Rabu, 04 April 2012

UNTUK KOMENTATOR AMALIYAH MUJAHIDIN

Tindakan Emosional dan Balas Dendam Semata

Sebagian pihak menilai, mujahidin adalah anak-anak kemarin sore yang hanya didorong oleh semangat membara, emosi yang tidak terkontrol dan kondisi kejiwaan yang labil. Aksi-aksi mujahidin, hanyalah cerminan dari balas dendam yang tidak difikirkan akibat, untung dan ruginya secara masak-masak.
 
Jawab :
Penilaian ini mungkin benar, apabila persoalan yang dihadapi oleh mujahidin hanya perkara remeh, yang tak layak disebutkan, difikirkan apalagi dihadapi secara serius. Namun bila persoalan yang dihadapi mujahidin adalah persoalan sangat serius, menyangkut agama, nyawa, harta, akal dan kehormatan lebih dari satu milyar kaum muslimin, jelas permasalahannya tidak sesederhana penilaian di atas. Jelas, persoalannya bukan sekedar emosi dan semangat.

Apakah masuk akal :
- seorang muslim yang sehari semalam minimal lima kali menghadapkan hati, wajah dan anggota badannya ke kiblat, rela bila kiblatnya dikencingi dan diberaki oleh seekor babi ? Lantas bagaimana jika kiblat umat Islam dijajah (bukan sekedar dikencingi atau diberaki) oleh 300.000 s/d 500.000 “babi” ? Apakah bila si muslim tenang-tenang saja, tidak mengusir dan tidak marah, dianggap sebagai orang yang bijak, tidak emosional ? Ataukah persoalannya bukan sekedar emosi dan semangat ?

- seorang muslim mengetahui persis seorang pencuri mengambil Rp 10.000 di lemarinya. Akankah ia biarkan saja si pencuri lolos ? Lantas bagaimana bila ia mengetahui, para pencuri telah menguras kekayaannya ? Kekayaan yang nilainya sama dengan 62 % kekayaan minyak bumi dunia ? Jika ia marah, mengusut dan menuntut si pencuri, layakkah ia disebut emosional dan hanya bermodal semangat ? Ataukah ia sedang membela haknya?

- seorang muslim yang berusaha hidup sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan as-sunah, menolak segala bentuk kekafiran, kebid’ahan dan kemungkaran. Jika ia melihat musuh-musuh Islam datang memaksakan ajaran kekafiran (demokrasi, kapitalisme, liberalisme), kemaksiatan dan kebejatan (budaya Barat), salahkah bila emosinya tersulut dan kemarahannya bangkit ? Ataukah ia harus diam, membiarkan, dan bahkan merestui ?

- seorang muslim melihat sekawanan perampok membunuh salah seorang anggota keluarganya. Bila ia berteriak geram atau bahkan melawan, layakkah ia disebut emosional dan hanya bermodal semangat ? Lantas, bagaimana bila ia mengetahui para perampok telah membunuh 2 juta anggota keluarganya, mengusir 7 juta anggota keluarganya dan menzalimi ratusan juta anggota keluarga lainnya ?

Emosi yang meledak-ledak dan tidak bisa dikendalikan adalah sumber dan kunci segala keburukan dan bencana. Namun, kapan hal itu berlaku ? Ketika kemarahan bersumber dari sebab yang tidak dibenarkan oleh syariat, disalurkan melalui tindakan yang tidak dibenarkan oleh syariat, pada saat yang tidakdibenarkan oleh syariat dan mendatangkan dampak negatif yang lebih buruk.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْه أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ.
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam,” Berilah saya wasiat !” Beliau menjawab,” Jangan marah !” Orang itu mengulang-ulangi permintaannya, namun beliau selalu menjawab,” Jangan marah !”


عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ ! دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي اْلجَنَّةَ وَلاَ تُكْثِرْ عَلَيَّ ! قَالَ : لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ.
Abu Darda’ radiyallahu ‘anhu berkata,” Ya Rasulullah ! Tunjukkan kepada saya sebuah amalan yang memasukkan saya ke surga, namun jangan banyak-banyak !” Beliau menjawab,” Jangan marah, maka kau akan masuk surga !”

Menahan kemarahan dan emosi merupakan akhlak yang mulia, Allah dan Rasul-Nya memujinya (QS. Ali Imran :134, Asy Syura :37). Namun, Allah dan Rasul-Nya juga memerintahkan untuk marah dan emosi, dalam beberapa kondisi tertentu. Imam Ibnu Rajab Al-Hambali berkata :

” Maka yang wajib bagi orang beriman, adalah membatasi syahwatnya dalam hal-hal yang diperbolehkan oleh Allah Ta’ala — ia mungkin menikmatinya dengan niat yang baik, sehingga diberi pahala — dan mengarahkan kemarahannya untuk menolak gangguan terhadap dien yang menimpa dirinya atau orang lain, sebagai bentuk pembalasan atas orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah :

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ {14} وَيُذْهِبَ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadapa mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, (14) dan menghilangkan kemarahan (panas, emosi) hati orang-orang mu’min. (QS.Al-Taubah :14-15).

Begitulah sifat Nabi shallalalhu ‘alaihi wa salam. Beliau tidak pernah membalas dendam untuk kepentingan diri sendiri. Namun jika hurumatullah dilanggar, tidak ada yang bisa meredakan kemarahan beliau. Beliau tak pernah sekalipun memukul pembantu atau istri dengan tangan beliau, kecuali dalam jihad.”


عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا *
Aisyah radiyallahu ‘anha berkata,” Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dihadapkan kepada dua pilihan, kecuali beliau akan memilih yang lebih ringan selama bukan sebuah perbuatan dosa. Bila sebuah perbuatan dosa, beliau adalah orang yang paling menjauhinya. Beliau juga tidak pernah membalas untuk diri beliau sendiri, kecuali bila hal yang diagungkan Allah Ta’ala telah dilanggar, maka beliau akan membalas karena Allah Ta’ala.”

Demikianlah, emosi, kemarahan dan balas dendam seorang muslim diatur dan diarahkan oleh Al-Qur’an dan As-sunah. Bila semuanya telah selaras dengan tuntunan wahyu, namanya bukan lagi emosi, kemarahan atau balas dendam. Ia telah menjadi akhlak mahmudah, mengamalkan perintah Allah dan mengikuti as-sunah.

Lantas, apa penyebab kemarahan, emosi dan pembalasan mujahidin ? Kekafiran demokrasi, kapitalisme dan liberalisme yang dipaksakan oleh aliansi pasukan salibis–zionis-paganis-komunis internasional. Jutaan nyawa kaum muslimin yang mereka bunuh, usir dan zalimi. Ribuan kaum muslimin yang dipenjara dan muslimah yang dinodai kehormatannya. Harta dan kekayaan alam kaum muslimin yang diperas dan dimonopoli. Akal kaum muslimin yang dirusak dengan propaganda kekafiran, kebid’ahan dan kemesuman lewat media massa kafir.

Lantas, apakah semua fakta ini sebuah kebaikan ? Ataukah sebuah kejahatan, kezaliman dan pelanggaran terhadap hak Allah, Rasulullah dan kaum beriman ?


وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنْ الْقَتْلِ
“Dan fitnah (kekafiran dan kesyirikan) lebih kejam dari pembunuhan.” QS. Al-Baqarah :191

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنْ الْقَتْلِ
” Dan fitnah (kekafiran dan kesyirikan) lebih besar (dosa dan bahayanya) dari pembunuhan.” QS. Al-Baqarah :217

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
Dari Abdullah bin Amru radiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda,” Hancurnya dunia adalah lebih remeh bagi Allah Ta’ala, daripada terbunuhnya seorang muslim.”

عَنِ الْبَرَاءِ ابْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ
Dari Bara’ bin Azib bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,” Hancurnya dunia adalah lebih remeh bagi Allah Ta’ala, daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar.”

Lantas, bagaimana Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mengarahkan ? Allah Ta’ala mengarahkan dengan puluhan ayat untuk berjihad menyelamatkan akidah dan membela umat manusia yang tertindas. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mengarahkan dalam puluhan hadits untuk bahu membahu, saling menolong, menujukkan solidaritas dan mengubah kemungkaran dengan kemampuan yang ada ; tangan, lisan atau hati.

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.
Nu’man bin Basyir radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,” Perumpamaan kaum muslimin dalam sikap saling mencintai, menyayangi dan membantu yang lemah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh anggota tubuh lainnya ikut merasakan sulit tidur dan demam.”

Di Pasar Madinah, seorang wanita muslimah ditarik jilbabnya oleh seorang Yahudi sehingga nampak auratnya. Seorang pemuda muslim yang melihatnya marah, bangkit dan berkelahi sampai membunuh di Yahudi. Kaum Yahudi tidak terima dan mereka ramai-ramai mengeroyok si pemuda muslim sampai meninggal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam pun menggerakkan kaum muslimin untuk menyerbu kampung Yahudi Bani Qainuqa’. Perang pun terjadi, berawal dari sebuah pelecehan di pasar. Apakah tindakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ini tindakan emosional dan spontanitas tanpa pertimbangan masak-masak ?

Dalam proses perjanjian damai Hudaibiyah, tersiar kabar bahwa Utsman bin Affan radiyallahu ‘anhu yang diutus sebagai duta diplomasi ke Makkah telah dibunuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam segera bereaksi dengan mengambil baiah (sumpah setia) 1400 sahabat untuk berperang sampai mati demi menuntut balas nyawa Utsman. Apakah tindakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam ini juga emosional dan spontanitas tanpa pertimbangan masak-masak ?

Bani Bakar bin Wail —sekutu kaum Quraisy— menyerbu Bani Khuza’ah —sekutu kaum muslimin—, sehingga menimbulkan korban nyawa dan harta benda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam segera bereaksi dengan mengerahkan 10.000 prajurit untuk melakukan serangan ke Makkah. Apakah tindakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam ini juga emosional dan spontanitas tanpa pertimbangan masak-masak ?

Sahabat Abdullah bin Amru bin Ash mengisahkan, suatu hari para pemimpin Quraisy berkumpul di Hijr Ismail dalam Masjidil Haram. Mereka berbincang tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam yang membodoh-bodohkan akal mereka, mencela bapak-bapak mereka, menghujat agama mereka, memecah belah masyarakat dan mencela tuhan-tuhan mereka. Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam masuk ke Masjidil Haram untuk melakukan thawaf. Pada putaran thawaf yang pertama, para pemimpin kaum Quraisy tersebut mengejek beliau. Pada putaran thawaf kedua, kejadian serupa mereka ulangi. Ketika pada putaran thawaf yang ketiga, mereka tetap mengejek, wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam merah padam karena kemarahan. Beliau menghampiri mereka dan mengancam :

سْمَعُونَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَمَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِالذَّبْحِ.
” Dengarkan wahai segenap orang Quraisy ! Demi Allah yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya. Aku benar-benar datang untuk menyembelih kalian !”

Apakah tindakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam —padahal saat itu, kaum muslimin masih sedikit dan tertindas— ini juga emosional dan spontanitas tanpa pertimbangan masak-masak ?

Emosi dan kemarahan adalah sifat pembawaan manusia, untuk mengarahkan kepada kebaikan, ia harus diatur dengan tuntunan wahyu. Dan parameter untuk mengukur emosi, kemarahan, kebijaksanaan, dan kehati-hatian bukan perasaan atau komentar orang lain, melainkan Al-Qur’an dan Al-Sunah.

Kondisi yang menimpa umat Islam saat ini jelas merupakan kemungkaran yang menuntut kaum muslimin untuk merubahnya dengan segala cara yang memungkinkan dan dibenarkan oleh syariat ; dengan tangan, lisan maupun hati. Namun yang mengherankan dan menyedihkan, ketika sebagian umat Islam (baca : para pemuda ingusan, anak kemarin sore yang emosional dan tergesa-gesa) berusaha merubah kemungkaran ini dengan tangan, justru para tokoh umat Islam (terlebih kaum awam umat Islam) mencela dan mengutuk mereka.

Anehnya, mereka tidak merubah kemungkaran yang ada ini dengan lisan mereka. Lisan mereka justru sibuk “menguliti” para pemuda “emosional”. Jika hati mereka membenci kemungkaran yang ada, kenapa bukti fisik mereka (ucapan lisan) justru menghujat orang-orang yang berusaha merubah kemungkaran ? Bukankah fisik merupakan cerminan isi hati ?
 
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata :

(وَأَيُّ دِيْنٍ ، وَأَيُّ خَيْرٍ ، فِيْمَنْ يَرَى محَاَرِمَ اللهِ تُنْتَهَكُ ، وَحُدُودَهُ تُضَاعُ ، وَدِيْنَهُ يُتْرَكُ ، وَسُنَةَ رَسُولِ اللهِ يُرْغَبُ عَنْهَا ، وَهُوَ بَارِدُ الْقَلْبِ ، سَاكِتُ اللَّسَانِ ، شَيْطَانٌ أَخْرَسُ , كَمَا أَنَّ الْمُتَكَلِّمَ بِالْبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ ؟! , وَهَلْ بَلِيَّةُ الدِّينِ إِلاَّ مِنْ هَؤُلاَءِ الَّذِينَ إِذَا سَلِمَتْ لَهُمْ مَآكِلُهُمْ وَرِيَاسَاتُهُمْ فَلاَ مُبَالاَةَ بِمَا جَرَى عَلَى الدِّينِ ؟ , وَخِيَارُهُمُ اْلمُتَحَزِّنُ اْلمُتَلَمِّظُ , وَلَوْ نُوزِعَ فِي بَعْضِ مَا فِيهِ غَضَاضَةٌ عَلَيهِ فِي جَاهِهِ أَوْ مَالِهِ بَذَلَ وَتَبَذَّلَ ، وَجَدَّ وَاجْتَهَدَ , وَاسْتَعْمَلَ مَرَاتِبَ اْلإِنْكَارِ الثَّلاَثَةَ بِحَسْبِ وُسْعِهِ ، وَهَؤُلاَءِ – مَعَ سُقُوطِهِمْ مِنْ عَيْنِ اللهِ وَمَقْتِ اللهِ لَهُمْ – قَدْ بُلُّوا فِي الدُّنْيَا بِأَعْظَمِ بَلِيَّةٍ تَكُونُ وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ , وَهُوَ مَوْتُ اْلقُلُوبِ ; فَإِنَّهُ الْقَلْبُ كُلَّمَا كَانَتْ حَيَاتُهُ أَتَمَّ كَانَ غَضَبُهُ ِللهِ وَرَسُولِهِ أَقْوَى , وَانْتِصَارُهُ لِلدِّينِ أَكْمَلَ) .

” Dien macam apa, dan kebaikan macam apa, yang tersisa pada diri seseorang yang melihat hal-hal yang diagungkan Allah dinodai, aturan-aturan Allah ditelantarkan, agama Allah ditinggalkan dan sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam dibenci, sementara hatinya dingin saja, lisannya diam saja ? Sungguh, ia tak lain adalah setan bisu, sebagaimana orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara. Bukankah bencana yang menimpa agama ini hanya berasal dari orang-orang semisal mereka ; orang-orang yang tak mempedulikan apapun yang terjadi dengan agama, selama urusan makan dan kedudukannya selamat ? Orang yang paling baik di kalangan mereka, adalah orang yang sok sedih dan murung. Padahal, jika harga diri atau hartanya diganggu sedikit saja, ia akan mengerahkan segenap kemampuan, bersunggguh-sungguh dan menggunakan ketiga bentuk merubah kemungkaran sesuai kemampuannya. Mereka itu —selain telah jatuh harga dirinya di mata Allah dan Allah memurkai mereka — telah ditimpa dengan musibah terbesar di dunia ini, namun mereka tdak menyadarinya. Itulah bencana matinya hati. Sesungguhnya semakin sempurna kehidupan hati seorang manusia, rasa marahnya karena Allah dan Rasul-Nya akan semakin besar, dan pembelaannya kepada agama akan semakin sempurna.”

Syaikh Abdul-Lathif bin Abdur-Rahman Alu Syaikh (1293 H) berkata ;
( وَأَكْثَرُهُمْ يَرَى السُّكُوتَ عَنْ كَشْفِ اللُّبْسِ فِي هَذِهِ اْلمَسْأَلَةِ ، الَّتِي اغْتَرَّ بِهَا اْلجَاهِلُونَ ، وَضَلَّ بِهَا ْالأَكْثَرُونَ ، وَطَرِيقَةُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَعُلَمَاءِ اْلأُمَّةِ تُخَالِفُ مَا اسْتَحَلَّهُ هَذَا الصِّنْفُ مِنَ السُّكُوتِ ، وَاْلإِعْرَاضِ فِي هَذِهِ اْلفِتْنَةِ الْعَظِيمَةِ ، وَإِعْمَالِ أَلْسِنَتِهِمْ فِي اْلاِعْتِرَاضِ عَلَى مَنْ غَارَ ِللهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِدِينِهِ . فَلْيَكُنْ مِنْكَ يَا أَخِي طَرِيقَةٌ شَرْعِيَّةٌ ، وَسِيرَةٌ مَرْضِيَّةٌ ، ِفي رَدِّ مَا وَرَدَ مِنَ الشُّبَهِ ، وَكَشْفِ اللُّبْسِ ، وَالتَّحْذِيرِ مِنْ فِتْنَةِ اْلعَسَاكِرِ ، وَالنُّصْحِ ِللهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَِلأَئِمَّةِ اْلمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ ، وَهَذَا لاَ يَحْصُلُ مَعَ السُّكُوتِ ، وَتَسْلِيكِ الْحَالِ عَلَى أَيِّ حَالٍ ، فَاْغتَنِمِ اْلفُرْصَةَ ، وَأَكْثِرْ مِنَ اْلقَوْلِ فِي ذَلِكَ ، وَاغْتَنِمْ أَيَّامَ حَيَاتِكَ ، فَعَسَى اللهُ أَنْ يَحْشُرَنَا وَإِيَّاكَ فِي زُمْرَةِ عَسَاكِرِ السُّنَّةِ وَاْلقُرْآنِ ، وَالسَّابِقِينَ اْلأَوَّلِينَ ، مِنْ أَهْلِ الصِّدْقِ وَاْلإِيمَانِ) .

” Sebagian besar mereka memilih diam, tidak menyingkap kesamaran dalam permasalahan ini, sebuah permasalahan di mana banyak orang bodoh tertipu dan sebagian besar masyarakat tersesat. Padahal, metode Al-Qur’an, As-Sunah dan para ulama umat ini menyelisihi tindakan yang dihalalkan oleh orang-orang ini ; diam tidak menerangkan kemungkaran, berpaling dari fitnah yang besar ini dan justru menggunakan lisan mereka untuk menentang orang-orang yang bangkit emosinya (ghirah) demi membela Allah, kitab-Nya dan agama-Nya ?

Hendaklah engkau —wahai saudaraku— mengikuti metode syar’i dan jalan hidup yang diridhai, dengan membantah syubhat-syubhat yang ada, menyingkap tabir kesamaran, memperingatkan untuk mewaspadai fitnah pasukan musuh, dan bersikap tulus kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. Dan hal itu ini tidak akan tercapai dengan diam atau ikut-ikutan (mengalir) bersama kondisi yang ada. Maka pergunakanlah kesempatan yang ada, banyaklah menerangkan hal ini, pergunakan sisa-sisa hari-harimu. Semoga Allah mengumpulkan kita dan anda bersama barisan tentara Al-Sunah dan Al-Qur’an, ahlu shidqi wal iman dari kalangan as-sabiqunal awwalun.”
 
Wallahu A’lam bish Shawab.

Diambil dari buku :

Sulaiman Ibnu Walid Damanhuri
Menabur Jihad Menuai Teror :
Apa dan Mengapa Bom Kuta, Mariot, Kuningan dan Jimbaran
Bab 4 Hal 452

Catatan Farrel Arsenio

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar