Selasa, 03 Januari 2012

Pelajaran-pelajaran Berharga dari Bumi Jihad


Pelajaran-pelajaran Berharga dari Bumi Jihad

oleh : al Akh al Mujahid Abu Manshur Al Amriki, hafizhohullooh
Bismillahirrohmanirrohiim, alhamdulillahirobbil ‘alamiin. Sholatu wassalamu ‘ala Rosulillah, wa’ala alihi wa shohbihi ajma'in wa man tabi’ahum bi ihsani ila yaumiddin
(Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji bagi Alloh Robb semesta alam, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh SAW, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga Hari Pembalasan).
Amma ba’du (Adapun kemudian) :
Saya telah memilih tema untuk ceramah pada hari ini dengan judul:
“Pelajaran-Pelajaran Berharga dari Bumi Jihad”.

Saya memberikan judul itu karena saya merasa bahwa hal ini tidak hanya menunjukkan tentang apa niat saya untuk berdiskusi pada hari ini, tapi saya juga merasa judul itu juga memberikan sedikit konotasi militer –yang cocok, terkait dengan topik Jihad yang kita akan bahas hari ini.
Sekarang tentu saja, saya tidak berniat untuk hanya berbicara tentang hal-hal taktis yang biasanya dibahas setelah judul, tapi saya masih berpikir bahwa hal tersebut sebagai judul yang layak untuk apa yang kita akan bahas di sini hari ini. Jadi Insya Alloh, sebelum kita mulai, sebagai tambahan saya ingin mengingatkan semua orang dari sedikit mendengar lalu pergi, bahwa ceramah ini akan menjadi sedikit lebih santai, dan mungkin agak kurang ringkas dari sebagian besar audio Jihad di luar sana. Jadi saya harus meminta Anda semua untuk bersabar dengan (ceramah) saya sebentar.
Langsung saja ke topik: pada dasarnya saya memiliki beberapa waktu untuk merenungkan tentang lima tahun lebih saya di Somalia. Dan saya berpikir bahwa mungkin transisi saya dalam berpikir –dari hari-hari sebelum (pra) Jihad dan hijrah sampai ke (pasca) setelah Jihad dan Hijrah– adalah sesuatu yang layak dibahas bagi mereka yang belum pergi dan melalui pengalaman yang serupa.

Beberapa isu yang akan kita munculkan, beberapa dari isu tersebut mungkin sangat inspiratif, beberapa hal lainnya mungkin akan sedikit lebih terbuka dan nyata dari yang mungkin kita sukai, dan kemudian ada hal lainnya yang dimaksudkan sebagai panggilan untuk bangkit (berjihad).

Sekarang untuk masuk ke topik pertama, saya ingin menyentuh pada masalah: "Menjadi bagian dari Umat".

Yang saya maksud dengan hal ini adalah perasaan yang didapat seseorang ketika akhirnya ia menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang pekerjaan atau Green Card (kartu kewarganegaraan Amerika). Dia menemukan bahwa umat tidak hanya keluarga dekat dan orang-orang yang dilihat di Masjid pada hari Jumat. Sekarang, untuk benar-benar menjadi bagian dari umat tidak akan terwujud sampai Anda keluar dari perut binatang buas itu dan Anda benar-benar mulai hidup dalam zona krisis umat Islam. Anda mulai berjalan dalam kemiskinan, hidup dibawah penindasan, dan memiliki perasaan kehilangan harapan. Ini adalah apa-apa yang harus dialami jika ingin menjadi bagian dari umat. Ini bukan tentang berjalan teratur ditrotoar dan membeli sandwich di kereta bawah tanah dalam perjalanan kembali dari gym. Dan bukan tentang belajar untuk Magister Anda atau mendapatkan promosi di tempat kerja. Tapi mari kita sedikit masuk lebih dalam dari itu.

Ada semacam penyakit yang terjadi antara orang-orang ketika mereka terpisah dari umat, yang mungkin kita bisa sebut 'Efek Starfish/Efek Bintang Laut'. Ini terjadi ketika kaum Muslim, mereka menemukan diri mereka terpisah dari umat. Jadi mereka mulai menghasilkan umat mini versi mereka sendiri –jauh di dalam jantung Darul Kufur (Negara Kafir). Satu-satunya masalah dengan 'dunia mimpi' mereka ini adalah bahwa benar-benar tidak ada contoh bagi umat Islam untuk melakukan hal ini pada hari-hari ketika di mana umat Islam masih waras dan mereka masih memiliki Kekhilafahan dan mereka masih memiliki kebanggaan dalam Dien nya.

Lagi pula, apa yang terjadi pada orang-orang adalah bahwa mereka mulai melihat masalah-masalah yang mempengaruhi dunia Muslim melalui perspektif Ray Ban mereka yang baru atau kacamata Oakley mereka. Sekarang, ketika seorang Muslim dari tempat yang sangat jauh akhirnya muak dan menyerang Amerika, apa yang anda dapat?! Anda mendapatkan salah satu teman Starfish/Bintang Laut kami di sini melompat-lompat dan berbicara tentang bagaimana hal itu akan sangat mengerikan bagi kaum Muslim. Ketika dia mengatakan 'Muslim', apa yang orang ini benar-benar ingin katakan adalah bahwa sebenarnya ini akan sangat buruk bagi gajinya atau masa depan anak-anaknya atau sesuatu-sesuatu sepanjang kereta pemikirannya. Atau mungkin juga ia takut dipenjara, atau mungkin lebih buruk.

Tapi pertanyaan sebenarnya di sini adalah apa yang membuat Starfish Mo lebih pantas memiliki kehidupan yang bahagia daripada sebagian besar umat Muslim lainnya? (Orang-orang yang hidup di negeri-negeri Muslim). Mengapa mereka tidak memiliki hak untuk menjadi bahagia? Maksudku, ketika mereka akhirnya muak, dan mulai melawan Amerika, apakah itu bukan seharusnya menjadi tanda untuk para Starfish Mo mulai bergegas pergi mencari tahu apa yang sedang terjadi? Haruskah dia tidak memiliki simpati yang lebih untuk orang itu? Atau bahkan mungkin sedikit kebencian terhadap orang-orang yang merugikan umat nya?

Saya pikir benar, dan aku cukup yakin bahwa agama kita membenarkannya. Namun sayangnya apa yang biasanya kita lihat dari orang-orang adalah bahwa mereka melihat melalui faktor emosional tentang kematian Joe atau Sally, dan kemudian mereka mulai berbicara bahwa mereka adalah manusia juga –kita bahkan mungkin mendengar tentang bagaimana hewan pun memiliki hak dalam Islam.

Tapi sungguh, di sisi lain dari gambaran di sini, kita telah menjadi begitu tidak peka terhadap penindasan terhadap umat Islam –dengan membiarkan diri kita untuk menjadi sasaran dari media Barat– bahwa ketika datang berita kematian Muhammad atau perkosaan terhadap Fatima, peristiwa ini hampir tidak mendapatkan celaan dan kemarahan yang sama seperti apa yang kita dapatkan dari para Starfish Mo tentang kemiskinan Joe dan kematian Sally.

Dan juga, untuk menambah bumbu dalam masalah ini, jika kita mendapatkan seseorang yang datang dan berkata: "Apapun ... siapa juga yang peduli tentang Joe? Dia hanya seorang kafir! ", Maka kita akan mendapatkan banyak ceramah dari Starfish Mo tentang bagaimana itu baik dan keren untuk bersimpati terhadap kafir, dan pada dasarnya bermuara pada fakta bahwa Starfish Mo telah benar-benar kehilangan arah. Dia tidak menyadari bahwa ini adalah perang peradaban, ini bukan perang individu. Ini mungkin menjadi kasus yang pas bahwa Joe hanyalah ‘seorang Joe yang biasa’ , dia bisa ... mungkin ia tidak pernah bermaksud jahat kepada Islam. Tetapi pada akhirnya hal ini tidak mengubah fakta bahwa ia masih merupakan bagian dari suatu peradaban yang sedang berperang dengan Islam! Jadi apa yang seharusnya dilakukan adalah bahwa pertama, kita ... kita harus memilih untuk memihak. Dan kemudian setelah itu (kedua), kita mampu untuk khawatir dalam memberi keadilan kepada individu yang menemukan diri mereka terjebak dalam situasi yang buruk. Mirip dengan bagaimana Alloh (SWT) menggambarkan –dengan Ayat berikut– Alloh (SWT) berfirman:

"Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Alloh. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Alloh menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Alloh tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.". Ini adalah ayat 89-90 dari Surat An-Nisa.

Jadi di sini kita bisa melihat bahwa pertama-tama Alloh telah memerintahkan kita untuk memerangi kaum kafir, yaitu orang-orang yang tidak memilih untuk menerima Islam, dan Dia (Alloh SWT) tidak membuat perbedaan antara mereka dalam hal ini.

Kemudian, setelah itu Dia mengingatkan kita bahwa mereka yang datang kepada kita dan menginginkan gencatan senjata –yang mereka tidak ingin melawan kita juga tidak ingin melawan rakyat mereka sendiri– ini adalah orang-orang yang menjadi aman dari kita.

Sekarang masalahnya di sini adalah bahwa para Starfish Mo belum berada di sisi yang benar. Mereka tidak mengambil langkah yang pertama tetapi dia sudah pergi membela kasus untuk Joe – mereka tidak pernah keluar membela terhadap penindasan umat-Nya dan tidak pernah meminta gencatan senjata. Sekarang, salah satu alasan terbesar untuk hal ini adalah sentimen berlebihan yang ditujukan untuk kaum kafir yang biasanya berhubungan dengan, Anda tahu apa yang mereka katakan, bagaimana hal ini akan membahayakan apa yang mereka sebut 'dakwah'. Tentu saja ketika mereka mengatakan ‘dakwah', ini tidak berarti seperti dakwah yang Nabi (Sholallohu A’laihi Wasallam) pernah contohkan. Mereka tidak benar-benar bermaksud dalam mendefinisikan Islam yang secara sederhana dan singkat mengatakan: "Terimalah Islam dan Anda akan aman". Atau salah satu yang mengatakan: "Jika anda tidak tunduk kepada Islam maka anda akan bertanggung jawab atas kehancuran kaum anda".

Sekarang ini tidak seperti itu ... ini bukan apa yang mereka maksud dengan 'dakwah'. Apa yang mereka maksud dengan 'dakwah' adalah kepura-puraan, kepalsuan, ‘wajah Islam yang ramah’ yang mereka ingin gambarkan untuk menjaga posisi mereka sebagai Imam Masjid atau dalam rangka untuk menjaga diri dari penjara.

Dan sayangnya kita memiliki beberapa orang lainnya –yang konon bahkan percaya tentang Jihad– tapi mereka masih memberitakan jenis slogan yang sama. Beberapa dari mereka, Anda mendengar mereka berkata: "Jangan berHijrah !". Beberapa dari mereka, mereka berkata: "Jangan membuat kita terlihat buruk di sini, di Darul Kufur !". "Jangan melakukan apapun untuk membahayakan kita !". Mereka memberitahu Anda: "Pilih Fulan (dan lain-lain), dan terlibat dalam sistem pemerintahan !".

Jadi apa yang mereka coba lakukan di sini adalah, mereka mencoba untuk mengambil semacam 'jalan tengah' antara mereka yang pro Amerika dan mereka yang bersama ‘teroris’. Dan mereka melakukan ini pasca Peristiwa 911 di dunia. Dan masalahnya adalah bahwa meskipun fakta bahwa mereka ingin menapaki jalan tengah ini, kaum kafir mereka tidak berhenti memberi kita contoh sehari-hari dimana mereka tidak percaya pada ‘wilayah abu-abu’, mereka tidak percaya terhadap garis tipis di sini. Jadi setiap orang harus menyadari –cepat atau lambat– mencoba untuk mempraktekkan agama Anda di Darul Kufur adalah tidak lebih dari sebuah mimpi (khayalan saja). Tapi di sisi lain ada secercah cahaya, saya katakan yang sebenarnya, saya percaya bahwa beberapa orang mulai bangun. Banyak dari mereka, Anda tahu, saya mendengar mereka bertanya pada diri sendiri: "Bukankah ini merupakan suatu kemunafikan, bagi kita untuk mendukung Jihad dan umat, tetapi –pada saat yang sama– kita masih menjalani kehidupan normal kita, kehidupan sehari-hari, dan mencoba untuk terlibat dalam dakwah, dan kamu masih bisa memberikan kaum kafir senyuman."

Hal yang masih menahan mereka sadar kembali, ada dalam pertanyaan dari mereka, alasan mengapa mereka tidak benar-benar mengerti tentang kenyataan, adalah bahwa mereka telah memiliki ide yang salah mengenai dakwah, seperti yang kita telah disebutkan diatas. Dan membiarkan mereka untuk berpikir bahwa dakwah yang dilakukan tanpa harus memiliki Izzah (kehormatan) apapun.

Jadi inilah (yang menyebabkan) mengapa mereka tidak dapat memahami kemunafikan yang nyata yang terletak dalam tindakan mereka yang mereka merasa aneh tentang nya. Dan fakta dari masalah ini adalah bahwa unsur nyata dari kemunafikan bukan tentang masalah bermuka dua, berhadapan dengan kaum kafir di satu sisi, dan kemudian bersimpati kepada mereka di saat yang lain.Unsur nyata dari kemunafikan di sini adalah bahwa anda mengklaim mendukung Jihad dan anda mengaku mendukung umat, tetapi Anda masih belum total dalam bergabung dengan seluruh umat. Jadi pada dasarnya, apa yang saya coba katakan di sini adalah bahwa menunggu Khilafah untuk muncul dan kemudian barulah bergabung bukan merupakan kesungguhan dalam mendukung kaum muslim di negeri-negeri Islam. Dan menunggu para mujahidin untuk gagal dan kemudian kembali ke kehidupan normal anda karena Anda tidak pernah berkompromi dengan itu adalah sesuatu yang juga bukan bentuk dukungan nyata.

Sekarang, setelah menyentuh menjadi bagian dari umat dan masuk dalam diskusi tentang dakwah dan kesan palsu dari orang-orang di Barat yang mereka miliki mengenai apa sebenarnya arti dakwah, ini membawa saya ke pelajaran berikutnya apa yang ingin dibahas di sini adalah saya menyebutnya: "Pengetahuan (Ilmu) Adalah Untuk Diamalkan Jadi Carilah Pengetahuan Yang Berhubungan Dengan Hal Tersebut".

Sekarang, ketika kita masuk ke pelajaran ini, topik di sini, ada dua kutipan yang datang ke pikiran yang benar-benar mempengaruhi saya. Yang pertamasaya ingat kembali pada hari-hari, dimana saya ingat menonton Khattab (semoga Alloh mengasihi beliau) dan salah satu wawancara selama ia tinggal lama di Chechnya, berjihad di Chechnya, ada satu wawancara di mana ia mengeluh bahwa umat muslim mati dan mereka tinggal dalam penindasan, dan kaum kafir yang telah mengambil tanah Muslim, namun kita memiliki ulama di tanah-tanah yang dijuluki berlandaskan syariah dan sebagainya, mereka khawatir semata-mata dengan hal-hal seperti boleh atau tidaknya piring satelit. Sekarang tentu saja kita harus memberikan setiap bagian dari agama kita hak-haknya dan karena semua hal dalam agama kita adalah penting. Tapi intinya di sini –titik yang Khattab coba untuk lalui di sini– adalah bahwa perlu bagi kita untuk memprioritaskannya. Terutama dalam masa krisis. Jadi kita harus menempatkan pembebasan tanah Muslim dalam urutan pertama. Jihad dan Hijrah harus menjadi urutan pertama hari itu. Dan kemudian setelah itu, semua Ahkam lain (Perintah), kita berikan prioritas yang sesuai.

Sekarang, kutipan kedua, yang juga berhubungan dengan topik di sini yakni pengetahuan (ilmu), menuntut ilmu (ilmu) sesuai dengan situasi kita saat ini (waqi). Kutipan kedua yang –saya selalu merasa tersentil– seperti kebanyakan kutipan dari Abdullah Azzam (semoga Alloh mengasihi beliau), itu kutipan yang benar-benar menunjukkan orang ini, dia hidup jauh di depan dari masanya. Dan sebagian kutipan nya, yang selalu penuh hikmah walaupun berapa lama telah berlalu adalah bahwa dia berkata kepada mereka. Yang saya maksudkan di sini, ia mengatakan: "Ada orang-orang di luar sana yang mereka percaya bahwa dasar atau prinsip agama ini hanyalah permainan atau hiburan sia-sia belaka. Mereka percaya bahwa prinsip-prinsip mereka dapat dicapai hanya oleh seseorang yang memberikan pidato dengan fasih, dengan memperindah kata-kata, atau dengan menulis sebuah buku yang dicetak dan ditempatkan pada rak-rak buku. Sampai ia (Abdullah Azzam) mengatakan: “ini tidak pernah menjadi jalan para pendakwah (orang yang menyeru manusia kepada Alloh)”.

Kebenaran dari masalah di sini ... adalah bahwa realitas situasi kita saat ini adalah banyak dari apa yang disebut ulama kita –bahkan orang-orang yang bersimpati dengan gagasan Jihad– masih terjebak dalam dunia kecil dari ceramah dan buku, seperti yang Syaikh kita telah katakan tadi. Sangat sedikit dari mereka yang siap untuk dipenjara –atau mati– untuk apa yang mereka percayai dan khotbahkan. Kemudian anda mempunyai orang lain, yang lebih jauh lagi keluar jalur. Mereka bahkan tidak sedikitpun memberikan topik tentang Jihad dan Hijrah. Sebaliknya mereka terlalu sibuk mendiskusikan apakah Madzhab Hambali lebih baik, atau Madzhab Hanafi, mereka ingin tahu apakah hal ini Sunnah atau yang itu bukan sunnah, secara teoritis, membatalkan suatu ayat dari Al-Qur'an, meskipun tidak pernah ada contoh-contoh semacam itu sebelumnya. Mereka ingin tahu apakah suatu hadits tertentu harus dianggap 'Aziz' atau masuk kategori 'Mustafeedh'. Mereka ingin mencari jalur periwayatan hadits-hadits yang telah jamak dikenal sampai ke tingkatannya. Beberapa dari mereka, mereka berdebat tentang topik-topik lama semacam meluruskan shof diwaktu sholat, atau tentang pakaian yang menjulur di bawah pergelangan kaki (Isbal). Anda juga mempunya orang lain yang terjebak dalam Opera Sabun dari Robi' Al-Madkholi dan para Murjiah kaki tangan nya. Jadi ini mungkin tampak normal bagi orang yang tinggal di Darul Kufur, tetapi bagi orang yang hidup di bawah dentuman pemboman altileri (alat berat) yang tanpa henti, atau seseorang yang terus menerus mendengar tentang kesyahidan salah satu dari teman dekatnya, diskusi-diskusi ini lebih mirip menjadi seperti lelucon yang sehat daripada mereka-mereka, kau tahu, mereka yang “tulus menuntut ilmu”.

Saya yakin bahwa, itu cukup sebagai diskusi tentang pelajaran di sini, mari kita lanjutkan ke pelajaran berikutnya, sedikit berhubungan dengan topik diatas. Pelajaran selanjutnya adalah – ini disebut: "Ribath Merupakan Sebuah Peluang Besar Untuk Meningkatkan Kualitas Diri Seseorang".

Sekarang ada banyak orang di luar sana yang berpikir bahwa datang ke bumi Jihad atau berhijrah berarti mengakhiri untuk menuntut ilmu pengetahuan –atau mungkin bahkan mengakhiri kehidupan seperti yang kita dengar (selama ini). Banyak orang di luar sana, banyak dari mereka, mereka berbicara tentang semua hal yang mereka harus selesaikan sebelum mereka dapat pergi untuk berjihad. Mereka berpikir bahwa mereka tidak akan pernah melihat lagi kesempatan kedua. Tetapi orang-orang, mereka benar-benar belum melihat realitanya di lapangan. Semua orang, yang datang untuk berjihad atau berhijrah, mereka dapat memberitahu Anda, hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah Anda perlu untuk memiliki kecintaan. Karena memerangi musuh –sering kali itu sebuah kesempatan langka sebenarnya– mungkin hanya datang sekali sebulan atau lebih. Ada saat-saat –tentu saja– ketika hal yang benar-benar dalam situasi panas, tapi itu bukan menjadi suatu aturan baku.

Banyak orang yang jatuh ke dalam perangkap ini ketika berpikir tentang Siroh Nabi (SAW), mereka mendapatkan gambaran tentang para sahabat selalu melakukan operasi militer, selalu ada yang berkeliaran di gurun hanya untuk mencari pertempuran. Namun dalam kenyataannya Alloh (SWT) mengatakan dalam Surat-Taubah, ayat 126:

"Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? ".

Banyak Muffassirin (ahli tafsir) mengatakan apa yang dimaksud di sini, adalah bahwa mereka dapat mencoba sekali atau dua kali setahun, dalam bentuk pertempuran, dalam bentuk keluar untuk berjihad. Jika dilihat tanggal pertempuran utama dalam Siroh akan berguna untuk menunjukkan seberapa realistis angka/jumlah pertempuran yang sebenarnya. Kemudian, sisanya merupakan pertempuran yang lebih kecil –mereka sebenarnya adalah Sariyah-sariyah (batalyon) yang dikirim keluar oleh Nabi (SAW), terdiri dari, Anda tahu mereka biasanya relatif terdiri dari sejumlah kecil para sahabat. Pada dasarnya adalah, untuk semua orang di luar sana, yang Anda tahu mereka merasa bahwa mereka tidak bisa datang ke jihad karena mereka ingin menuntut ilmu atau apapun alasannya, intinya adalah bahwa ada kehidupan setelah pertempuran. Kau tahu, untuk orang-orang yang tidak mendapatkan kesyahidan mereka tetap hidup, sehingga mereka memiliki banyak waktu luang yang mereka butuhkan untuk diisi dengan ibadah, yang mereka perlu untuk mengisinya dengan mencari ilmu pengetahuan dan hal-hal yang bermanfaat lainnya.

Jadi bagi Anda di luar sana yang percaya bahwa keutamaan menuntut ilmu lebih besar dari kebaikan untuk mengamalkannya, bahwa itu lebih besar daripada keutamaan memenuhi kewajiban individu untuk membebaskan negeri-negeri kaum Muslim, kita di sini, kita memiliki waktu penawaran terbatas bagi Anda, Anda memiliki kesempatan untuk terlibat langsung dalam kedua hal tersebut.

Dan ini membawa kita ke topik berikutnya, ini terkait pula dengan topik kita, pelajaran yang saya sebut: "Orang-Orang Umumnya Tidak Mengetahui Cara Untuk Membantu Jihad".

Sekarang ada banyak orang di luar sana, mereka memiliki rencana-rencana sendiri tentang bagaimana mereka akan membantu Mujahidin. Tetapi kenyataannya adalah mereka telah sebenarnya ditipu oleh syaithan –atau banyak dari mereka– menjadi benar-benar tak melakukan apa pun. Jadi, untuk melanjutkan tema tentang menuntut ilmu, ada beberapa orang di luar sana, mereka berpikir bahwa mereka akan mempelajari agama selama 10 tahun, dan kemudian mereka akan datang ke tanah Jihad menjadi seorang “Mufti bagi Mujahidin” yang telah lama ditunggu-tunggu. Sekarang masalah dengan Rencana Utama ini adalah bahwa kebanyakan orang, mereka tidak berhasil melalui rintangan dari Dunia (dunia sementara), mereka tidak mampu melaluinya. Bahkan mereka, Anda tahu, tidak mendapatkan pula “kartu bebas penjara”. Banyak orang, menemukan diri mereka sebelum mereka berhasil masuk, gaya hidup ini telah menyebabkan mereka ke penjara sebelum membawa mereka ke Jihad yang sebenarnya. Sekarang, untuk yang berhasil masuk, banyak dari mereka, mereka menemukan diri mereka tidak pada tempatnya, untuk mencoba menerapkan pengetahuan teoritis mereka dengan realitas di lapangan.

Inilah alasan mengapa saya mengatakan bahwa yang terbaik adalah untuk datang langsung ke medan Jihad, dan kemudian mencari tahu, apa yang benar-benar diperlukan oleh para Mujahidin. Dan jika itu akan menjadi sepuluh tahun waktu untuk belajar, maka anda telah melakukan yang terbaik dalam lingkungan kehidupan yang nyata, diantara para Mujahidin. Sehingga Anda tidak perlu membuang waktu untuk kembali mencoba masuk ke bumi jihad.

Rencana lain yang umumnya dikemukakan adalah orang-orang di luar sana, mereka mengatakan bahwa mereka akan menjadi seorang dokter atau seorang pebisnis besar, dan kemudian mereka akan membantu mendanai Jihad. Sementara ini juga –seperti rencana sebelumnya– biasanya membutuhkan waktu satu dekade atau lebih, juga memiliki rintangan yang sama seperti ide diatas tadi. Ini benar-benar hanya sedikit terlalu naif. Karena, orang-orang ini, memiliki gagasan bahwa suatu hari mereka akan dapat memberikan, Anda tahu, Satu Juta Dolar untuk Mujahidin. Dan Insya Alloh jika mereka melakukan itu mereka akan diberi imbalan pahala. Insya Alloh mereka akan mendapatkan pahala yang besar untuk itu.

Tetapi kenyataannya ini hanyalah seperti tagihan satu bulan atau lebih untuk Mujahidin. Sudah pasti jauh lebih menguntungkan bagi mereka untuk bekerja pada suatu rencana, ide-ide tentang bagaimana untuk memanfaatkan sumber daya yang telah dimiliki oleh kaum Muslim, dan berpikir tentang bagaimana kita dapat menyalurkan zakat, atau shodaqoh rutin dari Muslim yang kaya kepada Jihad. Ide yang lain yaitu menggunakan sebagian kecil dari uang itu dan memasukkannya ke arah operasi yang dapat menghasilkan Ghonimah (harta rampasan yang di dapat dari perang) atau Fa’i (harta rampasan yang di dapat tanpa berperang) dalam jumlah jauh lebih besar dan dalam jumlah yang jauh lebih cepat waktunya.

Lalu ada orang lain, Anda tahu bahwa mereka memiliki rencana mereka tentang bagaimana mereka akan membantu Jihad, dan Anda tahu bahwa mereka akan membuang banyak waktu sebelum mereka datang, dan bahkan mungkin mereka akan menghamburkan banyak uang. Mereka mencoba untuk menjadi binaragawan raksasa atau menjadi pendekar bela diri. Tapi jangan salah mengartikan dahulu, maksud saya, pasti ada manfaat untuk hal ini, pasti bermanfaat untuk menjadi sehat, untuk mengetahui bagaimana melatih diri sendiri atau apapun yang ingin anda lakukan. Tapi tidak seharusnya terlalu dibesar-besarkan di luar proporsi. Dan bagi mereka yang telah melihat medan Jihad, mereka tahu kebanyakan ikhwan-ikhwan mereka tidak memiliki waktu atau uang untuk menjaga kebiasaan makan lima kali sehari dan minuman suplemen penunjang disela-sela sesi latihan dan istirahat, dan sebagainya. Pada kenyataannya beberapa hari hanya ada teh dan kurma, atau nasi putih. Dan untuk para pendekar bela diri ini merupakan benar-benar sebuah kesempatan langka ketika seseorang mendapat kesempatan untuk mengeksekusi tendangan terbangnya dengan sempurna pada seorang kafir: sebagian besar hanyalah peluru dan peluru dan hal-hal semacam itu.

Jadi, apapun yang Anda lakukan, intinya di sini adalah untuk melakukannya secara seimbang. Dan apa pun yang Anda lakukan, pastikan bahwa hal itu tidak mencegah Anda datang ke bumi jihad sesegera mungkin.

Sekarang pindah ke pelajaran berikutnya –masih bertema tentang teh dan kurma– pelajaran kelima adalah: "Kebutuhan Hidup Sebenarnya Hanya Sedikit".

Topik –itu mengingatkan saya– saya memiliki beberapa teman seruangan di masa lalu, dan di sana ada satu saudara, ia pindah ke ruangku dan waktu itu saya sedikit ada pada posisi bangkrut. Setelah saya mendapat apartemen baru ia pindah pada hari berikutnya, ia mulai membawa kotak-kotak barangnya –satu kotak dan kotak lainnya– dan saya pergi melewati semua kotak-kotak itu, dan saya menemukan bahwa pria itu, kau tahu, saya mulai berpikir "mengapa orang ini membutuhkan begitu banyak sampah, hanya untuk hidup sehari-hari?"

Jadi saya mulai melihat isi kotak nya: Saya menemukan alat-alat dapur. Ada mesin khusus untuk membuat wafel. Satu lagi, hanya untuk menghancurkan lada hitam. Kemudian ada sendok khusus, Anda tahu, pisau khusus, saya tidak tahu ada pisau ikan, sendok buah atau sesuatu seperti itu. Untuk semua jenis makanan. Ada blender hanya untuk mengaduk adonan kue, Anda tahu apa yang saya maksud? Ini adalah sedikit gila untuk bujangan yang memiliki semua hal tersebut.

Intinya, sebelum anda paham tentang situasi di medan Jihad, simak sejenak tentang cerita ini, kecuali jika Anda memulai sebuah front Jihad baru di Uni Emirat, Anda tidak akan menemukan jenis kenyamanan hidup seperti itu yang mungkin anda dapatkan sewaktu tinggal di Barat. Di sinim khususnya di Somalia, Anda mungkin tidak akan pernah melihat microwave, atau bahkan oven yang normal. Sekarang aku ingat nenek ku, beliau memiliki oven dari kira-kira tahun 60-an, dan itu terlihat seperti teknologi baru di sini. Dan kemudian Anda mendapatkan, bahwa sebagian besar Mujahidin, sekedar melihat televisi atau menggunakan ponsel, menjadi suatu yang sangat jarang bagi banyak dari kami disini.

Dan ketika tinggal di hutan bahkan lebih aneh lagi. Pada waktu Anda tinggal di luar sana begitu lama, sekelompok tenda dengan beberapa jalur yang terhubung melalui pohon-pohon, itu mulai terlihat seakan-akan sebuah kompleks apartemen, atau kota kecil. Kau tahu, jika pisang datang dari luar sana, menuju jalur Anda, atau jika Anda berhasil melewati sebuah desa yang entah bagaimana dapat menghasilkan es atau Anda tahu mereka menjual beberapa makanan penutup/snack Anda mendapatkan perasaan bahwa Anda telah menemukan Surga di bumi . Intinya, supaya tidak terlalu melebar kemana-mana, bahwa kami tidak mencoba untuk menakut-nakuti, mungkin kita ingin membangunkan mereka sedikit, tapi bahkan itupun bukan maksud kami disini, Maksud sebenarnya adalah seperti iklan komersial di televisi: “Jika saya bisa melakukannya, Anda pun bisa melakukannya juga!”

Jadi, singkatnya, pelajaran yang saya ingin sampaikan, setelah melalui jenis gaya hidup ini, adalah bahwa orang-orang akhirnya terbiasa, Anda tahu, kita menjadi terbiasa untuk hidup apa adanya. Dan ketika kita melalui proses tersebut, kita menyadari bahwa kebutuhan dasar kehidupan nyata sebenarnya, benar-benar dapat anda bawa pada tas ransel dibelakang punggung Anda. Mungkin jika Anda butuh lebih besar cukup diangkut oleh keledai.

Hal ini menggerakkan kita ke pelajaran berikutnya yang saya suka menyebutnya: "Hidup Bukan Seperti Yang Anda lihat dalam film".

Pada kenyataannya judul ini benar-benar bisa mewakili sebagian besar pelajaran yang ada –atau bahkan bisa menjadi judul dari seluruh ceramah kali ini– tapi aku akan mencoba untuk membatasi beberapa poin saja, tentang Jihad di sini, orang-orang mungkin berpikir bagaimana keadaan berjalan di lapangan. Poin pertama adalah perlu diingat bahwa Mujahidin bukanlah para Sahabat (sahabat Nabi Muhammad SAW), dan mereka bukan pula malaikat. Dan saya tidak akan menyebutkan daftar panjang tentang kesalahan-kesalahan mereka, tetapi kenyataan dari hal ini bahwa Mujahidin adalah manusia biasa. Mereka membuat kesalahan mungkin sesering mereka melakukan hal yang benar.

Ada beberapa orang, mereka ingin mengambil fakta ini –yang seharusnya adalah suatu hal yang umum– mereka ingin mengambil itu menjadi semacam momen untuk menyerang prinsip-prinsip agama, Anda tahu, mereka ingin menyerang amal sholeh Jihad dan Hijrah. Tapi ini jelas bukan pendekatan yang adil. Kita harus memisahkan antara dasar validitas perjuangan dengan kesucian mereka yang berusaha menegakkannya. Dasar perjuangan mereka adalah seratus persen valid. Tidak ada keraguan tentang itu yang dibuktikan dengan adanya perintah tentang ini dalam agama Islam. Adapun orang-orang yang berusaha menegakkannya mereka hanyalah manusia biasa seperti yang kami katakan sebelumnya. Jadi daripada terfokus pada kesalahan mereka, apa yang kami benar-benar minta dari para kritikus di luar sana, agar datang ke bumi jihad, sehingga mereka dapat menunjukkan kepada semua orang bagaimana yang seharusnya dilakukan. Bagaimana hal ini harus dilakukan. Dan bahkan di sini dalam Jihad, saya telah melihat banyak kritikus, Anda tahu ada banyak sekali ...di antara Mujahidin, dimana kita dapat menyaksikan bagaimana jihad berjalan dan sebagainya.

Setelah mereka naik pangkat dan mereka mulai menerima tanggung jawab, tidak butuh waktu lama sebelum mereka sendiri, menjadi rendah hati, karena masalah yang berkepanjangan yang dihadapi sehari-hari oleh Mujahidin. Dan kemudian mereka sendiri mereka mulai berbicara lebih lanjut tentang bagaimana kita dapat menemukan solusi, bukan siapa yang bisa tuding atas kesalahan ini-itu. Dengan penjelasan ini, saya telah menyebutkan bahwa mungkin Muhajirin, dan Mujahidin memiliki kesalahan-kesalahan dan sebagai tambahan, saya masih ingin mengatakan bahwa Mujahidin –sebagai benteng pertahanan umat saat ini– bahwa di antara mereka terdapat beberapa individu-individu terbaik yang telah seharusnya dihasilkan ummah. Maksudku sebagai penghargaan tambahan bagi mereka, bahwa meskipun hanya berjumlah beberapa ribu dengan persenjataan sangat sedikit, mereka telah berdiri sebagai benteng pertahanan bagi seluruh umat, dalam menghadapi musuh yang berjumlah ratusan ribu dengan negara super power dari sisi peralatan. Dan mengetahui sedikit berita gembira ini, membuat lebih mudah untuk memahami poin berikutnya, yang terkait dengan kehidupan di film.

Poin lain yang realistis di sini adalah bahwa dalam kehidupan nyata para pahlawan, para Mujahidin, mereka tidak selalu menang. Tentu saja kita tidak perlu untuk pergi ke beberapa diskusi panjang tentang apa artinya kemenangan sejati nyata, dan sebagainya, tapi saya pikir untuk anda semua, yang pernah membaca 'Constants of Jihad (Tegar di Jalan Jihad)' oleh Syaikh Yusuf al-Uyairi (semoga Alloh mengasihi beliau), semua itu akan dijelaskan dengan cukup baik. Untuk menjadi jelas di sini apa yang kita bicarakan adalah pertempuran yang sebenarnya di medan perang. Alasan utama untuk ini adalah kenyataan yang menyakitkan bahwa Mujahidin –umat Islam pada umumnya– kita tidak selalu layak mendapatkan kemenangan. Dan ini karena berkali-kali, kita belum memenuhi syarat dan kondisi yang diperlukan. Kita bisa melihat ini bahkan dalam kehidupan para sahabat, mereka juga diliputi oleh kekalahan.

Alloh (SWT) menguji mereka (para sahabat) dengan kepahitan berupa kekalahan karena tidak mematuhi perintah Nabi (saw), atau bahkan mungkin karena menjadi terlalu angkuh atau sombong. Mujahidin pun tidak berbeda, Mujahidin juga sedang berusaha dan mereka juga jatuh kedalam banyak kesalahan yang bermacam-macam. Untuk membuat keadaan menjadi lebih baik, mayoritas umat belum sepenuhnya bangun. Dan ini membawa kita mendapat cobaan lebih, ujian, dan kesengsaraan sampai keadaan fakta ini berubah: sampai umat mau bangun, ini akan menjadi tetap sama.

Dengan demikian, maksud saya berbicara seperti yang telah saya katakan tentang medan pertempuran, tingkatan taktik dalam medan perang dan sebagainya, tetapi pada tingkat strategis sisi terang dari situasi di sini adalah bahwa perang masih jauh dari selesai, dan catatan pertempuran hampir tidak berarti: tidak peduli berapa banyak kita kehilangan pertempuran individu, tujuan sebenarnya di sini adalah tentang peperangan. Dan kenyataan pahit lainnya adalah bahwa kaum kafir sendiri, mereka sangat paham, dan menyadari dengan pasti bahwa kemenangan tidak lebih adalah buah kesabaran. Jika umat muslim tetap terus melawan, dan memang umat ini ditakdirkan untuk itu, sebagaimana Alloh (SWT) telah memberikan kita kabar gembira maka mereka tidak pernah bisa ditaklukkan.

Sungguh, suatu bangsa yang ditaklukan bukan yang kehilangan tanah atau menderita kekalahan dalam medan pertempuran, tetapi sebuah bangsa yang takluk adalah yang menyerah, memilih menyerah dan berhenti melawan. Saya mengatakan hal ini karena faktor duniawi memiliki efek pada pertempuran yang sebenarnya dan sebagainya, pada pertempuran individu. Maksudku, memerangi tank dengan batu tidak akan membawa dampak apapun. Tetapi pada saat yang sama kita dapat melihat bahwa ketika orang tidak lagi peduli tentang kematian, dan ketika mereka memiliki kesabaran dan ketekunan yang mereka butuhkan untuk melanjutkan perjuangan, mereka tidak pernah bisa ditaklukkan! Bahkan oleh tank-tank yang dimana mereka tidak memiliki senjata yang sesuai untuk menanganinya, tidak peduli berapa banyak tank-tank ingin melampiaskan kehancuran, jika orang-orang memiliki kesabaran, kehancuran perorangan yang terjadi, contohnya penghancuran dari tank-tank ini tidak berarti banyak pada tingkat strategis siapa yang memenangkan perang.

Untuk membahas lebih dalam, izinkan saya memberikan contoh yang lebih kongkrit dari apa yang saya bicarakan. Di Somalia, dunia telah melihat bagaimana tank-tank AMISOM telah menjadi benar-benar dihancurkan hanya dengan keberanian beberapa pria yang menolak untuk melarikan diri. Tentu saja kita harus ingat bahwa kemenangan ini atas ijin dari Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala). Qodar (Keputusan) Alloh –kita harus selalu ingat– Qodar Alloh memiliki peran besar dalam pertempuran ini. Karena seperti bala angin topan selama Pertempuran al-Ahzab (menjadi bala bantuan), Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) telah memberikan kemenangan Mujahidin di Somalia melalui bantuan dari bumi. Dari waktu ke waktu tank-tank AMISOM menemukan diri mereka terjebak dalam lubang, dan mereka dikelilingi oleh Mujahidin yang marah. Dalam hitungan jam, dapat dipastikan, mereka menyerah dan meninggalkan kendaraannya.

Dan seperti saya katakan, sekali lagi, bukan hanya bumi, Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) mempunyai jundi-jundi (tentara) yang kita tidak tahu, tetapi Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) juga adalah satu-satunya alasan dari keberanian Mujahidin dalam diri mereka untuk melawan tank-tank ini sementara mereka berada jauh dibawah level –dalam hal sumber daya dan perlengkapan. Dan Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) adalah alasan untuk kepengecutan musuh, Ia lah yang berkuasa menyebabkan rasa takut di hati musuh. Dan ini adalah karena Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) –melalui Nabi (SAW)– telah memberitahu kita bahwa hati umat manusia berada di antara jari-jari Ar-Rohman, dan Dia bolak-balik sebagaimana yang Dia inginkan.

Sekarang pada diskusi ini, Anda tahu, walaupun apapun kesulitan yang kita lalui pada tingkatan taktik, kemenangan ada disisi kami (mujahidin) Insya Alloh, dan ini membawa saya ke topik berikutnya, yang berkaitan dengan kekurangan kaum kafir, kelemahan mereka dan sebagainya, Saya menyebutnya pelajaran nomor tujuh, di sini: "Kaum Kafir adalah Kaum yang Tidak Tak Terkalahkan Seperti Yang Mereka Coba Gembar-gemborkan".

Jadi seperti yang telah saya katakan, kita berbicara tentang bagaimana tank menjadi tidak berguna sama sekali, mereka terjebak dalam sebuah lubang, sekarang mari kita beralih tentang beberapa perangkat keras mereka yang lebih berharga seperti rudal jelajah. Tentu saja orang-orang di luar sana yang tahu sedikit sejarah Jihad, Pertempuran Jhangi menjelaskan sangat baik ketidakmampuan apa yang disebut kafir sebagai bom pintar.

Sekarang, sebagai contoh kongkrit di sini dari Somalia kita memiliki teladan Adam Hashi Ayrow (semoga Alloh mengasihi dia). Mungkin banyak orang tidak tahu bahwa dia benar-benar dibom pada berbagai kesempatan. Kafirin membom dia sekali di dekat Dobley, lain waktu mereka mencoba untuk membom dia di Ogaden, dan dia hanya bertemu nasib yang tak terhindarkan sebagai syuhada(Insya Alloh) setelah Kafirin berhasil menggunakan mata-mata dan peralatan khusus untuk menentukan keberadaannya dan kemudian setelah itu mereka menembakkan sekitar empat rudal jelajah pada satu rumah tinggal. Meskipun begitu ada beberapa orang yang tinggal di dalam rumah, mereka selamat, salah satu dari mereka, ia terus bertempur di garis depan dan ia mempecundangi tank-tank musuh yang sama yang kita bicarakan sampai hari ini. Nabhan misalnya (semoga Alloh mengasihi dia) dia juga, Anda tahu, mereka berusaha membom dia di berbagai kesempatan. Dia mengatakan kepada saya, pada suatu kesempatan bom mereka mendarat hanya 10-20 meter dari dia, dan meskipun begitu ia bahkan tidak terluka, ia tidak memiliki cedera sedikitpun untuk dapat ditunjukkan. Ini adalah dengan rudal jelajah. Dia menyaksikan pemboman kamp pelatihan Al Farouq di Afghanistan, dan itu tidak membuat dia benar-benar syahid sampai Amerika menyerang mobilnya dan mereka menembakinya dengan ribuan amunisi. Dan ini adalah menarik untuk diperhatikan karena ini 'berlebihan', satu-satunya alasan untuk itu adalah bahwa Amerika takut dengan harus turun ke medan perang dan terlibat dalam api peperangan dengan hanya beberapa ‘teroris’ bersenjata ringan.

Jadi poin dari semua ini adalah bahwa Amerika mereka memiliki alat propaganda untuk mendramatisir kekuatan mereka. Sebagai contoh, bahkan beberapa rudal lainnya, mereka memberi mereka nama-nama seperti rudal 'Hellfire/Api Neraka'. Dan jika Anda mau meneliti tentang ini, atau jika Anda melihatnya dan efek yang ditimbulkan dan sebagainya, itu benar-benar itu tidak lebih dari sebuah RPG yang bonafit. Dan dalam kebanyakan situasi mereka menembakkan rudal-rudal itu pada kendaraan sipil normal dan kemudian mereka melompat karena sukacita ketika mereka melihat kehancuran: seolah-olah mereka telah menghancurkan sebuah tank lapis baja berteknologi tinggi.

Dengan semua cerita kosong tentang perangkat keras militer mereka, kita juga bisa berpindah tentang kenyataan badan-badan intelijen mereka yang memiliki kualitas yang kurang lebih sama, karena mereka semua dinilai terlalu tinggi. Sebuah contoh nyata di sini dari Somalia: salah satu saudara kami syahid (Insya Alloh) dari hari setelah mundurnya Islamic Court/Pengadilan Islam (Al Mahakim Al Islamiyah), ia adalah seorang ikhwan asal Amerika yang berstatus bebas bersyarat. Dia adalah seorang Hispanik/Keturunan Amerika Latin –ia tidak memiliki seorang teman pun dari somalia– meskipun begitu ia berhasil melakukan perjalanan keluar dari Amerika Serikat di bawah penyamaran menjadi orang somalia dan ia melakukan itu sementara ia berstatus bebas bersyarat.

Dan seorang Ikhwan yang pernah menjadi buronan juga memberitahu saya bahwa ia menghabiskan sebagian besar waktunya bersembunyi dari polisi di rumahnya sendiri! Sungguh perlu dicatat di sini bahwa itu adalah bukti kebodohan lembaga ini, yang mereka sepertinya selalu merekrut mata-mata paling bodoh untuk melakukan pekerjaan kotor mereka ke titik yang benar-benar menjadi sebuah fenomena. Saya percaya bahwa mungkin informasi tertutup terbesar mengenai mata-mata yaitu benar-benar memiliki kemampuan untuk melihat, berbicara dan berjalan persis seperti bayangan dibenak setiap orang tentang bagaimana seorang mata-mata seharusnya melihat, berbicara dan berjalan.

Maksudku itu benar-benar luar biasa: setiap orang yang dicurigai sebagai mata-mata ternyata memang benar seorang mata-mata. Contoh lain dari ketidakmampuan mereka di sini, jangan lupa kebodohan yang melibatkan orang-orang top dari CIA, tim dari bin Ladin, seorang diri saudara kami di Khurosan meledakkan orang-orang CIA tersebut (maksudnya adalah Abu Dujanah Al Khurosani yang berhasil menjadi agen ganda dan melaksanakan operasi bom syahid di markas CIA di Khost Afghanistan yang berhasil membunuh beberapa petinggi/tokoh penting CIA, edt). Operasi-operasi semacam ini dan masih banyak lagi, semua ini adalah hanya sebagian kecil saja, maksud saya ada banyak contoh untuk menunjukkan bahwa organisasi ini (intelijen musuh) tidak mahatahu dan mahakuasa seperti yang mereka tampilkan agar setiap orang percaya.

Sekarang untuk mulai menutup hal-hal di sini, saya ingin masuk ke beberapa pelajaran penutup ceramah ini, yang pertama adalah pelajaran yang saya suka menyebutnya: "Para Alim Ulama Anda, tidak peduli seberapa hebatnya, tidak bisa diandalkan Sebagai Alat Ukur Dari Suatu Kebenaran Atau Kebathilan ".

Saya katakan ini karena ada banyak orang di luar sana yang menunggu untuk bergerak sampai ada Ulama yang mengumumkan kewajiban Jihad, atau untuk pergi dan memimpin mereka di jalan Jihad. Orang-orang yang sama mereka memiliki bukti, mereka tahu bahwa ini adalah kebenaran, mereka telah menyadari bahwa tindakan Jihad dan Hijrah adalah wajib atas mereka dan sebagainya. Tapi mereka tampaknya berpikir bahwa topik ini khusus untuk para ulama besar yang memiliki pengetahuan tinggi tentang masalah yang masih samar yang mereka sering menyebutnya “ilmu tentang maslahat dan madhorot”. Aku akan menjelaskan kepada Anda di sini dan hari ini suatu kenyataan sebenarnya perihal orang-orang yang berbicara tentang menimbang maslahat dan madhorot, dan menggunakan itu sebagai alasan untuk mengatakan bahwa Jihad dan Hijrah tidak tepat untuk saat ini, banyak alasan di balik pernyataan-pernyataan dari mereka adalah bahwa mereka sendiri terlalu takut, atau terlalu terikat kepada dunia untuk terlibat dalam jihad. Jadi saya sarankan Anda untuk tidak mendengarkan mereka, karena benar-benar mereka tidak punya kewenangan untuk berbicara tentang apa yang mungkin atau yang tidak mungkin di masa-masa berkaitan dengan Jihad dan Hijrah untuk alasan sederhana bahwa satu: mereka telah pernah terlibat dalam jihad. Dan kedua: orang-orang yang berjihad, dan mereka yang telah membuat video tentang hal ini memberitahu dunia bagaimana hal itu (hijrah dan jihad) dapat dilakukan, betapa besar peluang itu, dan bagaimana setiap orang harus mengambil bagian.

Sekarang masalah lain dengan ulama fiksi adalah bahwa diperlukan satu ulama lain untuk menentukan setiap satu situasi. Dimana orang-orang harus menggunakan cerita kosong itu pada seseorang sebagai alat untuk mengukur ke-ulama-annya. Hal ini karena kebanyakan orang, mereka tidak ahli dalam ilmu agama dan mereka tidak akan mampu membedakan antara seorang ulama dan orang awam jika bukan karena jenis pakaian yang dia pakai dan jumlah orang yang mengajukan pertanyaan kepadanya.

Jadi ini adalah fenomena di mana saya suka menyebutnya 'sistem Vatikan' yang telah masuk: yaitu di mana, sistem ini telah menghancurkan persepsi semua orang tentang kenyataan. “Sistem Vatikan” ini adalah usaha langsung dari beberapa penguasa dan media untuk menjadikan nama individu-individu tertentu sebagai otoritas tertinggi dalam Islam. Dan mereka melakukan ini untuk keuntungan pribadi. Mereka memilih orang-orang dengan bujukan tertentu dan mereka pastikan untuk membuat hidup mereka, Anda tahu, benar-benar nyaman, sehingga para ulama-ulama palsu itu tidak akan pernah menggigit tangan yang memberi makan mereka.

Kini dengan ulasan-ulasan tadi, kita semua harus bertanya kepada diri sendiri: Apakah benar-benar waras untuk menunggu orang-orang tersebut dengan jenis mandat semacam itu untuk menyerukan Jihad dan Hijrah?! Tentu saja tidak! Tapi masalahnya adalah bahwa semua ulama sejati, yang melakukan panggilan Jihad dan Hijrah atau benar-benar pergi keluar dan terlibat dalam gerakan ini segera diberi label –oleh orang-orang yang sama– sebagai orang jahil, takfiri Khowarij yang tidak menghormati Kibaarul Ulama. Jadi apa yang kita benar-benar harus pahami adalah bahwa mereka (para ulama) tidak sedang bermain-main dan mereka (para ulama) bukan bagian dari kaki tangan dari 'Sistem Vatikan', tetapi apa yang terjadi yaitu sekali orang-orang ini dilempar keluar dari Manhaj dan mereka ditempatkan pada daftar Ulama non ekstremis, kaum Muslim rata-rata dibiarkan berpikir: mengapa para ulama tidak pernah membuat panggilan untuk Jihad dan Hijrah kalau hal ini adalah wajib hukumnya?

Dan sungguh, saya pribadi telah menjadi korban dari mentalitas ini, di masa lalu, dan saya di sini untuk memberitahu Anda bahwa tidak peduli siapa ulama Anda, tidak terlalu penting siapa yang mengajarkan Anda tentang Islam dan yang memakai jubah, dan tidak peduli apakah itu ayahmu atau teman terbaik Anda. Jangan menunggu orang untuk menerima kebenaran sebagai alasan untuk kembali menggantung dan ragu. Yang benar adalah semua orang mampu menyaksikan, tapi hanya pemberani yang bisa pergi dan melaksanakannya.

Jadi ini membawa saya untuk pelajaran kita yang terakhir dan final di sini, yang disebut: "Kebenaran Dianggap Kegilaan bagi 99% Dari Penduduk Bumi", atau kita bisa juga mengganti nama pelajaran ini: "Iman sejati adalah bentuk Kegilaan".

Kita hidup dalam waktu di mana realitas dasar dari agama kita, seakan menjadi serupa dengan mengetahui bahwa matahari bersinar, pada masa para sahabat, telah menjadi sangat aneh dan tertinggal. Dan keanehan yang dirasakan ini yang menyebabkan banyak orang melihat Kebenaran sebagai suatu kebodohan, atau tidak rasional, atau berbahaya dan sebagainya. Kenyataannya bahwa orang-orang menghabiskan sangat sedikit waktunya untuk membaca Siroh Nabi SAW sebagai kisah nyata yang benar-benar terjadi. Dan bahkan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk membayangkan bagaimana hal itu akan dijalankan pada zaman kontemporer kita ini. Jikalau ummat menghabiskan lebih banyak waktu melakukan hal-hal tersebut (mempelajari Siroh Nabi SAW), kita akan memiliki lebih sedikit orang yang berjalan di sekitar dan memanggil orang-orang yang memiliki semangat yang kuat bagi agama ini dengan sebutan-sebutan seperti: 'konyol', 'bodoh' 'ekstrimis sesat', dan 'pengacau' dan semacamnya.

Aku ingin mengingatkan semua orang dengan suatu riwayat di sini, cerita ini dapat ditemukan dalam Shohih al-Bukhori, hadits nomor 3328. Ini tidak lain adalah kisah Abu Dzar (RA) dan masuknya beliau ke dalam Islam. Dan hadits ini menyebutkan bahwa setelah Abu Dzar mencapai Makkah, dan ia meminta Ali (RA) untuk membawanya kepada Nabi (SAW) dan ia (Abu Dzar) berkata:

"Jadi aku pergi dengannya sampai ia masuk dan kemudian aku masuk bersamanya menemui Nabi SAW. Aku berkata kepada Nabi SAW: 'Islamkan saya!' dan Beliau pun meng-islam-kan saya maka jadilah aku sebagai Muslim. Dia Nabi SAW berkata kepadaku, 'Wahai Abu Dzar, sembunyikan keislaman mu dan kembalilah ke negeri mu. Ketika telah sampai kepada mu berupa kabar bahwa kami telah menang, maka datanglah kembali." Jawabku: "Demi Dzat yang mengutus Anda dengan kebenaran, aku akan berteriak di tengah-tengah mereka!”

"Jadi dia pergi ke masjid dimana kaum Quroisy berada dan berkata: "Wahai kaum Quroisy! Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) selain Alloh dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya!” Mereka menjawab: “Tangkap orang sesat ini!” Lalu mereka bangkit dan memukuli saya sampai hampir mati.

Al-Abbas sampai padaku dan menempatkan dirinya di atasku dan kemudian berpaling kepada mereka dan berkata: “Celakalah kalian! Apakah kalian akan membunuh seorang dari Negeri Ghifar ketika perdagangan dan hubungan kalian melewati Ghifar?" Lalu mereka meninggalkan saya. Pagi hari berikutnya saya kembali dan mengatakan seperti apa yang saya katakan sehari sebelumnya.

Mereka berkata: "Tangkap orang sesat ini!" Dan perlakuan yang sama dilakukan kepada saya seperti sehari sebelumnya. .

Al-Abbas mencapai saya dan menempatkan dirinya di atasku dan kemudian berpaling kepada mereka dan mengatakan seperti apa yang telah dikatakan sehari sebelumnya. Dia berkata: "Jadi ini adalah awal Islam Abu Dzar, semoga Alloh mengasihi beliau!"

Jadi bagi anda yang mengerti bahasa Arab akan segera memahami relevansi dari cerita ini. Apa yang kita miliki di sini, kita memiliki Abu Dzar (RA) sebagai orang yang baru masuk islam, diberikan instruksi yang jelas dari Nabi (SAW) bahwa ia memiliki alasan jelas untuk menyembunyikan keislamannya. Tapi bukannya mengambil kemudahan tersebut ia justru mengatakan kepada Nabi (SAW) dengan jelas bahwa ia akan membuat keislamannya diketahui oleh semua orang, terlepas dari apa yang mungkin akan menimpa dirinya, dan bahaya apa yang mungkin datang kepadanya. Apa yang kemudian terjadi tidaklah Nabi (SAW) memegang dia dan menceramahi dia karena menjadi seorang radikal yang bodoh yang tidak mengerti ilmu suci tentang maslahat dan madhorot. Beliau tidak mengatakan kepada Abu Dzar bahwa ia akan menjadi penyebab dicabutnya ijin tinggal seluruh sahabat di Makkah, beliau tidak mengatakan kepadanya bahwa Abu Dzar akan menjadi penyebab mereka dikirim ke penjara. Bahkan, Abu Dzar, ia melanjutkan tindakannya dan menerima pemukulan bertubi-tubi pada beberapa hari, untuk menyatakan Iman dihadapan kaum Quroisy ditempat mereka yang paling suci (di depan Ka’bah).

Tetapi hadits ini tidak menyalahkannya dan datang dari Nabi (SAW) atau bahkan dari Abbas (RA) yang belum menjadi Muslim pada saat itu tetapi dia sayang kepada Nabi nya (SAW) umat Islam.

Hikmah dari atsar ini adalah bahwa Islam dimulai sebagai sesuatu yang asing dan sekarang kembali menjadi sesuatu yang asing, sehingga semua orang harus memastikan dirinya untuk bersama dengan kaum yang terasing itu adalah asing, dan menjadi di antara mereka yang disebut 'gila' dan 'bebal' dan 'bodoh' oleh mayoritas umat manusia.

Dan dengan itu, Insya Alloh, saya akan menutup ceramah sederhana yang berjudul: “Pelajaran-Pelajaran Berharga dari Bumi Jihad” ini, yang meliputi beberapa realisasi yang telah saya lakukan selama lima tahun saya berada dalam Hijrah dan Jihad, dan aku akan menutup dengan memanjatkan permohonan kepada Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) agar Ia menerima semua amal perbuatan kita, dan membuat kita tulus ikhlas dalam setiap amal kita. Aku meminta kepada Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) agar Dia menjadikan Kebenaran itu menjadi jelas bagi kita semua, dan menuntun kita untuk meniti jalan-Nya, agar Dia menjadikan Kebathilan itu jelas bagi kita, dan menuntun kita menjauh darinya. Aku meminta kepada Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) agar Ia memberikan kemenangan kepada Mujahidin dan mendirikan Khilafah Rosyidah secepatnya. Dan saya memohon-Nya untuk membebaskan semua tahanan kami dan mengembalikan mereka segera kembali kepada keluarga mereka dan rumah mereka. Dan akhirnya, aku meminta kepada Alloh (SWT) untuk memberi saya akhir yang baik dan menerima saya di antara para Syuhada.

Dan sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad yang diberkahi, keluarganya dan para sahabatnya secara keseluruhan.

Wa akhiru da’wana ‘anil hamdulillaahirobbil ‘alamiin (dan akhir seruan kami adalah segala puji bagi Alloh Robb semesta alam).


==========================
Saroya Media Istisyhadiyun
=======================

Tidak ada komentar:

Posting Komentar