan dengan mereka, bersalaman dengan mereka dan mengatakan kepada mereka: “Kalian pergi dengan om kalian ini. Insya Allah dia akan membawa kalian kepada keluarga.” Anak-anak yang besar, air mata mereka mengalir, Syaikh Usamah sangat terharu, sedangkan anak yang kecil sangat kasihan tidak mengerti apa yang terjadi.
Tapi anak yang terkecil ini mengatakan kepada Syaikh Usamah: “Tapi abi, tas sekolahku di Kabul, saya mau tas sekolahku.” Kabul telah jatuh ke tangan bangsa Salib. Syaikh Usamah mengatakan kepada anaknya yang masih kecil tersebut: “Insya Allah semuanya baik sayangku. Insya Allah om nanti akan memberimu tas sekolah lagi.” Kemudian mereka berpisah. Peristiwa yang sangat mengharukan. Seorang bapak meninggalkan anak-anaknya. Tidak tahu di mana dan kapan ia akan bertemu lagi dengan mereka. Mereka pun meninggalkan bapak mereka dan tidak tahu kapan dan di mana akan ketemu lagi.
Peristiwa satu lagi, yang membuatku sangat hormat kepada Syaikh Usamah adalah ketika kami mulai bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Waktu itu ada bersama kami salah satu anak Syaikh Usamah, yang menyertai kami selama serangan yang dilancarkan oleh bangsa Salibis. Kami mengendarai mobil dengan penuh tawakal kepada Allah, dan menderita. Sebuah mobil semi truk yang mengangkut kami dalam kegelapan. Di suatu titik tertentu mobil ini mogok. Anak Syakh Usamah ini pun turun bersama dengan penunjuk jalan menuju tempat lain sementara kami menuju tempat yang lain lagi.
Dalam kondisi seperti ini di tengah-tengah kegelapan, Syaikh Usamah turun untuk berpamitan dengan anaknya, dan tidak ada yang tahu selain Allah SWT apakah mereka akan bertemu lagi atau tidak. Apa kiranya yang dikatakan Syaikh Usamah pada saat seperti itu? Beliau mengatakan kepada anaknya: “Wahai anakku kita tetap dalam janji kita, kita tetap dalam jihad fi sabilillah.” Sebuah peristiwa yang sangat besar, yang saya ingat yang dialami Syaikh Usamah.
Saya cukupkan sampai di sini. Insya Allah kita bertemu lagi dengan kisah Syaikh Usamah, Sang Imam dan pembaharu, dalam pertemuan yang lain.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
(unwanul falah/arrahmah.com)
Read More..

The great story about Syaikh Usamah bin Ladin: Hari-hari bersama sang Imam (1)


Di antara kelompok ulama dan komandan mujahidin Al-Qaeda yang menyertai syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah dalam waktu yang sangat lama dan sampai hari ini masih meneruskan jihad fi sabilillah melawan aliansi zionis-salibis internasional, syaikh Dr. Aiman Azh-Zhawahiri mungkin nama yang paling menonjol. Selain saat ini menjadi pemimpin tertinggi mujahidin Al-Qaeda, beliau sejak tahun 1996 turut membidani lahirnya front perlawanan Islam semesta terhadap aliansi zionis-salibis internasional. 
Sebagai tangan kanan syaikh Usamah, beliau memiliki banyak kenangan selama hidup bersama sang pendiri Al-Qaeda. Kenangan-kenangan itulah yang dituturkannya kepada umat Islam, sesuai permintaan para ikhwah mujahidin, sebagai bentuk ketulusan kepada jihad syaikh Usamah. Yayasan media As-Sahab merilis video syaikh Dr. Aiman Azh-Zhawahiri tersebut pada tanggal 16 November 2011 dengan judul ‘Ayyamun ma’al Imam’. Situs Arrahmah.com menerjemahkannya untuk para pembaca. Semoga bermanfaat.   

بسم الله الرحمن الرحيم 
HARI-HARI BERSAMA SANG IMAM (1)
Oleh:
Dr. Syaikh Aiman Azh-Zhowahiri 
  
Dipublikasikan oleh Media As-Sahab
20 Dzulhijjah 1432 H
16 November 2011 M

Dengan nama Allah … segala puji bagi Allah … Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti beliau.
Ikhwah sekalian, kaum muslimin di manapun antum berada: As Salamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Wa ba’du:
 Ikhwan-ikhwan telah meminta kepadaku — semoga Allah memberikan pahala yang baik kepada mereka — agar saya bercerita tentang beberapa kenanganku bersama sang Imam dan pembaharu, seorang Syaikh dan Mujahid, yang menghidupkan kembali kewajiban jihad pada jaman ini, sang singa Islam, Syaikh Usamah bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau —. Para Ikhwah juga meminta saya agar bercerita tentang sisi kemanusiaan dalam keseharian beliau, yang bisa jadi tidak diketahui oleh seluruh kaum muslimin. Sisi yang penting dan mulia ini, yang mana semua orang yang pernah hidup bersama manusia satu ini mendapat kemuliaan dengan berkesempatan bergaul dengan beliau. Seorang manusia yang memiliki akhlak yang luhur, perasaan yang mulia, dermawan dan lapang dada.
Sebenarnya saya — al hamdulillah — telah mendapat kemuliaan dari Allah dengan bergaul bersama laki-laki ini dalam waktu yang cukup lama, baik ketika bepergian maupun ketika menetap, dan juga dalam berbagai macam kondisi. Al Hamdulillah, saya telah melihat sendiri sisi-sisi kehidupan beliau yang sangat agung dan mulia. Saya ingin menceritakan sebagiannya kepada ikhwah sekalian, kaum muslimin, sebagaimana permintaan para ikhwan.
Saya sendiri meminta kepada para ikhwah agar saya bercerita secara lepas, yakni sesuai dengan apa yang muncul dalam perasaan, karena kenangan bersama Syaikh Usmah ini — masya Allah — sangat banyak dan bermacam-macam, di mana terdapat banyak sekali hikmah, pelajaran dan arahan-arahan yang beliau berikan. Beberapa di antaranya telah saya tulis dalam beberapa poin dalam kertas, dan insya Allah saya akan ceritakan kepada antum kenangan-kenangan baik yang saya ingat dalam kesempatan ini. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita dan memberikan kesempatan-kesempatan lain untuk bercerita tentang kemuliaan laki-laki mulia ini.
Di antara yang paling penting dari sifat beliau yang dirasakan semua orang yang bergaul dengan beliau — semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepada beiau dan menyusulkan kita dengan beliau di surga Firdaus yang paling tinggi — adalah bahwa beliau ini sangat tulus kepada para ikhwah beliau. Beliau selalu mengingatkan para ikhwah ­agar berbuat kebaikan dan senantiasa meluruskan perbuatan-perbuatan mereka.
Memang Syaikh Usamah adalah orang yang berakhlak mulia, santun, bukan orang dungu, bukan orang yang bersuara keras dan juga bukan orang yang jahil. Akan tetapi beliau sangat bersedih apabila beliau merasakan ada ikhwah beliau dalam jihad ini yang didholimi, atau belum mendapatkan haknya secara layak. Dan memang, di antara ikhwah yang pernah hidup bersama beliau — semoga Allah merahmati mereka semua — adalah Asy Syahid Abu Ubaidah Al-Bansyiri. Beliau ibarat sebuah gunung dalam jihad di jaman ini, yang belum memperoleh haknya secara layak untuk dikenalkan. Juga Fadlilatusy Syaikh Abu Hafsh Al-Mishri, sang komandan dan mujahid, atau yang dikenal dengan Abu Hafsh Al-Kumandani — semoga Allah merahmati beliau dan juga para syuhada’ yang lain —. Syaikh Usamah selalu menceritakan kebaikan mereka dan mendoakan mereka agar dirahmati Allah. Saya ingat suatu saat beliau mengatakan kepadaku: “Segala puji bagi Allah  yang telah mendatangkanku ke bumi jihad sehingga saya dapat berkenalan dengan Abu Ubaidah”. Saya ingat, di masa serangan yang dilancarkan Amerika Salibis terhadap Afghanistan ini, beliau pernah membaca di beberapa media reportase yang mencibir dua singa dan dua pahlawan besar yang mulia tersebut. Maka beliau pun mengirim surat kepada saya dan mengatakan: “Bantahlah mereka yang mencibir dua saudara kita ini!” Saya sendiri telah menyebutkan sebagian dari keutamaan yang dimiliki kedua ikhwah tersebut dalam pembicaraanku dan dalam buku Fursan Tahta Rayatin Nabi cetakan II.
 
Selain itu Syaikh Usamah — semoga Allah merahmati beliau — juga banyak bercerita tentang Syaikh Abdullah Azzam, seorang Syaikh, imamul jihad di jaman ini, semoga Allah merahmati beliau, tentang kebaikannya dan selalu memuji beliau. Syaikh Usamah bin Ladin pernah mengatakan bahwa orang ini (Syaikh Abdullah Azzam) telah menghidupkan kembali jihad di jaman ini. Dan Syaikh Usamah sering kali memuji beliau 
Selain itu Syaikh Usamah juga sering mengatakan yang baik-baik dan terbawa perasaan beliau ketika bercerita tentang 19 ikhwah yang telah melakukan serangan terhadap berhala Hubal jaman ini, Amerika, di Pentagon — markas militer — dan New York — simbol kedikdayaan ekonominya —. Sementara pesawat yang keempat tengah menuju Gedung Putih atau ke Gedung Kongres. Beliau menceritakan tentang mereka dengan penuh ketulusan. Saya, dan juga antum, ingat bahwa pesan yang pertama kali syaikh Usamah sampaikan setelah dimulainya serangan Salibis di Tora Bora. Dalam pesannya itu beliau menyampaikan kata-kata dukungan kepada 19 ikhwah tersebut. Antum semua juga ingat bagaimana penampilan Syaikh Usamah dalam menyampaikan pesan pertamanya itu, kelihatan beliau sangat lelah, capek, lesu dan seterusnya. Kondisi semacam ini kami semua mengalaminya lantaran cuaca yang sangat-sangat dingin ditambah lagi makanan yang sedikit dan kurang tidur, persediaan air sangat kurang dan air membeku. Sampai-sampai air yang berada 500 m (di bawah puncak gunung Tora Bora) pun juga telah membeku. Dalam kondisi yang sangat berat seperti ini, sementara musuh bersama orang-orang munafik mengepung kami, kaum Salib membombardar dari atas, namun Syaikh Usamah tetap bersikukuh untuk merekam pesan-pesan beliau sebagai bentuk kesetiaan beliau terhadap 19 ikhwah tersebut. Seolah beliau khawatir syahid menjemput beliau di tempat tersebut sementara beliau belum sempat menyampaikan dukungan beliau terhadap para ikhwah perwira tersebut.
Syaikh Sulaiman Abu Ghaits, Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Aiman Adh Dhawahiri, dan Syaikh Abu Hafs Al Misri, di Tora Bora pada tanggal 20 Rajab 1422 H / 7 Oktober 2001 M
Tentu, insya Allah dalam kesempatan lain saya akan  kembali untuk bercerita tentang Tora Bora dengan berbagai sikap kepahlawanan dan teladan-teladan indah yang dipersembahkan oleh para pemuda Islam di Tora Bora, dan insya Allah kami akan bercerita lebih rinci masalah ini. Di Tora Bora kami semua sudah pasrahkan semua urusan kami kepada Allah SWT. Musuh — orang-orang munafik — mengepung kami, sementara NATO membombardir kami dari atas. Kami membayangkan bahwa bumi ini akan menjadi arang setiap saat. Sementara para ikhwah telah menyiapkan diri mereka untuk berperang sampai mati. Namun tentu saja, akan kami ceritakan nanti, ternyata ketakutan kaum Salib sangatlah besar. Mereka ketakutan meskipun mereka memiliki kekuatan yang selalu mereka bangga-banggakan, bahwa mereka adalah bangsa paling perkasa dalam sepanjang sejarah manusia. Para penggemar film Hollywood itu takut semua untuk masuk wilayah Tora Bora yang ditempati 300 singa Islam. Inilah salah satu sebab Allah mentakdirkan Syaikh Usamah bin Ladin keluar untuk melanjutkan lagi pertempuran dan pertarungan dengan bangsa Salib itu. Hal itu supaya seluruh kaum muslimin paham bahwa Allah SWT itu Mahakuasa, dan bahwa Allah SWT sendiri telah menjelaskan perihal siapa sejatinya para Salibis tersebut. Allah SWT berfirman:
(إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللهِ مَا لَا يَرْجُونَ).
Jika kalian merasa sakit maka sesungguhnya mereka pun merasakan sakit sebagaimana kalian merasa sakit. Namun kalian memiliki harapan dari Allah sementara mereka tidak. (QS. An-Nisa’ (4): 104)

Intinya, dalam kondisi yang sulit ini Syaikh Usamah terus bersikukuh untuk merekam pesan-pesannya meskipun dalam kondisi sebagaimana yang antum lihat sendiri, sebagai bentuk kesetiaan beliau kepada 19 ikhwah tersebut.
Setelah itu, setelah Syaikh Usamah — semoga Allah merahmati beliau — keluar dari Tora Bora, pesan pertama kali yang beliau sampaikan adalah beliau menjelaskan satu persatu nama 19 ikhwah tersebut.
Syaikh Usamah bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau — sangat setia dan tulus terhadap Syaikh Abu Abdur Rahman Al-Kindi. Syaikh Usamah pernah mengirim surat kepada saya dan mengatakan: “Ceritakan apa-apa saja yang dilakukan orang ini supaya semua orang mengenalnya dan mengenal jasa-jasanya!” Maka saya ceritakan itu di salah satu pesan saya. Di sana saya ceritakan tentang hijrah beliau, kedermawanan beliau, kebaikan beliau, dan bahwa beliau terbunuh dalam kondisi menghadapi musuh, tidak lari ke belakang dalam perang melawan kaum Salib.
Syaikh Usamah juga sangat tulus dan setia dengan Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi — semoga Allah merahmatinya —. Syaikh Usamah pernah mengatakan kepadaku: “Orang ini telah mengorbankan dirinya untuk kita.” Karena Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi … mungkin akan saya ceritakan lagi insya Allah ketika membahas kronologi yang lebih rinci tentang Tora Bora, jika Allah mengijinkan … Komandan militer pasukan Islam yang berjihad di Tora Bora adalah Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi. Syaikh Usamah menyerahkan usaha mengeluarkan sebagian besar ikhwah dari Tora Bora kepada Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi, sebagaimana yang akan saya ceritakan secara lebih rinci nanti insya Allah, bagaimana kecerdasan Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi di bidang strategi dan lapangan, lantaran karunia Allah semata. Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi diserahi tanggung jawab untuk mengeluarkan mereka dari Tora Bora ke Pakistan. Tugas yang sangat-sangat berat dan penting ini pun berhasil beliau laksanakan dengan sukses, dalam situasi yang sangat berat, cuaca yang sangat dingin dan dalam keadaan dikepung. Beliau meloloskan diri bersama mereka dari kepungan orang-orang munafik. Beliau meloloskan diri bersama mereka di bawah hujan bom yang dihamburkan oleh bangsa Salib yang mana pada saat itu telah menguasai seluruh wilayah Afghanistan dan tinggal Tora Bora saja yang belum mereka kuasai, yang saat itu tengah mereka gempur. Beliau berhasil lolos bersama mereka ke wilayah perbatasan Pakistan. Sementara di Pakistan kaum Salib tidak berhasil menangkap para ikhwah tersebut kecuali dengan bantuan pengkhianatan yang dilakukan beberapa kabilah Pakistan — dan kisah ini sudah umum diketahui —. Intinya ketika Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi ditempatkan di penjara Kuhat, beliau membawa uang yang banyak untuk mengurusi para ikhwah yang bersama beliau tersebut. Maka para petinggi militer Pakistan yang biasa menerima suap dan berkhianat pun menawar beliau agar menyerahkan uang tersebut dan sebagai gantinya mereka akan melepaskannya dan mereka akan menghapus namanya sehingga seolah beliau tidak tertangkap. Sementara Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi — supaya semua orang kenal pahlawan satu ini dan supaya para ikhwah beliau di Libia mengikuti jejak beliau, yang insya Allah pembelaan mereka adalah pembelaan terhadap Islam dan kaum muslimin, dan semoga ada di antara mereka ribuan Ibnusy Syaikh Al-Libi yang akan menggantikan Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi, insya Allah —. Ketika para petinggi militer Pakistan itu mengutarakan tawaran mereka tersebut, beliau menjawab: “Tidak! Saya tidak akan meninggalkan ikhwan-ikhwan saya. Tapi kalau kalian mau saya akan berikan kepada kalian uang ini kepada kalian, bahkan lebih, jika kalian mau mengeluarkan kami semua.” Maka para petinggi militer Pakistan itu pun menolak sehingga Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi tetap dalam tahanan bersama para ikhwah yang bersama beliau sampai akhirnya pemerintahan jahat Qaddafi membunuhnya. Insya Allah para ikhwah mujahidin Libia yang punya harga diri, dan bahkan semua orang Libia yang berjiwa perwira, yang mengalir dalam aliran darahnya kecintaan terhadap Islam dan Nabi SAW, akan membalaskan untuk sang singa dari Libia ini terhadap kejahatan Qaddafi, juga terhadap kejahatan Barat bangsa Salib, NATO, yang telah menyiksa dan menyerahkan Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi kepada Qaddafi untuk dibunuhnya.
Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi alias Ali Muhammad Abdul Aziz Al-Fakhiri (46 th)
Dahulu Syaikh Usamah mengatakan: “Orang ini telah mengorbankan nyawanya untuk kita.” Inilah tafsiran dari apa yang dikatakan oleh Syaikh Usamah bin Ladin.
Selain itu Syaikh Usamah bin Ladin mengirim surat kepada saya selalu menceritakan apa yang pernah dilakukan oleh Syaikh Musthafa Abul Yazid. Syaikh Usamah mengatakan kepada saya: “Orang ini telah berkorban dengan nyawanya dan keluarganya untuk kita.” Maksudnya Syaikh Musthafa Abul Yazid adalah orang yang mengatur urusan para ikhwah mujahidin. Beliau berhubungan dengan para mujahidin, berhubungan dengan Muhajirin, berhubungan dengan Anshar, beliau adalah bapak bagi mereka semua. Harga yang harus beliau bayar untuk kegiatan yang penuh berkah ini, beliau akhirnya terendus oleh para mata-mata NATO kemudian NATO berhasil membunuh beliau bersama keluarga, bahkan juga membunuh anak-anak yatim yang sedang beliau pelihara dan beliau ajari menghafal Al-Qur’an. Semoga Allah merahmati beliau.
Syaikh Musthafa Abul Yazid, sedang diwawancarai oleh wartawan stasiun TV Al-Jazeera
Inilah sisi-sisi ketulusan dan kesetiaan Syaikh Usamah bin Ladin kepada para ikhwannya.  
Bersambung insya Allah…
(unwanul falah/arrahmah.com)
Read More..

Ma’had Darul Hadits Yaman diserang Syiah, Jihad diserukan!

YAMAN – Setelah mendapat gempuran roket dan penembak jitu dari kaum Syiah Houti di Yaman, Imam Ma’had Darul Hadits, Yaman akhirnya mengeluarkan seruan jihad untuk mempertahankan pesantren yang didirikan almarhum Syekh Muqbil Bin Hadi tersebut. Dua orang santri asal Indonesia dikabarkan tewas dalam insiden tersebut dan dua lagi mengalami luka-luka. Perang sunni syiah mulai berkobar di Yaman?
Konflik Sunni – Syiah di tengah Revolusi Yaman
Di tengah revolusi rakyat yang mendera Yaman, di distrik Dammaj, terjadi konflik sunni – syiah, yang dipicu serangan roket dan penembak jitu dari para pemberontak Syiah Houti ke Ma’had Darul Hadits dan lingkungan Sunni di distrik tersebut, pada Sabtu dan Ahad lalu. Insiden tersebut menewaskan lebih dari 30 orang, termasuk dua santri dari Indonesia, yakni asal Medan dan Aceh.
Dua santri yang tewas tersebut adalah Abu Soleh asal Batubara, Medan dan Abu Haidar asal Kuala Simpang Aceh, dan saat ini sudah dimakamkan di Yaman.
“Atas izin keluarga dimakamkan di sana. Idealnya memang dikembalikan ke Indonesia, tapi mengingat situasi keamanan di sana sangat sulit dengan seizin keluarga dimakamkan di sana, dan informasi yang diterima sudah dimakamkan,” jelas Michael Tene, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Kamis (1/12/2011)
Ma’had Darul Hadits Dammaj Yaman didirikan pada tahun 1980 oleh almarhum Syekh Muqbil Bin Hadi Al Wadie, yang namanya cukup dikenal di Indonesia. Ma’had Darul Hadits saat ini menampung lebih dari 10.000 mahasiswa, 10 persen dari mereka berasal dari Arab, Uni Eropa, dan negara lainnya.
Dalam insiden kemarin, markaz Ma’had Darul Hadits ini dikepung kaum Syiah Hauthi  sejak awal Dzulhijjah 1432H. Serangan kaum sesat Syi’ah ini telah menewaskan 30 mahasiswa Sunni di antaranya dua orang dari Indonesia berasal dari Medan dan Aceh. Kompleks Ahlus Sunnah Salafi ini diblokade hingga kini kehabisan air, makanan, obat-obatan dan bahan lainnya.
Imam Ma’had Darul Hadits akhirnya serukan Jihad
Mendapat gempuran roket dan tembakan yang bertubi-tubi dari para pemberontak syiah, Imam Darul Hadits di Dammaj, Yaman, Syekh Yahya Al Hajouri, akhirnya mengeluarkan seruan jihad atau deklarasi perang terhadap kelompok sesat syiah tersebut. Hal ini sebagaimana yang disampaikan salah seorang santri ma’had tersebut kepada Gulf News.
“Imam Darul Hadits di distrik Dammaj, Syekh Yahya Al Hajouri, telah menyatakan perang terhadap para pemberontak Syiah Houthi yang telah menyerang dan menolak untuk membuka blokade mereka di sekolah itu,” kata santri tersebut.
Al Hashimi, yang telah belajar pendidikan agama di sekolah itu selama 10 tahun, mengatakan bahwa pemberontak Syiah menyerang sekolah dan tempat-tempat Muslim Sunni lainnya di Distrik Dammaj pada hari Sabtu dan Ahad dengan tembakan mortir dan penembak jitu sehingga menewaskan lebih dari 30 mahasiswa, termasuk mahasiswa asing.
Sumber-sumber mengatakan bahwa beberapa mahasiswa yang berasal dari negara Amerika, Perancis dan Indonesia termasuk di antara mereka yang terbunuh di distrik Dammaj.
Sementara itu, para pemberontak Syiah Houthi, yang memberontak kepada pemerintah Yaman setelah enam tahun perang sporadis sejak 2004, membantah tuduhan pembunuhan siswa di distrik Dammaj dan menuduh media menerbitkan cerita-cerita palsu dan tidak berdasar. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis kepada pers, kelompok pemberontak Syiah Houthi mengatakan bahwa kaum Salafi di sekolah tersebut mengangkat slogan yang melabeli mereka sebagai orang kafir yang menyesatkan.
Berbeda dengan keterangan kelompok sesat syiah tersebut, sekelompok warga Yaman dan para aktivis kemanusiaan serta wartawan menuju lokasi untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Mereka menyatakan :
 “Orang-orang di sekolah yang dikepung hidup dalam situasi yang sangat tidak berperikemanusiaan. Tidak ada obat dan makanan dan orang-orang terluka yang mati kehabisan darah karena kurangnya dokter dan obat-obatan” Mohammad Al Ahmadi, anggota kelompok mengatakan kepada Gulf News.
“Lebih dari 26 orang tewas dalam dua hari penembakan. Keluarga yang kelaparan dan banyak anak yang bisa segera mati. para pemberontak Syiah memperlakukan para aktivis secara kasar dan menyita memori kamera saya. Mereka takut bahwa kami akan mempublikasikan foto-foto tentang kebiadaban mereka yang kita dapatkan dari sekolah tersebut.” ujarnya pada hari Selasa, 29 Nov 2011.
Insiden ini menambah panjang daftar perseteruan abadi antara sunni dan syiah yang harus berakhir dengan seruan jihad fie sabilillah. Beberapa kantor berita bahkan melaporkan bahwa kaum salafi di Ma’had Darul Hadits, Dammaj, Yaman, telah meminta bantuan kepada Mujahidin Al Qaeda Semananjung Arab (AQAP) yang juga bermarkas di Yaman. Allahu Akbar!
(M Fachry/dbs/arrahmah.com)
Read More..

Senin, 28 November 2011

Untuk Mujahidin Al-Busyro -hafidzokumulloh-


Assalamu'alaikum Warrahmatullah wabarakatuh..
Bismillahirrohmanirrohim...

Kaifa Haluk ya mujahideen Al-Busyro?

Ini kami persembahkan sebuah hadiah yang Insya allah bermanfaat...

ini untuk kalian yang dibenci karena iman kalian,
untuk kalian yang dianggap melampaui batas karena keteguhan kalian,
untuk kalian yang dilabeli oleh teroris karena amal shalih kalian,
untuk kalian yang diabaikan karena kecilnya jumlah kalian,
untuk kalian yang ditertawakan karena kesyahidan kalian.

Ini semua untuk kalian, wahai para mujahidin yang merasa kesepian karena terpisah dari barisan,
para istri mujahidin yang sedang berlinangan air mata karena diolok-olok manusia tanpa bisa membela,
dan putra putri mujahidin yang lelah lagi letih karena i’dad dan ribath..


Kaifa Haluk ya mujahideen Al-Busyro?

Sesungguhnya yang dikehendaki oleh Islam adalah sebagian besar waktumu, hampir seluruh hartamu, dan segarnya masa mudamu.
Islam menghendaki dirimu, seluruhnya. Islam menghendakimu saat kamu bertenaga, bukan saat telah loyo.
Islam menghendaki masa mudamu, masa kuatmu, masa sehatmu, dan masa perkasamu, bukan masa rentamu.
Islam menghadapi semua yang terbaik, termulia, dan teragung darimu.

Tidakkah kau lihat Abu Bakar ash-Shiddiq ra menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah dan demi dakwah Islam,
lalu ketika Rasulullah saw bertanya, “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?”,
beliau menjawab, “Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Tidakkah kau lihat ‘Utsman bin ‘Affan membekali seluruh pasukan perang Tabuk sendirian?
Coba bayangkan, seorang diri membekali seluruh pasukan perang; senjata, perlengkapan, bekal, kuda, onta,
dan kebutuhan logistiknya.. Padahal jumlah pasukan saat itu lebih dari 10.000 personil.

Coba bandingkan sumbangsih agung ini dengan realita kita hari ini.
Kita bisa mendapati banyak orang islam yang kaya hari ini ~bahkan dari kalangan multazimin~ namun kita kesulitan untuk mendapati seseorang yang menanggung seluruh ‘budget’ dakwah saja.
Saya katakan ‘dakwah’ bukan ‘jihad’. Mengapa? Sebab jihad membutuhkan harta yang tak terbatas.

Kita bisa mendapati seorang ikhwah yang hidup berkecukupan, dan ia pun tahu persis apa yang dibutuhkan
oleh saudara-saudaranya yang berjihad. Ia pun tahu bahwa kebanyakan keluarga ikhwah yang diuji
di jalan Allah ~jumlah mereka ribuan~ sangat membutuhkan bantuan. Namun demikian, ia tidak berpikir untuk
berjihad dengan hartanya di jalan Allah ~setidaknya sebagai ganti atas ketidakhadirannya untuk
berjihad dengan nyawanya~ selama sekian tahun itu.

Ia pun tidak berpikiran untuk membantu keluarga para mujahid, meninggalkan bagi keluarga mereka sesuatu yang baik.
Ia tidak memikirkan hal itu sedikit pun. Jika ada yang mengingatkannya ia pun menginfakkan beberapa rupiah
yang tidak cukup sekedar untuk mengusir rasa lapar.. Jumlah yang lebih baik ditolak dari pada diterima…
Jumlah yang jauh lebih kecil dari jumlah yang dikeluarkannya untuk keperluan bahan bakar kendaraannya dalam satu hari!!

Sesungguhnya Islam membutuhkan orang yang memberikan segalanya untuk diennya;
kehidupannya, waktunya, hartanya, tenaganya, ruhnya, rumahnya, mobilnya, dan semua yang dimilikinya.
Kita menghendaki seseorang yang ‘menjual dirinya kepada Allah’ dengan keutuhan makna kalimat ini.
Kita menghendaki seseorang yang setiap harinya membawa sesuatu yang baru untuk dipersembahkan kepada Islam.

Bukankah Mush’ab bin Umair, seorang pemuda kaya yang selalu harum dan mengenakan pakaian terbaik,
seorang pemuda yang ditunggu-tunggu oleh setiap gadis Quraisy karena ketampanannya, penampilannya,
kemuliaannya, dan nasabnya; bukankah ketika ia memeluk Islam ia persembahkan semuanya, ia berikan semuanya,
tanpa ada sesuatu pun yang disimpannya? Sampai-sampai ia memakai baju yang penuh tambalan saat hidup,
dan di saat mati, kaum muslimin tidak mendapati kain untuk mengkafaninya?

Sepanjang hidupnya Mush’ab selalu menghadirkan sumbangsih untuk Islam di bidang dakwah dan jihad.
Ia adalah da’i Islam yang pertama di Madinah. Ia adalah orang yang menyebabkan kebanyakan penduduk
Madinah mendapatkan hidayah. Ia adalah peletak batu pertama bangunan daulah Islam di Madinah.
Selain itu ia juga seorang pejuang agung, pembawa panji di medan Uhud, sekaligus salah satu
syuhada` teragung di sana… Itulah sumbangsih yang sebenarnya bagi Islam, dien, dan umat Islam.


Kaifa Haluk ya mujahideen Al-Busyro?

Bagaimana pendapat kalian jika ada seorang buruh pabrik,
ia tidak mengerjakan apa-apa, tidak menghasilkan apa-apa,
kerjanya cuma mengisi daftar hadir di pagi hari lalu pulang di sore hari.
Ia tidak menghabiskan waktunya di pabrik bersama teman-temannya yang bekerja dengan giat penuh semangat.
Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh pemilik pabrik terhadap buruh yang satu ini?
Pasti ia akan memecatnya seketika..

Begitu pun dengan ikhwah yang tidak memahami Islam selain memakai baju gamis dan memanjangkan jenggot,
ia pasif dan tidak mempersembahkan sesuatu pun untuk Islam, kalau pun memberi hanya sedikit atau yang tidak baik..

Beberapa gelintir ustadz dan ikhwah yang aktif untuk Islam dengan giat dan sungguh-sungguh,
sekali-kali tidak akan mampu menegakkan daulah Islam sendirian,
seberapa pun usaha dan tenaga yang mereka kerahkan.
Itupun tidak akan mampu mengemban seluruh beban jihad di negeri yang luas ini.

Kita tahu tindakan yang diambil oleh thaghut untuk menghadapi para pejuang Islam.
Tindakan yang menjadikan sekian ikhwah dihadapkan pada ujian yang berat dari waktu ke waktu,
sehingga mereka meninggalkan ruangan kosong yang semestinya diisi.

Operasi yang mereka lakukan membuat gerakan ikhwah tersendat dan terbatas,
mengharuskan setiap ikhwah untuk lebih mengerahkan tenaga lagi,
lebih meningkatkan diri dalam medan amal islami dan mengupayakan sumbangsih
supaya ia lebih mampu mengemban tanggung jawab, tanggung jawab amal Islami,
dan belajar bagaimana berdakwah, mentarbiyah, menegakkan hisbah, jihad, dan menggerakkan orang lain,
dan semua skill yang dibutuhkan.

Seorang ikhwah selayaknya tidak berdiam diri di rumah,
mengandalkan orang lain yang akan mengambil peran itu.
Sebab siapa yang akan datang?! Semestinya ia berupaya ~semampunya~
untuk melaksanakan berbagai bentuk amaliyah semuanya dengan semangat, giat, kuat, responsif, tekun, dan serius.

Sesungguhnya hari ini Islam membutuhkan seseorang yang mengorbankan segalanya,
membelanjakan semua miliknya di jalan Allah, dan menyerahkan seluruh umurnya lillah,
untuk memenangkan dien-Nya..
Hari ini Islam membutuhkan seseorang yang berkata dari nuraninya
seperti ucapan Sa’ad bin Mu’adz kepada Rasulullah saw saat perang Badar;


Sa’ad berkata, “Silakan melangkah, wahai Rasulullah, ke mana pun Anda suka.
Kami akan bersama dengan Anda. Demi yang telah mengutusmu dengan kebenaran,
sekiranya Anda bawa kami ke tepi laut lalu Anda menceburkan diri ke dalamnya,
niscaya kami semua akan menceburkan diri kami bersamamu, tiada satu pun yang akan ketinggalan.
Sedikit pun kami tidak enggan jika Anda pertemukan kami dengan musuh-musuh kita esok hari.”

Ia juga berkata, “Sambunglah tali siapa yang Anda suka, putuskan tali siapa yang Anda suka,
dan ambillah harta kami sesuka Anda, sesungguhnya apa yang Anda ambil lebih kami sukai daripada yang Anda tinggalkan”

Sungguh kalimat di atas adalah kalimat terbaik yang pernah diucapkan oleh seorang tentara kepada komandannya sepanjang sejarah. Kalimat yang dialiri kehidupan, gerakan, dan kejujuran.

Sesungguhnya itulah ungkapan jujur dari sesuatu yang menjalar
dalam rasa dan jiwa sekelompok kecil orang-orang beriman
dari kalangan Anshar di bawah kepemimpinan seorang yang agung, Sa’ad bin Mu’adz.
Kalimat yang telah diteriakkan oleh hati Sa’ad sebelum diteriakkan oleh lisannya yang jujur.

Sang Komandan, Rasulullah..Beliau benar-benar berbahagia dan bertambah semangat dalam berperang
dikarenakan perkataan Sa’ad ini. Beliau bersabda, “Maju dan bergembiralah!
Sesungguhnya Allah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua kelompok.
Demi Allah, kini aku ~seakan-akan~ melihat saat kekalahan mereka.”

Kaifa Haluk ya Mujahideen Al-Busyro?

Hari ini Islam menghendaki setiap muslim berujar kepada dirinya sendiri, “Apakah pantas aku beristirahat,
sementara saudara-saudaraku berpayah-payah di jalan Allah? Apakah pantas aku tidur nyenyak sementara
saudara-saudaraku disiksa di jalan Allah? Apakah pantas aku tinggalkan jihad sementara aku melihat
kesulitan berat dan peperangan hebat melawan musuh sedang dihadapi oleh umat Islam?”

Islam menghendaki seseorang yang mengucapkan kata-kata Abu Khaitsamah saat ia terlambat menyusul Rasulullah saw
ke medan Tabuk, “Rasulullah saw dibakar terik mentari, angin badai, dan panas yang menyengat.
Abu Khaitsamah di bawah naungan sejuk, makanan yang tersaji, dan istri yang cantik, menunggui hartanya.
Sungguh ini sangat tidak pantas.”

Kalimat-kalimat yang agung ini mestinya digumamkan oleh setiap muslim, khususnya ikhwah multazim.
Kepada diri sendiri selayaknya ia berkata, “Sebagian dari saudara-saudaraku seiman kini disiksa,
sebagiannya lagi diusir dan tidak mendapatkan tempat tinggal, dan sebagian yang lain dibunuh dan diintimidasi.
Sedangkan aku; aku bergelimang kenikmatan, aku makan apa yang aku mau, aku minum minuman yang paling menyegarkan,
di ruangan yang sejuk penuh dengan kenikmatan.

Aku tidak sedikit pun memberikan sumbangsih untuk Islam. Sebaliknya,
aku justru meninggalkan saudara-saudaraku menanggung semua beban berat itu!
Ini benar-benar tidak pantas dan tidak adil. Demi Allah, aku akan menyusul saudara-saudaraku,
berjihad bersama mereka, mengerahkan segenap upaya di jalan Allah bersama mereka.
Aku akan merasakan apa yang mereka rasakan. Aku akan menanggung beban sebagaimana mereka pun menanggungnya..”


Kaifa Haluk Ya mujahideen Al-Busyro?

Dalam sirah Ibnu Hisyam, ketika Rasulullah saw sampai di rumah pasca perang Uhud, beliau menyodorkan pedangnya kepada putrinya, Fathimah. Beliau berkata,
“Bersihkan ini dari darah yang menempel, wahai putriku! Demi Allah, hari ini ia telah berlaku shidiq kepadaku.”
Ali bin Abu Thalib juga menyodorkan pedangnya kepada Fathimah, seraya berkata,
“Ini juga, bersihkan dari darah yang menempel. Demi Allah, hari ini ia pun telah berlaku shidiq kepadaku.”
Mendengar penuturannya Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu benar-benar telah berlaku shidiq saat berperang,
sungguh telah berlaku shidiq juga saat berperang: Sahal bin Hanif dan Abu Dujanah.”

Shidiqnya pedang itu tergantung kepada shidiqnya si pemilik pedang.
Senjata akan berlaku benar (sesuai dengan yang diinginkan sang pemilik)
jika sang pemilik berlaku benar terhadap Allah.

Hari ini mungkin saja kita menjumpai pedang… namun kita tidak mendapati orang-orang yang shidiq seperti
mereka untuk menjadikan pedang itu menjadi shidiq pula.

Sebatang senapan di tangan orang-orang seperti Khalid dan sahabat-sahabatnya
berbeda dengan senapan-senapan lain, meski semua dibuat oleh pabrik yang sama.
Peluru yang ditembakkan oleh orang-orang seperti mereka berbeda dengan peluru-peluru lainnya…

Sebuah kisah pernah terjadi; peluru ditembakkan oleh seorang mujahid yang lemah
dari jarak yang sangat jauh tetapi dapat mengenai komandan musuh tepat di batang lehernya?!

Itulah peluru shidiq yang keluar dari senapan shadiq, dan ditembakkan oleh seorang yang shidiq
terhadap Rabbnya dan mukhlis. Ada juga sebutir peluru ~hanya sebutir~ yang ditembakkan oleh
seorang mujahid ke arah dedengkot kufur telah membuat para dokter dan orang-orang yang
mengoperasinya geleng-geleng kepala. Tak jauh beda halnya dengan orang-orang di pengadilan.
Mereka menyangka peluru yang ditembakkan bukan jenis peluru yang biasa kita kenal.
Peluru dengan jenis khusus!

Mengapa? Sebab, bagaimana mungkin sebutir peluru dapat melukai dan merusak tubuh sampai separah itu??
Benar, itu adalah peluru shidiq yang keluar dari senapan shidiq yang dipanggul oleh seorang lelaki
yang shadiq terhadap Rabbnya, lagi mukhlis.

Mungkin kita punya pedang. Namun di mana rijal semisal ‘Ali bin Abu Thalib, Khalid bin walid,
Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, ‘Amru bin ‘Ash, dan ‘Ikrimah bin Abu Jahal?

Mungkin kita punya pedang. Namun di mana Shalahuddin; hati Shalahuddin; keikhlasan dan kezuhudan Shalahuddin?

Mungkin kita punya pedang. Namun di mana Khalid dan sejawat-sejawatnya,
kezuhudan mereka, keshidiqan mereka, keikhlasan mereka, sikap wara’ mereka, dan juga tawadlu’ mereka?

Pernah ada yang berucap, “Obatilah si Fulan dengan membacakan al-Fatihah,
sebab ‘Umar pernah melakukannya dan si sakit pun sembuh!”
Lalu orang yang diajak berbicara menimpali, “Ini al-Fatihahnya, lalu mana ‘Umarnya?”

Sesungguhnya pedang tidak akan pernah shidiq jika bukan di tangan seorang yang shidiq pula.
Pedang tidak akan pernah ikhlas jika tidak dibawa ke medan jihad oleh seorang mukhlis.
Pedang tidak akan membawa pengaruh apa-apa terhadap musuh-musuh Allah
kecuali jika digenggam oleh wali-wali Allah yang sebenarnya.
Pedang tidak akan berakhlak jika yang menyandangnya bukan seorang yang berjalan di atas jalan Nabi
dan berakhlak dengan akhlak Nabi pula.

Kaifa Haluk ya Mujahideen Al-Busyro?

Ingatlah selalu, antum ini berada di salah satu garis perbatasan Islam.
Jangan sampai Islam diserang dari arahmu. Jangan sekali-kali lengah akan kedudukanmu walau sesaat.
Jika antum melakukannya, sungguh, musuh akan menyergapmu, membunuhmu, dan membunuh orang-orang yang bersamamu,
juga yang ada di belakangmu!


Kaifa Haluk ya Mujahideen Al-Busyro?

sungguh nasehat ini semua, adalah untuk diriku sendiri dan kalian..
Tidakkah kita memikirkan, kenapa kita bisa dikumpulkan di forum yang penuh barokah ini?

itu karena, Allah maha bijaksana dan maha adil.. ia tidak akan membebankan sesuatu kecuali orang tersebut mampu memikulnya.. lalu, kenapa bukan si fulan yang berada di forum ini, kenapa diri kita?

itu karena Allah tahu, bahwa kita MAMPU mengurus amanah dari para mujahideen ~menyampaikan berita gembira dari medan
perang dan mengobarkan semangat jihad para pemuda~, dan si fulan belum tentu mampu menanggungnya/memikulnya...

itulah alasan kenapa antum yang berada di sini!

ana berharap dari nasehat yang panjang lebar diatas, kita semua bisa aktif untuk mengembangkan dan memberikan sumbangsih kepada forum yang kita cintai ini.. kami merasa sedih, jika forum yang penuh barokah ini, sepi dari amal-amal islami..

Alhamdulillah...

Assalamu'alaikum Warrahmatullah wabarakatuh..


Dari Saudaramu: Asyraf, Abu Isrofiel, dan Isham Al-Qomari
Read More..

Diary mathlubin

Bismillahirrohmanirrohim..

Segala puji hanya untuk Allah yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya dan menghinakan kesyirikan dengan kekuasaaan-Nya.Dialah yang mengurus segala urusan dan memberi tangguh bagi orang – orang kafir dengan rencana-Nya.Sholawat dan salam kepada Nabi dan Imaamul mujahidin Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah menerangi islam dengan Al – Qur’an dan pedangnya. Tsumma ba’du:

“ Wahai orang – orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh Alllah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan“. [QS. Al – Hasyr: 18].

Adapun dakwah tauhid serta berjihad dalam rangka menegakkan Dien Nya dan memerangi kesyirikan akan terus berlangsung, panji – panji tauhid akan terus berkibar dan akan terus diembani oleh orang – orang yang kuat serta para kesatria dari umat ini meski musuh – musuh Dien ini dari kalangan yahudi dan nasrani serta dari kalangan musyrik serta para thoghut berusaha memadamkannya dengan cara menangkap, membunuh atau mengusir para mujahidin.

Sebagaimana firman Allah jalla wa ‘ala: “Dan (ingatlah) ketika orang – orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkapmu dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik – baik pembalas tipu daya”. [QS. Al Anfal: 30].

Inilah realita resiko yang harus dijalani mujahidin khususnya di Indonesia yang melakukan amaliyat (harbul ishobat) melawan thoghut dan anshornya dalam rangka iqomatuddien.

Konsekuensinya akan tertangkap, dibunuh (syahid insya allah) atau terusir (menjadi DPO/ mathlubin). Sunnatullah dan dialami serta dijalani dengan sabar baik oleh anbiya ataupun yang mengikuti mereka dengan haq. Hal inipun pernah kami alami sebagai mathlubin atau DPO thoghut dan anshornya, bahkan juga dialami oleh ikhwan – ikhwan kami (mujahidin) di Indonesia. Bahkan dirasakan oleh Nabi dan Salafus Sholeh, sebagaimana firman Allah azza wa jalla: “Dan seorang laki – laki bergegas dari ujung kota seraya berkata: “Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu maka keluarlah (dari kota ini). Sesungguhnya aku termasuk orang – orang yang memberi nasihat kepadamu”. Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), Dia (Musa) berdo’a: “ Wahai Rabb ku selamatkanlah aku dari orang – orang yang dzalim itu”. [Al – Qashas: 20-21].

Rasullullah pun pernah menjadi mathlubin (DPO) orang – orang Quraisy yang berusaha untuk membunuhnya kemudian beliaupun keluar dari kota mekah bersama Abu Bakar Shiddiq radliyallahu ‘anhu menuju yastrib (madinah). Peristiwa ini dikenal dengan hijrah (lihat surah nabawi untuk lebih lengkapnya silahkan baca dalam “Qashoshul Mathlubin”). Ketakutan inilah awal pertama apa yang kami rasakan ketika menjadi mathlubin sebagaimana yang dialami oleh nabi Musa ‘alaihi salam dan merupakan fitrah atau rasa yang manusiawi. Yang kami lakukan hanya berdoa dan bertawakal kepada Allah, disamping itu kami pun melakukan ikhtiyar mencari tempat untuk bersembunyi dan tempat beristirahat meski hanya sejenak. Barangkali bagi mathlubin yang memiliki peran penting atau merupakan tokoh ataupun dia anggota tanzim atau jamaah yang besar dan banyak anggotanya mungkin mudah mencari tempat untuk istirahat. Tapi tidak bagi kami yang hanya jamaah kecil atau beberapa ikhwan saja yang tidak terlalu dikenal atau tidak banyak mengenal ikhwan (mujahidin) di Indonesia yang telah atau akan melakukan amaliyat.

Ketika kami mathlub, kami berusaha mengetuk dari pintu ke pintu ikhwan yang kami kenal atau tidak kenal (ikhwan yang iltizam terhadap jihad) ada sebagian yang menerima tapi lebih banyak menolak kami. Wallahu musta’an.
Inilah fenomena dan realita kaum muslimin di Indonesia khususnya yang mengaku atau berazam ingin berjihad, kami tetap berhusnuzhon terhadap ikhwan – ikhwan mujahidin yang pernah kami temui dan minta dicarikan tempat. Demi Allah, ketika semua pintu tertutup sungguh pintu Allah selalu terbuka karena Dia adalah Rabb kami dan kami berjuang dalam rangka menegakkan Dien Nya. Tentu Dia tidak akan menelantarkan kami dan selalu melindungi kami meski semua manusia menjauh dari kami.

Kami pun berhusnuzhon kepada Allah dan tidak pernah berputus asa dari rahmatnya meski semua manusia mencoba menangkap atau membunuh kami. Yang membuat kami heran dan menjadi tanda tanya adalah Aina Anshorul Muslimin ?! (dimana penolong kaum muslimin?!). Mungkin jawabannya ada pada diri kita atau hati kita masing – masing karena kami mengedepankan husnuzhon kepada saudara – saudara kami. Dimanakah kaum Anshorul Muslimin disaat mathlubin membutuhkan uluran atau bantuan mereka? Dimanakah Anshorul Muslimin disaat istri dan anak – anak mujahidin membutuhkan bantuan?! Sungguh mereka adalah orang – orang yang pemalu dan menjaga kehormatannya dari meminta dan mengiba kepada sesama makhluk.

Apakah uluran bantuan itu disekat oleh dinding dengan nama Ashobiyah jama’ah ? ataukah dengan tirai rasa takut yang dihamparkan oleh setan dari kalangan jin dan manusia? Laa haula walaa quwwata illa billah.

Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Barangsiapa bangun dari tidur sehingga dia tidak memperhatikan nasib kaum muslmin maka dia bukanlah dari golongan kami “. (Al Hadist).
Kami membayangkan jika saudara – saudara kami memiliki kesadaran dan tanggung jawab dalam rangka ikut membantu mata rantai jihad iqomatudin, setiap seorang ikhwan bersedia menerima mathlubin sebagi tamu diberi tempat istirahat meski di kamar mandi ataupun di dekat kandang ayam selama tiga hari terus disambung ke ikhwan berikutnya.

Bayangkan tiga hari dikalikan ikhwan yang berjumlah puluhan tentu mathlubin tidak akan mudah ditangkap dengan izin Allah, serta harus dibarengi khitman ikhwan yang ditempati. Subhanallah jihad dan amaliyah akan terus ada untuk menteror dan menghancurkan thoghut dan anshor nya, insya Allah...serta manfaat lainnya ikhwan yang menjadi anshor akan mendapat banyak ilmu. Jika mathlub ini seorang muthafajirot (ahli pembuat bom) atau senjata maka akan memperoleh pelatihan tentang nya, jika mathlub ini seorang ustadz maka akan memperoleh ilmu dien darinya. Sayang...semua hanya angan kami belaka.

Kami mathlub bukan lari dari pertempuran yang telah dimulai tapi kami menjadi mathlub untuk mencari tempat dalam rangka bergabung dengan ikhwan mujahidien lain dan untuk mengatur strategi ditempat peristirahatan kami. Tapi sekali lagi sayang, mungkin hanya angan – angan kami ketika kami mundur lari kebelakang sebagai mathlubin berharap ada pasukan atau jama’ah yang berjihad, ternyata tidak kami temui atau tidak mau kami temui, ataukah sudah tidak ada para pembawa panji tauhid yang berjihad ataukan telah banyak korban virus deradikalisasi yang disebar oleh musuh dien ini? Wal ‘iyadzubillah...

Kami teringat nasihat salah satu ikhwan kami yang telah syahid (kama nahsabuhu walla nuzakki “alallah ahada) beliau menasehati kami : “Ketika antum melakukan amaliyat dan menjadi mathlubin jangan sampai tertangkap, kalau bisa melawan”. Allahu Akbar.. !!!
Qodarulloh akhirnya kami tertangkap,tanpa perlawanan karena kami tidak memiliki senjata untuk melawan bahkan diantara kami ada yang ditangkap ketika lengah. Musuh kami (densus dan anshornya) ternyata telah mengetahui keberadaan kami dan menjadi catatan penting mengapa ketika mereka (densus) telah mengetahui keberadan kami tapi kami tidak langsung ditangkap yaitu :

1. Menunggu momen atau saat yang tepat (menurut mereka entah politik atau uang).
2. Pembiaran terhadap mathlub agar diketahui siapa dan kemana atau untuk mengetahui lebih banyak ikhwan-ikhwan mujahidin. Metode ini diistilahkan dengan “Peganglah ekor tikus dan biarkan dia mencari sarangnya”.

Kami ucapkan jazakalloh khoiron katshiron kepada Anshorul Muslimin semoga kalian memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia dari sisi Alloh jalla wa ‘ala sebagaimana firman-Nya : “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dijalan Alloh,dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang muhajirin),mereka itulah orang-rang yang benar-benar beriman.Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia”.(QS.Al Anfal :74).
Untuk saudara-saudara kami yang mathlubin,semoga Alloh merahmati antum semua dan memudahkan segala urusan antum dalam jihad iqomatuddien.Gentarkan dan hancurkanlah musuh-musuh tauhid dan hiburlah mujahidin yang tertawan,semoga dalam persembunyian antum selalu mengawasi kelemahan musuh dan mengatur strategi bukan dalam rangka sembunyi lalu sibuk dengan urusan duniawi.

Untuk saudara-saudara kami kaum muslimin ketika antum belum mampu untuk amaliyat maka tolonglah dan bantulah mathlubin dan keluarga mujahidin karena itu termasuk dalam mata rantai jihad. Doakanlah kami dan janganlah mencela kami,sudahkah antum semua mendoakan kami dan mujahidin disetiap sujud antum dengan ikhlas ?! Doakanlah kami “Allohumma ilaika nasku dlo’fa quwwatinaa,hasbunalloh wani’mal wakil”.wallahu ta’ala a’lam bishshowab.Karena doa antum yang sholih/sholihah serta ikhlas merupakan salah satu senjata dan perisai bagi kami.

Kami menulis ini bukan karena kami mengiba dan meminta untuk dikasihani oleh antum, tidak Demi Alloh. Apa yang pernah kami alami dan lalui adalah sebuah nikmat dari Alloh bagi kami .Kesusahan dan kepayahan yang kami alami disaat mathlub mudah-mudahan menjadi penebus dosa-dosa kami. Sekali lagi Demi Alloh apa yang kami tulis bukan untuk dikasihani atau mengiba. Ini adalah muhasabah bagi diri kami pribadi ,dan jika diantara antum ada yang ingin menambahkan dan memberi kritik terhadap kami,dengan besar hati kami sangat senang menerimanya,karena kami tidaklah ma’shum dan dalam perjalanan jihad kadang terbuka pintu ijtihad. Semoga ijtihad yang kami sesuai syar’i, jikapun tidak semoga Alloh mengampuni kesalahan dan kekeliruan kami karena Alloh Maha Pengampun dan kepada-Nya lah semua urusan kembali.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam takut terhadap suatu kaum beliau membaca doa : ”Allahumma Inna Naj’aluka Fi Nukhurihim Wa Na’udzubika Min Syururihim”. (HR.Ahmad terdapat dalam kitab Riyadhush Sholihin.Imam Nawawi)

Aku tak peduli bagaimana aku mati..
Selama aku mati dijalan Alloh sebagai seorang muslim !!!
Kuserahkan diri kepada-Nya..
Semoga Dia berkenan memberkati setiap sobekan daging ini..

15 Dzulhijah 1432 H
Daar AL KHOLWAH
Hamba Alloh yang lemah
ABDURAHMAN AR RIHALI
Read More..