Senin, 28 November 2011

Untuk Mujahidin Al-Busyro -hafidzokumulloh-


Assalamu'alaikum Warrahmatullah wabarakatuh..
Bismillahirrohmanirrohim...

Kaifa Haluk ya mujahideen Al-Busyro?

Ini kami persembahkan sebuah hadiah yang Insya allah bermanfaat...

ini untuk kalian yang dibenci karena iman kalian,
untuk kalian yang dianggap melampaui batas karena keteguhan kalian,
untuk kalian yang dilabeli oleh teroris karena amal shalih kalian,
untuk kalian yang diabaikan karena kecilnya jumlah kalian,
untuk kalian yang ditertawakan karena kesyahidan kalian.

Ini semua untuk kalian, wahai para mujahidin yang merasa kesepian karena terpisah dari barisan,
para istri mujahidin yang sedang berlinangan air mata karena diolok-olok manusia tanpa bisa membela,
dan putra putri mujahidin yang lelah lagi letih karena i’dad dan ribath..


Kaifa Haluk ya mujahideen Al-Busyro?

Sesungguhnya yang dikehendaki oleh Islam adalah sebagian besar waktumu, hampir seluruh hartamu, dan segarnya masa mudamu.
Islam menghendaki dirimu, seluruhnya. Islam menghendakimu saat kamu bertenaga, bukan saat telah loyo.
Islam menghendaki masa mudamu, masa kuatmu, masa sehatmu, dan masa perkasamu, bukan masa rentamu.
Islam menghadapi semua yang terbaik, termulia, dan teragung darimu.

Tidakkah kau lihat Abu Bakar ash-Shiddiq ra menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah dan demi dakwah Islam,
lalu ketika Rasulullah saw bertanya, “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?”,
beliau menjawab, “Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Tidakkah kau lihat ‘Utsman bin ‘Affan membekali seluruh pasukan perang Tabuk sendirian?
Coba bayangkan, seorang diri membekali seluruh pasukan perang; senjata, perlengkapan, bekal, kuda, onta,
dan kebutuhan logistiknya.. Padahal jumlah pasukan saat itu lebih dari 10.000 personil.

Coba bandingkan sumbangsih agung ini dengan realita kita hari ini.
Kita bisa mendapati banyak orang islam yang kaya hari ini ~bahkan dari kalangan multazimin~ namun kita kesulitan untuk mendapati seseorang yang menanggung seluruh ‘budget’ dakwah saja.
Saya katakan ‘dakwah’ bukan ‘jihad’. Mengapa? Sebab jihad membutuhkan harta yang tak terbatas.

Kita bisa mendapati seorang ikhwah yang hidup berkecukupan, dan ia pun tahu persis apa yang dibutuhkan
oleh saudara-saudaranya yang berjihad. Ia pun tahu bahwa kebanyakan keluarga ikhwah yang diuji
di jalan Allah ~jumlah mereka ribuan~ sangat membutuhkan bantuan. Namun demikian, ia tidak berpikir untuk
berjihad dengan hartanya di jalan Allah ~setidaknya sebagai ganti atas ketidakhadirannya untuk
berjihad dengan nyawanya~ selama sekian tahun itu.

Ia pun tidak berpikiran untuk membantu keluarga para mujahid, meninggalkan bagi keluarga mereka sesuatu yang baik.
Ia tidak memikirkan hal itu sedikit pun. Jika ada yang mengingatkannya ia pun menginfakkan beberapa rupiah
yang tidak cukup sekedar untuk mengusir rasa lapar.. Jumlah yang lebih baik ditolak dari pada diterima…
Jumlah yang jauh lebih kecil dari jumlah yang dikeluarkannya untuk keperluan bahan bakar kendaraannya dalam satu hari!!

Sesungguhnya Islam membutuhkan orang yang memberikan segalanya untuk diennya;
kehidupannya, waktunya, hartanya, tenaganya, ruhnya, rumahnya, mobilnya, dan semua yang dimilikinya.
Kita menghendaki seseorang yang ‘menjual dirinya kepada Allah’ dengan keutuhan makna kalimat ini.
Kita menghendaki seseorang yang setiap harinya membawa sesuatu yang baru untuk dipersembahkan kepada Islam.

Bukankah Mush’ab bin Umair, seorang pemuda kaya yang selalu harum dan mengenakan pakaian terbaik,
seorang pemuda yang ditunggu-tunggu oleh setiap gadis Quraisy karena ketampanannya, penampilannya,
kemuliaannya, dan nasabnya; bukankah ketika ia memeluk Islam ia persembahkan semuanya, ia berikan semuanya,
tanpa ada sesuatu pun yang disimpannya? Sampai-sampai ia memakai baju yang penuh tambalan saat hidup,
dan di saat mati, kaum muslimin tidak mendapati kain untuk mengkafaninya?

Sepanjang hidupnya Mush’ab selalu menghadirkan sumbangsih untuk Islam di bidang dakwah dan jihad.
Ia adalah da’i Islam yang pertama di Madinah. Ia adalah orang yang menyebabkan kebanyakan penduduk
Madinah mendapatkan hidayah. Ia adalah peletak batu pertama bangunan daulah Islam di Madinah.
Selain itu ia juga seorang pejuang agung, pembawa panji di medan Uhud, sekaligus salah satu
syuhada` teragung di sana… Itulah sumbangsih yang sebenarnya bagi Islam, dien, dan umat Islam.


Kaifa Haluk ya mujahideen Al-Busyro?

Bagaimana pendapat kalian jika ada seorang buruh pabrik,
ia tidak mengerjakan apa-apa, tidak menghasilkan apa-apa,
kerjanya cuma mengisi daftar hadir di pagi hari lalu pulang di sore hari.
Ia tidak menghabiskan waktunya di pabrik bersama teman-temannya yang bekerja dengan giat penuh semangat.
Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh pemilik pabrik terhadap buruh yang satu ini?
Pasti ia akan memecatnya seketika..

Begitu pun dengan ikhwah yang tidak memahami Islam selain memakai baju gamis dan memanjangkan jenggot,
ia pasif dan tidak mempersembahkan sesuatu pun untuk Islam, kalau pun memberi hanya sedikit atau yang tidak baik..

Beberapa gelintir ustadz dan ikhwah yang aktif untuk Islam dengan giat dan sungguh-sungguh,
sekali-kali tidak akan mampu menegakkan daulah Islam sendirian,
seberapa pun usaha dan tenaga yang mereka kerahkan.
Itupun tidak akan mampu mengemban seluruh beban jihad di negeri yang luas ini.

Kita tahu tindakan yang diambil oleh thaghut untuk menghadapi para pejuang Islam.
Tindakan yang menjadikan sekian ikhwah dihadapkan pada ujian yang berat dari waktu ke waktu,
sehingga mereka meninggalkan ruangan kosong yang semestinya diisi.

Operasi yang mereka lakukan membuat gerakan ikhwah tersendat dan terbatas,
mengharuskan setiap ikhwah untuk lebih mengerahkan tenaga lagi,
lebih meningkatkan diri dalam medan amal islami dan mengupayakan sumbangsih
supaya ia lebih mampu mengemban tanggung jawab, tanggung jawab amal Islami,
dan belajar bagaimana berdakwah, mentarbiyah, menegakkan hisbah, jihad, dan menggerakkan orang lain,
dan semua skill yang dibutuhkan.

Seorang ikhwah selayaknya tidak berdiam diri di rumah,
mengandalkan orang lain yang akan mengambil peran itu.
Sebab siapa yang akan datang?! Semestinya ia berupaya ~semampunya~
untuk melaksanakan berbagai bentuk amaliyah semuanya dengan semangat, giat, kuat, responsif, tekun, dan serius.

Sesungguhnya hari ini Islam membutuhkan seseorang yang mengorbankan segalanya,
membelanjakan semua miliknya di jalan Allah, dan menyerahkan seluruh umurnya lillah,
untuk memenangkan dien-Nya..
Hari ini Islam membutuhkan seseorang yang berkata dari nuraninya
seperti ucapan Sa’ad bin Mu’adz kepada Rasulullah saw saat perang Badar;


Sa’ad berkata, “Silakan melangkah, wahai Rasulullah, ke mana pun Anda suka.
Kami akan bersama dengan Anda. Demi yang telah mengutusmu dengan kebenaran,
sekiranya Anda bawa kami ke tepi laut lalu Anda menceburkan diri ke dalamnya,
niscaya kami semua akan menceburkan diri kami bersamamu, tiada satu pun yang akan ketinggalan.
Sedikit pun kami tidak enggan jika Anda pertemukan kami dengan musuh-musuh kita esok hari.”

Ia juga berkata, “Sambunglah tali siapa yang Anda suka, putuskan tali siapa yang Anda suka,
dan ambillah harta kami sesuka Anda, sesungguhnya apa yang Anda ambil lebih kami sukai daripada yang Anda tinggalkan”

Sungguh kalimat di atas adalah kalimat terbaik yang pernah diucapkan oleh seorang tentara kepada komandannya sepanjang sejarah. Kalimat yang dialiri kehidupan, gerakan, dan kejujuran.

Sesungguhnya itulah ungkapan jujur dari sesuatu yang menjalar
dalam rasa dan jiwa sekelompok kecil orang-orang beriman
dari kalangan Anshar di bawah kepemimpinan seorang yang agung, Sa’ad bin Mu’adz.
Kalimat yang telah diteriakkan oleh hati Sa’ad sebelum diteriakkan oleh lisannya yang jujur.

Sang Komandan, Rasulullah..Beliau benar-benar berbahagia dan bertambah semangat dalam berperang
dikarenakan perkataan Sa’ad ini. Beliau bersabda, “Maju dan bergembiralah!
Sesungguhnya Allah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua kelompok.
Demi Allah, kini aku ~seakan-akan~ melihat saat kekalahan mereka.”

Kaifa Haluk ya Mujahideen Al-Busyro?

Hari ini Islam menghendaki setiap muslim berujar kepada dirinya sendiri, “Apakah pantas aku beristirahat,
sementara saudara-saudaraku berpayah-payah di jalan Allah? Apakah pantas aku tidur nyenyak sementara
saudara-saudaraku disiksa di jalan Allah? Apakah pantas aku tinggalkan jihad sementara aku melihat
kesulitan berat dan peperangan hebat melawan musuh sedang dihadapi oleh umat Islam?”

Islam menghendaki seseorang yang mengucapkan kata-kata Abu Khaitsamah saat ia terlambat menyusul Rasulullah saw
ke medan Tabuk, “Rasulullah saw dibakar terik mentari, angin badai, dan panas yang menyengat.
Abu Khaitsamah di bawah naungan sejuk, makanan yang tersaji, dan istri yang cantik, menunggui hartanya.
Sungguh ini sangat tidak pantas.”

Kalimat-kalimat yang agung ini mestinya digumamkan oleh setiap muslim, khususnya ikhwah multazim.
Kepada diri sendiri selayaknya ia berkata, “Sebagian dari saudara-saudaraku seiman kini disiksa,
sebagiannya lagi diusir dan tidak mendapatkan tempat tinggal, dan sebagian yang lain dibunuh dan diintimidasi.
Sedangkan aku; aku bergelimang kenikmatan, aku makan apa yang aku mau, aku minum minuman yang paling menyegarkan,
di ruangan yang sejuk penuh dengan kenikmatan.

Aku tidak sedikit pun memberikan sumbangsih untuk Islam. Sebaliknya,
aku justru meninggalkan saudara-saudaraku menanggung semua beban berat itu!
Ini benar-benar tidak pantas dan tidak adil. Demi Allah, aku akan menyusul saudara-saudaraku,
berjihad bersama mereka, mengerahkan segenap upaya di jalan Allah bersama mereka.
Aku akan merasakan apa yang mereka rasakan. Aku akan menanggung beban sebagaimana mereka pun menanggungnya..”


Kaifa Haluk Ya mujahideen Al-Busyro?

Dalam sirah Ibnu Hisyam, ketika Rasulullah saw sampai di rumah pasca perang Uhud, beliau menyodorkan pedangnya kepada putrinya, Fathimah. Beliau berkata,
“Bersihkan ini dari darah yang menempel, wahai putriku! Demi Allah, hari ini ia telah berlaku shidiq kepadaku.”
Ali bin Abu Thalib juga menyodorkan pedangnya kepada Fathimah, seraya berkata,
“Ini juga, bersihkan dari darah yang menempel. Demi Allah, hari ini ia pun telah berlaku shidiq kepadaku.”
Mendengar penuturannya Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu benar-benar telah berlaku shidiq saat berperang,
sungguh telah berlaku shidiq juga saat berperang: Sahal bin Hanif dan Abu Dujanah.”

Shidiqnya pedang itu tergantung kepada shidiqnya si pemilik pedang.
Senjata akan berlaku benar (sesuai dengan yang diinginkan sang pemilik)
jika sang pemilik berlaku benar terhadap Allah.

Hari ini mungkin saja kita menjumpai pedang… namun kita tidak mendapati orang-orang yang shidiq seperti
mereka untuk menjadikan pedang itu menjadi shidiq pula.

Sebatang senapan di tangan orang-orang seperti Khalid dan sahabat-sahabatnya
berbeda dengan senapan-senapan lain, meski semua dibuat oleh pabrik yang sama.
Peluru yang ditembakkan oleh orang-orang seperti mereka berbeda dengan peluru-peluru lainnya…

Sebuah kisah pernah terjadi; peluru ditembakkan oleh seorang mujahid yang lemah
dari jarak yang sangat jauh tetapi dapat mengenai komandan musuh tepat di batang lehernya?!

Itulah peluru shidiq yang keluar dari senapan shadiq, dan ditembakkan oleh seorang yang shidiq
terhadap Rabbnya dan mukhlis. Ada juga sebutir peluru ~hanya sebutir~ yang ditembakkan oleh
seorang mujahid ke arah dedengkot kufur telah membuat para dokter dan orang-orang yang
mengoperasinya geleng-geleng kepala. Tak jauh beda halnya dengan orang-orang di pengadilan.
Mereka menyangka peluru yang ditembakkan bukan jenis peluru yang biasa kita kenal.
Peluru dengan jenis khusus!

Mengapa? Sebab, bagaimana mungkin sebutir peluru dapat melukai dan merusak tubuh sampai separah itu??
Benar, itu adalah peluru shidiq yang keluar dari senapan shidiq yang dipanggul oleh seorang lelaki
yang shadiq terhadap Rabbnya, lagi mukhlis.

Mungkin kita punya pedang. Namun di mana rijal semisal ‘Ali bin Abu Thalib, Khalid bin walid,
Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, ‘Amru bin ‘Ash, dan ‘Ikrimah bin Abu Jahal?

Mungkin kita punya pedang. Namun di mana Shalahuddin; hati Shalahuddin; keikhlasan dan kezuhudan Shalahuddin?

Mungkin kita punya pedang. Namun di mana Khalid dan sejawat-sejawatnya,
kezuhudan mereka, keshidiqan mereka, keikhlasan mereka, sikap wara’ mereka, dan juga tawadlu’ mereka?

Pernah ada yang berucap, “Obatilah si Fulan dengan membacakan al-Fatihah,
sebab ‘Umar pernah melakukannya dan si sakit pun sembuh!”
Lalu orang yang diajak berbicara menimpali, “Ini al-Fatihahnya, lalu mana ‘Umarnya?”

Sesungguhnya pedang tidak akan pernah shidiq jika bukan di tangan seorang yang shidiq pula.
Pedang tidak akan pernah ikhlas jika tidak dibawa ke medan jihad oleh seorang mukhlis.
Pedang tidak akan membawa pengaruh apa-apa terhadap musuh-musuh Allah
kecuali jika digenggam oleh wali-wali Allah yang sebenarnya.
Pedang tidak akan berakhlak jika yang menyandangnya bukan seorang yang berjalan di atas jalan Nabi
dan berakhlak dengan akhlak Nabi pula.

Kaifa Haluk ya Mujahideen Al-Busyro?

Ingatlah selalu, antum ini berada di salah satu garis perbatasan Islam.
Jangan sampai Islam diserang dari arahmu. Jangan sekali-kali lengah akan kedudukanmu walau sesaat.
Jika antum melakukannya, sungguh, musuh akan menyergapmu, membunuhmu, dan membunuh orang-orang yang bersamamu,
juga yang ada di belakangmu!


Kaifa Haluk ya Mujahideen Al-Busyro?

sungguh nasehat ini semua, adalah untuk diriku sendiri dan kalian..
Tidakkah kita memikirkan, kenapa kita bisa dikumpulkan di forum yang penuh barokah ini?

itu karena, Allah maha bijaksana dan maha adil.. ia tidak akan membebankan sesuatu kecuali orang tersebut mampu memikulnya.. lalu, kenapa bukan si fulan yang berada di forum ini, kenapa diri kita?

itu karena Allah tahu, bahwa kita MAMPU mengurus amanah dari para mujahideen ~menyampaikan berita gembira dari medan
perang dan mengobarkan semangat jihad para pemuda~, dan si fulan belum tentu mampu menanggungnya/memikulnya...

itulah alasan kenapa antum yang berada di sini!

ana berharap dari nasehat yang panjang lebar diatas, kita semua bisa aktif untuk mengembangkan dan memberikan sumbangsih kepada forum yang kita cintai ini.. kami merasa sedih, jika forum yang penuh barokah ini, sepi dari amal-amal islami..

Alhamdulillah...

Assalamu'alaikum Warrahmatullah wabarakatuh..


Dari Saudaramu: Asyraf, Abu Isrofiel, dan Isham Al-Qomari

1 komentar:

  1. Ad Daulatul Islamiyah Melayu

    Adalah Khilafah Islam yang sedang menantikan
    kehadiran orang-orang mukmin yang siap
    bergabung menjadi pejuang Islam di Akhir Zaman

    http://dimalayo.com.nu

    BalasHapus