Selasa, 03 Januari 2012

|| Makalah Dr. Muhammad ‘Abbâs Tentang Kejahatan-Kejahatan yang Pernah Dilakukan Amerika ||


Sementara DR. Muhammad Abbas, wartawan koran Asy-Syi‘b Al-Mishriyyah, seminggu setelah ledakan WTC, di dalam makalahnya menyebutkan besarnya kejahatan Amerika yang sudah lama dirasakan negara-negara di seluruh dunia. Beliau mengatakan : “Seorang wartawan Inggris yang lain memberi catatan dengan nada sinis: ‘Perang ini ~yakni perang Teluk melawan Irak~ adalah perang nuklir dengan semua maknanya.

Tentara-tentara marinir dan armada laut Amerika telah diberi perlengkapan berupa senjata-senjata nuklir taktis dan senjata-senjata canggih yang mampu menimbulkan kerusakan seperti kerusakan yang ditimbulkan senjata nuklir. Amerika juga menggunakan eksplosive berbahan bakar gas bernama Blu-82, ini adalah senjata yang beratnya mencapai 15.000 pound dan mampu membuat ledakan seperti reaksi nuklir yang membakar apa saja yang berada dalam radius beratus-ratus yard.

Yang lebih kejam dari itu adalah bom Uranium pemusnah yang digunakan pertama kali, dan itu adalah cara termurah dan paling biadab untuk membersihkan limbah dan stasiun-stasiun reaktor nuklir.

Tank-tank Amerika telah melepaskan sebanyak 6.000 misile uranium ini, sedangkan pesawatnya menembakkan sepuluh ribu butir. Statemen rahasia Badan Energi Atom Inggris mentaksir bekas yang ditinggalkan dari kekuatan sekutu di medan-medan pertempuran tak kurang dari 40 ton uranium mematikan.

Tambahkan lagi dengan penghancuran pembangkit nuklir di Iraq serta terminal-terminal pembangkit tenaga dan pabrik-pabrik kimia. Demikianlah bencana-bencana paling kejam dalam sejarah terjadi secara beruntun.

Sedangkan beberapa sumber barat mentaksir terdapat 800 ton debu dan atom uranium mematikan yang itu akan berdampak kepada polusi yang berhembus ke seluruh wilayah Semenanjung Arab selama jangka waktu cukup lama.

Udara, tanah dan sungai benar-benar terkontaminasi dengan bahan-bahan kimia yang mengerikan dari radiasi yang berpotensi menyebabkan penyakit kanker. Bencana ini akan terus berlangsung selama ribu tahun ke depan, anak-anak kecil bermain tanpa mengerti apa-apa dengan sebuah boneka yang terbuat dari misil-misile uranium ini, akibatnya adalah kematian yang lambat namun pasti.

Kantor Pendudukan Amerika mengatakan, harapan hidup orang-orang Irak yang lelaki berkurang 20 tahun, sementara wanita berkurang 11 tahun dan setengan juta orang terancam mati karena terbunuh akibat radiasi kimia, cepat atau lambat. Dulu pernah terjadi perang pemusnahan yang membakar apa saja, dan Amerika menyambung serta meneruskannya hingga hari ini dalam bentuk embargo, yang mana tindakan barbarisme seperti ini terjadi sebelum dan sesudahnya.

Meneruskan tulisannya, ia berkata lagi: Sesungguhnya pemerintah Amerika adalah arsitek yang memelihara aksi pemusnahan masal yang masih saja berlanjut sejak beberapa tahun. Sedangkan jajaran eksekutif Amerika dengan sengaja dan dengan resolusi keras dan ketat telah melarang penyaluran bantuan kepada bangsa yang menghadapi kelaparan dan penyakit. Washingthon sendiripun tidak bisa mengelak dari fakta-fakta mengerikan ini.”

Kemudian, seorang warga negara Amerika yang juga yahudi, yaitu Noam Chomsky menambahkan: “Sebenarnya di sana sudah ada cukup bukti untuk menuduh semua pimpinan Amerika sejak berakhirnya perang dunia II, bahwa mereka adalah para penjahat perang.”

Ramsey Clark, menteri peradilan Amerika sebelumnya, mengatakan, “Sesungguhnya aturan perundangan dan peradilan menundukan kekuatan hukuman-hukuman ini dan mengkatagorikannya sebagai tindak kejahatan.”

Hooke Stafter mengatakan, “Penulis (buku Agresi ke Irak, penerj.)sukses dalam merekam banyak dokumen serta mempresentasikannya dengan ungkapan emosional dan pedas, menyorotkan sinar kuat yang mempertontonkan pembantaian massal sebagai keganasan abad duapuluh ~yakni perang Irak~.”

Sementara penulis buku itu dengan lantang mengatakan, “Sesungguhnya saya merasa malu dan seolah tak berdaya di hadapan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintahanku serta orang-orang yang menyetujui pemusnahan massal bersamanya, mereka adalah orang-orang yang perasaannya lumpuh (tak berfungsi), dan orang-orang yang sudah tidak memiliki perasaan berdosa...”

Kemudian di Liberia, selama sembilan dasawarsa pertama, 150.000 orang terbunuh.

Sedangkan di Zaire, ribuan orang juga terbunuh. Setengah juta orang dipaksa meninggalkan tempat tinggal-tempat tinggal mereka dengan alasan pembersihan etnis (etnis cleansing).

Satu juta orang terusir di Sierra Laone, serta sekitar 60.000 orang mati sia-sia dalam peperangan dan kelaparan tahun 1990.

Di Angola, meninggal 20.000 orang ketika pemerintaham YUNITA di kotaQuito selama delapan bulan. Dan ini adalah kejadian yang sering terulang untuk kepentingan politik Amerika di Afrika yang tidak pernah terungkap.

Para petinggi militer di Indonesia membunuh satu juta orang penduduknya melalui anjuran, sambutan, fasilitas persenjataan dan program serta para pakar Amerika.

Di Afrika Selatan, lebih dari satu juta orang. Sejak dari Angola, Namibia, Angola dan Mozambik.

Negara Amerika yang lahir melalui pembersihan etnis (Indian, penerj.) dan pembataian massal, telah mengembangkan tekhnik pembersihan etnis dan pembantaian masal yang belum pernah ada cara seperti itu sebelumnya. Kebanyakan, kelihaian Washingthon dalam melakukan aksi pemusnahan massal berkembang ketika berlangsung perang dunia kedua dan setelahnya.

Sebelum berlalunya waktu yang lama, Washington telah menjalankan perang total, sehingga akhirnya Armada angkatan darat Inggris dan Armada angkatan Udara pasukan Amerika menjadi dua kelompok penjaga pemboman strategis. Keduanya berhasil menjalankan percobaan tekhnik peluluhlantakan yang luas terhadap kota-kota menggunakan bom-bom pembakar (incendiary bomb).

Dan Jendral George Marshall, komandan staf, memerintahkan kepada para krunya di lapangan untuk menjalankan program serangan-serangan api yang membakar kuil-kuil kayu dan daun dari kota-kota di Jepang yang padat pemukiman. Di suatu malam, Armada udara Amerika menerbangkan sejumlah 334 pesawat meluluhlantakan area sepanjang 16 mil persegi sejak dari Tokyo dengan menjatuhkan bom-bom pembakar. Tercatat 100.000 orang tewas terbunuh dan satu juta orang harus terusir.
 
Jendral Crish Lomay mengamati dengan santai, bahwa kaum pria, wanita dan anak-anak Jepang hangus terbakar dan mereka benar-benar direbus dan dioven hinga mati. Suhu panas saat itu memang sangat tinggi, sampai-sampai air di selokan-selokan turut mendidih, pagoda-pagoda dari tembaga meleleh, manusia hancur lebur terkena jilatan api.

Ada sekitar 64 kota di Jepang yang mengalami kejadian seperti ini. Belum lagi berbicara mengenai Hiroshima dan Nagasaki yang juga mengalami serangan seperti ini. Salah satu prediksi mentaksir angka sekitar 400.000 menjadi korban dengan cara seperti ini. Ini hanya pemanasan dari operasi pemusnahan yang dilakukan Amerika melawan negara-negara lain yang belum sempat mengancam Washingthon.

Antara tahun 1952 hingga 1973, Amerika menyembelih sekitar sepuluh juta orang China, Korea, Vietnam, Laos dan Kamboja.

Salah satu prediksi melansir terbunuhnya dua juta orang Korea Utara ketika meletus perang Korea. Mayoritas terbunuh dalam pembakaran melalui serangan bom di Pyong Yang serta kota-kota utama lainnya. Ini mengingatkan kita kepada serangan yang membakar Tokyo (prediksi maksimal ada 3 juta etnis China terbunuh).

Jendral Emit Odd Niels, panglima staf persenjataan rudal pasukan udara di Timur Jauh dalam jumpa pers menyatakan bahwa semenanjung Korea hampir seluruhnya dalam kondisi sangat mengenaskan. Sebab, semuanya hancur dan tidak ada satu bendapun yang layak disebut berdiri. Dan bahwa masuknya altileri China ke Korea secara tiba-tiba untuk menghalangi Mach Arthur menyeberangi Sungai Kuning menuju China telah memberikan kesempatan baru bagi bom-bom Amerika untuk melakukan pembunuhan masal.” Katanya lebih lanjut, “Kami tidak punya tugas apa-apa hingga pasukan China datang, sebab sudah tidak ada lagi target di Korea.” (Dikutip dari rekaman jumpa pers). Sebentar kemudian, tak lebih dari sepuluh tahun, Vietnam, Laos dan Kamboja takluk dengan perlakuan yang sama.

Seorang pendeta Budha Chets Tsin Ho menyebutkan, setelah setengan tahun berlalu tahun 1963, perang Vietnam mengakibatkan terbunuhnya 160.000 ribu orang, 700.000 orang menerima penyiksaan dan menjadi cacat, 31.000 wanita diperkosa, dan 3000 orang ususnya dikeluarkan dalam keadaan hidup-hidup, 4.000 lainnya dibakar hingga mati, 1.000 tempat ibadah dihancurkan. Dan perang itu telah menyerang 46 desa dengan bahan-bahan kimia beracun...dst.

Serangan Amerika ke Hanoi dan Haifung ketika berlangsung perayaan-perayaan natal dan di tahun 1972, menyebabkan lebih dari 30.000 anak kecil terkena penyakit tuli seumur hidup. Pasca meletusnya perang, Amerika berduka dikarenakan hilangnya 2497 tentaranya (menurut salah satu prediksi), keluarga-keluarga rakyat Vietnam harus beradaptasi atas hilangnya 300.000 orang. Barangkali, jumlah korban meninggal di Vietnam mencapai 4 juta orang, belum lagi jutaan orang lainnya yang menganggur dan menderita kebutaan, benturan dan cacat. Vietnampun menjadi negeri yang penuh dengan kuburan, orang-orang yang kehilangan anggota badannya, tanah-tanah beracun, anak-anak yatim dan cacat.

Barangkali, jumlah orang-orang yang mati dan cacat sebagai korban ideologi barat mencapai 22 juta orang. Hanya saja bencana Amerika disebabkan “Penyakit Vietnam” tidak ada hubungannya dengan hal itu.

Sesungguhnya darah rakyat Korea, Vietnam, Laos dan Kamboja bukan satu-satunya yang melumuri tangan-tangan Amerika yang tidak mungkin dihapus begitu saja. Amerika serikat turut bermain, baik langsung maupun tidak, dalam aksi penyiksaan, pencacatan dan pembunuhan di banyak negara lainnya di seluruh dunia. Di sana jelas sekali persekongkolan Amerika Serikat dalam pembantaian-pembantaian di Indonesia dan perang melawan para pemberontak Amerika tengah (Nikaragua, AlSavador, Guetemala dan Honduras: ratusan ribu lainnya terbunuh melalui persenjataan, pelatihan dan saran dari orang-orang Amerika serta perwakilan Amerika) dalam kerusuhan antar warga sipil di Amerika (konflik berdarah di Angola, Mozambique, Namibia dan yang lainnya) pada aksi tekanan yang dilakukan para thaghut yang disupport oleh Amerika selama puluhan tahun (Somoza, Pinochet, Marcos, Mobutu, Batista, Diem, Key, Riy, Debayle, Soeharto, Savimbi dan diktator-diktator kelas dunia lainnya).

Di sana ada satu contoh dari banyak contoh: pembantaian yang dilakukan pasukan hasil pelatihan Amerika serikat di Eluzuti tahun 1982, terhadap sekitar 1.000 petani pedalaman, 139 di antaranya masih kanak-kanak serta pembunuhan pasukan Amerika yang dilatih di Guetemala terhadap lebih dari 150 ribu petani antara tahun 1966 hingga 1986.” Selesai sampai di sini laporan DR. Muhammad Abbas.

Semua hasil yang dicapai Amerika dan diwujudkan dari operasi-operasi penghancuran itu, hanyalah sebagian dari buah yang ditanam Amerika pada setiap ketegangan dan kerusakan yang ia sebarkan di seluruh dunia. Maka jika ia merasa sakit sekali, negara-negara tadi telah merasakan kepedihan sejak puluhan tahun lamanya akibat perlakuannya, dan terus berlangsung hingga sekarang. Maka, rasakanlah, sebagai balasan setimpal perbuatan dia kepada negara-negara. Amerika juga mesti ingat, apa yang ia alami itulah yang dialami jutaan orang yang mereka telah dan sedang berada dalam kungkungan kezalimannya. Kejadian di Amerika itu menjadikan para anteknya marah dan semua musuhnya dari sekte apapun merasa gembira.

Hanya saja, yang masih menorahkan luka dalam hati kami adalah ketika banyak sekali orang yang menisbatkan diri kepada ilmu (baca: Ulama) terburu-buru mengambil sikap dan mengeluarkan fatwa berisi kecaman dan celaan terhadap peristiwa ini serta orang-orang yang berperan di belakangnya. Lantas mereka menyatakan duka cita serta simpatinya kepada Amerika terhadap musibah yang menimpanya dan menghimbau kaum muslimin untuk turut memberikan sumbangan darah kepada musuh-musuh Alloh, padahal merekalah yang menumpahkan darah kaum muslimin di setiap tempat dan terus seperti itu. Kami meyakini, fatwa-fatwa itu tidak lain adalah fatwa untuk kepentingan politik, sebab tidak memiliki karakter besifat syar‘i mendasar. Falloohul Musta’aan, hanya Allohlah tempat meminta pertolongan.

Kami mengalaminya sampai kami lihat ayat ditinggalkan dan hadist disepelekan begitu saja nash dan maknanya. Orang yang menisbatkan dirinya kepada Islam menyimpang darinya hanya lantaran tujuan dunia yang fana, di mana itupun kemanisannya akan dirampas oleh Amerika meskipun mereka berada dalam satu barisan dan membela mereka.

Jika Anda merasa heran terhadap sesuatu, silahkan heran dengan kontradiksi terputus-putus dan selalu terulang yang muncul dari para pemberi fatwa yang mengecam dan mengingkari serangan itu.

Di antara sikap kontradiktif itu adalah ketika mereka diam dari kejahatan Amerika dan yahudi serta yang lain. Namun ketika Amerika ganti terkena musibah, semuanya berkomentar dan mengingkari serta menyatakan belasungkawa terhadap serangan yang mengenainya. Padahal, kami belum pernah melihat pernyataan mereka yang mengecam Amerika terhadap kelakuannya kepada saudara-saudara kita di Palestina. Belum pernah kami lihat pernyataan mereka mengecam perbuatan Amerika di Somalia, Irak, Indonesia, atau embargo dan serangan terhadap Libiya, Afghanistan dan Sudan. Bahkan, tidak mengecam dukungan terang-terangan Amerika dalam serangan melawan kaum muslimin di Bosnia.

Atau dukungan Rusia melawan kaum muslimin di Cechnya sejak meletusnya dua peperangan yang hingga hari korbannya mencapai 250 ribu muslim dan lebih dari 600 ribu lainnya harus terusir, ini tidak termasuk korban luka dan para cacat. Kenapa ketika Amerika membakar negeri Irak dan membunuh hampir dua juta muslim lantaran embargo dan perang sebelumnya, mereka tidak berkomentar sedikitpun? Mengapa ketika Dewan Keamanan menyatakan sepakat sebanak dua kali untuk mengembargo Afghanistan yang korbannya berjumlah ribuan dari kaum muslimin, mereka tidak mengingkari embargo itu, meskipun makna dari perang dan embargo adalah satu, yaitu untuk merusak tanaman dan keturunan?

Bentuk kontradiktif lainnya adalah ketika kita dengar sebagian dari mereka, kemarin menyerukan untuk memboikot produk-produk Amerika guna menyerang sektor perekonomiannya. Nah, ketika Amerika terserang ekonominya, tiba-tiba saja mereka balik membelanya serta merasa berduka dengan apa yang terjadi di Amerika. Di saat mereka melarang membeli barang-barang produk Amerika supaya perekonomiannya tidak berkembang, mereka malah mengharamkan serangan ke jantung ekonomi Amerika secara langsung. Bahkan, mereka menghimbau kaum muslimin untuk memberikan sumbangan darah dan bantuan kepada orang-orang Amerika.

Bentuk kontradiktif lain, bahwa orang-orang yang mengizinkan serangan ke Baghdad serta kota-kota di Irak lainnya, padahal tahu jatuhnya korban ribuan rakyat sipil ketika meletus perang Teluk, mereka sendiri jugalah yang mengharamkan serangan ke Amerika dikarenakan jatuhnya korban rakyat tak berdosa menurut mereka. Lantas, mengapa membunuh rakyat tak berdosa Irak halal hukumnya, sedangkan membunuh rakyat tak berdosa di Amerika haram?!

Kontradiktif lain, mereka yang mengecam serangan-serangan kepada Amerika, merekalah yang selalu bersuara lantang di atas puncak mimbar-mimbar mereka, di dalam koran-koran dan media-media informasi: “Ya Alloh, hancurkanlah yahudi dan yang menolongnya...” (maksudnya adalah Amerika), bahkan di antara mereka mendoakan dengan suara lantang agar Alloh mencabik-cabik, menghinakan dan menghancurkannya. Tapi ketika Alloh mengabulkan doa mereka, mereka riuh ramai mengecam dan menganggap sebagai tindakan jahat orang yang menghancurkan Amerika.

Ya Subhanalloh! Maha Suci Alloh; kok bisa mereka menginginkan kehancuran Amerika, namun ketika ia hancur, kata mereka itu haram? Kalau hancurnya Amerika adalah haram, berarti mendoakan keburukan menimpa mereka juga haram dan itu berarti perbuatan kejam dan zalim berdasarkan pemahaman kalian ini! Berarti juga, pemboikotan ekonomi terhadapnya adalah haram dan tindakan kejam, berdasarkan pemahaman ini!

Bentuk kontradiktif lainnya, mereka yang menfatwakan untuk membunuh yahudi serta menyerang setiap target mereka, meskipun harus mengorbankan wanita, anak-anak dan orang tua dalam operasi tersebut, mereka sendirilah yang justeru menfatwakan kejahatan pelaku serangan yang menghancurkan Amerika. Bahkan, mereka yang mengatakan operasi mati syahid di Palestina adalah tingkatan jihad tertinggi, mengatakan, pelaku operasi serangan di Amerika adalah pelaku bunuh diri, pelaku kejahatan besar serta termasuk salah satu dosa besar. Bahkan di antara mereka mengatakan bahwa ia sama sekali bukan termasuk bagian Islam!!

Bentuk kontradiktif yang mengindikasikan sikap jujur mereka adalah, bahwa mereka yang selalu berdoa di setiap majelis: “Ya Alloh, tegakkanlah panji jihad dan tekanlah orang-orang sesat dan pelaku kerusakan.” Tapi ketika panji jihad hampir saja tegak, semuanya ketakutan dan mengatakan:

“ Mengapa tidak engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi.” (An-Nisa’ :77)

Dan mereka menyangka bahwa Alloh Swt. akan menegakkan panji jihad tanpa sebelumnya Amerika dibuat marah. Ketika Amerika marah, barulah diketahui, siapa yang benar-benar mencita-citakan jihad dari orang yang sekedar menginginkannya dengan lisan saja.

Semua bentuk kontradiksi tadi yang mengerumuni manhaj orang-orang yang tidak memiliki orientasi selain larut bersama arus politik dan informasi, menunjukan dengan jelas bahwa mereka sebenarnya tidak berjalan di atas pijakan prinsip-prinsip syar‘i, namun prinsip itu adalah prinsip-prinsip politik, kebangsaan, perasaan, informasi dan nilai duniawi. Jika mereka memang jujur, mengapa tidak mereka mengeluarkan prinsip-prinsip mereka pada fatwa-fatwa mereka yang lain serta mendudukkannya dengan kejadian akhir-akhir ini berdasarkan perkataan yang muncul dari mereka

dikutip dari e-book yg berjudul :

HAKEKAT PERANG SALIB MODERN SERANGAN WTC DALAM TINJAUAN SYAR'I

KARYA Asy-Syeikh Yusuf bin Shalih Al-'Uyairy Rohimahulloh

source : forum al-Fath

Tidak ada komentar:

Posting Komentar