Senin, 04 Juni 2012

Hukum Bekerjasama Dengan Agen Rahasia




Hukum Bekerjasama Dengan Agen Rahasia

Pertanyaan: Bagaimana penilaian Islam terhadap seorang Muslim yang bekerjasama dengan agen-agen rahasia, seperti ISI, M15, CIA, FBI, dan sebagainya?

Jawab : Segalala puji bagi Allah, semoga rahmatNya dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan sahabat-sahabatnya serta mereka yang loyal kepada beliau.

Menggunakan jasa agen rahasia untuk melawan kaum Muslimin atau bekerja sama dengan organisasi sejenis hukumnya haram menurut hukum syariat Islam.

Salah satu bencana yang dihadapi kaum Muslimin di seluruh dunia saat ini adalah bahwa di negeri mereka sendiri terdapat kepemimpinan kufur yang mengatur dan menguasai seluruh aset atau kekayaan kaum Muslimin tanpa ijin.

Kekuasaan atau rezim ini menguasai dengan cara melakukan agresi, penyerangan dan hal tersebut sangat bertentangan dengan hukum Islam dan sifat pemerintahan Islam. Bentuk pemerintahan seperti ini lebih banyak melakukan penindasan daripada mengurusi kepentingan rakyatnya.

Negara seperti ini menjadi negara militer. Mereka sengaja membentuk agen-agen rahasia yang tugasnya khusus untuk memantau, memata-matai kehidupan kaum Muslimin.

Agen-agen rahasia tersebut sengaja dipersenjatai lengkap dalam memata-matai, melacak, bahkan menghukum dan menyiksa kaum Muslimin. Mereka bahkan memastikan bahwa posisinya dalam pmrintahan hanya diberikan kepada siapa saja yang mendukung rezim lalim tersebut. Dengan begitu pemerinthan tersebut hanya terdiri dari orang-orang yang korup.

Hal ini sebagaimana yang pernah diramalkan oleh Rasulullah SAW:

"Pemimpin yang paling buruk adalah pemimpin yang kamu benci dan yang membencimu dan yang kamu kutuk dan yang mengutukmu" (HR. Muslim)

Tugas agen rahasia ini adalah mengintai dan membuntuti kaum Muslimin, dan semua itu adalah perbuatan mematai-matai dimana dalam Islam hal tersebut diharamkan. Islam juga melarang kaum Muslimin untuk memata-matai kaum Muslim yang lain ataupun memata-matai non-Muslim. Karena Al Qur’an menyebutkan:
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sungguh prasangka itu dosa. dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah kamu mempergunjingkan sebagia yang lain." (QS.Al-Hujurat (49) :12)

Dalam ayat ini Allah SWT., melarang seorang Muslim untuk mencurigai, memata-matai, atau bahkan menjelek-jelekkan Muslim yang lain. Larangan ini bersifat umum dan meliputi selurrh kegiatan memata-matai siapa pun. Dikisahkan dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim dan dikisahkan melalui riwayat dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Waspadalah terhadap perbuatan prasangka karena itu adalah seburuk-buruk perbuatan. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, jangan saling mencurigai dan jangan melakukan “Najash” (tajasus, atau mata-mata), jangan saling iri, jangan saling menyakiti dan jauhi diri dari perbuatan tidak saling tegur sapa. Hai para hamba Allah, bersatulah"

Ayat dan hadits di atas adalah bukti yang valid dan asli bahwa segala bentuk perbuatan mencurigai, memata-matai adalah perbuatan yang diharamkan. Dikisahkan oleh hadits riwayat Muslim, diriwayatkan oleh Abu Hurayrah ra., , Ahmad ra., riwayat Abu Barzah Al-Islami ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memfitnah, janganlah mencampuri urusan orang lain ; siapa pun yang berbuat demikian maka  Allah akan menghukumnya atas segala kesalahan dan Allah akan mengabaikan segala urusannya"

Oleh Karena itu, secara khusus Islam menyebutkan bahwa memata-matai seseorang ataupun dia bekerjasama dalam memata-matai orang lain, maka keduanya adalah haram. Dikisahkan oleh Abu Dawud dan Imam Ahmad, diriwayatkan Al-Miswar bin Makhrama, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang makan dari hasil membuka rahasia seorang Muslim, maka Allah akan meletakkan api  neraka ke dalam mulutnya di neraka jahanam ; dan barang siapa yang merahasiakan rahasia seorang Muslim, maka Allah akan melindunginya dari api neraka"

Islam juga melarang perbuatan memata-matai atau melihat ke dalam rumah orang lain, sebagaimana sebuah riwayat hadits Muslim melalui jalur sahabat Abu Hurayrah ra., :
"Jika seseorang melihat ke dalam rumah mu tanpa ada ijin maka lemparkanlah batu sampai ia buta, dan tidak ada dosa dan denda atas perbuatan itu"

Juga dikisahkan dalam hadits Shahihain, Bukhari dan Muslim, yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa'id ra., bahwa seorang laki-laki melihat ke dalam kamar Rasulullah melalui lubang dan Rasulullah mempunyai anak panah yang tajam dan kecil kemudian beliau menggores kepala orang tersebut. Rasulullah berkata padanya: "Jika aku tahu bahwa kamu memata-matai aku maka aku akan menusuk matamu melalaui lubang itu. Minta ijinlah ijin untuk masuk ke rumah orang lain, maka kamu juga diijinkan untuk melihat ke dalam rumah orang tersebut"

Seorang Muslim juga dilarang memata-matai seorang Muslim yang lainnya, juga dilarang memata-matai non-muslim yang hidup di negara Islam (negara yang tidak kita miliki saat ini) karena mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama layaknya dengan umat Muslim yang lain, dan juga kesejahteraan dan keamanan mereka juga dijamin. Rasulullah bersabda:

"Barang siapa yang menyakiti kafir Dhimmi, maka ia juga menyakiti aku (yaitu Rasulullah)"

Juga dikisahkan oleh Abu Dawuud, bahwa Rasulullah bersabda:

"Barang siapa menyerang seseorang yang mempunyai perjanjian dengan Negara maka ia berada di bawah tanggung jawab ku maka ia akan berhadapan dengan ku di hari kiamat"

Maka dari itu bekerja sama dengan agen rahasia adalah sebuah dosa besar.

Kesimpulannya, seorang Muslim dilarang untuk memata-matai Muslim dan non-Muslim, dan perbuatan itu adalah perbuatan dosa. Ayat maupun hadits tentang larangan perbuatan memata-matai bersifat umum dan tidak bersyarat. Namun, ada pengecualian perbuatan tersebut, yakni apabila memata-matai kafir harbi (kafir yang diperangi)
Hal ini dibuktikan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari sahabat Ali bin Abi Thalib kwh, bhw Rasulullah memerintahkan Abdullah bin Jash, bersama delapan orang dari kaum Muhajirin ke daerah Nakhlah yang berlokasi antara Mekkah dan Thaif untuk memata-matai kaum kafir Quraish, yang merupakan musuk kaum Muslimin pada waktu itu.

Maka dari itu, seorang Muslim dilarang utk mencurigai, memata-matai, entah itu dilakukan perorangan ataupun itu dijadikan sebagai pekerjaan untuk memata-matai Muslim maupun non-Muslim.

Islam melarang seorang Muslim untuk bekerja pada agen rahasia seperti, ISI , CIA, FBI, MI5, MI6 ataupun agen-agen rahasia negara manapun (dimana hal tersebut bertentangan dengan Islam).

Seorang Muslim yang bekerja sebagai mata-mata, maka ia adalah orang yang tidak dapat dipercaya dan kaum Muslimin yang lain harus menjauh darinya dan tidak usah bekerja sama dengannya, karena barang siapa yang bekerjasama dengannya maka ia berdosa.

Allah SWT berfirman:

“Bekerjasamalah dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah bekerja sama dalam keburukan dan permusuhan" (QS.5:2)

Sheikh Abu Muhammad Al-Shami

Sumber : The Islamist.net

Diterjemahkan oleh : Tim Muslimah S4i
 
source : http://www.al-mustaqbal.net/berita-view-264.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar