Selasa, 07 Februari 2012

Teguhlah Wahai Uhud

Teguhlah Wahai Uhud

(اثبت أحد)
الثبات الثبات في زمن التراجعات
(Teguhlah Wahai Uhud)
Teguhlah… Teguhlah di Zaman Taraju’at
(Keundurdirian Dari Manhaj Al Haq)
Penulis
Asy Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy
Alih Bahasa
Abu Sulaiman
Segala puji hanya milik Allah Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya.
Dari Abdullah ibnu ‘Amr radliyallahu ‘anhuma berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ» ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Sesungguhnya hati bani Adam itu semuanya berada di antara dua jemari dari jemari-jemari Ar Rahman seperti satu hati yang Dia bolak-balikan sekehendak-Nya, terus beliau bersabda: “Wahai Dzat Yang membolak-balikan hati arahkanlah hati kami terhadap ketaatan Kepada-Mu.” (HR Muslim no. 2654)
Ya Allah Wahai Dzat Yang membolak-balikan hati arahkanlah hati kami terhadap ketaatan kepada-Mu…
Wa ba’du:
Sesungguhnya orang yang mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’anul Adhim mengetahui bahwa di antara metode musuh-musuh agama ini sepanjang masa adalah membuat tipu daya dengan syubhat dan syahwat dalam rangka memalingkan para pembawa dakwah ini dari ajaran-ajaran pokoknya dan kaidah-kaidahnya:

وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

(Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya) [Al Anfal: 130]
Sedangkan orang yang ma’shum adalah orang yang dijaga oleh Allah ta’ala…
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita dan menghati-hatikan kita dari mudah berbaliknya hati manusia akhir zaman dan cepatnya taraju’at mereka karena banyaknya godaan (fitnah) dan lemahnya iman di jiwa manusia, di mana beliau bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا، وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا، وَيُصْبِحُ كَافِرًا

“Sesungguhnya menjelang kiamat itu ada banyak fitnah yang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita, di mana seorang pria di dalamnya pagi-pagi menjadi mu’min dan di sore hari dia menjadi kafir, dan di sore hari dia mu’min dan pagi hari dia menjadi kafir.” (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi).
Al Hasan Al Bashri berkata: Demi Allah kami telah melihat mereka, seseorang dari mereka pergi di pagi hari dengan dua dirham dan pulang sore hari dengan dua dirham seraya menjual diennya dengan bayaran yang lebih kecil dari harga kambing.
Ya Allah sesungguhnya kami memohon keteguhan kepada-Mu sampai kami berjumpa dengan-Mu…
Allah ‘azza wa jalla menjaga hamba-hamba-Nya yang beriman dengan karunia-Nya dan dengan barakah ketaatan mereka dan ihsan mereka:

هَلْ جَزَاءُ الْأِحْسَانِ إِلَّا الْأِحْسَانُ

(Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula) [Ar Rahman: 60]

يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاءُ

(Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki), [Ibrahim: 27]
Dan tidak ragu lagi bahwa sebab terbesar keteguhan di atas al haq adalah berpegang teguh kepada Kitabullah yang telah menjelaskan jalan kaum mu’minin bagi kita dan telah memisahkannya dari jalan-jalan kaum mujrimin serta telah mengingatkan kita perihal metode-metode para thaghut dalam memperdaya dakwah dan para du’at. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدىً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

(Katakanlah, “Ruhul Qudus (Jibril) telah menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) [An Nahl: 102]
Saya teringat akan ayat ini dan ayat-ayat semisalnya yang menjadi teman penghibur saya di sel isolasi dan yang membantu saya terhadap keteguhan dan kekokohan di atas ujian (mihnah)…
Sungguh Al-Qur’an telah merubah mihnah (ujian) saya menjadi minhah (pemberian yang baik) dan telah menjadikan bagi saya hal yang dibenci menjadi hal yang dicintai serta bencana menjadi hadiah istimewa. Maka hanya milik Allah lah segala pujian atas nikmat iman, islam dan Al-Qur’an. Dan saya dahulu selalu meneriakkan dengan lantang:
Ya Allah andai tidak ada Engkau tentu kami tidak mendapat hidayah
Dan kami tidak kuat bersabar serta kami tidak bisa shalat
Sungguh para thaghut telah aniaya terhadap kami semua
Dan bila mereka menginginkan fitnah maka kami menolaknya
Maka turunkanlah ketenangan kepada kami semua
Dan teguhkanlah pendirian kami bila kami berhadapan (dengan mereka)…
Dengannya saya getarkan sel pengisolasian dan dengannya saya pecahkan kesunyian penjara…
Ya Allah sebagaimana Engkau telah menghibur pemenjaraan saya dan khalwat saya dengan Al-Qur’an, maka jadikanlah ia Ya Allah sebagai teman penghibur di kuburan saya dan teguhkanlah hati saya dengannya…
Al-Qur’anul Karim adalah kalam Rabbil ‘Alamin, ia adalah pemberi hibah terbesar bagi keteguhan, karena ia adalah tali Allah yang kokoh dan ikatan-Nya yang paling kuat. Barangsiapa Al-Qur’an tidak membuatnya teguh dan ia malah tetap merasa kesepian bersamanya dan tidak terhibur kecuali dengan ucapan makhluk maka hendaklah bertakbir empat kali terhadap hatinya, karena apalagi yang bisa meneguhkannya setelah Kalamullah yang menjaga dari berbagai fitnah dan tipu daya syaithan-syaithan manusia dan jin, yang menjelaskan bagi oranng mu’min sabilul mu’minin dan menjabarkan baginya sabilul mujrimin serta mengisahkan ke hadapannya kabar-kabar kaum yang teguh dari kalangan para nabi, du’at dan shalihin yang mana kafilah-kafilah mereka telah berlalu di perjalanan zaman…

