Dengan nama Alloh, segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam semoga terlimpah pada Rosululloh beserta keluarga beliau, para shohabat beliau dan siapa saja yang loyal pada beliau.

Wahai saudara-saudara, kaum muslimiin di setiap tempat,

As-salaamu ‘alaykum wa rohmatullohi wa barokaatuh / semoga kesejahteraan serta rohmah dan barokah Alloh terlimpah pada kalian.

Sungguh para ikhwah telah meminta pada saya –semoga Alloh memberikan balasan yang baik pada mereka- untuk berbicara mengenai beberapa kenangan bersama as-Syaykh al-Imam al-Mujaddid al-Mujaahid Sang Penghidupjihad di zaman ini, Sang Singaislam as-Syaykh Usamah bin Ladin –semoga Alloh melimpahkan rohmah padanya-. Juga (para ikhwah meminta) agar saya menjelaskan sisi-sisi kemanusian dari kehidupannya, yang barangkali tidak tampak oleh kaum muslimiin secara umum. Sisi yang luhur, terpuji, lagi mulia inilah yang menjadikan mulia setiap orang yang bergaul dengan orang ini, yang berakhlaq luhur, berperasaan mulia, dermawan, bermurah hati serta toleran.

Sebenarnya saya, segala puji bagi Alloh, sungguh Alloh –Yang suci lagi tinggi- telah memuliakan saya dengan menemani pria ini dalam waktu yang cukup lama, dalam bepergian, dalam persinggahan, perjalanan, bermukim dan dalam berbagai keadaan. Maka segala puji bagi Alloh, saya telah melihat berbagai sisi kehidupannya yang agung, terpuji dan mulia, yang sebagiannya ingin saya sampaikan kepada saudara-saudara saya –kaum muslimiin-, sesuai dengan permintaan para ikhwah.

Sungguh saya telah meminta pada para ikhwah agar cerita saya ini bebas / lepas, yakni sesuai dengan yang terlintas oleh benak pikiran karena sungguh kenangan bersama as-Syaykh ini banyak –maa syaa-a Alloh-, bermacam-macam dan penuh, serta faedah, hikmah dan bimbingannya sangat banyak. Sungguh saya telah mencatat beberapa poin ini dalam selembar kertas, dan insyaAlloh akan saya sebutkan pada kalian beberapa yang terlintas dalam (pikiran) saya dari kenangan indah ini dalam majlis ini. Dan semoga Alloh –Yang mulia lagi tinggi- memudahkan kita dan ada majlis-majlis lain untuk kita (untuk) mengenang kemuliaan pria yang mulia lagi terpuji ini.

Di antara sisi terpenting yang didapati oleh orang apabila bergaul dengan as-Syaykh Usamah bin Ladin –semoga Alloh melimpahkan rohmah yang luas padanya dan mempertemukan kita dengannya di dalam surga Firdaws yang tinggi-, adalah bahwa pria ini sangat setia terhadap ikhwannya dan beliau sangat senang menyebut mereka dengan (sebutan) yang baik serta menyanjung jasa-jasa mereka.
Tentu saja as-Syaykh Usamah adalah orang yang berakhlaq mulia lagi santun, tidak pandir, tidak gemar berteriak-teriak dan tidak bodoh. Namun dalam hatinya sangat sedih sekali jika dia merasakan saudara-saudaranya dalam jalan jihad ini terzholimi atau tidak mendapatkan hak mereka.

Tentu saja di antara ikhwah yang bergaul dengan as-Syaykh semasa hidupnya –semoga rohmah Alloh terlimpah pada mereka semua-, (di antaranya) adalah as-Syahid Abu ‘Ubaydah al-Binsyariy, inilah salah satu gunung jihad di masa ini yang tidak mendapat haknya untuk dikenal, juga Fadhilatus Syaykh al-Qoid al-Mujahid Abu Hafsh al-Mishriy atau yang dikenal dengan Abu Hafsh al-Kumandan –semoga rohmah Alloh terlimpah padanya dan pada seluruh syuhada’ dari kaum muslimiin-. Beliau (as-Syaykh Usamah) senantiasa menyanjung mereka dan mendoakan rohmah bagi mereka. Sekali saya ingatkan bahwa beliau berkata padaku –segala puji bagi Alloh yang telah mendatangkan saya ke bumi jihad hingga saya dapat mengenal Abu ‘Ubaydah-, saya ingatkan bahwa dalam Perang Salib Amerika terhadap Afghonistan ini, dalam sebagian materi media informasi telah mengawasi adanya fitnah dan celaan terhadap kedua pemberani dan pahlawan besar yang terpuji ini. Maka as-Syaykh Usamah mengirimkan risalah kepadaku dan berkata, “sanggahlah orang-orang yang memfitnah dan mencela kedua saudara kita.”

Sungguh saya telah mengemukakan beberapa keutamaan-keutamaan mereka dalam perkataan saya dan dalam kitab “Fursan tahta Rooyatin Nabiy” cetakan yang kedua.

Demikian pula as-Syaykh Usamah –semoga Alloh melimpahkan rohmah padanya- sering menyanjung Fadhilatus Syaykh al-Mujahid Imamul Jihad masa kini, as-Syaykh ‘Abdulloh ‘Azzam –semoga rohmah Alloh terlimpah padanya-, dia mensifati dan menyebut pria ini telah menghidupkan jihad di masa sekarang ini, dan dia sering memujinya.

As-Syaykh Usamah juga menyanjung kebaikan dan kebajikan serta terkesan ketika menyebut Sembilan belas ikhwah yang menyerang Hubal masa kini, Amerika, di Pentagon –pusat komando militer mereka- dan di New York –simbol kekuatan ekonomi mereka- dan ketika itu pesawat yang keempat sedang berada dalam perjalanan, bisa jadi ke Gedung Putih atau (bisa jadi) ke Kongres. Beliau menyebut para ikhwah tersebut dengan sangat setia. Kita semua ingat bahwa kalimat pertama yang beliau ucapkan setelah awal perang salib di Tora Bora dan beliau menyampaikan sanjungan pada Sembilan belas ikhwah tersebut. Antum semua juga (masih) ingat gambar as-Syaykh dalam kalimat tersebut bagaimana beliau kecapaian, pucat, memaksakan lagi sangat menyulitkan, sedangkan ketika itu kita semua merasakan sangat dingin, kekurangan makan, kekurangan tidur, kekurangan air dan air yang membeku, hingga air yang lima ratus meter di bawah kita telah membeku. Dalam keadaan yang sangat sulit ini, sedangkan musuh dan orang-orang munafiq mengelilingi kita, dan pasukan salibis memborbardir dari atas kita, as-Syaykh bertekad untuk merekam kalimat kesetiaan terhadap para ikhwah tersebut. Seolah-olah beliau rohimahulloh ketiak itu khawatir dijemput oleh syahadah dalam keadaan ini, dan tidak menyanjung para ikhwah yang pahlawan tersebut.

Tentu saja insyaAlloh dalam kesempatan lain kami akan mengisahkan mengenai Tora Bora, kepahlawanan dan berbagai contoh dahsyat yang dibawakan oleh para pemuda Islam di Tora Bora, dan insyaAlloh ketika itu kami akan memperincinya, akan tetapi dahulu di Tora Bora kami telah menyandarkan urusan kami kepada Alloh subhaanahu wa ta’ala. Musuh –orang-orang munafiq- berada di sekeliling kami, NATO membombardir dari atas kami dan kami membayangkan bahwa tempat tinggal akan digrebeg kapan saja. Para ikhwah pun mempersiapkan diri untuk berperang hingga mati. Akan tetapi tentu saja sebagaimana yang akan kami jelaskan, setelah itu tampak sangat jelas kepengecutan pasukan salibis. Mereka takut meskipun mereka memiliki kekuatan yang mereka banggakan bahwa mereka adalah pasukan terkuat sepenjang sejarah manusia dan semua Hollywood ini takut untuk menggrebeg berbagai tempat di Tora Bora untuk (menghadapi) tiga ratus singa dari singa-singa Islam. Ini menjadi salah satu sebab Alloh mentaqdirkan as-Syaykh Usamah bin Ladin keluar untuk melanjutkan perlawanan dan pergelutan melawan pasukan salibis tersebut setelah itu. Agar kaum muslmin mengetahui bahwa Alloh subhaanahu wa ta’aala maha mampu dan bahwa sungguh Alloh subhaanahu wa ta’aala telah mengkabarkan pada mereka mengenai hakekat kaum salibis tersebut. Dia berfirman,

(إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللهِ مَا لَا يَرْجُونَ)


[ jika kalian merasakan sakit (terluka), maka sungguh mereka juga merasakan sakit (terluka) sebagaimana kalian merasakan sakit (terluka), dan kalian mengharapkan dari Alloh apa yang tidak mereka harapkan. ] (an-Nisa’: 104)

Hasilnya, dalam keadaan yang sulit ini as-Syaykh bertekad untuk merekam kalimat dengan gambar yang kalian lihat ini, sebagai kesetiaan terhadap Sembilan belas (ikhwah) tersebut.

Kemudian setelah itu, setelah as-Syaykh keluar dari Tora Bora –semoga rohmah Alloh terlimpah padanya-, kalimat pertama yang beliau katakan adalah kalimat kesetiaan terhadap Sembilan belas (ikhwah) tersebut, (yang) beliau sebutkan namanya satu persatu.

As-Syaykh Usamah bin Ladin –semoga rohmah Alloh terlimpah padanya- juga orang yang setia terhadap as-Syahid as-Syaykh Abu ‘Abdir Rohman al-Kindiy. Beliau mengirimkan pesan pada saya yang mengatakan, “sebutkanlah keutamaan pria ini, hingga orang-orang mengenali keutamaannya.”

Sungguh saya telah menyebutkannya dalam salah satu kalimat saya dan saya sebutkan perihal hijrohnya, dermanya, dan sanjungan untuknya, juga bahwa dia terbunuh dalam keadaan menghadapi (musuh) dan tidak lari dalam memerangi salibis.

As-Syaykh Usamah juga sangat setia terhadap as-Syaykh Ibnus Syaykh al-Liibiy –semoga rohmah Alloh terlimpah padanya-. Beliau pernah berkata pada saya, “pria ini telah menebus kita dengan jiwanya.”

Karena as-Syaykh –barangkali insyaAlloh akan kita sampaikan pada perincian Tora Bora jika Alloh subhaanahu wa ta’ala memudahkan untuk kita-. Komandan militer pasukan jihad islam di Tora Bora adalah as-Syaykh Ibnus Syaykh al-Liibiy. Sedangkan as-Syaykh Usamah menyerahkan pada Ibnus Syaykh perihal pelulusan sebagian besar ikhwah dengan perincian yang akan kami sebutkan dengan pengalaman politis-lapangan beliau dengan karunia Alloh, insyaAlloh. Beliau menyerahkan pelulusan para Ikhwah pada Ibnus Syaykh dari Tora Bora menuju Pakistan. Dan kenyataannya proyek penting yang amat sangat sulit ini sukses dalam keadaan yang sangat keras, dingin dan terkepung, Ibnus Syaykh dapat mengeluarkan mereka dari tengah-tengah barisan kaum munaafiqiin dan Ibnus Syaykh juga dapat mengeluarkan mereka di bawah bombardier musuh salibis yang saat ini mereka mengawasi seluruh Afghonistan dan tidak menyisakan untuk mereka kecuali Tora Bora yang mereka hancurkan. Ibnus Syaykh dapat mengeluarkan mereka hingga perbatasan Pakistan. Di sana, di Pakistan, pasukan salibis tidak dapat menangkapi para Ikhwah kecuali dengan pengkhianatan sebagian kabilah Pakistan –dan ini adalah kisah yang terkenal-.

Yang penting, as-Syaykh Ibnus Syaykh al-Liibiy ketika orang-orang Pakistan meninggalkannya di penjara Kuhat, dia membawa harta yang cukup banyak menurut kalkulasi administrasi kepengurusan para ikhawah tersebut. Maka para opsir penerima suap asal Pakistan yang juga pengkhianat menawarinya untuk menyerahkan hartanya pada mereka dengan imbalan mereka akan membiarkannya lari dan menyembunyikan namanya seolah-olah dia tidak pernah tertangkap. Namun as-Syaykh Ibnus Syaykh al-Liibiy –semoga rohmah Alloh terlimpah padanya-, hingga orang-orang mengenal sang pahlawan asal Libiya ini dan hingga saudara-saudaranya asal Libiya menjadikannya tauladan yang insyaAlloh kemenangan mereka ini adalah kemenangan Islam dan kaum muslimiin dan (hingga) di kalangan mereka pengganti as-Syaykh Ibnus Syaykh al-Liibiy menjadi jutaan Ibnus Syaykh al-Liibiy insyaAlloh, pria ini ketika para opsir Pakistan mengatakan hal ini padanya, dia katakan pada mereka, “tidak, saya tidak bisa meninggalkan saudara-saudara saya, akan tetapi saya akan membayar kalian dengan jumlah ini dan bahkan lebih, namun kalian keluarkan kami semua.”



Maka para opsir Pakistan menolak dan Ibnus Syaykh al-Liibiy tetap tinggal dalam penjara bersama saudara-saudaranya hingga pemerintahan jahat Qodz-dzafiy (yang lebih terkenal dengan Gaddafi) membunuhnya. Dan insyaAlloh ikhwah di Libiya yang berjihad, mulia lagi merdeka, setiap orang Libiya merdeka yang dalam darahnya mengalir semangat, kecintaan pada Islam dan kecintaan pada Nabi ‘alayhis sholaatu was salaam akan membalaskan untuk Sang Singa Libiya ini pada Qodz-dzafiy dan pada NATO Barat-Salibis yang telah menyiksa dan menyerahkan Ibnus Syaykh pada Qodz-dzafiy untuk dibunuh.



As-Syaykh Usamah pernah berkata, “pria ini (Ibnus Syaykh) telah menebus kita dengan dirinya.” Inilah tafsir dari kalimat yang dikatakan oleh as-Syaykh Usamah bin Ladin kepada saya.


As-Syaykh Usamah bin Ladin juga mengirimkan kepada saya, (untuk) mengingatkan jasa-jasa as-Syaykh Mush-thofa Abul Yazid dan mengatakan kepada saya, “Pria ini telah berkorban dengan jiwa dan keluarganya demi kita.”

Maksudnya, as-Syaykh Mush-thofa mengatur urusan para Ikhwah, mengatur urusan para mujahid, berkomunikasi dengan para mujahid dan berkomunikasi dengan anshor (para penolong dan atau pendukung) dan muhajiriin. Beliau adalah bapak bagi mereka semua. Sedangkan harga untuk membayar aktivitas yang banyak lagi berbarokah ini adalah beliau diikuti oleh intel / mata-mata NATO, kemudian mereka membunuh beliau beserta keluarganya, bahkan anak-anak yatim yang dijaga dan dilindungi oleh al-Qur-an –semoga rohmah Alloh terlimpah pada mereka-.

Inilah beberapa sisi di antara sisi-sisi kesetian pria mulia ini terhadap saudara-saudaranya.

Apa yang terpikirkan juga oleh saya dalam kesempatan ini adalah sisi … saya tidak tahu barangkali sisi ini tidak tampak oleh orang-orang. Orang-orang melihat Sang Singa Islam yang sedang meraung, “Amerika tidak akan bermimpi mendapatkan keamanan.” Mengancam Amerika dan mengancam Bush. Orang-orang tidak mengetahui bahwa pria ini adalah orang yang halus, santun dan lembut / ramah. Beliau berperasan halus dan sangat pemalu yang kami tidak melihat (orang) yang semisalnya, (beliau) juga berakhlaq terpuji yang disepakati oleh orang yang sepakat atau yang tidak sepakat padanya. Tidak ada seorang pun yang duduk bersama Usamah bin Ladin kecuali (juga) bersama akhlaqnya yang besar, sifat malunya dan tolerannya.

Yakni, sebagai contoh, as-Syaykh Usamah bin Ladin –semoga rohmah Alloh terlimpah padanya- akan saya sebutkan sikap beliau yang sangat halus terhadapku, hal itu adalah ketika datang sebuah berita mengenai syahadah yang menjemput keluargaku –semoga rohmah Alloh terlimpah pada mereka dan pada ikhwan yang mendapat syahadah bersama mereka-. Sedangkan yang membawa berita ini –ketika itu kami di Tora Bora-, sedangkan yang membawa berita ini adalah salah seorang ikhwah, lalu as-Syaykh meminta padanya agar tidak berbicara padaku. Kami pun melaksanakan sholat fajr dan as-Syaykh mendahuluiku menjadi imam sehingga saya sholat fajr bersama para ikhwah. Setelah saya sholat fajr dan kami duduk untuk melantunkan dzikir-dzikir setelah sholat saya dapati para ikhwah keluar satu persatu dari tempat yang kami tinggali saat itu hingga saya duduk sendirian di tempat itu. Kemudian masuklah al-Akh yang membawa berita lalu menyampaikan salam dan ta’ziyah padaku, serta mengingatkanku agar saya bersabar dan mengharap pahala. Dia menyebutkan bahwa isteriku terbunuh, puteraku terbunuh dan puteriku terbunuh. Dia juga menyebutkan bahwa tiga saudaraku terbunuh dan sebagian keluarga mereka terbunuh beserta putera-puteri mereka. Aku pun membaca istirja’ serta mengharap pahala dan meminta pada Alloh subhaanahu wa ta’alaa agar menolongku. Ketika itu masuklah as-Syaykh –semoga rohmah Alloh terlimpah padanya-, lalu memelukku dalam keadaan berlinang air mata dan menangis tersedu-sedu menyampaikan ta’ziyah padaku, kemudian masuklah para ikhwah satu persatu menyampaikan ta’ziyah padaku, menasehatiku untuk bersabar dan memberikan support untukku.

Sesuai program ketika itu, hari itu setelah sholat fajr kita akan bergerak menuju tempat lain. Ketika itu rombongan yang bersama kami kira-kira berjumlah lebih dari tiga puluh.

Maka as-Syaykh Usamah meminta sebagian besar ikhwah bergerak dan berkata pada saya, “Kita dan sebagian ikhwah akan tetap tinggal di sini.”

Saya katakan, “tidak Syaykh, kita (tetap) bergerak insyaAlloh, gerakan akan membuat orang lupa akan kesedihan.”

Beliau jawab, “tidak tidak tidak, tidak mengapa.”

As-Syaykh Usamah bersikeras dan kami tetap tinggal di tempat itu selama sehari hingga –semoga Alloh membalas beliau dengan sebaik-baiknya-, (hingga) beliau sangat menginginkan agar jari-jariku dan perasaanku dapat tenang, sestelah itu kita akan bergerak.

Setelah itu hilanglah goncangan pertama, segala puji bagi Alloh, kita memohon pada Alloh agar Dia memberikan sebaik-baik pengganti dari orang-orang kita yang syahid dan mati, serta dari kalangan kaum muslimin.

Setelah itu ketika saya menyebut anakku yang bernama Muhammad di depan as-Syaykh Usamah, saya menyebutnya maksudnya shock itu telah hilang bersama berbagai kegelisahan yang mengiringi, saya lihat mata as-Syaykh berlinang air mata! Maksudnya, kedua mata saya tidak berlinang air mata karena perkara telah lewat. Setiap kali saya menyebut Muhammad –anak saya-, saya melihat kedua mata as-Syaykh berlinang air mata, semoga Alloh limpahkan rohmah padanya.

Di antara sikap indah yang saya sebut sebagai keramahan as-Syaykh Usamah bin Ladin –semoga Alloh menyayanginya-, beliau adalah yang pertama menyampaikan ta’ziyah ketika (wafatnya) Ibu saya, semoga Alloh menyangi Ibu, menyayangi as-Syaykh dan menyayangi seluruh kaum muslimiin yang mati dan yang hidup. Beliau juga menyampaikan ta’ziyah yang indah dan mengirimkan pesan yang indah pada saya, beliau menyampaikan ta’ziyah ketika (wafatnya) Ibu saya, saya pun berterima kasih padanya dan saya katakan, “wahai Syaykh, Anda mengetahui wafatnya Ibu saya sebelum saya mengetahuinya, semoga Alloh membalas Anda dengan sebaik-baik balasan.”


Di antara hal yang juga diketahui oleh orang-orang yang dekat dengan as-Syaykh Usamah bin Ladin adalah kepekaan hatinya dan mudah mengalirkan air mata. Matanya mengalirkan air mata jika berkhuthbah, berbicara atau ketika berdoa. As-Syaykh Usamah bin Ladin dikenal mudah mengalirkan air mata atau menangis. Hingga suatu saat beliau meminta pendapatku, beliau berkata padaku, “sebagian ikhwah berkata, ‘terkadang Anda berbicara, lalu air mata Anda menetes duluan. Kalau saja Anda (dapat) sedikit menahan (air mata).’

Lalu beliau bertanya pada saya, “apa pendapat Anda?”

Saya katakan, “wahai Syaykh, ini adalah rohmah yang Alloh letakkan di hati Anda. Jangan sedih karenanya. Ini adalah karunia dari Alloh subhaanahu wa ta’aala yang Dia berikan pada Anda.”

Di antara sisi yang juga saya lihat dengan mata saya dari as-Syaykh Usamah bin Ladin –semoga Alloh menyayanginya-, pernah suatu saat kami dalam camp “’Ainak” di dekat Kabul –di selatan Kabul-, dan as-Syaykh ada di sana. Ketika itu saya bersamanya, dan datanglah sebagian ikhwah duduk bersama kami. Ketika itu as-Syaykh berbicara mengenai Palestina, munculnya demonstrasi di Gaza dan orang-orang membawa … saya kira barangkali kalimat yang beliau ucapkan ketika itu, “wahai saudara-saudara kami di Palestina, sungguh darah kalian adalah darah kami dan anak-anak kalian adalah anak-anak kami. Darah dengan darah dan penghancuran dengan....”

Barangkali kalimat ini, saya tidak memastikannya, ada di antara kalimat tersebut yang menjanjikan untuk membela Palestina. Sedangkan kecintaan as-Syaykh terhadap Palestina adalah kisah lain yang harus kita perinci insyaAlloh. Lalu datanglah al-Akh ini dan berkata pada beliau, “sungguh saya melihat di media informasi, para wanita dalam demonstrasi keluar mengangkat papan yang mereka tulisi sebuah kalimat yang kandungannya adalah, ‘kami menunggu penunaian janji wahai Usamah’ atau kalimat yang semakna.”

Maka as-Syaykh pun diam, akan tetapi beliau sangat terkesan. Setelah itu kami pergi untuk sholat isya’ di Masjid –Masjid di Camp-, dan ketika itu cahaya redup. Setelah sholat fardhu, as-Syaykh Usamah bersandar seperti ini di tiang masjid, beliau sholat sunnah, dan saya pun mendengar ratapan beliau. Saya katakan, meratap dan ratapan ini disebabkan berita yang datang pada beliau bahwa wanita-wanita di Palestina menunggu terlaksananya janji dari Usamah bin Ladin.

Dan saya menganggap bahwa beliau telah memenuhi (janji), kita memohon pada Alloh agar menyayanginya dan menyayangi kaum muslimiin.

Juga di antara sisi-sisi yang indah dalam kehidupan as-Syaykh Usamah adalah kehidupannya dengan anak-anak beliau. As-Syaykh Usamah bin Ladin bersama anak-anaknya, setiap orang yang dekat dengannya melihat adab yang luhur dan mulia dalam anak-anak as-Syaykh –kita memohon pada Alloh subhaanahu wa ta’ala agar menjaga mereka, agar menjaga kita, menjaga anak-anak kita dan anak-anak kaum muslimiin, serta memberikan tawfiq untuk taat pada-Nya-. As-Syaykh Usamah bin Ladin adalah seorang milyader kaya raya. Anak-anak pria ini melayani tamu-tamunya dan tidak meninggalkan tamu-tamu itu meskipun mereka berbuat apapun. Mereka mencucikan tangan para tamu, menyajikan makanan, mengeringkan tangan para tamu dan memberikan tempat untuk mereka. Anak-anak beliau beradab dan sangat menghormati tamu-tamu beliau. Saya sering mendengar sebagian orang-orang berkata, “masyaaAlloh! Alangkah eloknya tarbiyyah yang maju yang sangat dijaga oleh as-Syaykh Usamah bin Ladin terhadap anak-anaknya.”

Beliau –semoga Alloh menyayanginya- sangat menjaga meskipun dalam kondisi berpindah-pindah dan tidak menetap. Demikianlah beliau dalam mendidik anak-anaknya –semoga rohmah Alloh terlimpah padanya-. Sebelum segala sesuatu, beliau juga sangat memperhatikan hafalan anak-anaknya terhadap kitab Alloh subhaanahu wa ta’ala (al-Qur-an). Saya mengira sebagian mereka telah menghafal banyak juz dari al-Qur-an dan barangkali –saya tidak tahu-, barangkali sebagian mereka telah menyempurnakan hafalan kitab Alloh / al-Qur-an. Kita memohon pada Alloh subhaanahu wa ta’aalaa agar Dia berikan tawfiq pada putera-putera kaum muslimiin dalam hal ini.



Inilah kisah as-Syaykh bersama ilmu dan ta’lim (pengajaran). Sisi ini barangkali telah saya kemukakan dalam sebagian kitab Fursan tahta Rooyatin Nabiy / Ksatria di bawah Panji Nabi cetakan kedua, akan tetapi sisi ini tidak berkaitan dengan pengenalan. Maksudnya (mengenai) tekad as-Syaykh terhadap penyebaran da’wah dan ta’lim. As-Syaykh menghadirkan seorang guru ekslusif bagi anak-anaknya untuk mengajarkan al-Qur-an pada mereka. Sang guru ini bukanlah guru biasa, dia adalah seorang ‘alim dari kalangan ulama’ mulia asal Syinqith. Dia sangat kuat dalam Ilmu Bahasa ‘Arob, dalam (ilmu) Qiroo-aat dan dalam penulisan Mush-haf. Para ikhwah pun banyak mengambil faedah darinya. Saya sendiri pun juga mengambil faedah darinya. Dia adalah syaykh saya. Sungguh saya telah menyebutkan sebagian biografinya yang harum dalam kitab at-Tabriah.

Syaykh ini bukanlah syaykh biasa. Dia adalah seorang muhajir lagi murobith di jalan Alloh. Dia juga seorang ksatria seperti as-Syaykh Usamah bin Ladin. Dia juga memiliki kuda pilihan di desa ‘Arob. Desa ‘Arob ini juga kisah panjang, semoga Alloh subhaanahu wa ta’ala memudahkan sehingga dapat kami sebutkan mengenai desa berbarokah ini, yang tidak pernah saya lihat desa semisalnya dalam kehidupan saya, dan tidak pernah saya senang dalam sehari seperti ketika saya tinggal dalam desa yang lusuh lagi sederhana ini. Dia memiliki kuda pilihan yang dibeli oleh as-Syaykh Usamah dan dikumpulkan bersama sekawanan kuda beliau. Kami pergi menemui pria ini untuk menerima pelajaran yang dia sampaikan. Dia pun memuliakan kami, menyiapkan teh asal Muritania yang berkualitas dan menyiapkan sendiri makanan untuk kami. Kami katakan, “tidak wahai Syaykh, Anda adalah guru kami.”

Selamanya dia tidak membiarkan dan tetap melayani kami sendirian.



Saya ingat pernah minta padanya agar saya belajar ‘Uluumul Qur-an dan Bahasa ‘Arob. Maka dia berkata pada saya, “kita mulai perbaiki bacaan kitab Alloh / al-Qur-an dahulu. Karena kitab Alloh subhaanahu wa ta’aalaa adalah yang pertama (yang perlu) diperhatikan dari perkataan manusia. Setelah itulah kita masuk dalam (pelajaran) Ilmu Bahasa ‘Arob.”

Sebagaimana yang saya sebutkan dalam kitab at-Tabriah, dia mendiktekan pada muqoddimah menengah berkaitan dengan at-Tajwid, kemudian setelah itu kami memulai pelajaran Nazhom al-Jazariyah. MasyaaAlloh, dia adalah lautan ilmu, namun dia sangat bersemangat terhadap kami. Hingga saya pun melihatnya di Masjid desa bersemangat terhadap para ikhwah dalam (mengajarkan) at-Tajwid. Hingga misalnya, ketika dia menceritakan pada mereka misalnya, perbedaan antara al-ikhfa’ dan al-id-ghom, dia bawakan suatu barang untuk mereka dan berkata pada mereka, “barang ini saya masukkan dalam jaket saya, inilah al-ikhfa’. Barang ini tidak berpengaruh padanya, inilah al-id-ghom.”

Demikianlah secara ringkas.

Sedangkan ketika saya menghadiri Studi al-Jazariyah padanya, dan ketika itu terkadang hadir pula as-Syaykh Abu Hafsh al-Komandan bersama saya, terkadang bersama saya hadir as-Syaykh Abu ‘Ubaydah al-Muritaniy yang (telah) syahid –semoga Alloh menyayanginya-. Ketika itu dia sendiri yang melayani kami. Dan terkadang ketika kami keluar dari rumahnya, dia berjalan bersama saya menuju pasar, saya terkejut ketika dia membelikan buah untuk saya!

Saya katakan padanya, “tuan, ini adalah kewajiban saya.”

Dia jawab, “Tidak, tidak, tidak, ini bukanlah untukmu. Ini untuk Muhammad, anakmu. Janganlah kamu tolak.”

Pada kali yang lain saya terkejut ketika dia membelikan ikan untuk saya!

Saya katakan padanya, “tuan, ini adalah kewajiban saya.” Bagaimana ini.

Dia jawab “Tidak, tidak, tidak ini bukanlah untukmu. Ini untuk Muhammad, anakmu.

Orang yang mulia ini, yang saya merasa mulia menjadi muridnya, dialah ustadz / guru anak-anak as-Syaykh Usamah dalam menghafal al-Qur-an. Dia keras dalam berinteraksi dengan mereka. Saya teringat pernah dia sekali berteriak pada salah seorang anak-anak itu, “Nak, kamu tidak bisa (cukup) dengan bicara. Bicara pada bapakmu. Kamu hanya cocok dengan tongkat.”

Sedangkan putera-putera as-Syaykh Usamah khusyu’ terdiam tidak berani melihat padanya karena adab yang mereka pelajari dari as-Syaykh terhadap ustadz / guru mereka.


Tentu saja, as-Syaykh amat sangat memperhatikan sisi pendidikan / tarbiyyah, hingga terkadang ketika beliau berada di Masjid desa, beliau menyampaikan studi tarbiyyah. Beliau pernah memberikan penjelasan terhadap kitab Tarbiyyatul Abna’ fil Islam / Pendidikan Anak dalam Islam. Beliau juga selalu memperhatikan sisi pendidikan ini.

Saya sampaikan bahwa anak-anak beliau sangat dekat / nggamblok padanya. Dalam beberapa tempat dan perbatasan, anak-anak tersebut menjaga beliau sebagaimana anak-anak singa menjaga sang singa, tidak berpisah dari naungannya serta membela sang singa dengan nyawa mereka.

Kedekatan anak-anak dan penjaga as-Syaykh terhadap beliau adalah kisah yang insyaAlloh akan kami sebutkan, akan tetapi kenangan-kenangan tersebut sangat penuh. Saya sebutkan dua kondisi bersama anak-anak as-Syaykh, antara as-Syaykh dan putera-putera beliau (saya sebutkan) dua kondisi yang sangat mengesankan.

Kondisi pertama; ketika kami di Jalalabad ketika orang-orang munafiq mulai menguasai Jalalabad, kami memutuskan untuk naik ke pegunungan Torabora. Waktu itu putera-putera as-Syaykh telah datang bersama beliau. Kami tidak membayangkan bahwa perkaranya akan berjalan dengan cara seperti ini dan Kabul akan jatuh, demikianlah. Di sana ada pula putera-putera as-Syaykh yang masih kecil, di antaranya adalah Kholid –semoga rohmah Alloh terlimpah padanya yang menemui syahadah bersama as-Syaykh ketika terbunuhnya as-Syaykh-. Dia adalah yang paling besar dan ketika itu ada dua (anak) yang lebih kecil dari Kholid. Kami memutuskan untuk bergerak keluar kota dan kami memutuskan untuk bergerak ke pegunungan Torabora ketika Maghrib. Antara (waktu) ‘Ashr dan Maghrib datanglah salah seorang ikhwah dan saya mendatangi para ikhwah tersebut hingga dapat menyalami bapak mereka. Saya pun menyerahkan padanya agar mengambil mereka (anak-anak as-Syaykh) ke tempat aman, kemudian setelah itu membawa mereka kepada keluarga mereka hingga mereka bersama keluarga as-Syaykh. Kemudian datanglah perpisahan. As-Syaykh bersandar pada mereka di kejauhan, dan saya mengamati kondisi ini dari jauh, sebuah kondisi yang sangat mengesankan; seorang bapak yang meninggalkan tiga anaknya yang masih kecil, tanpa mengetahui kapan akan bertemu dengan mereka. Apakah di dunia atau di akhirat? Apakah ini awal periode ataukah akhir periode? As-Syaykh meninggalkan mereka, mengucapkan salam pada mereka dan mengatakan pada mereka, “kalian pergi bersama paman kalian ini, insyaAlloh beliau akan membawa kalian kepada keluarga.”

Anak-anak yang besar meneteskan air mata dan as-Syaykh sangat terkesan, sedangkan si kecil malang… tidak (banyak) tahu, lalu berkata pada beliau, “namun abi / bapakku, ransel-ku (tertinggal) di Kabul. Aku ingin (membawa) ransel-ku.”

Kabul telah jatuh ke tangan para salibis. Beliau pun berkata pada anaknya, “insyaAlloh kebaikan wahai (putera)ku tercinta. InsyaAlloh pamanmu akan membawakan ransel yang lain.”

Kemudian mereka pun berpisah. Sebuah kondisi yang sangat mengesankan; seorang bapak meninggalkan puteranya, tak tahu di mana dan kapan dia akan bertemu dengan mereka. Mereka juga meninggalkan bapak mereka, tak tahu kapan atau di mana akan bertemu dengannya.

Kondisi lain yang sangat saya pandang besar pada diri as-Syaykh; ketika kami bergerak dari satu tempat ke tempat lain dan salah seorang putera as-Syaykh bersama kami. Di tengah-tengah serangan salibis ini, kami menaiki sebuah mobil sembari bertawakkal pada Alloh serta dalam keadaan malang. Ditengah perjalanan, mobil bergerak menuju kegelapan. Di titik tertentu mobil tersebut berhenti dan turunlah putera as-Syaykh bersama guide untuk pergi ke tempat lain dan kami juga pergi ke tempat lain. Sejenak ditengah-tengah kegelapan ini as-Syaykh turun dan mengucapkan salam perpisahan pada anaknya, sementara hanya Alloh subhaanahu wa ta’aala yang mengetahui apakah mereka berdua akan bertemu atau tidak. Dalam waktu sesingkat ini, apa yang diucapkan oleh as-Syaykh pada anaknya? Beliau berkata padanya, “wahai anakku, kita dalam periode jihad fii sabiilillah.”

Ini adalah kondisi agung yang saya sebutkan pada as-Syaykh.



Saya kira cukup sekian; insyaAlloh kita akan bertemu dengan Sang Imam dan Sang Pembaharu as-Syaykh Usamah dalam majlis lain.



Semoga kesejahteraan serta rohmah dan barokah Alloh terlimpah pada kalian.