Senin, 28 November 2011

Diary mathlubin

Bismillahirrohmanirrohim..

Segala puji hanya untuk Allah yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya dan menghinakan kesyirikan dengan kekuasaaan-Nya.Dialah yang mengurus segala urusan dan memberi tangguh bagi orang – orang kafir dengan rencana-Nya.Sholawat dan salam kepada Nabi dan Imaamul mujahidin Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah menerangi islam dengan Al – Qur’an dan pedangnya. Tsumma ba’du:

“ Wahai orang – orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh Alllah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan“. [QS. Al – Hasyr: 18].

Adapun dakwah tauhid serta berjihad dalam rangka menegakkan Dien Nya dan memerangi kesyirikan akan terus berlangsung, panji – panji tauhid akan terus berkibar dan akan terus diembani oleh orang – orang yang kuat serta para kesatria dari umat ini meski musuh – musuh Dien ini dari kalangan yahudi dan nasrani serta dari kalangan musyrik serta para thoghut berusaha memadamkannya dengan cara menangkap, membunuh atau mengusir para mujahidin.

Sebagaimana firman Allah jalla wa ‘ala: “Dan (ingatlah) ketika orang – orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkapmu dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik – baik pembalas tipu daya”. [QS. Al Anfal: 30].

Inilah realita resiko yang harus dijalani mujahidin khususnya di Indonesia yang melakukan amaliyat (harbul ishobat) melawan thoghut dan anshornya dalam rangka iqomatuddien.

Konsekuensinya akan tertangkap, dibunuh (syahid insya allah) atau terusir (menjadi DPO/ mathlubin). Sunnatullah dan dialami serta dijalani dengan sabar baik oleh anbiya ataupun yang mengikuti mereka dengan haq. Hal inipun pernah kami alami sebagai mathlubin atau DPO thoghut dan anshornya, bahkan juga dialami oleh ikhwan – ikhwan kami (mujahidin) di Indonesia. Bahkan dirasakan oleh Nabi dan Salafus Sholeh, sebagaimana firman Allah azza wa jalla: “Dan seorang laki – laki bergegas dari ujung kota seraya berkata: “Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu maka keluarlah (dari kota ini). Sesungguhnya aku termasuk orang – orang yang memberi nasihat kepadamu”. Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), Dia (Musa) berdo’a: “ Wahai Rabb ku selamatkanlah aku dari orang – orang yang dzalim itu”. [Al – Qashas: 20-21].

Rasullullah pun pernah menjadi mathlubin (DPO) orang – orang Quraisy yang berusaha untuk membunuhnya kemudian beliaupun keluar dari kota mekah bersama Abu Bakar Shiddiq radliyallahu ‘anhu menuju yastrib (madinah). Peristiwa ini dikenal dengan hijrah (lihat surah nabawi untuk lebih lengkapnya silahkan baca dalam “Qashoshul Mathlubin”). Ketakutan inilah awal pertama apa yang kami rasakan ketika menjadi mathlubin sebagaimana yang dialami oleh nabi Musa ‘alaihi salam dan merupakan fitrah atau rasa yang manusiawi. Yang kami lakukan hanya berdoa dan bertawakal kepada Allah, disamping itu kami pun melakukan ikhtiyar mencari tempat untuk bersembunyi dan tempat beristirahat meski hanya sejenak. Barangkali bagi mathlubin yang memiliki peran penting atau merupakan tokoh ataupun dia anggota tanzim atau jamaah yang besar dan banyak anggotanya mungkin mudah mencari tempat untuk istirahat. Tapi tidak bagi kami yang hanya jamaah kecil atau beberapa ikhwan saja yang tidak terlalu dikenal atau tidak banyak mengenal ikhwan (mujahidin) di Indonesia yang telah atau akan melakukan amaliyat.