وَكُلاًّ نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاء الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

(Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu). [Huud: 120]
Sebagaimana Al-Qur’an itu adalah melindungi dari syahawat dan membantah segala syubuhat…
Ia juga adalah pembimbing kepada:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

(Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan). [Al Fatihah: 5]
Meminta tolong kepada Allah, mengadu kepada-Nya, meminta kemenangan kepada-Nya, tsiqoh terhadap-Nya, tawakal kepada-Nya dan selalu bersandar kepada-Nya, semua itu tergolong hal yang membantu terhadap keteguhan di zaman mughriyat (godaan iming-iming kemudahan), keberbalikan dan taraju’at…
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata yang maknanya bahwa si hamba bila mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu yang membolak-balikan hati, dan bahwa Dia itu membatasi antara seseorang dengan hatinya, dan bahwa Dia ta’ala itu setiap hari di dalam kesibukan seraya melakukan apa yang Dia kehendaki dan memutuskan apa yang Dia inginkan, dan bahwa Dia itu memberi hidayah orang yang dikehendaki-Nya, menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya, mengangkat orang yang dikehendaki-Nya dan merendahkan orang yang dikehendaki-Nya, maka dia tidak merasa aman dari kemungkinan Allah membalikkan hatinya dan membatasi antara dirinya dengan hatinya serta menyesatkannya setelah Dia meluruskannya. Oleh sebab itu ia bersimpuh kepada Tuhannya dan berlindung kepada-Nya selalu, dan oleh sebab itu Allah memuji hamba-hamba-Nya yang mu’min dengan sebab ucapan dan doa mereka:

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

(Ya Tuhan kami janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami) [Ali Imran: 8]
Dan dengan sebab ucapan mereka:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

(Ya Tuhan kami limpahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah kaki kami dan tolonglah kami atas orang-orang kafir) [Al Baqarah: 250]
Dan sungguh kebanyakan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

(Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku di atas dien-Mu) (HR Tirmidzi no. 2140)
Meminta pertolongan Allah Ar Rahman, bersandar kepada-Nya dan tsiqah dengan-Nya adalah tergolong faktor terbesar keteguhan di zaman taqallubat (keberbalikan dari manhaj) dan taraju’at;

كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

(Sekali-kali tidak akan (tersusul), sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku) [Asy Syu’ara: 62]
Dan di antara hal itu adalah selalu mengingat Allah dan selalu menggerakkan lisan dengan mengingat-Nya, karena ia adalah tergolong faktor terbesar (datangnya) ketenangan hati dan keteguhannya di hadapan musuh.

أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang) [Ar Ra’du: 28]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيراً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

(Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama Allah banyak-banyak agar kalian beruntung). [Al Anfal: 45]
Dan di antara faktor terbesar pemompa keteguhan adalah; hidup dalam rangka nushrah (membela) dienillah dan menjadikan hal itu sebagai fokus pikiran utama pada seseorang. Allah ta’ala berfirman:

إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

(jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian) [Muhammad: 7]
Dan berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْراً لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتاً

(Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan, niscaya itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). [An Nisa: 66]
Kami memohon kepada Allah ta’ala agar menjadikan hal itu fokus utama pikiran kami dan menjadikan kami sebagai orang-orang yang melakukannya serta tidak menggantikan kami. Allah ta’ala berfirman:

فاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْاْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ . وَلاَ تَرْكَنُواْ إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَاء ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ

(Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh Dia itu Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu tidak akan diberi pertolongan) [Huud: 112-113]
Sedangkan makna istiqamah itu adalah tetap terus di atas al haq dan teguh di atasnya sampai mati;

وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

(dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim) [Ali Imran: 102]
Keteguhan di atas manhaj itu adalah bukti terhadap kebenarannya dan mengajak makhluk untuk tsiqah dengannya dan mengikutinya, dan ia adalah bayaran atau pajak kemenangan dan pijakan keberhasilan serta jalan yang menghantarkan kepada kejayaan, keberkuasaan dan tamkin.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآياتِنَا يُوقِنُونَ

(Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami tatkala mereka bersabar dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami) [As Sajadah: 24]
Sufyan berkata: (Dengan kesabaran dan yaqin diraihlah imamah (kepemimpinan) di dalam dien ini).
Keteguhan adalah jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang agung dan sasaran-sasaran yang tinggi, di mana orang muslim yang berjuang untuk menghambakan manusia kepada Rabbul ‘Alamin dan mengeluarkan mereka dari penghambaan diri kepada makhluk, dan dia bercita-cita untuk mengangkat diennya dan meninggikan panjinya adalah sangat membutuhkan kepada keistiqamahan dan keteguhan. Sungguh wasiat Rasulullah kepada sahabatnya adalah:

قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ

(Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, dan istiqamahlah). (HR Abu Dawud no. 1327)
Dan keteguhan itu mengundang tambahan keteguhan; di mana keteguhan ulama di atas dien mereka dan ketidakunduran diri mereka di hadapan iming-iming, tekanan dan ujian adalah mengajak manusia untuk mentauladani hal itu dan teguh di atasnya, sedang taraju’ (sikap undur diri dari manhaj al haq) walaupun dengan satu langkah saja adalah akan disusul dengan langkah-langkah dan taraju’at yang tidak terhitung…
Sayyid Quthub –semoga Allah merahmatinya dan meninggikan kedudukannya- berkata pada ayat ini setelah menuturkan upaya-upaya percobaan kaum musyrikin untuk tawar menawar dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap banyak urusan dien dan dakwahnya, di antaranya meninggalkan celaan terhadap tuhan-tuhan mereka dan ajaran-ajaran yang dianut leluhur mereka dan hal lainnya… beliau berkata yang ringkasnya… percobaan-percobaan ini yang mana Allah melindungi Rasul-Nya darinya, yaitu percobaan-percobaan para pemegang kekuasaan terhadap para pembawa dakwah, adalah percobaan pemberian iming-iming kepada mereka agar mereka menyimpang walau sedikit dari istiqamah dakwah dan kekokohannya, dan mereka ridla dengan solusi jalan tengah yang mana mereka memperdaya para du’at itu dengannya dengan imbalan materi yang melimpah. Dan di antara para pembawa dakwah itu ada orang yang terpalingkan dengannya dari dakwahnya karena ia melihat masalahnya sepele. Para pemegang kekuasaan itu tidak menuntut kepadanya untuk meninggalkan dakwahnya secara total, namun mereka menuntut perubahan yang sedikit agar kedua pihak bisa bertemu di tengah jalan, dan kadang syaithan masuk terhadap pembawa dakwah dari celah ini, di mana ia membayangkan bahwa kebaikan dakwah itu ada pada pengambilan simpati penguasa kepadanya walau dengan tanazul (pelepasan) dari satu sisi prinsip dari (manhaj) dakwah itu! Akan tetapi inhiraf (penyimpangan) sedikit di awal jalan akan berakhir dengan inhiraf total di akhir perjalanan. Sedangkan pembawa dakwah yang menerima pasrah dalam satu bagian darinya walau itu sedikit dan (menerima) penyingkiran satu sisi darinya walau itu kecil, adalah dia itu tidak kuasa untuk berhenti (dari pemasrahan lanjutan) saat ia menerimanya di awal langkah… karena kesiapan jiwanya untuk taslim (pasrah) adalah semakin bertambah setiap kali ia kembali melangkah ke belakang! Sedangkan para penguasa itu menjebak para pembawa dakwah secara perlahan-lahan, di mana bila mereka menyerah pada suatu bagian maka mereka telah kehilangan haibah (wibawa) dan kekebalan mereka, dan para penguasa pun mengetahui bahwa kesinambungan tawar menawar dan penaikan harga (bayaran) akan berakhir dengan tanazul, taslim dan kekalahan… dan bila kekalahan menjalar dalam lubuk jiwa, maka kekalahan itu tidak akan berbalik menjadi kemenangan!
Di samping ini dan itu bahwa taraju’ (keundurdirian dari al haq)  itu adalah menyedihkan hati kaum mu’minin dan menyenangkan mata orang-orang musyrik, sedangkan keteguhan orang mu’min di atas al haq itu mencabik-cabik hati musuh-mush agama ini dan menjengkelkan mereka, padahal sudah maklum bahwa membuat mereka jengkel itu adalah amal shalih yang dengannya Allah mengistimewakan makhluk yang paling dicintai-Nya setelah para rasul, di mana Dia berfirman:

لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

(Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) orang-orang mukmin). [Al fath: 29]
Dan berfirman:

وَلا يَطَأُونَ مَوْطِئاً يُغِيظُ الْكُفَّارَ وَلا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلاً إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

(dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan. Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik). [At Taubah: 120]
Oleh karena itu tidaklah aneh bila musuh-musuh dien ini merasa bahagia dengan taraju’at penganutnya dan keterpurukan-keterpurukan mereka di berbagai negeri, di mana ini adalah tergolong hal terbesar yang selalu mereka angan-angankan.

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئاً إِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

(jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh Allah Maha Melihat segala apa yang mereka kerjakan) [Ali Imron: 120]
Bahkan mereka itu merencanakan strategi siang malam dalam rangka mendapatkan taraju’at semacam ini agar dengannya mereka bisa melemahkan barisan, mencerai-beraikan persatuan dengannya, menelikung dakwah dengannya dan menggembosi jihad dengannya. Bagi mereka sama saja apakah taraju’at ini mereka dapatkan dengan cara tekanan, pengekangan, penindasan, pemaksaan, dan qital…

وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

(Mereka tidak akan berhenti memerangi kalian sampai kalian murtad dari agama kalian, jika mereka sanggup) [Al Baqarah: 217]
Ataupun mereka membuat-buatnya atau mengada-adanya dengan makar, kebusukan, tipu daya dan pemalsuan…

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

(Dan segolongan Ahli Kitab berkata (Kepada sesamanya),” Berimanlah kalian kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman pada awal siang dan ingkarilah di akhirnya, agar mereka kembali (kepada kekafiran)) [Ali Imran: 72]
Taraju’at ini bukanlah puncak angan-angan mereka dan mereka itu tidak berhenti di situ atau merasa cukup dengannya; akan tetapi:
وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا
(Mereka itu tidak akan berhenti memerangi kalian sampai kalian murtad dari agama kalian, jika mereka sanggup) [Al Baqarah: 217]

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً

(Mereka ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka)) [An Nisa: 89]
Dan semua itu bukanlah hal yang aneh, karena Al-Qur’an telah menjelaskannya kepada kita dengan penjelasan yang sangat gamblang; akan tetapi yang sangat mengherankan adalah taraju’at itu diangan-angankan dan diharapkan serta diinginkan dari kami atau dari selain kami oleh orang yang intisab kepada dien ini dan ikut nebeng dengan dakwah mubarakah ini serta berpenampilan dengan penampilan penganutnya dari kalangan ghulah (orang-orang yang ghuluw dalam takfier) yang tidak pernah mencium aroma ilmu dan tidak pernah mengecap rasa (manis) pemahaman, atau orang yang sehasrat dengan mereka dari kalangan yang masih mendengarkan ucapan mereka, di mana mereka itu menebarkan isu setelah bebasnya du’at, ulama dan mujahidin dari penjara orang-orang zalim –setelah Allah meneguhkan mereka- bahwa kebebasan itu tidak terjadi kecuali setelah adanya akad kerja sama dengan musuh-musuh Allah dalam rangka taraju’at yang berisi hujatan pada jihad dan mujahidin, tanpa ada sedikit pun bukti atas hal itu yang membuktikan kebenaran isu mereka itu kecuali sekedar celotehan-celotehan kosong dan angan-angan yang batil karena sikap hasud dari diri mereka terhadap apa yang Allah karuniakan kepada para du’at itu berupa keteguhan dalam mihnah (ujian), kematangan dalam pemahaman dan kejelasan dalam pandangan; atau (karena) tulisan-tulisan yang belum bisa dicerna oleh akal-akal mereka yang dangkal dan tidak bisa dikuasai oleh pemahaman-pemahaman mereka yang sempit dan pandangan mereka yang pendek…
Oleh sebab itu saya ingin mengingatkan mereka itu dan yang lainnya dari kalangan lawan, musuh dan para pencela yang mengharapkan dan menginginkan keterpurukan dan taraju’at para du’at dan mujahidin, dan saya katakan kepada mereka di awal kemunculan lagi saya di dunia maya setelah lama mendekam di penjara bahwa di sana ada tsawabit (hal-hal baku) di dalam dien dan dakwah kami yang wajib diketahui oleh orang yang jauh dan orang yang dekat, musuh dan teman, orang yang dicintai dan orang yang dibenci, orang yang loyal dan orang yang memusuhi, serta orang yang mencintai dan orang yang hasud; bahwa tidak ada taraju’ darinya dan tidak ada pilihan walaupun leher-leher dipenggal dan walaupun binasa atau cerai-berai orang-orang yang dicintai;

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

(Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.) [Al Ahzab: 36]
Di saat keluarga saya datang kepada saya dengan membawa kabar meninggalnya sang ayah rahimahullah sedang saya berada di sel isolasi setelah penungguan, janji-janji dan penangguhan-penangguhan pemberian kesempatan untuk melihatnya sebelum wafatnya di hari-hari sakitnya yang terakhir, maka saya katakan kepada mereka sungguh para kaki tangan thaghut itu bisa saja mengeluarkan saya untuk melihatnya sebelum wafatnya supaya di hari-hari sakitnya yang terakhir, maka saya katakan kepada mereka sungguh para kaki tangan thaghut itu bisa saja mengeluarkan saya untuk melihatnya sebelum wafatnya supaya saya bisa ada di sisinya dalam detik-detik akhir kehidupannya, dan tatkala mereka tidak melakukan hal itu karena dugaan mereka bahwa saya akan melakukan tawar menawar atau melemah di hadapan tekanan ini atau mengangkat bendera putih; maka saya katakan kepada kalian dan kepada mereka: Demi Allah seandainya keluarga saya meninggal semuanya satu demi satu; ibu saya, anak-anak saya, istri-istri saya, saudara-saudara saya dan semuanya, janganlah kalian bermimpi saya taraju’ dari satu huruf pun yang saya yakini dan saya menganutnya di hadapan Allah bahwa itu adalah haq dari dien saya walaupun saya harus menjalani sisa hidup saya di dalam sel isolasi.
Karena sesungguhnya ayahku, ibuku dan keluargaku
Bagi dien Muhammad adalah perisai yang baku
Dan saya katakan hal ini di hadapan mereka dan hendaklah mereka menyampaikannya kepada tuan-tuan mereka, dan ini saya sekarang mengulangnya juga…
Sebagaimana saya ingin menenangkan orang-orang yang mencintai saya dan ikhwan saya dan memberikan kabar gembira kepada mereka akan nikmat istiqamah di atas manhaj, sikap tidak ada perubahan dan penggantian (prinsip) dan bahwa saya ini dengan pertolongan Allah tidak akan mundur dan  tidak akan meminta mundur walaupun hal itu harus saya tebus dengan menghabiskan sisa umur hidup saya di dalam sel saya yang telah akrab dengan saya dan saya telah akrab dengannya serta ia terbiasa dengan saya dan saya terbiasa dengannya, juga saya telah menjadi temannya dan ia telah menjadi teman saya…
Selku sahabat terbaik yang menemaniku di suatu masa
Saat manusia-manusia durjana disembah bagaikan berhala
Bila suatu hari aku berpisah dan meninggalkannya
Maka senapanku wahai ibu adalah sahabatku kedua
Dan yang saya minta dari mereka adalah doa agar saya teguh dan mendapatkan husnul khatimah…
Ini adalah apa yang Allah karuniakan kepada kami berupa nikmat keteguhan dalam pemenjaraan, dan karunia seluruhnya adalah milik Allah saja sedang saya berlepas diri dari daya dan kekuatan kecuali dengan sebab Allah subhanah. Dan saya memohon kepada-Nya keteguhan sampai hari pertemuan dengan-Nya. Bila hal itu telah membuat jengkel musuh-musuh Allah, maka tidak aneh dan tidak mengherankan; adapun bila hal itu telah membuat jengkel dan terus membuat jengkel segolongan orang yang intisab kepada dien ini lagi merasa penganut dakwah (tauhid) ini, maka sungguh sangat mengherankan sekali! Mana loyalitas mereka kepada dien dan kepada kaum mu’minin? Dan mana kecintaan mereka terhadap kejayaan dien dan keteguhan kaum mu’minin? Dan mana kepedulian mereka terhadap dien kaum muslimin? Apakah hati mereka telah mati atau terpuruk ? ataukah hasud dan dengki telah memakan hati mereka dan menodainya sehingga ia tidak lagi mengetahui hal ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran…
Dan bila saja mereka masih tersedak dengan kejengkelan mereka, maka saya katakan kepada mereka dan kepada musuh-musuh dien juga dan kepada setiap pencela terhadap dakwah kami: Matilah kalian dengan kedongkolan kalian, karena syi’ar kami insya Allah adalah: kukuh di zaman keterpurukan… keteguhan walaupun para thaghut membenci… teguh sampai mati… dengan izin Allah… Ia dan yang lainnya adalah teriakan yang diingat dan diketahui dengan baik oleh setiap saudara saya yang dipenjara di tahun-tahun pemenjaraan saya karena teriakan itu menenteramkannya dan mendongkrak semangatnya saat saya ucapkan di lobang sel isolasi saya dengan sekeras mungkin suara saya dengannya saya menggetarkan sel-sel penjara dan dengannya saya meneguhkan hati saya dan hati ikhwan saya; dan ini saya sekarang mengulangnya dan menguatkannya setelah pengekangan (pemenjaraan) dilepaskan dari diri saya seraya menyiapkan diri saya untuk kembali lagi ke sel saya di setiap saat seraya tegap dengan keteguhan saya dengan karunia Allah saja… Barangsiapa terganggu dengan hal itu atau menjadi jengkel dengannya, maka hendaklah di mati terpukul dengan kejengkelannya, karena dengan izin Allah tidak ada pengganti dan daya dari hal itu…
Dan saya katakan sebagaimana yang telah saya katakan kepada sebagian muhaqqiq (penyidik) dalam momen yang berulang-ulang: Apakah kamu mengenal “Kim Sung Miung” orang Korea Selatan? Sesungguhnya dia itu dengan izin Allah tidak akan lebih teguh dari saya! Dan saat dia ditanya tentangnya! Saya telah mengenalnya bahwa dia itu penganut ideologi komunis yang kosong, namun demikian dia itu adalah narapidana komunis terlama yang dipenjara di Korea Selatan di atas ideologi komunisnya di suatu sel seukuran lemari pakaian selama 44 tahun yang di dalam tempo waktu itu dia tidak mundur walau sesaat pun dari keimanannya terhadap ideologi komunis sampai dia dibebaskan dan dia tetap di atas prinsipnya walaupun Komunis sudah runtuh dan Uni Soviet sudah cerai berai serta jutaan orang-orang Komunis meninggalkan ideologi mereka. Dan organisasi Amnesti Internasional telah menganggapnya sebagai narapidana politik terlama.[1] Orang tua tujuh puluh tahunan ini keluar dari selnya yang telah menghabiskan masa muda dan sisa umurnya di dalamnya untuk mengatakan kepada dunia walaupun badannya sudah lemah yang sudah tidak bisa berdiri normal lagi sehingga ia bersandar kepada teman-temannya agar bisa berdiri di hadapan kamera para wartawan, dia berdiri seraya mengatakan dengan lisan keadaannya kepada dunia seluruhnya dan kepada orang-orang yang memenjarakannya secara khusus: Sesungguhnya kalian telah melemahkan badan saya dan mematahkan tulang dan punggung saya, namun kalian tidak bisa dan tidak akan bisa melemahkan keinginan saya dan mematahkan semangat saya…
Maka waktu itu saya katakan kepada para penyidik dan yang lainnya: Apakah sah atau masuk akal orang yang kosong (iman) ini lebih kuat keinginannya dari penganut aqidah samawiyyah yang lebih keras dan lebih tinggi dari gunung-gunung yang kokoh, yang berhubungan dengan Rabb-nya lagi bersandar kepada Tuhan-nya?… Ma’adzallah… maka taraju’ macam apa yang kalian tunggu?!
Borgollah tanganku dan memarkanlah rusukku
Dengan rotan dan di atas pisau letakkan leherku
Kau takkan bisa walau sesaat mengekang pikiranku
Atau mencopot iman dan cahaya keyakinanku
Karena cahaya ada di hatiku dan hatiku di Tangan Tuhanku
Dan Tuhankulah Penolong dan Pelindungku
Aku kan hidup berpegang dengan tali aqidahku
Dan kan mati tersenyum demi kehidupan agamaku
Dorongan-dorongan kekuatan semangat ini tidak meninggalkan saya di dalam sel isolasi saya, ia mengokohkan keinginan saya dan menambahkan kepada diri saya kekukuhan, keyakinan dan keteguhan. Dan di saat saya ditimpa kebosanan rutinitas, kegiatan yang selalu serupa dan berlalunya hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, maka saya selalu mengingat kerugian-kerugian saya yang fatal dan besar di dunia dan di akhirat bila saya patah semangat karena pemenjaraan, dan (juga) cemoohan musuh terhadap dakwah ini serta kegembiraan lawan dengan keterpurukan dan kekalahan penganutnya terutama di zaman ngetrennya taraju’at, maka saya pun semakin bersemangat di atas keteguhan di dalam menjalani mihnah (ujian) ini demi menjaga tsagr (celah) ini yang diamanatkan kepada saya jangan sampai musuh masuk darinya atau dipermainkan oleh tangan orang-orang yang mencela…
Sebagaimana saya selalu mengingat orang yang lebih dahsyat keadaan dan ujiannya daripada saya dari kalangan saudara-saudara saya yang dipenjara di berbagai belahan bumi yang tidak diberi sedikit pun hak (yang sewajarnya), sehingga hal itu menambahkan kepada diri saya keteguhan, semangat yang kuat, kekokohan dan kebersikukuhan, dan menambahkan pula kepada diri saya sikap penganggapan enteng dan penganggapan kecil terhadap bencana yang saya jalani. Saya teringat saudara-saudara saya di sel gelap Baghram dan saudara-saudara saya di penjara Abu Gharib, saudara-saudara saya di Guantanamo, saudara-saudara saya di penjara-penjara Rahasia yang tidak pernah melihat matahari dan tidak pernah seorang pun melihat mereka di dalamnya, dan saya teringat saudara-saudara saya di penjara-penjara Yahudi, Komunis, Murtaddin dan yang lainnya, dan saya teringat saudaraku habibiy Abu Mujahid Jamal Raf’at Al ‘Utaibiy rahimahullah dan semoga Allah mengumpulkan kami dengannya di surga Al Firdaus Al A’la di saat ia ditahan di penjara-penjara Keamanan Politik di Suriah di dalam sel isolasi terpencil yang berbau busuk lagi gelap yang dipenuhi lumut sedang Mushhaf dilarang di sana, saya teringat bagaimana ia sangat merindukan setiap ayat yang sampai kependengarannya dari masjid-masjid yang jauh dan ia pun mengulang-ulangnya sampai menghafalnya; dan suatu kali ia memberanikan diri meminta mushhaf maka jawabannya adalah semprotan dan pukulan serta tumpahan berbagai macam penyiksaan terhadapnya di samping cercaan-cercaan kotor dan humpatan-humpatan busuk… Saya teringat ucapannya sedang ia mengatakan sungguh saya telah mengatakan kepada penjaga saat mereka menyeret saya ke sel saya setelah mereka memukuli (saya); “Demi Allah seandainya kalian memberikan mushhaf kepada saya tentu saya tidak akan meminta (apapun) di sel kalian ini walau saya mendekam seribu tahun di dalamnya”… Ya Allah jadikanlah kami dan dia tergolong orang-orang yang Engkau cintai dan mereka mencintai Engkau…
Mengingat hal ini dan yang semisalnya adalah menambah kepada diri saya perasaan menganggap ringan ujian yang saya alami dan memperkenalkan kepada saya akan nikmat Allah terhadap saya, di mana Dia menjadikan Al-Qur’an sebagai penghibur dan teman saya di dalam mihnah (ujian).
Sesungguhnya Allah itu adalah Maha Kaya dan Dia tidak membutuhkan diri kita, jihad kita dan keteguhan kita, dan itu semua adalah manfaatnya bagi diri kita, dengannya Allah meninggikan kita dan menjayakan kita, dan barangsiapa cenderung kepada dunia dan taraju’ (undur diri dari manhaj Al haq) atau berpaling maka Allah akan mengganti mereka dengan kaum yang lain yang lebih baik dari mereka kemudian tidak menjadi seperti mereka… Ya Allah Ya Ghafur Ya Wadud gunakanlah kami (dalam ketaatan kepada-Mu) dan jangan gantikan kami…

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

(Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang lemah lembut terhadap orang mu’min lagi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui) [Al Maidah: 54]
Dan di akhir, saya umumkan dengan lantang di hadapan musuh-musuh saya sebagaimana hal itu yang selalu saya lakukan dengan karunia Allah; Tidak ada taraju’ dan tidak ada tanazul dari ajaran-ajaran yang baku dan aqidah, dan tidak ada musawamah (tawar menawar/negosiasi) terhadap dien ini dan insya Allah kami tidak akan memberikan peluang bagi seorang pun untuk masuk menembus dari tsaghr (celah dien) yang mana kami telah menghabiskan hidup kami, umur kami dan waktu kami di dalam menjaganya sampai Allah menjayakan dien-Nya atau kami mati dalam menjaganya… Dan barangsiapa mengharapkan selain itu dari kami, maka dia itu orang ngaco yang mimpi lagi miskin. Itu dikarenakan bayaran yang dia berikan atau akan dia berikan kepada kami tidak dan tidak akan memenuhi kebahagiaan kami dan tidak akan bisa memuaskan cita-cita kami; sungguh kami bercita-cita ke surga yang luasnya (seluas) langit dan bumi, dan tidak akan memenuhi kebahagiaan kami atau kami menjual diri kami kecuali dengan bayaran semisal ini. Dan bila dia memilikinya maka silahkan melakukan tawar-menawar dan silakan turun ke pelelangan, namun sekali lagi dia tidak memilikinya maka silahkan dia bahagia sendiri dengan hadiah dan impiannya, kemudian hendaklah dia mengemasi dagangannya dan hendaklah dia cepat tersadar dari impiannya terus cepat ia berlindung dengan sikap diam dan kerugian…

إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالْأِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung) [At Taubah: 111]
Dan sebelum saya mengakhiri, saya membisikkan di telinga ikhwan kami yang telah aniaya terhadap kami dan tidak henti-hentinya menuduh kami dengan apa yang digoreskan oleh pena-pena aniaya dan kedengkian dan bahkan kebohongan, baik saat kami berada dalam penahanan dan di balik tembok penjara di mana pada saat itu mereka perang tanding melawan bayang-bayang dan khayalan dan mereka pun merasa bahagia karena tidak ada seorang pun yang membantah sikap aniaya mereka dan membongkar kebohongan mereka itu, ataupun setelah kami keluar di mana mereka menyibukkan kami dengan selentingan dan isu-isu mereka…
Saya katakan: Silahkan kalian melontarkan sedikit atau banyak dari hal itu kepada kami; karena kalian tidak akan bisa memalingkan kami dengan sikap aniaya kalian itu dari kebenaran dengan pertolongan Allah, dan kalian tidak akan bisa mengembalikan kami dengan isu-isu kalian itu dari jalan yang lurus… sebab kami mentauladani dan mengikuti langkah-langkah kaum yang tidak terusik oleh orang yang menyelisihi dan menggembosi mereka sampai datang ketentuan Allah sedang mereka teguh dan nampak di atas al haq…
Saya tutup ini dengan suatu hikayat dan contoh bagi penentangan yang pernah saya baca di sebagian buku tentang seorang kakek lanjut usia warga Prancis yang keluar sendirian dalam demonstrasi tahun 1968 M, dan tatkala kepolisian Prancis berusaha membujuknya dan meyakinkannya agar ia pulang kembali ke rumahnya, maka ia menancapkan yafithahnya di pangkuannya dan ia terus diam… maka si komandan (polisi) berkata kepadanya: Apakah engkau wahai orang tua mengharapkan bisa merubah dunia dengan yafithah ini… segalanya sudah berakhir dan orang-orang juga sudah kembali menuju kegiatan hidup mereka… maka si orang tua itu menjawab: Tidak wahai anakku, aku tidak bisa merubah satu qisysyah pun dari posisinya di dunia ini… akan tetapi engkau, jenderal Digul dan bintang-bintang ini pun semuanya tidak bisa merubah saya…
Tidak dicela mengambil pelajaran dengan hal semacam ini dan mengambil penyemangat terhadap keteguhan dengannya. Sungguh Imam Ahlus sunnah Wal Jama’ah telah mengambil pelajaran dari peminum khamar yang berkata kepadanya tatkala beliau dihadirkan ke hadapan khalifah untuk dites (keyakinannya): Hai Ahmad teguhlah dan jangan keluh kesah dari pukulan, demi Allah sungguh aku telah didera karena sebab khamar atau maksiat kepada Allah 100 kali; maka apa ruginya engkau didera karena Dzat Allah? Ia itu hanyalah sabetan yang pertama… Dan Imam Ahmad telah menuturkan bahwa hal ini adalah tergolong faktor pendorong peneguhannya dan beliau selalu menyebutkannya dengan kebaikan dan memintakan ampunan (kepada Allah) baginya…
Dan lebih baik dari itu adalah kisah-kisah ujian dan keteguhan yang mana para sahabat Rasulullah menjadikannya sebagai contoh yang paling menakjubkan, itulah Bilal ditelentangkan di pasir panas Mekkah seraya dijadikan mainan anak-anak kecil setelah ia merasakan berbagai macam penyiksaan dan batu besar diletakkan di atas dadanya, namun beliau tidak lebih dari mengucapkan: Ahad Ahad… dan mengatakan: Andai aku mengetahui ucapan yang makin membuat geram mereka tentu aku mengucapkannya… sungguh ia adalah keinginan yang tak ada bandingannya yang mencemoohkan penyiksaan dan di hadapannya hancur luluh keinginan-keinginan para tirani itu. Dan ini Khabbab dihempaskan ke atas bara api sehingga bara api itu padam oleh cairan yang meleleh dari punggungnya, namun hal itu tidak mengurungkannya dari diennya atau mematahkan keteguhannya. Dan itu Sumayyah, ia adalah wanita yang lemah yang tidak memiliki keluarga besar (melindungi) dan tidak memiliki kekuatan, ia mendapatkan tumpahan penyiksaan-penyiksaan yang mana pria-pria perkasa tidak bisa kokoh di hadapan penyiksaan-penyiksaan semacam ini, dan ia melihat suaminya disiksa juga sampai terbunuh serta (melihat) puteranya di hujani beragam penyiksaan sampai patah tulang-tulang rusuknya, namun hal itu tidak menambahnya kecuali kebersikukuhan dan keteguhan yang mengalahkan (mental) para thaghut dan melenyapkan akal mereka serta mengeluarkan mereka dari kenormalannya maka si pemimpin kekafiran (Abu Jahal) pun menusuknya dengan tombak di tempat kesuciannya sebagai bentuk pengumuman akan kekalahannya di hadapan wanita yang lemah ini di waktu di mana ia (Sumayyah) dengan pengorbanannya itu mengumumkan kepada dunia seluruhnya perihal keteguhannya, kekokohannya dan kemenangan imannya terhadap kekafiran dan tirani, dan mentalqinkan kepada alam semuanya pelajaran-pelajaran kejayaan (iman) dan keteguhan… Dan ini Hubaib ibnu Zaid utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Musailamah, ia teguh di hadapan Musailamah Al Kadzdzab sedang para algojonya mengiris dan memotong-motong anggota badannya sepotong demi sepotong, namun hal itu tidak mengurungkannya dari agamanya dan imannya, dan tidak menggoncangkan keteguhannya… Dan selain mereka sangat banyak dari kalangan yang menghiasi sejarah umat kita dengan ketegaran mereka dan kekokohan mereka dan memberikan kepada kita contoh-contoh paling menakjubkan bagi keteguhan sampai mati, seraya dengan hal itu mereka mengingat apa yang diingatkan kepada mereka dan ditarbiyahkan di atasnya oleh kekasih kita shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau mengisahkan kepada mereka kabar berita orang-orang yang teguh di tengah kondisi keadaan mereka yang gelap, di mana beliau berkata:

قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ، يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ، فَيُجْعَلُ فِيهَا، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الحَدِيدِ، مَا دُونَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، فَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللهِ لَيَتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرُ، حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلَّا اللهَ، وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

(Sungguh telah terjadi pada umat sebelum kalian, seorang laki-laki di seret terus digalikan lobang baginya di tanah kemudian ia dimasukkan ke dalamnya kemudian dihadirkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya kemudian dibelah menjadi dua bagian, dan ia dicabik-cabik dengan sisir besi antara daging dan tulangnya, namun hal itu tidak mengurungkannya dari diennya. Demi Allah, sungguh benar-benar Allah ta’ala akan menyempurnakan urusan (dien) ini sampai pengendara dari San’a berjalan menuju Hadramaut dan ia tidak takut kecuali kepada Allah dan (tidak takut kecuali) terhadap serigala menyerang kambing-kambingnya, akan tetapi kalian ini tergesa-gesa) (HR Al Bukhari no. 6943)
Dan sejarah telah mencatatkan bagi kita setelah itu contoh-contoh yang banyak dari keteguhan salaf kita di hadapan tirani, yang mengabadikan penyebutan mereka. Di dalamnya mereka mentauladani para pendahulu itu seraya mereka mengingat dan mengikuti selalu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

(Penghulu para syuhada itu Hamzah ibnu Abdil Muthallib dan orang yang mendatangi penguasa yang durjana terus ia memerintahkannya dan melarangnya, kemudian ia dibunuhnya) (HR Hakim no. 4884)
Ini Sa’id ibnu Jubair kokoh tegar di hadapan kezhaliman Al Hajjaj sampai ia dibunuh, dan ini juga Sufyan Ats Tsauriy dan Thawus mereka tidak takut di jalan Allah celaan orang yang suka mencela. Dan Al Imam Ahmad kokoh tegar di hadapan Al Makmun dan fitnahnya serta (di hadapan) orang-orang yang sejalan dengan Al Makmun dari kalangan yang membela paham Jahmiyyah dan Mu’tazilah, maka ia teguh kokoh seteguh gunung-gunung yang terpancang di atas aqidahnya sehingga ia menjadi imam Ahlus sunnah tanpa ada yang menyangkal, dan beliau pernah berkata tentang pengalamannya dan (tentang) apa yang menyemangatinya untuk teguh di hadapan ujian: Saya tidak pernah mendengar suatu ucapan sejak saya jatuh dalam urusan ini yang lebih berkesan dari ucapan seorang arab badui yang menasehati saya dengannya, dia berkata: “Hai Ahmad bila Al haq membunuhmu maka matilah kamu dalam keadaan syahid dan bila kamu hidup maka kamu hidup terpuji” maka dengan ucapan itu ia menguatkan hati saya…
Dan itu Ibnu Taimiyyah, ia tidak gentar terhadap kepongahan Tattar atau ia tunduk di hadapan penguasaan para penguasa zamannya atau ia terpengaruh dengan kezaliman lawan-lawannya… Dan itu juga Al ‘Izz ibnu Abdissalam Sulthanul ulama, ia terang-terangan mengingkari kerusakan Mamalik, dan Asy Syahid An Nabulsiy menyampaikan khutbah perihal ubaidiyyin seraya mengumumkan keberlepasan diri dari kebatilan dan kekafiran mereka lagi mengompori (manusia) agar melawan mereka, maka ia dibawa kepada penguasa Ubaidiy terus si raja bertanya kepadanya: Apa kamu telah mengatakan bahwa bila saya memiliki sepuluh panah, tentu saya tembak Romawi dengan sembilan panah dan saya tembak Ubaidiyyin dengan yang kesepuluh? Maka ia menjawab: “Tidak, namun yang telah saya katakan tentu saya tembak Ubaidiyyin dengan sembilan panah dan tembak Romawi dengan yang kesepuluh”. Maka ia pun diperintahkan (agar disiksa), dan ia pun dikuliti badannya hidup-hidup seraya ia membaca Al-Qur’an, dan hal itu tidak mengurungkannya dari aqidahnya atau menggoncangkan keteguhannya sampai-sampai orang yahudi yang sedang mengulitinya iba kepadanya dan dia menusuknya di jantungnya dengan belatinya agar mengakhiri penderitaannya maka syaikh pun meninggal sebagai syahid di atas keadaan ini…
Mereka adalah kaumku dan para kekasihku, dan mereka adalah panutanku dan tauladanku; maka apa perkiraan musuh-musuh Allah yang menanti-nanti lagi mengharapkan taraju’at kami terhadap orang yang mana mereka tadi adalah panutannya, tauladannya dan contohnya??
Dan kafilah itu panjang dan panjang dan tidak habis sampai Allah mewarisi bumi dan seisinya, dan dalam mengingat sikap-sikap mereka itu terdapat ibrah, pelajaran dan peringatan bagi orang yang menginginkan keteguhan di zaman iming-iming, taqallubat dan taraju’at…
Ya Allah sesungguhnya kami mencintai mereka dan mencintai keteguhan dan kejujuran mereka, maka janganlah Engkau halangi kami dari mentauladani mereka dan dari keteguhan di atas dien-Mu yang haq. Ya Allah yang memalingkan hati palingkanlah hati kami ke atas ketaatan kepada-Mu. Ya Allah teguhkanlah kami dengan al qaul ats tsabit di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Ya Allah baikkanlah penghujung kehidupan kami dan jadikanlah hari terbaik kami hari perjumpaan dengan-Mu… Amin
Ditulis oleh Abu Muhammad Al Maqdisiy
Pertengahan Ramadlan tahun 1429 dari hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Penterjemah : Abu Sulaiman 25 Dzul Hijrah 1432 H

[1] Lihat Jurnal Ad Dustur Al Urduniyyah tanggal 16/8/1995 M.

http://millahibrahim.wordpress.com/2012/02/07/teguhlah-wahai-uhud/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar