Bagaimana Kondisi Kaum Muslimin saat merencanakan sebuah Peperangan dan Apa saja yang dipersiapkan!
Patroli Tempur dan Patroli Pengintai yang Pertama[1]

1. Kondisi Kaum Muslimin
Di Madinah, kaum muhajirin telah menetap dan Rasulpun telah mempersaudarakan mereka dengan kaum anshar, sehingga terhimpunlah persaudaraan yang saling menguatkan di jalan Allah. dengan terjalinnya persaudaraan tersebut bearti leburnya sikap Ashobiyah (fanatisme) jahiliyah, dan dari situ berkobarlah semangat yang menggelora untuk membela Islam hingga lenyaplah jurang pemisah penyebab rentannya kekuatan kaum muslimin.

2. Kondisi kaum Musyrik dan Yahudi
Dalam hal ini kondisi kaum Musyrikin sangat membenci kaum muslimin sehingga senantiasa menanti-nanti sebuah kesempatan dimana mereka bisa menyerang kaum muslimin secara mendadak dari belakang. Jadi tidak heran jika kaum musyrik dan munafik pada hari ini berusaha menghancurkan Islam setahap demi setahap hingga tidak sedikit pula yang memerangi Islam secara terang-terangan.

Berbeda dengan kaum yahudi, mereka sangat memiliki keinginan dari awal ketika dakwah Nabi r di Madinah untuk menarik beliau bergabung dengan mereka. Maka dari itu, kaum yahudi berdamai dengan Rasulullaah r dan mengadakan perjanjian akan kebebasan dakwah yang disampaikan oleh Beliau r. Namun perjanjian dan perdamaian tersebut justru memberikan buah kesuksesan kepada Kaum Muslimin dengan menjadi semakin mapan, naik daun dan himpunan basis kekuatan merekapun semakin kuat. Dan kesuksesan tersebut menjadikan kaum yahudi merasa menyesal telah berdamai dengan kaum muslimin hingga tibalah saat dimana kaum yahudi berbalik menjadi memusuhi kaum muslimin dan senantiasa berupaya memecah belah membuat pertikaian di kalangan kaum muslimin. Dan cara-cara mereka sangatlah keji.


TUJUAN UTAMA DARI PATROLI YANG DILANCARKAN

ü Untuk menunjukan kepada Musyrikin, yahudi dan Munafikin akan “Show Force” kaum Muslimin.
ü Agar mendapatkan kebebasan dalam berdakwah serta mampu menghimpun kekuatan untuk melawan orang-orang yang memusuhi mereka.

Belajar dari peristiwa-peristiwa yang terjadi

A. Sariyah Hamzah

I. Kekuatan Masing-masing pihak :

a. Kaum Muslimin :
Satu kesatuan patrol tempur berkekuatan 30 orang prajurit berkuda dari golongan muhajirin dibawah komando Hamzah bin Abdul Muthallib bin Hasyim.

b. Kaum Musyrikin :
Kafilah dagang Quraisy yang dijaga 300 orang pengawal berkendaraan yang dikomandoi oleh Abu Jahal bin Hisyam.

II. Tujuan :
Dating ke al-‘Iesh[2] disepanjang laut merah, untuk mengintimidasi kafilah dagang Quraisy yang menempuh rute perjalanan antara Mekkah dan Syam.

III. Hasil-hasil :
Kaum Muslimin berhasil mengintimidasi kafilah dagang Quraisy, hanya saja Majdi bin Amru al-Juhani berhasil mencegah pertempuran yg hamper terjadi antara kedua belah pihak. Maka kembalilah kaum muslimin ke madinah tanpa melakukan pertempuran.

B. Sariyah Sa’ad bin Abi Waqqash

I. Kekuatan Masing-masing pihak

a. Kaum Muslimin
Patrol tempur yang memiliki kekuatan berjumlah 20 orang muhajirin dibawah pimpinan Sa’ad bin abi Waqqash.

b. Kaum Musyrikin
Kafilah dagang Quraisy yang mendapat penjagaan dari sejumlah pengawal bersenjata yang tidak diketahui jumlahnya secara pasti.

II. Tujuan
Dating ke kharrar untuk mencegat dan menterror kafilah dagang Quraisy yang menempuh jalur perdagangan antara Mekkah dan Syam.

III. Hasil-Hasil
Pasukan yang dipimpin sa’ad bin abi waqqash tidak berhasil menyusul kafilah tersebut, sebab intelejen Quraisy telah mengetahui keberangkatan pasukan Islam yang hendak mencegat mereka. Karena itu mereka mempercepat geraknya untuk menghindari bahaya yang bakal mengancam.

[1] Patroli merupakan kesatuan Prajurit yang bertugas “Gathering Information” mengenai kekuatan musuh, persenjataan dan situasi serta keadaan medan musuh. Dalam hal ini terdapat 2 jenis patroli :
· Spying Patrol : merupakan Kesatuan prajurit yang bertugas dalam memperoleh informasi tanpa harus melakukan pertempuran. Dan kesatuan ini sedikit personil dan bergerak dengan cepat.
· War Patrol : Kesatuan prajurit yang bertugas mendapatkan informasi dengan cara berperang. Dan kesatuan ini sangat kuat baik dari jumlah personil dan perlengkapan senjata.

[2] Al-‘Iesh merupakan nama suatu tempat yang terletak di Negeri Bani Sulaim dan disana terdapat Mata air “Dzunban al-‘Iesh”. Lebih detail silahkan dilihat dalam Mu’jamul Buldan juz VI hal. 248