Ketika kami mathlub, kami berusaha mengetuk dari pintu ke pintu ikhwan yang kami kenal atau tidak kenal (ikhwan yang iltizam terhadap jihad) ada sebagian yang menerima tapi lebih banyak menolak kami. Wallahu musta’an.
Inilah fenomena dan realita kaum muslimin di Indonesia khususnya yang mengaku atau berazam ingin berjihad, kami tetap berhusnuzhon terhadap ikhwan – ikhwan mujahidin yang pernah kami temui dan minta dicarikan tempat. Demi Allah, ketika semua pintu tertutup sungguh pintu Allah selalu terbuka karena Dia adalah Rabb kami dan kami berjuang dalam rangka menegakkan Dien Nya. Tentu Dia tidak akan menelantarkan kami dan selalu melindungi kami meski semua manusia menjauh dari kami.

Kami pun berhusnuzhon kepada Allah dan tidak pernah berputus asa dari rahmatnya meski semua manusia mencoba menangkap atau membunuh kami. Yang membuat kami heran dan menjadi tanda tanya adalah Aina Anshorul Muslimin ?! (dimana penolong kaum muslimin?!). Mungkin jawabannya ada pada diri kita atau hati kita masing – masing karena kami mengedepankan husnuzhon kepada saudara – saudara kami. Dimanakah kaum Anshorul Muslimin disaat mathlubin membutuhkan uluran atau bantuan mereka? Dimanakah Anshorul Muslimin disaat istri dan anak – anak mujahidin membutuhkan bantuan?! Sungguh mereka adalah orang – orang yang pemalu dan menjaga kehormatannya dari meminta dan mengiba kepada sesama makhluk.

Apakah uluran bantuan itu disekat oleh dinding dengan nama Ashobiyah jama’ah ? ataukah dengan tirai rasa takut yang dihamparkan oleh setan dari kalangan jin dan manusia? Laa haula walaa quwwata illa billah.

Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Barangsiapa bangun dari tidur sehingga dia tidak memperhatikan nasib kaum muslmin maka dia bukanlah dari golongan kami “. (Al Hadist).
Kami membayangkan jika saudara – saudara kami memiliki kesadaran dan tanggung jawab dalam rangka ikut membantu mata rantai jihad iqomatudin, setiap seorang ikhwan bersedia menerima mathlubin sebagi tamu diberi tempat istirahat meski di kamar mandi ataupun di dekat kandang ayam selama tiga hari terus disambung ke ikhwan berikutnya.

Bayangkan tiga hari dikalikan ikhwan yang berjumlah puluhan tentu mathlubin tidak akan mudah ditangkap dengan izin Allah, serta harus dibarengi khitman ikhwan yang ditempati. Subhanallah jihad dan amaliyah akan terus ada untuk menteror dan menghancurkan thoghut dan anshor nya, insya Allah...serta manfaat lainnya ikhwan yang menjadi anshor akan mendapat banyak ilmu. Jika mathlub ini seorang muthafajirot (ahli pembuat bom) atau senjata maka akan memperoleh pelatihan tentang nya, jika mathlub ini seorang ustadz maka akan memperoleh ilmu dien darinya. Sayang...semua hanya angan kami belaka.

Kami mathlub bukan lari dari pertempuran yang telah dimulai tapi kami menjadi mathlub untuk mencari tempat dalam rangka bergabung dengan ikhwan mujahidien lain dan untuk mengatur strategi ditempat peristirahatan kami. Tapi sekali lagi sayang, mungkin hanya angan – angan kami ketika kami mundur lari kebelakang sebagai mathlubin berharap ada pasukan atau jama’ah yang berjihad, ternyata tidak kami temui atau tidak mau kami temui, ataukah sudah tidak ada para pembawa panji tauhid yang berjihad ataukan telah banyak korban virus deradikalisasi yang disebar oleh musuh dien ini? Wal ‘iyadzubillah...

Kami teringat nasihat salah satu ikhwan kami yang telah syahid (kama nahsabuhu walla nuzakki “alallah ahada) beliau menasehati kami : “Ketika antum melakukan amaliyat dan menjadi mathlubin jangan sampai tertangkap, kalau bisa melawan”. Allahu Akbar.. !!!
Qodarulloh akhirnya kami tertangkap,tanpa perlawanan karena kami tidak memiliki senjata untuk melawan bahkan diantara kami ada yang ditangkap ketika lengah. Musuh kami (densus dan anshornya) ternyata telah mengetahui keberadaan kami dan menjadi catatan penting mengapa ketika mereka (densus) telah mengetahui keberadan kami tapi kami tidak langsung ditangkap yaitu :

1. Menunggu momen atau saat yang tepat (menurut mereka entah politik atau uang).
2. Pembiaran terhadap mathlub agar diketahui siapa dan kemana atau untuk mengetahui lebih banyak ikhwan-ikhwan mujahidin. Metode ini diistilahkan dengan “Peganglah ekor tikus dan biarkan dia mencari sarangnya”.

Kami ucapkan jazakalloh khoiron katshiron kepada Anshorul Muslimin semoga kalian memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia dari sisi Alloh jalla wa ‘ala sebagaimana firman-Nya : “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dijalan Alloh,dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang muhajirin),mereka itulah orang-rang yang benar-benar beriman.Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia”.(QS.Al Anfal :74).
Untuk saudara-saudara kami yang mathlubin,semoga Alloh merahmati antum semua dan memudahkan segala urusan antum dalam jihad iqomatuddien.Gentarkan dan hancurkanlah musuh-musuh tauhid dan hiburlah mujahidin yang tertawan,semoga dalam persembunyian antum selalu mengawasi kelemahan musuh dan mengatur strategi bukan dalam rangka sembunyi lalu sibuk dengan urusan duniawi.

Untuk saudara-saudara kami kaum muslimin ketika antum belum mampu untuk amaliyat maka tolonglah dan bantulah mathlubin dan keluarga mujahidin karena itu termasuk dalam mata rantai jihad. Doakanlah kami dan janganlah mencela kami,sudahkah antum semua mendoakan kami dan mujahidin disetiap sujud antum dengan ikhlas ?! Doakanlah kami “Allohumma ilaika nasku dlo’fa quwwatinaa,hasbunalloh wani’mal wakil”.wallahu ta’ala a’lam bishshowab.Karena doa antum yang sholih/sholihah serta ikhlas merupakan salah satu senjata dan perisai bagi kami.

Kami menulis ini bukan karena kami mengiba dan meminta untuk dikasihani oleh antum, tidak Demi Alloh. Apa yang pernah kami alami dan lalui adalah sebuah nikmat dari Alloh bagi kami .Kesusahan dan kepayahan yang kami alami disaat mathlub mudah-mudahan menjadi penebus dosa-dosa kami. Sekali lagi Demi Alloh apa yang kami tulis bukan untuk dikasihani atau mengiba. Ini adalah muhasabah bagi diri kami pribadi ,dan jika diantara antum ada yang ingin menambahkan dan memberi kritik terhadap kami,dengan besar hati kami sangat senang menerimanya,karena kami tidaklah ma’shum dan dalam perjalanan jihad kadang terbuka pintu ijtihad. Semoga ijtihad yang kami sesuai syar’i, jikapun tidak semoga Alloh mengampuni kesalahan dan kekeliruan kami karena Alloh Maha Pengampun dan kepada-Nya lah semua urusan kembali.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam takut terhadap suatu kaum beliau membaca doa : ”Allahumma Inna Naj’aluka Fi Nukhurihim Wa Na’udzubika Min Syururihim”. (HR.Ahmad terdapat dalam kitab Riyadhush Sholihin.Imam Nawawi)

Aku tak peduli bagaimana aku mati..
Selama aku mati dijalan Alloh sebagai seorang muslim !!!
Kuserahkan diri kepada-Nya..
Semoga Dia berkenan memberkati setiap sobekan daging ini..

15 Dzulhijah 1432 H
Daar AL KHOLWAH
Hamba Alloh yang lemah
ABDURAHMAN AR RIHALI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar