Selasa, 01 November 2011

10 Prinsip Jihad Rasulullaah [Penting Dipahami!]

10 Prinsip Jihad Rasulullaah [Penting Dipahami!]

Prinsip-Prinsip Perang Rasulullah

Prinsip-prinsip perang ialah substansi yang tumbuh pada diri pemimpin yang sejati dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan yang dilakukannya semasa dalam peperangan. Dan ia merupakan unsure yang menggabungkan cara-cara yang ditempuh oleh si pemimpin saat menjalankan perannya secara alami dan tidak dibuat-buat. Dalam prinsip-prinsip yang bersifat tetap dan tidak berubah selamanya dan ia merupakan dasar-dasar lama yang menjadi tumpuan peperangan-peperangan di setiap waktu dan tempat.

Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam sangat mengerti Prinsip-prinsip perang dengan Fithrah (sifat pembawaannya) yang sehat, yang menunjukan atas kesiapannya yang demikian istimewa dan merupakan talenta bawaan untuk memegang kendali kepemimpinan.

Rasulullaah menerapkan prinsip-prinsip ini dalam semua peperangannya, dimana hal tersebut mempunyai pengaruh signifikan dalam kemenangan-kemenangan yang diperolehnya.

Cukup banyak contoh yang dikuak, saat membicarakan operasi-operasi militer yang dilakukan oleh Rasulullaah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam mengenai penerapan kesemua prinsip perang itu secara nyata. Kesepuluh prinsip itu yakni : Maintenance of Object, Offensive, Surprise (Mubaghathah), Concerntrate, Efficiency, Security, Flexibility, Coorperative, Maintenance of Moril, dan Administration Thing.


Penjelasan Rinci Mengenai Kesepuluh Prinsip Tersebut

1. Maintenance of Object (Menetapkan Objek Sasaran dan Penjagaannya)
Dalam setiap Operasi perang maka sudah selazimnya memilih objek sasaran dan mendefinisikannya secara jelas. Sesungguhnya tujuan akhir dari suatu perang adalah menghancurkan semangat dan keinginan berperang pihak lawan. Maka harus diarahkan setiap lembaran perang dan setiap operasi militer yang tersendiri kepada tujuan akhir dari peperangan tersebut, namun demikian setiap operasi militer itu hendaklah mempunyai tujuan yang spesifik dan harus diketahui dengan jelas.

Rasulullaah memilih objek sasaran secara tepat, dan berpikir mencari jalan yang terbaik agar bisa sampai pada objek sasaran tersebut, kemudian menetapkan strategi yang tepat untuk mencapainya.

Telah Nampak jelas prinsip “Maintenance of Object” pada awal perjanjian yang diadakan Rasulullaah setelah berhijrah ke Madinah. Yakni ikatan perjanjian antara kaum muslimin di satu pihak dengan Kaum Musyrikin dan Yahudi Madinah di pihak yang lain. Ikatan perjanjian tersebut menetapkan bahwa orang musyrik (Madinah) tidak boleh memberi perlindungan pada orang-orang Musyrik Quraisy baik harta maupun Jiwanya, dan ia tidak boleh memperdaya orang mukmin untuk kepentingan orang-orang musyrik quraisy.

Contoh paling jelas prinsip “maintenance of object” adalah apa yang telah dilakukan Rasulullaah dalam Ghazwah Hudaibiyah. Dalam Ghazwah tersebut Rasulullaah bertujuan untuk meruntuhkan Moril Kaum Musyrikin Quraisy tanpa Peperangan.


2. Offensive (Menyerang)
Kemenangan tidak akan dicapai kecuali dengan Offensive saja. Setiap peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah bisa dikategorikan sebagai peperangan yang bersifat Offensive, terkecuali dua peperangan, yakni : Perang Uhud dan Khandaq, sebab dalam peperangan ini kaum musyrikin mengkonsentrasikan kekuatan pasukannya di wilayah madinah dan melakukan penyerangan terhadap kaum muslimin.

Rasulullah dengan berbagai cara dapat memperoleh informasi-informasi tentang rencana musuh-musuhnya sebelum mereka bertindak pada waktu yang tepat, dengan cara demikian beliau dapat menyerang musuh-musuhnya dan menggagalkan rencana-rencana mereka yang mengandung permusuhan.

Offensif tidaklah sama dengan Invasi, namun maknanya adalah spirit untuk melakukan penyerangan, yang dalam hal ini melekat dalam pikiran seorang panglima pasukan, oleh karena bertahan (defensive) saja tidak akan bisa mengantarkan kepada kemenangan yang hakiki tapi hanya kemenangan parsial saja, adapun offensive akan mengantarkan kepada kemenangan yang sesungguhnya.

Yang sangat penting untuk dijadikan perhatian adalah: bahwa prinsip”offensive” yang diterapkan oleh rasulullaah tujuannya adalah untuk membela Islam, melindungi Dien yang lurus, menjaga kebebasannya, dan untuk tujuan menyebarkan perdamaian. Untuk maksud-maksud tersebut diatas, maka beliau menerapkan prinsip pertahanan yang mengatakan bahwa : “Penyerangan adalah cara terbaik untuk bertahan”.


3. Surprise (Mubaghathah)
Surprise merupakan factor yang memiliki pengaruh sangat kuat dan paling besar dalam suatu pertempuran, pengaruhnya terhadap moril pasukan lawan sangat besar sekali. Dan pengaruhnya dari aspek mental, dapat melumpuhkan penalaran dan pemikiran panglima pasukan lawan. Surprise juga merupakan suatu keadaan yang diciptakan dimana musuh dalam posisi tidak siap menghadapi lawan, sedangkan Kitman merupakan salah satu sarana paling penting yang bisa membawa kepada surprise.

a) Merahasiakan persiapan-persiapan yang berkaitan dengan rencana-rencana perang / serangan serta merahasiakan besarnya jumlah pasukan cadangan.

b) Melakukan pemindahan secara cepat unit-unit pasukan dari satu posisi ke posisi yang lain sebagai persiapan untuk melancarkan serangan pada posisi yang tak diduga oleh lawan.

c) Mempergunakan medan-medan yang sukar dilalui atau menyebrangi obstacles yang dianggap tidak dapat dilewati.

d) Menggunakan persenjataan baru yang tak terduga oleh musuh atau taktik strategi pertempuran baru.
Keempat poin tersbut sangat penting untuk diperhatikan para Militer Islam.

Prinsip surprise ini bisa diterapkan pada aspek tempat, atau waktu ataupun taktik. Rasulullaah telah menerapkan prinsip ini pada tiga aspek tersebut, sehingga peperangan yang dilakukan beliau bisa dianggap sebagai contoh-contoh fenomental bagi penerapan teknik-teknik surprise.

Sebagai contoh meskipun Kota Madinah sudah menjadi “Qa’idah Aminah” bagi kaum muslimin, akan tetapi Koloni Kelima/ Musuh dalam selimut yang memang tidak menghendaki jayanya kaum muslimin senantiasa melemahkan semangat kaum muslimin dengan berbagai cara. Dan koloni kelima ini terdiri dari orang yahudi, munafikin, intel quraisy dari arab badui, dan intel romawi dari kalangan rakyat jelata. Mereka itulah yang senantiasa menyampaikan informasi mengenai kaum muslimin kepada pihak musuh.

Akan tetapi Rasulullah menutup rapat semua perencanaannya. Apabila hendak melakukan perang, beliau selalu menampakan seolah-olah menuju pada sasaran yang lain, sehingga apabila koloni kelima ini menyampaikan informasi-informasi tersebut kepada musuh, menyebabkan kacaunya perhitungan musuh-musuh islam.


Contoh Penggunaan Teknik Surprise dalam Peperangan Rasulullaah :

ü Dalam Perang Bani Lihyan Rasulullah berhasil mengecoh pergerakan musuh (Kaum Quraisy dan Bani Lihyan).
ü Dalam Perang Khaibar Rasulullah menggerakan pasukannya ke Raji’ dekat wilayah Negeri Kabilah Ghathafan, kemudian setelah mengirim 1 unit pasukan kecil ke wilayah pemukiman Kabilah ghathafan, beliau segera berbalik dengan pasukan utamanya ke Khaibar. dan karena kecerdikan beliau Kaum Yahudi dan Kabilah Ghathafan gagal menjalin kerja sama untuk menyerang kaum Muslimin.
ü Dalam Perang Bani Quraizhah Rasulullah berhasil melumpuhkan semangat juang mereka, dan beliau berhasil memegang inisiatif penyerangan hingga akhir peperangan.
ü Advance (Gerakan mendekat) yang dijalankan Rasulullah dalam perang khaibar secara gerilya hingga sampai pada malam hari dan berhasil mengepung orang-orang yahudi.
ü Rasulullah menggunakan taktik formasi “Barisan Berlapis” dalam perang badar.
ü Penggalian Parit dalam Perang Ahzab.
ü Penggunaan senjata Manjanik dan Dababah pada saat mengepung Kota Tha’if.
Dengan begitu kitapun bisa memahami bahwa seorang panglima perang yang brilian adalah siapa yang mampu menerapkan prinsip surprise dalam peperangan-peperangannya.


4. Konsentrasi Kekuatan
Menghimpun semaksimal mungkin kekuatan moril, fisik dan materiil serta mempergunakannya pada waktu dan tempat yang pasti (seharusnya). Hari ini cukup banyak organisasi-organisasi baik yang militer maupun non-militer itu memiliki pola kekuatan yang sporadic tidak terfokus pada satu factor dan tujuan serta enggan / malas mengikuti prosedur yang telah ditetapkan masing-masing Qiyadahnya. Sejak turunnya wahyu kepada Rasulullaah, beliau melakukan kerja keras di dalam menyebarkan dakwah dengan cara yang bijak dan dengan penyampaian Mau’izhah Hasanah, hingga akhirnya dakwah beliau tersebar. Tersebarnya dakwah mengandung arti bertambahnya jumlah pengikut Islam dan bertambah sempurnanya kekuatan yang mereka galang, untuk dipergunakan pada tempat dan waktu yang tepat.

Hijrahnya beliau dalam aspek militer mengandung arti menghimpung orang-orang Islam di satu wilayah agar mereka berada dibawah satu komando kepemimpinan.

Jihad dalam islam belum mulai dilakukan terkecuali sesudah terkonsentrasikannya para pengikut Islam, sehingga kaum muslimin memiliki tingkat kemampuan dalam memberikan pembelaan terhadap Islam.

Sesungguhnya Rasulullah telah menerapkan prinsip “Konsentrasi Kekuatan” ini dalam semua ghazwahnya, dan beliau tidak mengirim satu pasukan untuk menjalankan tugas terkecuali setelah ia melewati masa tarbiyah yang cukup lama. Dan beliau tidak pernah sama sekali bersikap ragu-ragu dalam mengkonsentrasikan semaksimal mungkin materiil dan moril dalam setiap pertempuran yang diterjuninya.


  1. Efisiensi Tenaga
Rasulullaah tidak pernah mengirim satu pasukan untuk menjalankan tugas terkecuali ia memandang bahwa kekuatan pasukan itu mampu menjalankan tugas dari semua sisinya.

Pentingnya melakukan Efisiensi Tenaga agar menggunakan kekuatan pasukan lebih kecil untuk melakukan pengamanan atau mengalihkan perhatian musuh ke tempat lain atau menolak kekuatan penyerbu yang lebih besar daripadanya dengan tetap menjaga agar sampai pada tujuan yang diharapkan.

Sesungguhnya efisiensi tenaga menunjukan pada penggunaan kekuatan secara berimbang serta mengatur dengan bijak potensi-potensi yang dimiliki untuk merealisir tercapaianya konsentrasi kekuatan yang efektif pada tempat dan waktu yang tepat.


5. Security
Sudah dijelaskan dalam judul “Membangun Kesadaran Intelejen”


6. Fleksibility
Yang dimaksud dengan Fleksibelitas disini adalah pasukan Islam bergerak menuju sasarannya secara memadai dan cepat. Pasukan islam dapat mencapai tujuannya pada waktu yang tepat, kemudian mengagalkan dan menumpas niat permusuhan pihak lawannya, sebelum pihak lawan berhasil menuntaskan segala persiapan yang dapat mendukung keberhasilannya. Hal ini dicontohkan ketika kaum muslimin sampai di Daumatul Jandal, di tabuk di wilayah palestina, di Tha’if padahal tempat-tempat tersebut sangat jauh dari basis kekuatan Kaum Muslimin, yakni Madinah. Perjalanan tersebut Kebanyakan ditempuh pada malam hari dan pasukan Islam mampu menempuh jarak perjalanan 30 jam berturut-turut saat kembali meraka dari Perang Bani Mushthaliq.

Dari itu bisa kita lihat bahwa Rasulullaah sangat piawai dalam menerapkan Prinsip fleksibilitas dan melihat pasukan yang mampu berjalan 30 jam non-stop itu membuktikan betapa anggota pasukan tersebut memiliki tingkat latihan yang amat tinggi dan skill yang demikian istimewa.


7. Koorperasi (Kerja Sama)
Kita telah melihat bagaimana kerjama sama unit pasukan pemanah dan unit pasukan pedang dan tombak dalam perang badar kubra. Unit pasukan panah menghujani musuh dengan anak-anak panah mereka hingga menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi kaum musyrikin. Kemudian pasukan berkuda dengan pasukan infantry pada peperangan rasulullaah yang lain.


8. Maintenance of Moril
Moril dapat di definisikan sebagai karakter yang dimiliki oleh seorang prajurit terlatih dalam hal Emosional (Perasaan Hati) nya. Karenanya akan timbul Loyalitas yang terbangung atas dasar kecintaan, akan tampil keberanian dalam berperang dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan, dan menampak semua keistimewaan yang menjadikan seorang prajurit sebagai pribadi yang loyal, pemberani dan sabar.

Jika kita hendak memperhatikan bagaimana para pengikut Rasulullah memiliki kemampuan Maintenance of Moril ini sangatlah luar biasa. Loyalitas dan Penataan Emosi mereka dibangun bedasarkan Rasa Cinta dan Keyakinan, bukan karena Keberanian dan Sikap Militansi (yang menggebu-gebu) dalam perang serta ketabahan mereka dalam menanggung kesulitan dengan tekad baja yang tak mengenal kata menyerah ataupun kalah.

Cukup diingat kisah dua pemuda kecil yang membunuh Abu Jahal dalam perang badar, yang diriwayatkan Abdurrahman bin ‘Auf dan Kisah Ummu ‘Imarah dalam perang uhud. Jika mereka saja memiliki semangat juang (moril) yang sedemikian besar, maka bagaimana dengan moril para lelakinya? Renungkanlah..


10. Urusan-urusan Administrasi
Serinci apapun, sefleksible, serasional apapun sebuah rencana operasi jihad, ia tidak akan membuahkan keberhasilan yang diharapkan apabila pelaksanaannya dari sisi administrasi lemah, bahkan mungkin lebih dari itu : “Sesungguhnya (kesuksesan) setiap rencana tergantung Kemampuan administrasinya.”

Begitupun Rasulullaah yang sangat memperhatikan persoalan administrasi dalam setiap peperangan yang diikutinya. Kaum muslimin saling bahu membahu dan membantu dalam memberikan perbekalan kepada para mujahidin.

Islam selalu menghubungankan kata “Jihadun Nafs” dengan “Jihad bil Mal” sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an dalam at-Taubah : 20, al-Baqarah : 261, al-Hadid : 10, ash-Shaff : 11), an-Nisa : 95). Dan jika ingin dicermati kata-kata Jihad bil Mal selalu didahulukan (penyebutannya) dari Jihad dengan diri / nyawa, dan itu merupakan perhatian Islam terhadap persoalan-persoalan Administrasi.

Simplenya, bagaimana mungkin seseorang mau berjihad dengan mengorbankan nyawa sedangkan ia menginfakan hartanya fii sabilillaah pun tidak mau. kita belajar dari para Salafush Shalih, dimana mereka menginfakan seluruh hartanya untuk islam. Mereka rela hidup berkecukupan (bahkan tidak jarang kekurangan) hanya demi Kemuliaan islam dan kaum muslimin.


Itulah prinsip-prinsip jihad yang senantiasa dipegang oleh Rasulullaah. Beliau senantiasa menjaga prinsip-prinsip tersebut begitupun para pengikutnya. Ada perkataan yang mana menurut saya sangat bagus untuk dijadikan pegangan dalam perjuangan, “Berjuanglah, Jangan kau lupakan Pendahulumu!” maksudnya, meskipun zaman terus berkembang dan mengalami perubahan dalam segala aspek (terkhusus militer) jangan pernah melupakan poin-poin penting yang pernah menjadikan para pendahulu kita jaya di masanya. Selawas apapun strategi / prinsip tersebut sedikit banyak akan berguna bagi perjuangan di masa depan kelak. Ingatlah bahwa masa depan kita akan berhadapan dengan suatu masa di mana masa tersebut akan kembali pada zaman tombak dan panah! 
Sebagai tadzkiroh dan pelengkap, Rosululloh shollaAllohu 'alayhi wa sallam berjihad
- Fii sabiilillah / di jalan Alloh. Artinya beliau berjihad karena menjalankan perintah Alloh dan menolong diin Alloh. Dengan dasar inilah Rosululloh sering mendapatkan kemenangan dan mampu mengalahkan musuh-musuhnya dan musuh-musuh Alloh. Sesuai firman Alloh, "Jika kalian menolong (diin) Alloh, Dia akan menolong kalian."

Berbeda halnya dengan Amerika, NATO dan siapa saja yang bersekutu dengan mereka, dengan jumlah mereka yang banyak dan fasilitas mereka yang lengkap, mereka tidak mampu memberangus mujaahidiin di berbagai belahan dunia, terutama di Afghonistan, 'Iroq dan Jaziroh 'Arob serta di berbagai negara yang dihuni oleh Ahlul Jihad. Hal ini disebabkan karena para mujaahidiin berperang dan berjuang karena menolong diin Alloh, bukan untuk yang lainnya, sedangkan orang-orang yang kafir berperang di jalan thoghut.

- Dengan tawakkal, menjalankan sebab dan berdoa. Ini yang menjadi sifat dasar bagi seorang mu'min, agar bersandar (tawakkal) penuh pada Alloh. Sungguh telah banyak dalil dalam al-Qur-an yang memerintahkan kita untuk tawakkal, karena menang dan kalah adalah urusan Alloh, bukan urusan hamba. Sedangkan menjalankan sebab adalah sesuatu yang lazim, yang dengan sebab itulah Alloh akan merubah nasib suatu kaum. Bi hamdillah, al-Akh di atas telah memaparkan sebab-sebab yang perlu dilakukan dalam jihad. Adapun doa, maka ini adalah inti 'ibadah, seperti dijelaskan dalam hadits shohih, sedangkan seorang hamba beriman hanya kepada Alloh dia ber'ibadah dan hanya kepada-Nya dia meminta pertolongan.

WaAllohul muwaffiq.
sumber : forum at-tawbah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar