Selasa, 03 Januari 2012

[ Penjualan yang (Penuh) Untung ] oleh as-Syaykh al-Mujahid / Abu Yahya al-Liibiy semoga Alloh menjaganya

[ Penjualan yang (Penuh) Untung ]

oleh as-Syaykh al-Mujahid / Abu Yahya al-Liibiy semoga Alloh menjaganya


(إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ )

“Sesungguhnya Alloh membeli dari kaum mu’miniin, jiwa dan harta mereka dengan sungguh surga bagi mereka. Mereka berperang di jalan Alloh, lalu mereka membunuh dan dibunuh. Ini adalah janji yang benar di dalam Tauroh, Injil dan al-Qur-an. Siapa yang lebih menepati janji daripada Alloh? Maka bergembiralah kalian dengan penjualan yang telah kalian lakukan. Dan itulah kesuksesan yang besar.” (at-Tawbah: 111)

Aku berlindung kepada Alloh dari setan yang terkutuk. Segala puji hanya milik Alloh, kami memuji, meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Alloh dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Siapa yang telah diberi petunjuk oleh Alloh maka tiada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang disesatkan oleh-Nya maka tiada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah melainkan Alloh semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Alloh, yang Alloh utus dengan membawa petunjuk dan diin yang benar, supaya Alloh menampakkannya seluruh agama, meski orang-orang kafir tidak suka. Semoga Alloh limpahkan sholawat pada beliau, keluarga dan sahabat-sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti petunjuknya dan mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman. Amma ba'du,

Wahai kalian yang telah ridho pada Alloh sebagai Robb, kepada Islam sebagai diin, dan kepada Muhammad shollaAllohu ‘alayhi wa sallam sebagai Nabi dan Rosul. Bertaqwalah kalian kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, sesungguhnya taqwa pada Alloh ‘azza wa jalla adalah sebaik-baik bekal. Sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala;


(وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ)

“Dan berbekallah kalian, karena sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (al-Baqoroh: 197)

Sebagaimana yang kalian ketahui wahai saudara yang kami cintai, sesungguhnya Alloh subhanahu wa ta’ala telah menetapkan pada kita diinul Islam yang mana ia sebagai penutup risalah, dan Alloh tidak meridhoi hamba-Nya untuk memeluk diin selain Islam. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

(وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ)

“siapa mencari agama selain Islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima dari padanya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (Alu ‘Imron: 85)

Alloh melengkapi dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kita dengan diin yang agung ini. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman;

(الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا)

“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kalian agama kalian nikmat-Ku dan Aku ridho Islam itu sebagai diin bagi kalian.” (Al-Maidah: 3)

Alloh subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada kita bahwa hidayah ke jalan-Nya yang lurus merupakan suatu nikmat yang Alloh karuniakan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Karena itu di setiap roka’at sholat kita selalu mengucapkan,

(اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (al-Fatihah: 6-7)

Mereka, sebagaimana yang Alloh subhanahu wa ta’ala firmankan,

(وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا).

“Dan siapa yang mentaati Alloh dan rosul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Alloh, yaitu: para nabi, shiddiiqiin, orang-orang yang syahid dan orang-orang sholih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (an-Nisa’: 69)

Islam merupakan nikmat dari Alloh subhanahu wa ta’ala dan rohmah dari Alloh ‘azza wa jalla kepada ciptaan-Nya, juga hidayah kepada Islam merupakan nikmat dari Alloh subhanahu wa ta’ala. Maka siapa yang Alloh lapangkan dadanya untuk Islam dan Alloh terangi hatinya dengan hidayah padanya, sungguh Alloh telah lebihkan dia dengan nikmat yang paling agung dan dengan pemberian yang paling mulia.

Maka hidayah kepada Islam, wahai para ikhwah, tidak akan ada seorang pun yang bisa mendapatkannya kecuali dengan keutamaan khusus dan (dengan) pemberian dari Alloh subhanahu wa ta’ala semata. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ)

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Alloh.” (Yunus: 100)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman;

(فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ).

“Barangsiapa yang Alloh kehendaki untuk Dia beri petunjuk, niscaya Alloh akan lapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa yang hendak Alloh sesatkan, niscaya Alloh akan menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (al-An’am: 125)

Alloh ‘azza wa jalla, Dialah yang memberi petunjuk kita ke jalan yang lurus, dan Dialah yang memuliakan kita dengan menjadi pengikut penghulu para rosul (Muhammad) shollaAllohu ‘alayhi wa sallam. Jika dilihat dari kecenderungan seseorang terhadap diin ini, maka manusia terbagi menjadi 2 golongan:

Ada golongan yang benar, (yang mendapat) hidayah dan jalan yang lurus, yaitu hizbulloh (golongan Alloh) yakni orang-orang yang beriman.

Dan ada golongan sesat dan sengsara, yaitu hizbus syaython (golongan setan) yang terkutuk.

Alloh ‘azza wa jalla berfirman;

(لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ...)

“Kamu tak kan mendapati kaum yang beriman pada Alloh dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan rosul-Nya…”

Hingga Alloh berfirman pada akhir ayat tersebut,

(... أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ)

“mereka itulah hizbulloh (golongan Alloh). Ketahuilah bahwa sungguh hizbulloh (golongan Alloh) itu yang beruntung.” (al-Mujadilah: 22)



Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ * وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ)

“Sesungguhnya wali kalian hanyalah Alloh, Rosul-Nya dan orang-orang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya tunduk. Dan barangsiapa mengambil Alloh, Rosul-Nya dan orang-orang beriman sebagai walinya, maka sungguh hizbulloh (golongan Alloh) itulah yang pasti menang.” (al-Maidah: 56)

Mengenai hak setan, Alloh berfirman,

(أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ).

“mereka itulah hizbus syaython (golongan setan). Ketahuilah, bahwa sungguh hizbus syaython (golongan setan) itulah yang merugi.” (al-Mujadilah: 19)

Golongan yang mendapat hidayah ialah golongan ahlul haq, mereka adalah pengikut para rosul yang dilahirkan semenjak diturunkan kitab-kitab Alloh dari sisi-Nya kepada mereka (para rosul), hingga Alloh mewarisakan bumi ini (pada orang-orang beriman) dan memberinya anugerah. Dan para pengikut setan adalah orang-orang yang sangat hina, kerdil, lagi binasa. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

(إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ)

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Alloh dan rosul-Nya, pasti dibinasakan sebagaimana orang-orang sebelum mereka telah dibinasakan.” (al-Mujadilah: 5)

Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ)

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Alloh dan rosul-Nya, mereka itu berada dalam kehinaan.” (al-Mujadilah: 20)

Pembagian ini menjadi 2 kelompok,

Kelompok iman dan hidayah, yaitu hizbur rohman (golongan Alloh)

Dan kelompok kesesatan, kekufuran dan kesengsaraan yaitu hizbus syaython (golongan setan).

Pembagian ini sebagaimana yang telah Alloh subhanahu wa ta’ala kabarkan kepada kita, akan menyebabkan terjadinya bentrokan antara 2 kelompok ini, dan pertikaian yang tidak akan pernah putus selamanya. Alloh ‘azza wa jalla berfirman mengenai golongan kafir ini,

(وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا)

“mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) memurtadkan kalian dari diin kalian, jika mereka mampu.” (al-Baqoroh: 217)


Dan Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ),

“Orang-orang yahudi dan nashroni tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqoroh: 120)

Alloh ‘azza wa jalla telah memberitahuikan pada kita, mengenai apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka, berupa kedengkian dan kebencian. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

(وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ)

“Sebagian besar ahli kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena kedengkian dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (al-Baqoroh: 109)

Alloh berfirman,

(مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ)

“Orang-orang kafir dari ahli kitab dan musyrikin tidaklah menginginkan agar diturunkannya sesuatu kebaikan kepada kalian dari Robb kalian. Sedangkan Alloh menentukan siapa yang Dia kehendaki (untuk diberi) rohmat-Nya.” (al-Baqoroh: 105)

Jadi, pertempuran ini tak akan berhenti selamanya.

Adapun orang beriman nita dan tujuan mereka memberi petunjuk pada manusia, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dari kesusahan menuju rohmah, dan dari kesempitan menuju kelapangan. Alloh suhanahu wa ta’ala berfirman,

(قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي)

“katakanlah, inilah jalanku, aku menyeru pada Alloh dengan hujjah nyata, aku dan juga orang-orang yang mengikutiku.” (Yusuf: 108)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman pada Nabi-Nya,

(وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ)

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai rohmah bagi alam ini.” (al-Anbiya’: 107)

Rohmah, diinul Islam adalah diin yang penuh rohmah, hidayah dan kelapangan.

Sedangkan golongan setan ingin agar golongan yang istiqomah dan haq (mau) berpaling dari jalan yang lurus serta menjadi budak hawa nafsu mereka.

(وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا)

“sedangkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya ingin agar kalian berpaling sejauh-jauhnya.” (an-Nisa’: 27)

(إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ)

“sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar perbuatan keji itu tersebar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (an-Nur: 19)

Pertikaian ini bentuknya sangatlah banyak, di antara bentuknya yang paling tinggi ialah jihad fii sabilillah. Ibadah inilah yang disyariatkan Alloh subhanahu wa ta’ala untuk membedakan golongan yang benar dari golongan yang sesat, serta untuk membersihkan barisan kaum muslimin dan membersihkannya dari noda-noda keburukan. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman;

(مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ)

“Alloh tidak akan membiarkan kaum mu’minin dalam keadaaan kalian sekarang ini hingga Dia memisahkan yang buruk (munafiq) dari yang baik (mu’min).” (Alu ‘Imron: 179)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman;

( لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ )

“Supaya Alloh memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik.” (al-Anfal: 37)

Maka Islam atau adanya jihad fii sabilillah, memisahkan pengikut hidayah dan istiqomah dari yang lainnya. Kenapa? Karena jihad fii sabilillah adalah tingkatan wala’ (loyal) yang paling tinggi dan jelas pada hizbulloh (golongan Alloh) yang beriman, dan (tingkatan tertinggi) baro’ (berlepas diri) dari golongan setan yang kafir.

Anda, ketika Anda mengatakan, “Aku cinta Alloh ‘azza wa jalla dan mengikuti Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam, serta berpihak pada golongan Alloh yang beriman.” Lalu apakah bukti Anda atas (pernyataan) itu? Buktinya adalah menyerahkan jiwa Anda yang telah Alloh subhanahu wa ta’ala ciptakan untuk menolong diin yang disyariatkan dan taat pada perintah-Nya yang diturunkan dalam kitab-Nya. Dan ketika Anda berperang melawan kelompok setan dan pengikutnya, ini menjadi pernyataan baro’ terhadap mereka, terhadap sesembahan mereka, dan terhadap diin mereka.

Sedangkan tingkatan tertinggi dari baro’, pernyataan kebencian dan permusuhan ialah dengan berusaha membunuh dan memerangi mereka. Oleh karena itu jihad merupakan tema yang sebenarnya berkaitan dengan loyalitas pada orang beriman dan berlepas diri dari orang kafir. Seseorang ketika berada di medan jihad dan ketika dia sedang melaksanakan ‘ibadah yang agung ini, pada saat itulah dia menyatakan loyalitasnya pada Alloh, Rosul dan orang-orang beriman. Dan menyatakan penolakan mereka terhadap orang kafir yang jahat dengan segala bentuknya, berbagai macam sekte dan kepercayaan mereka. Wahai saudara-saudara … Alloh subhanahu wa ta’ala telah memuliakan kita dengan menjadi bagian dari orang mu’min yang berjihad. Demikian itu adalah karunia dari Alloh yang Dia berikan pada siapa yang dikehendaki-Nya.

Oleh karena itu wahai saudara, Alloh subhanahu wa ta’ala telah menjadikan jihad fii sabiilillah sebagai bukti kejujuran seseorang terhadap-Nya. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

( إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ)

“sesungguhnya orang-orang mu’min hanyalah yang percaya pada Alloh dan Rosul-Nya, lalu tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Alloh. Mereka itulah orang-orang yang jujur.” (al-Hujurot: 15)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

(مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ)

“Di antara kaum mu’minin ada orang-orang yang jujur terhadap apa yang telah mereka janjiakan pada Alloh; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada yang menunggu…” (al-Ahzab: 23)

Maka jihad adalah bukti kejujuran pada Alloh subhanahu wa ta’ala, dan mujahidin, mereka adalah orang-orang yang jujur. Maka seorang muslim hendaknya bersama dengan orang-orang yang jujur, sebagaimana yang telah diperintahkan Alloh subhanahu wa ta’ala,

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصادقين)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah pada Alloh dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur…” (at-Tawbah: 119)

Kenapa jihad menjadi bukti kejujuran, ketulusan dan keberpihakan seseorang terhadap Alloh subhanahu wa ta’ala? Karena dalam jihad ada pemenuhan transaksi penjualan antara hamba dengan Alloh subhanahu wa ta’ala. Setiap muslim yang memeluk diin Alloh ‘azza wa jalla dan menyatakan rela dengan Alloh subhanahu wa ta’ala sebagai Robb-nya, Islam sebagai diin-nya, dan Muhammad shollaAllohu ‘alayhi wa sallam sebagai nabinya; dengan pernyataan ini telah terjadi transaksi penjualan antara sang hamba dengan Alloh subhanahu wa ta’ala, yang merupakan transaksi paling agung secara mutlak. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ)

“sungguh Alloh telah membeli dari kaum mu’minin, diri dan harta mereka dengan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Alloh; lalu mereka membunuh dan terbunuh. (Sebuah) janji yang benar dari Alloh di dalam Taurot, Injil dan al-Qur-an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Alloh? Maka bergembiralah dengan penjualan yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan besar.” (at-Tawbah: 111)

Ayat ini wahai saudara-saudara, merupakan ayat perniagaan dengan Alloh subhanahu wa ta’ala. Di dalamnya terkandung rukun penjualan secara lengkap. Transaksi ini ada pembelinya, yaitu Alloh subhanahu wa ta’ala, ada penjualannya, yaitu setiap mu’min yang jujur pada Alloh subhanahu wa ta’ala, ada harganya, yaitu surga, ada barang dagangannya, yaitu jiwa dan harta, padanya juga ada penguat akad, yaitu al-Qur-an, Taurot dan Injil. Maka, ini adalah transaksi yang sempurna antara hamba mu’min dengan Alloh subhanahu wa ta’ala. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ)

“Sesunggunya Alloh telah membeli dari orang-orang mu’min.”

Ayat itu tak menyebutkan, “Alloh akan membeli.” Bukan juga, “Alloh sedang membeli.” Namun ayat itu menyebutkan, “sesungguhnya Alloh telah membeli.” Maksudnya transaksi tersebut telah terjadi, sempurna dan berlalu, maka tak perlu diulang. Dan telah terjadi kesepakatan antara hamba dengan Alloh subhanahu wa ta’ala setelah dia masuk Islam dan menambatkan hatinya untuk menjadi bagian dari golongan diin ini. Jadi, jiwa yang Anda miliki saat ini telah dibeli, Anda tidak memilikinya. Saat ini, Anda diminta untuk menyerahkannya pada pembelinya, yaitu Alloh subhanahu wa ta’ala.

(إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ)

“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mu’min…”

Jiwa orang-orang mu’min adalah jiwa yang suci lagi bersih. Oleh karena itu Alloh subhanahu wa ta’ala merelakannya menjadi barang dagangan dengan bayaran surga, kenapa? Karena jiwa tersebut suci dengan keikhlasan pada Alloh ‘azza wa jalla, dan dengan mentauhidkan Alloh subhanahu wa ta’ala, juga tak ternodai dan terkotori (najis) syirik sebagaimana keadaan orang-orang musyrik.

(إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ)

“sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” (at-Tawbah: 28)

Oleh karena itu mereka (orang-orang musyrik) tidak berhak menjadi penduduk surga, bagaimana bisa masuk surga sedang mereka najis? Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Jika kamu mempersekutukan (Alloh), niscaya akan hapuslah amalmu.” (az-Zumar: 65)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kalian dari diinnya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang musnah amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqoroh: 217)

Jadi, surga itu tidak akan dimasuki kecuali oleh orang-orang mu’min saja, sebagaimana sabda Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam.

Orang-orang mu’min memiliki beberapa tingkatan berdasarkan (kekuatan) iman mereka di dunia, iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, puncaknya adalah

لا إله إلا الله

yaitu mentauhidkan / mengesakan Alloh ‘azza wa jalla dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan dalam hal ini manusia itu bermacam-macam kadarnya, tidak ada yang mengetahui derajatnya kecuali Alloh ‘azza wa jalla.

(إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ)

“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mu’min…”

Jadi manusia ketika menyatakan dirinya menjadi hizbulloh (golongan Alloh) yang beriman, dengan itulah jiwanya telah terjual oleh Alloh subhanahu wa ta’ala, maka Anda harus berusaha mencari pasar di mana barang dagangan tersebut diserahkan. Lalu barang dagangannya apa?

(إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أنفسهم وأموالهم)

“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mu’min jiwa dan harta mereka.”

Seperti yang kita ketahui wahai saudara-saudara, setiap ayat datang dari kitab Alloh ‘azza wa jalla, lalu disebutkan dalam ayat tersebut jihad harta dan jiwa, maka jihad harta selalu di dahulukan daripada jihad dengan jiwa, kecuali di dalam ayat ini. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

(الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ)

“orang-orang yang beriman dan berhijroh serta berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Alloh.” (at-Tawbah: 20)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

(انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ)

“berangkatlah kalian berperang dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwa kalian.” (at-Tawbah: 41)

Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ * تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ)

“wahai orang-orang yang beriman, sukakah kalian aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih? Yaitu kalian beriman pada Alloh dan Rosul-Nya, serta berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwa kalian…” (as-Shoff: 11)

Penyebutkan harta didahulukan daripada jiwa, karena jihad tidak akan terlaksana dan rodanya tidak akan berputar kecuali dengan adanya harta. Dari sini kita mengetahui bahwasannya Alloh subhanahu wa ta’ala telah memaafkan orang-orang fakir yang tidak memperoleh apa yang dapat mereka nafqohkan untuk jihad, tidak mendapatkan kendaraan, bekal, dan harta untuk keperluan jihad. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَى وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ * وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ)

“tiada dosa (lantaran tidak berjihad) bagi orang-orang lemah, sakit, bagi orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafqohkan, apabila mereak berlaku ikhlash pada Alloh dan Rosul-Nya. Dan tidak (pula) berdosa bagi orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu membawa serta mereka, lalu kamu katakan, “aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.” Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, karena mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafqohkan.” (at-Tawbah: 92)

Mereka tidak memiliki suatu apapn yang dapat mereka infaqkan untuk berjihad di jalan Alloh.

Kecuali dalam ayat ini Alloh subhanahu wa ta’ala mendahulukan jiwa daripada harta, kenapa? Karena di sini tempat tawar-menawar, seperti perkataan (Alloh) Yang maha benar, Alloh menawar dari mereka, lalu Dia bayar mahal harganya. Alloh meminta sesusatu paling berharga bagi mereka, yaitu jiwa mereka. Dan didahulukan jiwa karena itu lebih berharga bagi seseorang daripada hartanya.

Derma harta adalah derma yang mulia,

Sedangkan derma jiwa adalah puncak derma tertinggi.

Maka ketika manusia mendermakan jiwanya untuk satu perkara atau (untuk) sebuah aqidah, maka tidak diragukan ini menunjukkan bahwa dia mengedepankan aqidah atau perkara tersebut daripada jiwa yang ia miliki. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

(إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ...)

“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mu’min jiwa dan harta mereka…”

Ya. Dengan bayaran apa?

(... بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ)

“…dengan surga untuk mereka.”

Dengan bahwasannya jiwa mereka akan dibayar dengan surga.

Renungkanlah transaksi ini wahai saudara-saudara, jiwa yang telah dibeli oleh Alloh subhanahu wa ta’ala dari kita, Dialah yang telah menciptakannya dan Alloh akan mengembalikan lagi pada Anda ditambah dengan surga seluas langit dan bumi. Alloh hanya ingin agar Anda mengokohkan kejujuran cinta Anda pada Alloh ‘azza wa jalla. Alloh ingin agar Anda mengokohkan kejujuran dalam menyerahkan dagangan yang Dia minta.

Adapun terhadap barang dagangan, Alloh subhanahu wa ta’ala tidak membutuhkannya.

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ)

“Hai manusia kalianlah yang faqir kepada Alloh dan Alloh maha kaya lagi terpuji.” (Fathir: 15)

Sedangkan jiwa ini (pasti) akan keluar dari Anda mau ataupun tidak. Setiap manusia pasti akan mati,

(كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ)

“setiap jiwa akan merasakan kematian…” (al-Anbiya’: 35)

(أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ)

“Di manapun kalian berada pasti kematian akan mendatangi kalian, meskipun kalian dalam benteng yang kokoh.” (an-Nisa’: 78)

(قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ)

“Katakanlah, ‘kematian yang kalian lari darinya sungguh akan menjumpai kalian…”

Jadi, mau tak mau nyawa ini akan keluar. Yang harus Anda lakukan hanyalah bersungguh-sungguh untuk mengeluarkannya pada tempat yang disukai oleh Alloh subhanahu wa ta’ala. Agar Anda jujur dalam menepati transaksi antara Anda dengan Alloh subhanahu wa ta’ala. Jadi, Alloh subhanahu wa ta’ala membeli dari kita sesuatu yang telah Dia berikan pada kita, kemudian akan dikembalikan pada kita sebagai pemuliaan dari Alloh subhanahu wa ta’ala, ditambah lagi dengan surga seluas langit dan bumi. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

بأن لهم الجنة

“… dengan sungguh surga bagi mereka…”

Perhatikanlah Alloh tidak berfirman

بالجنة اشترى من المؤمنين أنفسهم وأموالهم

“Alloh telah membeli dari orang mu’min diri dan harta mereka dengan surga.”


Tapi Alloh berfirman,

بأن لهم الجنة

“… dengan sungguh surga bagi mereka…”

Pertama, “anna adalah kata penegasan sehingga tak tersisa lagi keraguan atau bimbang bagi sang penjual, yaitu orang yang beriman.

Kemudian setelah itu Alloh subhanahu wa ta’ala mendahulukan huruf jar atas majrur, “لهم” sebelum “الجنة” karena menunjukkan pengkhususan, mendahulukan khobar (لهم) sebelum mubtada’ (الجنة) menunjukkan pengkhususan seperti dalam ayat ini. Seakan-akan Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, “bahwa surga untuk mereka dan bukan untuk lainnya.” Seakan-akan Alloh berfirman bahwa surga itu menjadi khusus untuk mereka. Yakni sebagai pengokohan dari Alloh’azza wa jalla bahwa mereka berhak mendapatkan surga. Dan mereka akan mendapatkan surga itu dengan penuh keyakinan jika mereka jujur dalam berusaha untuk menyerahkan dagangan ini dengan (harga) surga bagi mereka.

Renungilah wahai saudara-saudara, bahwa jiwa Anda –yang pasti suatu saat nanti pasti akan hilang- (ditukar) surga seluas langit dan bumi. Surga yang di dalamnya terdapat keridhoan Alloh subhanahu wa ta’ala. Surga yang di dalamnya dapat melihat Alloh ‘azza wa jalla. Surga yang didalamnya bisa mendampingi para nabi, shodiqiin, syuhada’, dan sholihin, surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang selamanya tidak akan putus. Surga yang tiada kesedihan, kelelahan, dan kesusahan di dalamnya.

Wahai saudara-saudara, kenikmatan surga semuanya ada di surga yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbesit dalam hati manusia. Semua ini akan bisa Anda dapatkan dengan cara menyerahkan jiwa ini yang suatu hari nanti pasti hilang, mau atau tidak. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

“… dengan sungguh surga untuk mereka…”

Apa yang dituntut dari kita? Apa bukti bahwa kita serius menyerahkan barang dagangan ini? Atau di mana pasar tempat kita menyerahkan barang dagangan itu pada Alloh ‘azza wa jalla? Setiap orang menyatakan dirinya ingin menyerahkan barang dagangan ini. Setiap orang menyatakan dirinya ingin menyerahkan barang dagangan ini dan ingin memenuhi transaksi perniagaan antara dia dengan Alloh subhanahu wa ta’ala.

Namun Alloh ‘azza wa jalla tidak memberikan tempat bagi klaim, bahkan meminta penjelasan, bukti, serta hujjah yang jelas dalam hal tersebut. Alloh berfirman,

“mereka berperang di jalan Alloh…” (at-Tawbah: 111)

Barang siapa yang jujur, bersungguh-sungguh dalam mencari surga sebagai ganti dari jiwanya, hendaknya ia berperang di jalan Alloh. Alloh tidak mengatakan “mereka berjihad di jalan Alloh” namun Alloh mengatakan,

“mereka berperang di jalan Alloh…” (at-Tawbah: 111)

Supaya tidak lagi tersisa ruang untuk berbagai takwil, hingga tidak ada seorang pun yang mengatakan, “sesungguhnya maksud dari ayat itu adalah jihad melawan hawa nafsu atau jihad melawan setan, atau jihad amar ma’ruf nahy munkar, atau jihad da’wah kepada Alloh ‘azza wa jalla atau jihad jenis lain. Tidak!

Namun sesungguhnya Alloh ‘azza wa jalla berfirman (يقاتلون) “mereka berperang”. Kalimat يقاتلون merupakan kalimat arob yang mempunyai arti terbatas lagi jelas, قاتليقاتلقتالافهومقاتل atau مقتول. Setiap orang memahami makna kaliamat ini. Jadi, Alloh subhanahu wa ta’ala menuntut setiap mu’min agar menjadi mujahid muqotil (pejuang yang berperang) yaitu seorang militer.

Inilah sejarah Nabi shollaAllohu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam adalah guru bagi para shohabatnya, beliau juga seorang penyeru pada kebaikan, beliau juga memperbaiki hubungan antar manusia, beliau juga seorang khotib jumu’ah, beliau juga seorang suami di rumahnya, beliau juga seorang panglima dalam peperangan. Beliau shollaAllohu ‘alayhi wa sallam memimpin perang sendirian. Bukan hanya sekedar mengirim pasukan dan tinggal diam di Madinah, tapi berada di barisan paling depan sampai-sampai para sahabat rodhiyallohu ‘anhum mengatakan, “ketika perang memanas, kami berlindung kepada Rosululloh shollaAllohu ‘alayhi wa sallam. Dan orang yang paling berani di anatar kami adalah yang berada di sisi beliau.”

Ketika perang makin sengit, kepala mulai berterbangan, dan pasukan bertemu dengan pasukan lainnya, adalah Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam berada di barisan terdepan, sedangkan para sahabat berlindung di belakangnya. Orang yang pemberani adalah yang berada disampingnya. Inilah siroh Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam. Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam memegang pedang dengan tangannya dan memenaggal leher-leher musuh. Beliau tidak mengatakan “aku adalah Rosululloh shollaAllohu ‘alayhi wa sallam, maka tidak ada jihad bagiku.” Dan tidak mengatakan, “aku akan tetap tinggal di sini menyibukkan diri dengan mengajari orang-orang.”

Namun jihad ini merupakan ilmu yang wajib diajarkan pada manusia dengan perkataan dan perbuatan. Alloh ‘azza wa jalla mengajarkan kita jihad sampai bagaiaman berperang dan membunuh musuh kita. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ)

“apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir, maka penggalah batang leher mereka.” (Muhammad: 4)

Alloh subhanahu wa ta’ala telah mengajarkan ini pada kita. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,


(إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ)

“Ingatlah ketika Robb-mu mewahyukan kepada malaikat, ‘sungguh Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang beriman, (karena) Aku akan melemparkan rasa taku dalam hati orang-orang kafir, penggalah leher (mereka) dan potonglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (al-Anfal: 12)

Jadi, siapa saja yang ingin meniru Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam, sama saja apakah dia seorang alim, pelajar, pedagang, da’i, khotib, dokter atau yang selain dari itu, maka hendaknya bersungguh-sungguh meniru Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam dalam segala hal dan itu termasuk berperang di jalan Alloh.

Adapun seseorang yang selama masa hidupnya tidak pernah tahu sedikit pun mengenai senjata, dan kedua kakinya tidak pernah berdebu seharipun di jalan Alloh, bagaimana bisa (orang) begini dikatakan meniru atau mengikuti Nabi shollalohu ‘alayhi wa sallam?

Karena itu wahai suadara-saudara, hendaknya kita serius meniru Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam dalam setiap pintu di antara pintu-pintu ketaatan, sunnah, dan kebaikan. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

“ … mereka berperang di jalan Alloh …”

Sedangkan kalian menetahui keutamaan jihad di jalan Alloh, begitu banyak ayat dan hadits yang telah Alloh subhanahu wa ta’ala turunkan, perintah untuk berjihad, larangan dari meninggalkannya, teguran dari meremehkannya, pujian bagi orang yang melaksanakannya dan berita tentang janji yang telah Alloh subhanahu wa ta’ala siapkan untuk mereka. Alloh ‘azza wa jall berfirman,

(لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا)

“tidaklah sama antara mu’min yang duduk (tidak berperang) yang tidak memiliki ‘udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Alloh dengan harta mereka dan jiwa mereka. Alloh melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas mereka yang duduk dengan satu derajat. Sedangkan masing-masing mereka Alloh janjikan (pahala) kebaikan (surga), dan Alloh melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (an-Nisa’: 95)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

(وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ)

“Dan perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kalian…” (al-Baqoroh: 190)

Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ...)

“Mengapa kalian tidak mau berperang di jalan Alloh dan (untuk membela) orang-orang yang lema…”

Yaitu menyelamatkan kaum tertindas,

(... من الرجال والنساء والولدان ...)

“dari kalalangan laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak…”

Hingga akhir ayat.


Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ)

“Hendaknya berperang di jalan Alloh, orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat.” (an-Nisa’: 74)

Dunia itu tidak ada Nilainya bagi mereka karena mereka hanya mencari apa yang ada di sisi Alloh ‘azza wa jalla,

(وَمَنْ يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا)

“Barang siapa yang berperang di jalan Alloh, lalu gugur atau menang, maka akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.” (an-Nisa’: 74)

Alloh berfirman kepada Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam,

(فقاتل في سبيل الله لا تُكلف إلا نفسك وحرض المؤمنين)

“Maka berperanglah kamu di jalan Alloh, tidaklah dibebani melainkan diri kamu sendiri. Dan motivasilah kaum mu’miniin (untuk berperang).” (an-Nisa’: 84)

Dan hadits-hadits mengenai keutamaan jihad sangatlah banyak dan telah kami sebutkan sebagiannya di beberapa tempat. Namun kita cukupkan dengan sabda Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam yang satu ini,

" والذي نفسي بيده لولا رجالاٌ من أمتي لا تطيب أنفسهم أن يتخلفوا عني ما قعدت خلاف سرية تغزو في سبيل الله أبدا "

“Demi dzat yang diriku ada di tangan-Nya, kalau bukan karena beberapa orang dari umatku, yang diri mereka tidak mau berpisah denganku, selamanya aku tidak ketinggalan dari pasukan yang berperang di jalan Alloh.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhoriy)

Yaitu karena ikut dalam pasukan perang memiliki keutamaan dan pahala. Kalau tidak ada orang-orang dari kalangan mu’miniin yang faqir dan lemah, yang tidak merasa berat berpisah denganku setiap saat, lalu saya tetap duduk untuk menenangkan diri mereka, demi Alloh saya tidak akan duduk di belakang pasukan, yaitu saya tidak mengirimkan pasukan sedang aku duduk di belakang pasukan itu, tapi aku akan berada dalam pasukan itu. Maka bagaimana dengan orang yang semasa hidupnya tak pernah bergabung dengan satu pasukanpun? Pada zaman yang merupakan zaman jihad dan perang, ketika orang-orang kafir menguasai kaum muslimiin dari segala penjuru, menyerang mereka di muka umum secara terang-terangan. Setiap orang tahu apa yang menimpa kaum muslimiin, sedangkan orang-orang tetap duduk di sekolahnya, di masjidnya, di kliniknya, sibuk dengan pekerjaannya atau tetap di tokonya.



Seakan-akan hal ini tidak mempengaruhi mereka, seolah-olah mereka bukan bagian dari ummat ini, tidak merasakan apa yang menimpa suadara muslim lainnya. Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda,

" مثل المسلمين في توادهم وتعاطفهم وتراحمهم كمثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائِر الجسد بالحمى والسهر "

“perumpamaan orang-orang muslim dalam hal saling berkasih sayang dan bersimpati, bagaikan satu tubuh, jika salah satunya merasa sakit maka seluruh tubuh (ikut) merasakan (sakit) dengan demam dan tidak bisa tidur.” (diriwayatkan oleh muslim)

Jika demikian selayaknya seorang muslim menjadi seorang mujaahid yang berperang di jalan Alloh. Sedangkan musuh-musuh Alloh ‘azza wa jall dari kalangan yahudi, nashroni, dan murtaddiin tidak akan menguasai ummat ini, tidak menghinakannya dan tidak akan menghinakan pemuda dan orang tuanya kecuali ketika sifat ini telah hilang (dari ummat ini), yakni sifat jihad dan sifat perang di jalan Alloh.

Oleh karena itu sekarang di setiap Negara memiliki senjata dinilai sebagai tindakkan criminal yang dikenai sangsi oleh hukum. Aslinya seorang muslim itu harus memiliki senjata dan menjadi seorang mujaahid yang berperang. Benar!? Sekarang ada orang yang dihukum 10 tahun penjara, kenapa? Karena didapati dia membawa pisau tanpa izin, atau membawa pistol, membawa kalasnikov, atau membawa senjata lainnya. Dengan ini musuh-musuh Alloh (dapat) menghinakan ummat islam. Adapun para shohabat rodhiyallohu ‘anhum, mereka semua adalah orang-orang yang berperang.

‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ta’ala ‘anhu, ketika ditinggal Rosululloh shollaAllohu ‘alayhi wa sallam dalam perang Tabuk, ditinggal di Madinah, Rosululloh berkata padanya, “Tinggalah di Madinah, karena di dalamnya ada wanita-wanita dan anak-anak yang harus ada seorang yang menjaga mereka.”

Maka keluarlah ‘Ali bin Abi Tholib. Ketika pasukan berangkat orang-orang munafiq pun mulai menggunjing Ali, “sebenarnya dia tinggal karena takut.”

Sedangkan kalian? Orang-orang munafiq itu tidak keluar (untuk berperang) dan mereka mencela Ali, lalu kenapa kalian tidak mencela diri kalian sendiri?

Maka pergilah Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ta’ala ‘anhu menemui Nab shollaAllohu ‘alayhi wa sallam lalu berkata, “(mengapa) Anda meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak?”

Dia ingin keluar (berperang) bersama Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam kemudian Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam berkata padanya,

"ألا ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي"

“tidakkah kamu rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?” (Muttafaq ‘alayh)

Wahai saudara-saudaara, jika demikian seorang muslim (menjadi) mulia dengan diin-Nya, seorang muslim adalah lelaki mujaahid. Sekarang renugkanlah wahai saudara-suadara, bagaimana standar ini berubah?

Sekarang merupakan tuduhan buruk yang diarahkan pada seorang muslim karena ia berjihad. Benar tidak?

Mereka berkata pada Anda, “ini seorang mujahid.”

Sejak kapan jihad jadi tuduhan atau criminal yang karenanya manusia dihukum?

(Padahal) ini adalah prinsip. Bukankah Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam telah bersabda,

" ما ترك قومٌ الجهاد في سبيل الله إلا عمّهم الله بعذاب "

“tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Alloh, melainkan Alloh pasti meratakan ‘adzab pada mereka.” Diriwayatkan oleh at-Thobroniy)

Juga tidak menoleh terhadap ejekan, celaan dan lainnya yang mereka dengungkan. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

“…. Mereka berperang di jalan Alloh …”

Tidak ada seorangpun yang bisa melenyapkan dan menghapus ayat ini. Sebuah ayat yang sudah muhkam dalam kitab Alloh ‘azza wa jalla. Ini adalah perang di jalan Alloh bukan di jalan hawa nafsu. Seseorang tidak boleh berperang hanya karena memenagkan qobilah tertentu, atau karena semangat jahiliyyah, tidak pula berperang karena untuk memenangkan jama’ahnya, atau negaranya atau yang lainnya. Namun perangnya hanya di jalan Alloh yaitu di jalan meninggikan kalimat Alloh ‘azza wa jalla. Hendaknya kita mengingat kembali makna ini wahai para ikhwah, sesungguhnya kita berperang untuk meninggikan kalimat Alloh, sesungguhnya kita berperang untuk menjadikan aturan Alloh di atas seluruh aturan, sesungguhnya kita berperang untukmenjadikan hukum Alloh di atas seluruh hukum. Agar syari’ah Alloh menjadi di atas peraturan Negara, agar hukum Alloh menjadi di atas hukum dewan keamanan, bahkan untuk meniadakan hukum dewan keamanan itu sendiri, hingga tak tersisa lagi. Hukum-hukum jahiliyah tersebut, kita diperintahkan untuk melenyapkannya.

(وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ)

“Dan perangilah mereka hingga tiada fitnah dan agar diin itu hanya milik Alloh.” (al-Anfal: 39)

Jadi, “mereka berperang di jalan Alloh …”

Niat dan tujuan kita ialah semata-mata mencari ridho Alloh subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu kita tidak perlu menggubris apa yang dikatakan oleh mereka. Jika Alloh telah meridhoi Anda, akankah kemurkaan manusia itu membahayakan Anda? Bila Alloh subhanahu wa ta’ala telah memuji Anda, apakah celaan manusia itu akan mempengaruhi Anda? Jika Alloh subhanahu wa ta’ala telah mengangkat derajat Anda, akankah usaha musuh-musuh Anda untuk menjatukan akan membahayakan Anda? Tidak!

Anda berada di jalan Anda menuju Alloh subhanahu wa ta’ala, maka janganlah Anda hiraukan. Sebagaimana firman Alloh ‘azza wa jalla,

(يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ)

“mereka berjihad di jalan Alloh, dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela.” (al-Maidah: 54)

Radio berbicara, televisi berkomentar, seminarpun diadakan. Para intelektual berkomentar, para analis berkomentar, orang-orang bodoh pun berdatangan. Semua ini tidak akan mempengaruhi kita. Karena kita sedang meniti sebuah jalan yang menyampaikan kita kepada Alloh ‘azza wa jall. Maka Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman;

“… mereka berperang di jalan Alloh …”

Jadi, pasar tempat seseorang menyerahkan barang dagangannya itu agar Alloh mau menerimanya di manakah? Di medan jihad.

Oleh karena itu Alloh subhanahu wa ta’ala menjadikan jihad sebagai sebuah perniagaan.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ)

“wahai orang-orang yang beriman, sukakah kalian aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih?” (as-Shoff: 10)



Ada jual ada beli.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ)

“Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya karena mencari keridhoan Alloh.” (al-Baqoroh: 207)



(فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ)

“hendaknya berperang di jalan Alloh orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat.” (an-Nisa’: 74)



Jadi, seseorang itu tidak cukup menyatakan dirinya jujur pada Alloh subhanahu wa ta’ala sedangkan jalan-jalan jihad terbuka baginya, sementara hatinya tidak terbesit untuk berperang. Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda;

“Barang siapa yang belum pernah berperang …”



Wahai muslim, bertanyalah pada diri Anda, barangkali ada diantara Anda yang termasuk dalam hadits ini, lalu bagaimana ia akan menemui Alloh subhanahu wa ta’ala?

" من لم يغزُ ولم يحدث به نفسه مات على شعبة من النفاق "

“Barang siapa yang belum pernah berperang dan tidak terbesit dalam hatinya untuk berperang, maka dia mati dalam satu cabang kemunafikan.”

Hadits dalam shohih Muslim.



Dan seseorang tidak cukup hanya dengan berangan-angan, “demi Alloh aku ingin berperang…”

Sementara jalan (untuk berperang) terbuka dan mudah, perbekalan tersedia, hartapun Anda punya, medan jihad ada, pasar jihad (telah) berlangsung, dan pada kondisi seperti ini dia mengatakan, “Aku berangan untuk berjihad di jalan Alloh.”

Apa yang menghalangimu? Apa yang memisahkan antara dirimu dan jihad di jalan Alloh?

Oleh karena itu seseorang harus waspada terhadap dirinya sendiri. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman;

“mereka berperang di jalan Alloh…”

Benar.

Lalu dari perang tersebut akan mengakibatkan,

“mereka membunuh dan terbunuh…”

Mereka membunuh musuh Alloh ‘azza wa jalla yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, yaitu mereka pada satu sisi sedangkan Alloh dan Rosul-Nya pada sisi yang lain. Mereka menentang Alloh dan Rosul-Nya, memfitnah orang-orang beriman berkenaan dengan diin mereka, dan mereka menyekutukan Alloh subhanahu wa ta’ala. Mereka memerangi orang-orang kafir karena orang kafir itu najis, mereka (harus) mensucikan bumi ini dari orang-orang kafir itu. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

“lalu mereka terbunuh…”



Jadi, membunuh orang-orang kafir dan memeraangi mereka dengan landasan hukum syar’iy yang telah diketahui dalam pemahasa jihad, ini merupakan sesuatu yang terpuji secara syari’iy dan dicintai oleh Alloh subhanahu wa ta’ala. Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda,



" لا يجتمع كافرٌ وقاتله في النار أبداً "

“Orang kafir selamanya tidak akan berkumpul di neraka dengan orang yang membunuhnya.”



Jika seorang muslim membunuh orang kafir, maka tidak akan berkumpul dengannya di neraka selamanya, jika dia mati di atas iman dan tawhid. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

“… mereka berperang di jalan Alloh lalu mereka membunuh …”

Musuh Alloh ‘azza wa jalla yang kafir

“ … dan mereka terbunuh.”

Mereka mendapatkan syahadah di jalan Alloh.



Hal ini bukan berarti seorang tidak dapat meraih surga yang dijanjikan Alloh subhanahu wa ta’ala, kecuali dengan menyerahkan jiwanya ketika terbunuh dalam keadaan berjihad di jalan Alloh?



Tidak.



Namun yang Alloh subhanahu wa ta’ala inginkan dari kita adalah agar kita berusaha berjihad, agar kita berusaha berperang, agar kita berusaha meraih syahdah. Lalu jika orang itu terbunuh, maka itulah karunia Alloh yang Dia berikan pada siapa saja yang Dia kehendaki. Namun jika matinya di atas ranjang sedang dia jujur mencari syahadah di jalan Alloh, maka dia mati dalam keadaan syahid. Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam,



“Barangsiapa yang meminta syahadah kepada Allo dengan jujur, (pasti) Alloh sampaikan dia pada derajat syuhada’ meskipun dia mati di atas tempat tidurnya.”



Dalam hadits lain yang dishohihkan sebagian ahlul ‘ilm, Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda,

"... من فصل في سبيل الله ..."

“Barang siapa yang memutuskan di jalan Alloh…”

-yakni siapa berangkat (berperang) di jalan Alloh-

"... فمات أو قُتِل أو وقصته دابته ..."

“… kemudian mati atau terbunuh atau terlempar dari kendaraannya ...”

-yakni jatuh dari hewan (tunggangan)nya lalu mati-

"... أو لدغته هامّة ..."

“ … atau disengat hewan berbisa …”

-yakni disengat oleh kalajengking atau ular-

"... أو مات على فراشه أو مات بأي حتف مات ..."

“… atau mati di atas rangjang atau mati dengan keadaan bagaimanapun …”

-mati dengan sebab apa saja-

"... فإنه شهيد وإن له الجنة"

“… maka sungguh dia syahid dan mendapatkan surga.” (Diriwayatkan oleh at-Thobroniy)


Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman dalam kitab-Nya,

(وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ)

“dan sungguh kalau kalian terbunuh di jalan Alloh atau meninggal, tentulah ampunan Alloh dan rohmat-Nya lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Alu ‘Imron: 157)


Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا)

“Dan orang-orang yang berhijroh di jalan Alloh, kemudian mereka terbunuh atau mati, benar-benar akan Alloh berikan kepada mereka rizqi yang baik (surga).” (al-Hajj: 58)

Dengan demikian wahai saudara mujaahid, Anda ada di jalan surga menuju Alloh subhanahu wa ta’ala. Bahkan Anda di jalan mencari syahadah jika Anda jujur dalam mencarinya, dan Anda berada di medan jihad berdiri di depan pintu surga. Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda,

" إن أبواب الجنة تحت ظلال السيوف "

“sungguh pintu-pintu surga itu di bawah naungan pedang.” (diriwayatkan oleh Muslim)

Nabi shollaAllohu ‘alayhi sallam bersabda,

" الجهاد في سبيل الله بابٌ من أبواب الجنة ينجي به الله من الهم والغم "

“Jihad di jalan Alloh merupakan salah satu pintu surga yang dengannnya Alloh menyelamatkan (seseorang) dari rasa cemas dan duka.” (diriwayatkan oleh Ahmad)

Apalah arti dunia bagi Anda, sementara Anda sedang berdiri di depan pintu surga, menanti agar pintu itu dibuka setiap saat bagi Anda –aku tidak mengatakan setiap hari-, setiap saat Anda menanti agar pintu surga dibuka untuk Anda, supaya Anda (bisa) keluar dari negeri yang punuh dengan rasa cemas, sedih, lelah, letih dan selainnya. Yaitu syahadah di jalan Alloh. Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda,

" ما من أحد يدخل الجنة يحب أن يرجع إلى الدنيا وله ما على الأرض من شيء إلا الشهيد فإنه يتمنى أن يرجع إلى الدنيا ليُقتل عشر مرات لما يرى من الكرامة "

“Tiada seorang pun yang masuk surga lalu ingin kembali lagi ke dunia meskipun ia memiliki seluruh kekayaan yang ada di muka bumi, kecuali orang yang mati syahid, dia berangan-angan bisa kembali ke dunia agar terbunuh sepuluh kali, karena apa yang dia lihat dari karomah (syahadah).” (Muttafaq ‘alayh)

Ini merupakan suatu yang agung wahai saudaraku, yakni tiada seorang pun yang masuk surga dan melihat kenikmatan yang kekal serta kemuliaan dari Alloh subhanahu wa ta’ala di dalamnya, lalu ditanyakan kepadanya, “Bagaimana menurutmu bila kamu kembali ke dunia, lalu kami berikan kepadamu seluruh apa yang ada di muka bumi?” dia akan menjawab, “Tidak, akau tidak ingin kembali ke dunia.”

Kecuali seorang syahid, orang yang syahid berangan-angan kembali ke dunia tidak hanya sekali saja, tetapi sepuluh kali. Akan tetapi apakah kembalinya ke dunia untuk mendapatkan sebagian yang ada di atas muka bumi? Tidak, dia kembali ke dunia hanya ingin mengulangi rasanya mati syahid, hingga (merasakan) terbunuh lagi, (sebanyak) sepuluh kali lagi, dia ingin tertembak sekali lagi, dia ingin terkena serpihan sekali lagi, dia ingin dibombardir, yang keempat kalinya (ingin terkena) ranjau. Dan beginilah karena dia melihat karomah di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala.

Dia tidak berangan-angan kembali lagi ke dunia untuk menjenguk orang-tuanya, tidak untuk duduk-duduk di samping ibunya, tidak untuk melihat anak-anak dan isterinya, bahkan tidak untuk duduk-duduk bersama saudara-saudaranya mujahidin yang dia cintai dan mereka mencintainya.



Tidak … tidak …



Ini semua bukan yang dia inginkan, dia hanya ingin kembali ke dunia untuk merasakan manisnya syahadah. Rasa manis inilah yang dia inginkan yang selamanya tidak terputus sebagai pemuliaan dari Alloh subhanahu wa ta’ala. Jadi hendaknya seorang diantara kita serius ingin menjadi bagian dari mereka wahai ikhwah sekalian. Bagaimana?

من سأل الله الشهادة بصدق بلّغه الله منازل الشهداء ولو مات على فراشه.

“Barang siapa yang meminta syahadah kepada Alloh dengan jujur, pasti akan Alloh sampaikan dia ke derajat para syuhada’ meskipun mati di atas tempat tidur.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Maka Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ)

“… mereka berperang di jalan Alloh lalu mereka membunuh dan terbunuh.” (at-Tawbah: 111)

Wahai saudaraku, sebagaimana mujaahidiin itu berbeda-beda tingkatnya di surga, begitu juga dengan syuhada’, mereka tidak dalam satu tingkatan saja. Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda,

" إن في الجنة مئة درجة أعدها الله للمجاهدين في سبيل الله ما بين الدرجتين كما بين السماء والأرض "

“Sesungguhnya di surga itu ada seratus yang telah Alloh siapkan untuk orang-orang yang berjihad di jalan Alloh, jarak antara dua tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhoriy)

Ini diperuntukkan bagi orang-orang yang berjihad, termasuk di dalamnya para syuhada’ dan yang lainnya. Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam menjelaskan mengenai orang-orang yang mati syahid,

" القتلى ثلاثة : رجل مؤمن يجاهد بنفسه وماله في سبيل الله حتى إذا لقي العدو قاتل حتى يُقتل "

“orang yang terbunuh (dalam perang) terbagi menjadi tiga; (pertama) seorang mu’min yang berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Alloh, hingga ketika dia bertemu musuh, kemudian dia berperang hingga terbunuh.”

Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam mengatakan,

" فذلك في خيمة الله "

“Yang demikian itu (akan) berada di tenda Alloh.”

Dan dalam sebuah riwayat,

" في جنة الله لا يفضله النبيون إلا بدرجة النبوة "

“berada di surga Alloh, para Nabi tidak bisa menandinginya kecuali dengan derajat kenabiannya.”

Tingkatan yang kedua, beliau bersabda,

" رجلٌ مؤمن يجاهد بنفسه وماله في سبيل الله خلط عملاً صالحاً وآخر سيئا "

“Orang mu’min yang berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Alloh, namun dia mencampur adukkan antara amal sholih dan perbuatan buruk…”

Dia berbuat dosa. Mengenai tingkatan ini Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam mengatakan,

" ممصمِصةٌ محت ذنوبه وخطاياه "

“pembersih yang menghapus dosa dan kesalahannya.”

Yakni, syahadah dapat menghapus dosa dan kesalahan pada dirinya.

" فإن السيف محاء الخطايا يدخل من أي أبواب الجنة الثمانية شاء "

“Sesungguhnya pedang adalah penghapus dosa. Dia dapat masuk surga dari pintu manapun yang dia kehendaki melalui delapan pintunya.”

Ini adalah tingkatan yang kedua. Sedangkan tingkatan yang ketiga, Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda,

" رجلٌ منافقٌ يجاهد بنفسه وماله حتى إذا لقي العدو قاتل حتى يُقتل "

“seorang munafiq yang berjihad dengan jiwa dan hartanya, hingga jika bertemu musuh, ia berperang hingga terbunuh.”

Beliau melanjutkan,

" فذلك في النار فإن السيف لا يمحو النفاق "

“Yang seperti itu akan masuk neraka, karena pedang tidak dapat menghapus nifaq.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Thobroniy)

Kita memohon ampun pada Alloh ta’ala.

Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ)

“ … mereka berperang di jalan Alloh lalu mereka membunuh dan terbunuh.” (at-Tawbah: 111)

Agar tidak tersisa sedikitpun kebimbangan dan keraguan di hati seorang mu’min ketika menyerahkan dirinya pada Alloh subhanahu wa ta’ala. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا)

“Sebuah janji yang benar dari Alloh…”

Yakni perniagaan ini telah Alloh subhanahu wa ta’ala ikrarkan pada diri-Nya sebuah janji yang Dia haruskan untuk dirinya yang pasti Dia penuhi. Janji yang benar ini telah Alloh subhanahu wa ta’ala abadikan dan Alloh sebut dalam kitab-kitab-Nya yang paling mulia,

(وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ)

“Sebuah janji yang benar dari Alloh di dalam Taurot dan Injil…”

Taurot yang Alloh turunkan kepada Musa, Injil yang Alloh turunkan kepada ‘Isa, dan al-Qur-an yang Alloh turunkan pada Muhammad sholawat serta salam bagi mereka semua.

Dan agar tidak ada lagi sedikit pun keraguan setelah penegasan ini. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

(وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ)

“(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Alloh di dalam Taurot, Injil dan al-Qur-an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Alloh?” (at-Tawbah: 111)

Adakah seorang yang lebih menepati janji daripada Alloh ‘azza wa jalla? Maksudnya adalah tidak ada!

Jadi janganlah Anda ragu, janganlah Anda bimbang, dan jangan pula Anda goyah. Kalian sedang meniti jalan menuju Alloh ‘azza wa jalla, menempuh jalan ke surga. Maka yang wajib bagi kalian hanyalah jujur dan ikhlash pada Alloh ‘azza wa jalla ketika menyerahkan barang dagangan ini pada Alloh ‘azza wa jalla, setelah itu hilanglah semua rasa cemas, duka, sesak, keruh, diburu, dan lain sebagainya. Semua itu akan lenyap dalam sekejap … dalam sekejap dikala Anda meninggalkan dunia ini, (ketika itu) akan Anda dapatkan kenikmatan yang tiada putus selamanya.

Wahai saudaraku, Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam telah banyak menggambarkan tentang surga, beliau mengatakan,

" وفيها ما لا عينٌ رأت ولا أذنٌ سمعت ولا خطر على قلب بشر "

“Di dalamnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah sedikitpun terbesit dalam hati manusia.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)

Kenikmatan yang tidak pernah dibayangkan oleh seorangpun, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah dilihat oleh mata. Oleh karena itu di saat Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam ditanya

“Siapakah syuhada’ yang paling mulia?”

Beliau menjawab,

" الذين يلقون في الصف الأول "

“Mereka adalah yang berada di barisan paling depan.”

Karena mereka menghadap pada Alloh ta’ala dengan penuh keyakinan bahwa mereka akan mendatangi apa yang telah Alloh subhanahu wa ta’ala janjikan bagi mereka. Mereka tidak berpaling pada dunia, tidak melihat belakang mereka, tidak sedikitpun memikirkan hawa nafsu dan apa yang akan menimpanya, mereka (terus) menuju Alloh ‘azza wa jalla. Nabi shollaAllohu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Orang-orang yang menempatkan diri di barisan terdepan, tidak menolehkan wajah, mereka itulah yang akan menempati tempat tertinggi di surga –berguling-guling di tempat tertinggi di surga-, Robb-mu tertawa pada mereka, dan jika Robbmu tertawa pada seorang hamba, maka hamba tersebut tidak akan dihisab.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Thobroniy)

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

(وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ)

“(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Alloh di dalam Taurot, Injil dan al-Qur-an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Alloh?” (at-Tawbah: 111)

Penegasan makna ini akan terus berlanjut hingga menjadi sesuatu yang pasti di dalam hati seorang mu’min dan hingga tidak ada sedikitpun keraguan. Alloh ‘azza wa jalla berfirman,

(وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ)

“Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Alloh? Maka bergembiralah dengan penjualan yang telah kalian lakukan itu.”

Jadilah orang-orang yang bergembira dengan penjualan ini.

(فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ)

“Maka bergembiralah dengan penjualan yang telah kalian lakukan itu. Dan itulah kemenangan yang besar.” (at-Tawbah: 111)

Kita memohon pada Alloh subhanahu wa ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang mu’min yang bertaqwa, jujur dan ikhlash, yang Alloh akhiri hidup mereka dengan syahadah di jalan-Nya subhanahu wa ta’ala. Sesungguhnya Dia maha mendengar lagi maha dekat.

Ya Alloh, limpahkanlah sholawat kepada Nabi kita Muhammad beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.


---oo0 TAMMAT BI HAMDILLAH 0oo---


 
source : forum al-Fath

Tidak ada komentar:

Posting Komentar