Jumat, 20 Januari 2012

Kisah Kedatangan Usamah bin Ladin ke Afghanistan dan perjuangannya dengan Amirul Mukminin Mulla Muhammad Umar

 Pelajaran dari Masjid Kandahar  
Bismillahirrahmanirrahim
 Setelah sholat  ashar, salah  seorang Mulla yang  sudah biasa mengajar di jami’ masjid Kandahar  duduk bersandar pada  salah satu sudut  masjid, kemudian beberapa puluh pemuda kelihatan berebutan untuk duduk mendekatinya.  Setelah melihat  murid  muridnya  duduk   dengan  tertib,  Mulla  itu   berkata  sambil menunjukkan sebuah kitab yang di bawanya: Saya membawa Kitab Sejarah  Kandahar,  dan hari ini kita akan membaca sejarah Mujahid bernama Usamah.
Lalu  beliau memberikan  kitab itu  kepada salah  seorang murid  yang duduk  di pinggirnya  sambil  menyuruhnya  untuk  membaca  kitab  itu  dan memperdengarkan suaranya kepada  seluruh teman  temannya, pemuda  itu menerima  kitab itu dengan penuh semangat  dan sopan,  ia kelihatan  bangga mendapat  tugas itu dari Mulla. Lalu ia mulai membuka daftar isi Kitab, dan memilih sebuah judul  yang  bertulis
“Kisah  Kedatangan  Usamah bin  Ladin  ke Afghanistan  dan  perjuangannya dengan Amirul Mukminin Mulla Muhammad Umar Mujahid”  kemudian ia mulai membaca Basmalah dan puji pujian kepada Allah swt. Dan di teruskan dengan membaca buku itu dengan lantang:
“Pada  tahun 1417H  pada bulan Muharram, Usamah datang  ke bumi  Kandahar, kedatangannya adalah karena ia terusir dari kaumnya di sebabkan ia tegas menolak untuk ikut menyembah berhala yang  bernama Amerika, ia bertekad untuk  memerangi Amerika tetapi ia tidak mendapat sambutan kaumnya kecuali hanya segelintir  dari mereka, dan ada juga beberapa gelintir  dari negeri negeri lain yang sudi  untuk ikut  bersamanya …  tetapi mereka  semua asing  dan lemah,  mereka tidak  punya kekuatan untuk membela diri.
Kemudian  Usamah  mendatangi  pimpinan pimpinan  Qabilah  qabilah  Arab, meminta mereka  untuk  membantunya  dan  memberi  jaminan  tempat  tinggal  baginya  dan pengikutnya untuk mempersiapkan diri melawan kekuatan si Berhala Amerika.
Suatu hari ia mendengar  bahwa hukum Islam di  laksanakan di Sudan, ia  mengirim utusan untuk  menemui sang  Raja umtuk  meminta bantuan  jaminan tempat  tinggal baginya dan pengikutnya.
Sang Raja berkata  “Pintu kami selalu  terbuka dan bumi  kami adalah milik  kita bersama .. datanglah  sebagai tamu terhormat…tanamkan  hartamu di sini  dan jika kau  sudi ikutlah  bersama kami  berjihad” (melawan  pemberontak Sudan  yang di ketuai oleh John Garang)
Usamah sangat gembira mendegar jawaban  itu dan segera mempersiapkan diri  untuk berhijrah ke negeri Sudan, kemudian  ia tinggal di sana dan  mendirikan berbagai Mu’askar (camp) dan melatih Mujahidin bersama pejuang dari kalangan tentara Sang Raja, dan  mereka gembira  di sana  untuk beberapa  waktu sambil membina negeri… jalan jalan di perbaiki, pasar pasar menjadi ramai, dan negeripun makin makmur.
Suatu hari  berhala Amerika  membentak Sang  Raja dan  berkata “Keluarkan mereka dari negerimu” Sang Raja  menjawab… “Daulat  tuan… titahmu  kami junjung  tinggi, demi mencari ridho mu”. Sang Raja berbalik kepada Usamah seraya berkata: “Keluar dari  negeri kami..!!!”  Usamah  menjawab  “bukankah  kita  telah  mengikat  perjanjian untuk berjihad bersama?” Sang Raja menjawab “Ya… tetapi Jihad melawan John Garang  dan bukan Amerika” Usamah  menjawab “sejak dahulu  aku berniat menghancurkannya  dan teman temannya” Sang Raja menjawab “tiadalah kami mempunyai kekuatan … keluarlah dari negeri ini”.
Mulla memberi Isyarat kepada muridnya  yang sedang asyik membaca untuk  berhenti sejenak  karena  beliau ingin  memberi  sedikit keterangan,  lalu  Mulla berkata:
“dalam hal Usamah, Sudan ternyata  lebih takut kepada Amerika berbanding  kepada Allah swt.  , dan  ketika itu  Sudan sempat  kebingungan karena harus melepaskan harta Usamah yang telah banyak  di tanamkan bagi perdagangan negeri  itu, tetapi ketakutan Sang Raja Sudan kepada  Amerika ternyata lebih besar dari  kepentingan rakyatnya sendiri, hingga Sang Raja  lebih memilih mengusir Usamah demi  relanya sang  berhala, walau  Amerika tetap  masih tidak  rela kepada  Sang Raja  Sudan, karena Sang Raja  enggan untuk turun  dan di ganti  oleh John Garang.”  Kemudian Mulla berkata “baik lah… teruskan bacaanmu nak..!!!”
Si pemuda yang tenggelam dengan keterangan Mulla tersentak dan bergegas  mencari baris  terakhir  yang  di  bacanya  tadi..lalu  ia  meneruskan  bacannya  “Usamah terpaksa mencari siapa  yang sudi menjamin  dan menolongnya untuk  menghancurkan sang  berhala, lalu  ia mendengar  bahwa hukum  Islam kembali  di laksanakan  di Kandahar oleh suatu kaum yang  menamakan diri sebagai Taliban, mereka  di pimpin oleh si  pemberani bernama  Mulla Muhammad  Umar Mujahid  yang di juluki sebagai sang Amir, lalu Usamah mengutus utusan kepadanya.
Amir  Taliban  berkata:  “mari  kita  angkat  senjata…  melawan  pemberontak dan perampok perampok di negeri kami”
Usamah menjawab “Tujuan kami menghancurkan sang berhala”
Amir menjawab “Allahu Akbar… menghancurkan berhala adalah Hobi kami”
Usamah menjawab  “bukan sekadar hobi… tetapi demi Jihad Fi sabilillah”
Amir  menjawab “kami  memang Manusia  Jihad dan  anak anak  yang lahir  bersama desingan peluru, Peperangan adalah ibu yang menyusui kami”
Usamah berkata “Sanggupkah kamu bersamaku memerangi Pasukan Salib?”
Amir menjawab  “berperang dan  berdamailah kepada  siapapun yang  kau kehendaki, berhubunganlah dengan siapapun  yang kau kehendaki,  ambil seberapa banyak  yang kau  kehendaki dari  harta kami,  kami pasti  sabar dalam  berperang dan  berani melangkah kedepan, walau kau ajak kami mengharungi lautan benua untuk  memerangi sang Berhala, pasti kan kami harungi bersamamu”
Usamah berkata “tapi kau akan di  tembak oleh seluruh kaum Arab dan  Romawi dari busur panah yang sama”
Amir menjawab “yakinlah bahwa semua itu tiada akan terjadi kecuali jika telah di izinkan oleh yang maha Menjadikan”
Usamah berkata “tetapi sang berhala akan  datang dan mengupah  berbagai Kabilah untuk menghabisimu”
Amir menjawab “Allah  pelindung kami …  sedang mereka tiada  memiliki pelindung”
Usamah  masih  belum  yakin,  dan berkata  “tahukah  engkau  bahwa  sang berhala mempunyai bala  tentara dan  pedang yang  sangat tajam?  Mereka akan  datang dan menguasai negerimu”
Amir menjawab “Ya  kami tahu, tetapi  kami tidak akan  berkata seperti perkataan kaum Musa  as. Kepada  Nabinya “pergilah  engkau berperang bersama Robbmu, dan  kami akan  tetap tinggal  di sini”  sungguh wahai  Usamah kami akan mengawalmu dari  kanan dan  kiri, depan  dan belakangmu,  dengan harapan  semoga Allah memperlihatkan kepadamu apa  yang menyenangkan hatimu, sungguh  negeri ini belum pernah di jajah oleh suatu tentara, pasti mereka akan lintang pukang lari… kecuali tentara Qutaibah”
Usamah berkata “Umat  manusia akan berlepas  diri darimu dan  penduduk bumi akan meninggalkanmu sendiri”
Amir  menjawab “Cukuplah  bagi kami  keberadaan Allah,  dan jika  ia sudi  akan menyatukan kami dengan penghuni Firdaus di Langit”
Usamah berkata “mereka akan memboikotmu dan membiarkanmu kelaparan”
Amir menjawab “Sesungguhnya Allah maha memberi Rezki dan maha mempunyai kekuatan yang besar”
Usamah berkata “mereka hanya ingin menangkapku”
Amir menjawab “tenanglah…mereka  tidak akan menyentuhmu  selagi mata kami  belum tertidur”
Usamah berkata “apakah kalian akan menjagaku sebagaimana kalian menjaga anak dan Isteri kalian?”
Amir menjawab “Ya Demi Allah, bahkan  mereka akan kami keluarkan dari  rumah kami agar kau bisa tinggal di rumah kami, Darah harus di bayar darah, kehancuran  pun begitu, Pukullah si berhala dan jangan lupa membaca Basmalah, pukullah..!!! akan kami  korbankan  anak anak  dan  ibu ibu  kami,  pukullah dan  berlindunglah  di belakang  kami, biar  leher kami  mereka cekik  asal lehermu  selamat, teruskan pukulanmu  semoga Rabbul Jabbar bersama kita”
Tiba  tiba si  pemuda berhenti  membaca karena  mendegar isakan  dari Mulla,  ia terkejut  melihat  Mulla  telah  menutupi  mukanya  dengan  serban  dan badannya bergoncang menahan isakan sambil terus menerus bertakbir, seluruh pemuda terdiam tanpa  sepatah  kata. Mulla  mulai  membersihkan matanya  yang  telah di  penuhi genangan air, kemudian  berkata : “aku  telah banyak membaca  buku buku sejarah, tetapi  aku belum  mendapati suatu  kaum yang  lebih jujur  dari mereka  ketika menolong seseorang,  kecuali kaum  Aus dan  Khazraj, para  Anshar yang  menolong Rasul saw. Lihatlah  kubur kubur mereka  di lereng lereng  pegunungan Tora Bora, Shahikot,   Kandahar  dan   Kabul…sebagai  bukti   bahwa  mereka   benar  benar pemberani…aku mendengar bahwa  tentara Salib sempat  menawan salah seorang  dari mereka…kemudian  ia  di  tawari  agar  memberi  tahukan  keberadaan  Usamah yang bersembunyi… dengan imbalan ia akan di bebaskan kembali dan di beri  uang…tetapi ia menjawab “Demi  Allah kalau Usamah  bersembunyi di bawah  telapak kakiku, aku tidak akan mengangkatnya untuk menunjukkannya kepadamu”. Kemudian Mulla  kembali terisak…dan kali  ini terdengar  makin keras..nampaknya  Mulla sudah  tidak bisa meneruskan pelajarannya lagi.. ia bangun meninggalkan kumpulan pemuda itu sambil terus menangis………

Subhanallah.. semoga kisah ini menjadi i’tibar dan tauladan buat kita semua, insya Allah..

(saif al battar/arrahmah.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar