Qoidul Jais

oleh: Ismail Abu Syamil.


Qaidul jais (komandan pasukan) adalah orang dipilih oleh amir atau pemimpin jihad yang memiliki kemampuan dan pengalaman dalam unsur-unsur asykariyah, bertaqwa dan faham syari'at.

Juga seorang qoidul jais bila memimpin dan memenej anggota pasukannya dengan baik dan faham solusi di lapangan penerapan prinsip-prinsip perang (mabadiul harb).


Bagi qoidul jais, ada beberapa kewajiban terhadap anggota pasukannya yang mesti ditunaikan :
1. Bermusyawarah dengan anggota pasukannya dan mengambil pendapat-pendapat mereka. Allah ta'ala berfirman : "Bermusyawarahlah dengan mereka dalam berbagai urusan" (Ali Imron : 159).
Dari Abu Hurairah radliyallahu'anhu, telah bersabda Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam : "Tidaklah aku melihat seseorang yang lebih banyak bermusyawarah dengan para shabatnya dari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam" (HR. Ahmad dan Asy Syafi'i)

2. Qoidul Jais menjadi teman sejati anggotanya dan lemah lembut kepada mereka. Dari Aisyah radliyallahu'anhu, aku mendengar Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda : "Ya Allah, siapa yang menjadi wakilku dari urusan-urusan ummatku, maka aku menjadi teman mereka. Maka itu tolonglah mereka" (HR. Muslim).

Dari Mu'qal bin Yasar, Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda : "Tidaklah seorang amir yang berjalan mengurusi urusan kaum muslimin, kemudian tidak bersungguh-sungguh di dalamnya, tidak memberi nasehat kepada mereka, kecuali ia tidak akan masuk jannah" (shahih al jami', Syaikh Al-Albaniy).

3. qoidul Jaisy, senantiasa memerintahkan kepada anggota hal-hal yang ma'ruf dan mencegah dari hal-hal yang munkar hingga mereka tidak tercebur dalam kemaksiatan.

4. Qaidul Jaisy senantiasa menghindarkan pasukannya dari kerusakan dan kebinasaan, dan mengarahkan agar mereka berjalan di atas ilmu, dan melarang berperang orang-orang yang hanya menjadi penggembos, yang menghalangi manusia untuk berperang, dan menyingkirkan orang-orang pendosa dan banyak dosa (munafik) yang mengatakan kaum muslimin lemah dan tidak punya kekuatan untuk melawan musuh, yang tujuannya adalah melemahkan pasukan mujahidin.

5. Mampu menjadi pembimbing bagi pasukannya, baik ilmu din atau ilmu-ilmu asykari (ilmu-ilmu kemiliteran)

6. Memilih komandan-komandan unit dan membagi tugas dan amanah sesuai dengan taktik dan strategi perang dan menjelaskan dengan jelas jalur-jalur komando.

7. Menempatkan personel sesuai dengan keutamaan dan kemampuannya.

8. Menentukan orang-orang yang khusus mengumpulkan informasi kondisi musuh-musuh mujahidin.

Syaikhoin (Bukhari-Muslim, ed)telah meriwayatkan bahwa : "Bagian dari petunjuk bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam apabila ingin melakukan penyerangan, selalu merahasiakan (menyembunyikan) tujuan penyerangan (meski pada anggotanya/shahabatnya)"



Wajibul Junud

Wajibul junud (kewajiban para tentara) terhadap komandannya (qoidnya) adalah taat dalam hal-hal yang bukan maksiat. Jadi selama qoidnya tidak dalam urusan maksiat, maka wajib bagi pasukan untuk mentaatinya dalam keadaan suka atau tidak, rela atau tidak. Karena keputusan komandan (qoid) adalah untuk kemaslahatan umat dan pasukan. Sedangkan suka atau tidak suka, rela atau tidak rela adalah berkaitan dengan pribadi.


Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu'alaihi wa sallam telah bersabda : "Barangsiapa yang mentaati aku, berarti ia telah mentaati Allah. Barangsiapa yang mendurhakaiku, berarti telah mendurhakai kepada Allah. Barangsiapa yang mentaati amir (kaum muslimin), berarti ia telah mentaatiku, dan barangsiapa bermaksiat (durhaka) kepada amir, berarti ia telah bermaksiat kepadaku".

Adapun ketaatan dalam hal yang maksiat, maka hal itu adalah dilarang, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal yang maksiat kepada Allah ta'ala.

Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Ali radliyallahu'anhu bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam telah bersabda : "...tidak ada ketaatan dalam urusan maksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma'ruf".

Wahai ikhwan, pahamilah dalil-dalil tersebut, hingga kita tidak salah bersikap di lapangan jihad fie sabilillah. Banyak ikhwan terjerumus ke dalam sikap yang salah terhadap amir/qoid atau komandannya karena tidak faham dalam urusan ini.

Ada beberapa hal yang penting yang harus diperhatikan oleh pasukan Islam (para mujahidin) kaitannya dengan sikap mereka kepada komandannya :
1. Qoid jais, tidaklah dipilih oleh amir atau dipilih oleh umat kecuali karena keutamaannya, baik ilmu dan pengalaman perang atau jihadnya. Karena itu tumbuhkan sikap ikrom (memuliakan) dan lemah lembut kepadanya.

2. Bersabar terhadap keputusan-keputusannya, karena bisa jadi keputusan qoidul jais terkadang tidak menyenangkan dan mengandung kesulitan dalam pelaksanaannya.

3. Memberikan pendapat-pendapat kepada qoidul jais, tanpa memaksakan pendapatnya herus diterima, dan berlapang dada jika pendapatnya belum diterima.

4. Jangan membuat celaan-selaan buruk terhada qoid jais seperti : bodoh, lemah, lambat, dan sebagainya. Karena bisa jadi banyak hal-hal yang dirahasiakan oleh qoidul jais untuk kepentingan amniyah qitaliyah, maka kedepankan baik sangka, klarifikasi, diam, dan menghindari komplain yang tidak perlu.

5. Menjaga hubungan baik pasukan dengan qoid jais adalah bagian dari pengamalan surat Ash Shaff ayat 4 karena persatuan dan keutuhan shaff adalah amal shalih sebelum peperangan.

6. Selalu menjaga keikhlasan dengan serius dalam amal jihad dan ucapkan dalam hal-hal yang telah terjadi "Qadarullah wa maasyaa'a fa'ala".


Adabul Harb (Adab Berperang)

Allah 'azza wa jalla telah memberikan petunjuk bagi mujahid yang berperang fie sabilillah untuk melazimi adab-adabnya.

Allah 'azza wa jalla telah berfirman : "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya (berdzikir dan berdoa) agar kamu mendapat kemenangan. Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih (berbantah-bantahan), yang menyebabkan kamu menjadi gentar, dan hilang kekuatanmu, bersabarlah, sungguh Allah bersama orang-orag yang sabar" (Al Anfal : 45-46).

Maha benar Allah dengan petunjuk yang haq, sungguh Allah ta'ala memerintahkan bagi orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan lima perkara, tidaklah berkumpul lima perkara tersebut dalam sebuah kelompok jihadi kecuali akan dimenangkan Allah 'azza wa jalla. Dan sebaliknya ketiadaan adanya hal-hal yang lima tersebut atau tidak adanya sebagian akan menyebabkan hilangnya pertolongan Allah 'azza wa jalla.

Lima adab qital (berperang) itu adalah :
1. Ats Tsabat (teguh pendirian menghadapi musuh)
2. Katsrotu dzikir (banyak dzikir kepada Allah dan berdo'a)
3. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, termasuk ini taat kepada komandan pasukan (amir jais)
4. Menghindari bantah-bantahan (perselisihan antara qoid dan pasukan atau antar anggota pasukan)
5. Sabar (menghadapi dahsyatnya peperangan, bala dan ujian dalam jihad, dan dalam mentaati komandan pasukan).

Seorang mujahid tidak bisa menerapkan adab-adab tersebut kecuali lebih dahulu memahami poin-poin yang 5 tersebut dan melatihkan setiap ada kesempatan. Semakin baik ke lima adab tersebut dikuasai oleh pasukan dan diamalkan secara kelompok, maka semakin dekat sebab-sebab datangnya kemenangan dari Allah 'azza wa jalla, karena itu latihlah wahai ikhwan... diri kita masing-masing dengan lima adab tersebut... Latihlah...!! Latihlah...!! Latihlah...!!! Maksimal...! Hingga kita siap memikul amaliyat jihad fie sabilillah...! Jangan bosan dan jangan malas...!!

Walhamdulillahi rabbil 'alamiin.