Rabu, 04 April 2012

Bagaimana Muhammad Merah Menjadi Pejuang?


Bagaimana Muhammad Merah Menjadi Pejuang?

Voa-Islam.com - Muhammad Merah menurut pejabat intelijen Prancis, dia melakukan perjalanan ke tujuh negara, diantaranya Asia Tengah dan Selatan melalui Timur Tengah. Kemudian, sampai tujuan terakhir Muhammad ke Afghanistan tahun 2010.
Ini adalah perjalanan penuh dengan resiko yang mungkin telah menjadi siasat yang dilakukan seorang pemuda dalam mencari tujuan dan identitasnya. Sampai ia menemukan persinggahan terakhirnya di Afghaistan.
Selanjutnya, Muhammad menjdi seorang pejuang, yang memiliki  ghirah jihad yang begitu kuat dalam  jiwanya.
Muhammad Merah yang sangat belia, diusianya 23-tahun, tewas ditembak polisi Prancis, Kamis lalu setelah terpojok oleh kepungan polisi di Toulouse. Muhammad  membunuh tujuh orang dalam serangkaian serangan bersenjata di sebuah sekolah Yahudi,  dan termasuk seorang Rabbi Yahudi, ikut tewas.
Sekarang fihak keamanan Pearncis sibuk meneliti keluarga Muhammad Merah, dan ingin menemukan siapa sejatinya yang mempengaruhi kehidupan Muhammad Merah, yang kemudian menjadi pejuang, dan bergabung dengan gerakan jihad di Afghanistan.
Aparat intelijen Perancis, sekarang juga meniliti siapa saja yang ditemui selama berada di Pakistan, di tahun 2011. Aparat intelijen sangat obsesif ingin membuka tabir yang masih menjadi teka-teki tentang Muhammad Merah, yang sekarang mengguncang Uni Eropa.

Merah tentu tidak pernah menyamarkan perjalanannya. Sementara di Pakistan pada Oktober tahun lalu, ia bahkan dihubungi seorang pejabat intelijen Perancis yang ingin mewawancarainya tentang perjalanan sebelumnya, ia mengatakan bahwa kepergiannya ke Pakistan hanya mencari istri. Karena itu, para pejabat intelijen Perancis kesulitan menapaki jejak Muhammad Merah, saat berada di Pakistan, sampai akhirnya ia pergi meninggalkan Pakistan menuju Afghanistan

"Segera setelah saya kembali, saya akan menghubungi anda," kata Muhammad kepada  Bernard Squarcini, Kepala DRCI – Intelijen Dalam Negeri Perancis.
Sekembalinya dari Pakistan dan Afghanistan, Muhammad dirawat di sebuah rumah sakit, karena menderita hepatitis. Tetapi, akhirnya Merah duduk dengan peneliti Prancis, membawa USB dengan foto-foto apa yang dia katakan sebagai sebuah perjalanan yang menyenangkan di berbagai wilayah yang ia kunjunginya itu. Tidak menunjukkan bahwa ia telah terlibat dalam sebuah gerakan jihad.

Tapi, peristiwa yang terjadi di sebuah sekolah Yahudi di Toulouse pekan lalu, Merah menceritakan kisah yang sangat berbeda. Sejatinya Muhammad Merah  mendapat latihan militer  oleh Al Qaeda di Waziristan, wilayah kesukuan Pakistan. Di mana kelompok jihadis Eropa pergi ke wilayah itu.
Merah mengatakan ia dilatih oleh instruktur tunggal bukan di kamp.Karena ia hanya bisa menggunakan bahasa Perancis. Menurut Muhammad Merah, selain dirinya, ada militan Perancis lainnya di Waziristan, ujar Squarcini.
Tapi siapa pun yang melatihnya, sangat nampak sekali Merah seorang yang  sangat terlatih? Sehingga dalam menjalankan aksinya, Muhammad berhasil melakukan serangan yang  sangat mematikan, dan menewaskan  tujuh orang, termasuk seorang Rabbi Yahudi
Muhammad Merah, sangat memahami dalam menampilkan dirinya di depan publik, dan berhubungan dengan aparat intelijen, dan dengan penuh siasat, ia dapat  mengelabuhi semua aksi yang akan dijalankannya. Sehingga aparat keamanan Perancis tidak dapat mendeteksi dari awal tindakannya. Itulah kecanggihan Muhammad Merah, ketika menjalankan aksinya.
Muhammad Merah pernah masuk Kairo, di mana saudaranya Abdelkader menetap, serta Turki, Suriah, Libanon, Yordania, Irak dan bahkan Israel.Di mana menurut pejabat Perancis ia sempat ditahan dan dibebaskan, saat ditemukan sebuah pisau dalam pingganggnya oleh polisi Israel.
Para pejabat Israel belum mengkonfirmasi keberadaannya saat di Israel. Semuanya itu merupakan pengelabuhan yang dilakukan terhadap aparat intelijen Perancis.
Para pejabat Prancis mengatakan Muhammad Merah memasuki Afganistan pada musim gugur tahun 2010 melalui perbatasan utara dengan Tajikistan, dan melakukan perjalanan ke selatan ke jantung Taliban di Kandahar.

Saat itulah ia pertama kali muncul di layar monitor intelijen Perancis', menurut Squarcini, yang mengatakan kepada Le Monde bahwa Merah ditahan di suatu daerah saat bepergian dengan sekelompok warga Afghanistan pada November 2010. Ia dipindahkan ke tahanan Amerika dan dengan  memakai pesawat kembali ke Kabul, kemudian kembali ke Prancis pada tanggal 5 Desember 2010.

Pejabat Perancis belum mengungkapkan kepada publik bukti bahwa Merah mempunyai ikatan dengan Al-Qaeda atau kelompok teroris lainnya selama perjalanannya. Pihak intelijen Perancis juga belum mempunyai "bukti dari misi", yang sudah direkam dalam video, yang menampilkan  Merah, sebagai seorang anggota al-Qaidah.
Namun, Richard Barrett, koordinator Komite Sanksi PBB tentang Al-Qaeda dan Taliban, mengatakan kepada CNN ada indikasi bahwa Merah tampaknya memiliki kontak dengan militan di wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan. Dan Le Monde mengutip sumber keamanan yang mengatakan bahwa ia mungkin telah berhubungan dengan Gerakan Islam Uzbekistan.

Apakah mungkin bahwa hanya dalam beberapa minggu di Pakistan Merah bisa menjadi jihadis yang terlatih? Tetapi, Adis Medunjanin, warga negara Amerika keturunan Bosnia yang akan diadili bulan depan, yang dituduh melakukan perencanaan pemboman di  New York pada 2009, hanya menghabiskan satu bulan di Pakistan
Sebuah dokumen yang ditemukan pada operasi di Austria diduga Al-Qaeda di Berlin tahun lalu, dan pemerintah Jerman percaya ditulis oleh seorang tokoh Qaeda, menjelskan bahwa pejuang asing harus dilatih dengan cepat serta dikirim kembali ke negara asal mereka untuk meningkatkan kemampuan kelompok yang  menargetkan Barat sebagai sasaran, ujar Yassin Musharbash, seorang reporter surat kabar Die Zeit Jerman.

Merah dipengaruhi oleh hubungan keluarga. Ibunya menikah dengan Sabri Essid, anggota jaringan Toulouse yang mencoba  merekrut pejuang untuk bergabung Al Qaeda di Irak. Essid dinyatakan bersalah di pengadilan Perancis pada tahun 2009 setelah ditahan di Suriah pada tahun 2006, di mana dia menjalankan misi Al Qaeda dengan aman.
Seorang pejabat senior kontraterorisme Belgia mengatakan kepada CNN bahwa Abdelkader Merah selama penyelidikan pada tahun 2008 oleh polisi Perancis menunjukkan adanya kaitan dengan jaringan jihad Brussels, Belgia yang menjadi basis perekrutan. Jaringan ini mengirimkan militan Belgia dan Perancis melakukan  perjalanan ke Kairo, kemudian bergabung militan di Irak - dan mungkin juga telah menghubungkan Eropa untuk kelompok jihad di wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan.

Meskipun tinggal di Kairo, Abdelkader Merah dikaitkan dengan militan, kata pejabat itu, tetapi penyelidikan tidak menunjukkan kebenaran tuduhan terhadapnya. Penyidik ​​sekarang melihat lebih dekat pada saat Muhammad Merah menghabiskan waktunya  dengan saudaranya di Mesir.
Pada titik tertentu, Merah tampaknya telah mengembangkan jaringani dengan Forsane Alizanne, seorang anggota al Qaeda di Perancis dengan sekelompok pengikutnya di Toulouse. Kelompok ini dilarang pada Januari 2012, kemudian mendorongnya melakukan perjalanan ke Afghanistan.
Menurut sebuah analisis oleh Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi, kelompok ini memiliki  antara 30 dan 100 anggota, dan beberapa ribu pengikut melalui online. Setelah larangan itu, pemimpinnya Mohamed Achamlane memperingatkan "perjuangan bersenjata adalah mungkin", karena masyarakat Perancis lebih memusuhi Islam.

Sambungan Asia Tengah?

Satu-satunya  klaim tanggung jawab atas serangan bersenjata Merah terhadap sekolah Yahudi itu datang dari kelompok  yang baru dibentuk di  Asia Tengah - Jundi al Khilafah (JAK).
"Salah satu pejuang Islam, saudara kita Yusuf al-Firansi (Prancis), kita meminta kepada Allah menerima dia, keluar dalam sebuah operasi yang mengguncang fondasi Zio-Crusaderdom," ungkap sebuah posting online dari  oleh Kelompok Intelijen SITE..

JAK musim gugur yang lalu mengaku bertanggung jawab atas beberapa serangan di seluruh Kazakhstan, termasuk pemboman gagal pada bulan Oktober di Atyrau - sebuah kota minyak di dekat tepi Laut Kaspia.

Zenn percaya adalah sangat mungkin tindakan keras oleh dinas keamanan di Kazakhstan telah mendorong lebih banyak anggotanya ke tempat yang relatif aman dari wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan. Dia mengatakan, ada kemungkinan bahwa Merah ditemui jihadis saat melakukan  perjalanannya melalui Asia Tengah. Namun, JAK tidak dikenal publik ketika Merah berada di wilayah itu.
Jejak JAK di wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan kemungkinan kecil, kata Zenn. "Ada laporan yang tidak lebih dari 30 anggota mereka berada di FATA (wilayah suku Pakistan) dan hal itu memungkinkan mereka terintegrasi dengan kelompok yang lebih besar seperti IMU (Gerakan Islam Uzbekistan)," katanya kepada CNN.
IMU, meskipun tidak langsung bertanggung jawab atas rencana kelompok teroris melawan Barat. Tampaknya mereka membangun hubungan dengan al Qaeda dan Taliban Pakistan dalam beberapa tahun terakhir, menurut pejabat kontra-terorisme Barat. Sejumlah besar militan Jerman telah bergabung dengan mereka, termasuk beberapa yang terlibat dalam satu komplotan al Qaeda  menyerang Eropa pada akhir 2010.

Sejauh yang diketahui, Merah tidak menyinggung kelompok Asia Tengah selama berlangsungnya interogasi dengan pihak berwenang.
Barat hanya sibuk menghadapi pejuang Islam yang mereka sebut sebagai al-Qaidah. Padahal mereka itu, hanya akibat dari kejahatan Barat, yang  melakukan kejahatan terhadap dunia Islam. (af/tm)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar