Minggu, 17 Juni 2012

Khabar Muslim Rohingya


Muslim Rohingya di Maungdaw dilarang sholat Jum'at

MAUNGDAW  - Ketegangan di negara bagian Rakhine atau Arakan di Myanmar (Burma) masih terasa. Hari ini, Jum'at (15/6/2012) otoritas kota Maungdaw telah mengelurkan perintah larangan sholat Jum'at bagi Muslim Rohingya.
Hal tersebut dilansir oleh Kaladan Press bahwa otoritas kota dan distrik di Maungdaw telah mengeluarkan perintah untuk Muslim Rohingya untuk tidak melakukan sholat Jum'at di kota itu.
Maungdaw adalah salah satu daerah di mana kaum Muslimin Rohingya medapatkan serangan-serangan dari etnis Buddha Arakan. Selain pembakaran dan penjarahan, pada hari Kamis (14/6) dilaporkan bahwa 10 Muslimah di Maungdaw diperkosa oleh tentara setempat.
Berada dalam krisis
Selain itu, lebih dari 50.00 Muslim Rohingya sedang mengalami krisis pangan dan tempat tinggal. Mereka membutuhkan air, makanan, obat-obatan dan rumah bagi mereka yang rumahnya dibakar. Hujan deras turun di daerah Maungdaw dan Akyab, Muslim yang tak punya tempat tinggal tidak memiliki tempat untuk berlindung. Sehingga dikhawatirkan kondisi kesehatan mereka akan terancam.
Hingga kini mereka masih dalam ketakutan akan kekerasan yang menargetkan mereka. Sebagian mereka telah dipindahkan ke tempat yang lebih aman -meskipun masih terlantar-  dan sebagian lain berusaha menyeberang perbatasan kota dengan perahu menuju Bangladesh. (siraaj/arrahmah.com)

Biadab, tentara Burma perkosa 10 Muslimah Rohingya

MAUNGDAW  - Hamida (18), putri dari Rahim Ullah, Rahena (19), putri dari Momina dan enam Muslimah Rohingya lainnya yang berasal dari desa Baggona, serta Hasina (18) dan Hamida (16) putri dari Baser dan Nur Kaida (17) putri dari Habi Rahaman dari Nurullah Para telah menjadi korban pemerkosaan oleh tentara musyrik Burma, Kamis (14/6/2012), lapor Kaladan News.
Selain itu, tentara juga menjarah harta penduduk Rohingya terutama uang, emas dan perak dari berbagai desa.
Di sisi lain, militer memaksa penduduk desa di Maungdaw selatan memberikan dana sekitar 50.000 kyat.  Mereka mengancam akan membunuh warga jika tidak mengikuti perintah.
Seorang warga dari desa Natala, Saw Maung (seorang Rakhine) dilaporkan memandu sebuah operasi menargetkan Rohingya di desa Nurullah Para.
Belasan jenazah terlihat di Maungdaw
12 kantong mayat terlihat di bawah jembatan yang menghubungkan sejumlah bangsal, bangsal 5 dan 3 di Maungdaw.
Potongan kaki terlihat mengapung di atas air.  Ketika penduduk dari bangsal 5 mencoba mengambilnya dari air, polisi tiba di lokasi dan mencegah mereka.  Tidak ada seorang pun diizinkan untuk memasuki lokasi.
Dalam peristiwa lain, seorang siswa sekolah agama, Mammon Rashid (18), putra dari Abu Siddique, ditembak oleh militer ketika ia melarikan diri menuju sebuah sekolah saat ia melihat militer bergerak mendekatinya dan ia terluka di kaki. (haninmazaya/arrahmah.com)

Situasi cukup stabil di Akyab, namun krisis makanan masih melanda Muslim Rohingya

AKYAB - Hari ini, (16/6/2012), Alhamdulillah situasi di Akyab (Sittwe), ibukota negara bagian Rakhine, Myanmar (Burma) cukup stabil setelah pasukan keamanan dikerahkan ke daerah itu. Namun krisis pangan masih diderita oleh Muslim Rohingya di desa-desa sejak kekerasan meletus di Akyab, berdasarkan laporan seorang pedagang dari Akyab, dilansir Kaladan Press.
Lebih dari 50.000 Muslim Rohingya kehilangan rumah mereka di Akyab setelah etnis Buddha Arakan (Rakhine) dan polisi pro etnis Arakan membakar rumah-rumah mereka.
Orang-orang Rakhine tidak menjual makanan kepada orang Rohingya di Akyab menyebabkan kekurangan makanan akut bagi Muslim Rohingya dan hujan deras yang turun membuat khawatir kesehatan mereka akan memburuk karena mereka sudah tak memiliki tempat tinggal sejak rumah mereka dibakar habis.
Sabtu ini, dilaporkan bahwa orang-orang Rohingya yang tak memiliki rumah lagi diberikan beras oleh otoritas lokal. Mereka menerima  ¼  kg per kepala keluarga per hari, dari sumbangan para pebisnis dari Rangoon, baik dari kalangan Muslim maupun kalangan Buddha.
Sementara itu, seorang tetua desa di Akyab mengatakan bahwa 30 orang Myanmar Gri (Borwa) dan Hindu ditangkap oleh tentara di kota pelabuhan Akyab ketika hendak membakar lagi rumah-rumah Muslim Rohingya di desa-desa di kota itu.
Delegasi dari PBB yang diharapkan akan membantu, kembali pulang setelah melihat salah satu daerah yang terkena kekerasan. Pada (13/6) Vjay Nambian, penasehat khusus ketua PBB Ban Ki Moon di Burma bersama dengan para menteri urusan perbatasan Burma Gen Thein Htay dan 15 pemimpin Muslim dari Rangoon mengunjungi Akyab dengan menggunakan helikopter, mereka hanya diizinkan untuk melihat daerah Nazir Para pada saat itu yang hanya setengah terbakar. Setelah melihat Nazir Para, mereka diterbangkan ke Rangoon dengan dalih ketidakamanan di Akyab. (siraaj/arrahmah.com)

Bangladesh mengusir perahu pengungsi Muslim Rohingya

DHAKA  - Krisis pangan dan tempat tinggal kian menambah penderitaan Muslim Rohingya. Mereka yang masih mampu melakukan perjalanan berusaha untuk mencari tempat hidup yang lebih aman dan lebih baik ke negara-negara tetangga terdekat, berharap mereka bisa diterima dengan baik.
Salah satu negara paling dekat bagi Muslim Rohingya di Rakhine atau Arakan adalah Bangladesh. Karena itu ribuan Muslim berusaha menyeberang lautan dengan perahu ke negara Bengali itu. Namun tak disangka, pihak keamanan Bangladesh pada hari Selasa (12/6/2012) telah mengusir tiga perahu yang membawa sekitar 1.000 Muslim Rohingya yang melarikan diri dari tempat tinggal mereka. Pejabat setempat mengatakan bahwa 1.500 pengungsi Rohingya telah diblokir alias diusir dalam beberapa hari terakhir.
"Mereka telah diusir," kata pejabat polisi Bangladesh Jahangir Alam kepada AP dari pulau Saint Martins di teluk Bengal setelah tiga perahu berupaya untuk mendekati pantai pulau itu. "Kami tetap menjaga mata kami terbuka, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat masuk Bangladesh secara ilegal," tambahnya.
Ratusan Muslim Myanmar yang mayoritas dari etnis Rohingya telah gugur akibat serangan etnis Buddha Arakan. Ribuan dari dari mereka terpaksa mengungsi karena rumah-rumah mereka di desa tempat mereka tinggal dibakar secara sengaja, dan ketakutan akan serangan lanjutan dari etnis Arakan. (siraaj/arrahmah.com


Krisis pangan menambah penderitaan Muslim di Myanmar

MYANMAR  - Belum kering air mata akibat serangan brutal dari etnis Buddha Arakan atau Rakhine, belum sembuh luka yang mereka derita, Muslim minoritas di Myanmar bertambah menderita akibat krisis pangan melanda.
Krisis kemanusiaan sedang terjadi di barat Myanmar, ribuan Muslim kekurangan pangan menyusul serangan-serangan mematikan dari penganut Buddha etnis Rakhine.
"Ada sekitar 20.000 pengungsi di Sittwe. Kebanyakan dari mereka berasal dari desa-desa dimana orang-orang dalam ketakutan kekerasan," kata senator daerah Rakhine Aung Myat Kyaw kepada Reuters pada Kamis (14/6/2012).
"Mereka membutuhkan makanan dan dikarenakan hujan deras, ada kekhawatiran tentang kesehatan parapengungsi dan apakah mereka memiliki tempat tinggal yang cukup," tambahnya.
Ratusan Muslim telah gugur (syahid Insya Allah) dan terluka akibat serangan dari etnis Buddha Arakan, ribuan rumah mereka telah dibakar sehingga mereka yang selamat harus mengungsi dan juga karena ketakutan akan serangan selanjutnya yang menargetkan mereka.
Dalam situasi demikian parah, ironisnya PBB dan sebuah grup bantuan medis mengatakan bahwa pekan ini mereka menarik staf mereka keluar dari daerah tersebut karena kerusuhan.
Delegasi khusus PBB untuk Myanmar, Vijar Nambiar, mengunjungi daerah itu pada hari Rabu (13/6).
Masyarakat internasional, terkhusus kaum Muslimin, mulai bangkit kesadarannya atas kondisi Muslim di Myanmar setelah tragedi mengejutkan, serangan terhadap bis yang membawa kaum Muslimin, beberapa disinyalir adalah para Da'i, oleh warga etnis Buddha Arakan yang menewaskan 10 Muslim. Kemudian serangankaian serangan terus berlanjut terhadap Muslim minoritas di daerah tersebut. Belum lagi baru-baru ini dilaporkan 10 Muslimah yang diperkosa oleh tentara Myanmar (Burma).
Kaum Muslimin dalam bahaya
Meskipun terdengar kabar bahwa kekerasan telah mereda, namun hal itu mungkin tetap membuat kaum Muslimin takut untuk kembali ke tempat tinggal mereka. Mereka masih dalam bahaya. 
"Mereka khawatir atas hidup mereka," kata Shwe Maung, seorang Muslim yang memimpin Persatuan Solidaritas dan Partai Pembangunan, kepada Reuters.
"Masih banyak warga Rohingya di dalam pusat kota Sittwe dan mereka takut diserang."
Etnis Buddha Arakan menganggap kaum Muslimin Rohingya adalah 'teroris penjajah' atau 'imigran ilegal teroris', mereka tidak ingin Muslim tinggal di dekat mereka dan menanggap berkumpulnya etnis Muslim Rohingya bermaksud untuk menyerang etnis Rakhine. Dan etnis Rakhine sendiri mengakui telah membakar rumah-rumah Muslim Rohingya, "kami membakar rumah-rumah Rohingya karena mereka tinggal di dekat desa kami dan mereka berkumpul pada malam hari dan berusaha menyerang kami," kata pria etnis Rakhine kepada Reuters pada (11/6).
Sempat ada laporan bahwa pasukan keamanan setempat membantu menghancurkan rumah-rumah Muslim. "Pasukan keamanan membantu mereka menghancurkan rumah-rumah Muslim," kata seorang pria, seorang pensiunan pejabat pemerintah yang juga tidak mau disebutkan namanya, melalui telepon dari rumahnya di dekat bandara Sittwe.
Muslim tercatat hanya lima persen dari lebih 53 juta penduduk Myanmar. Kelompok terbesar Muslim Myanmar adalah dari minoritas etnis-Bengali, umumnya dikenal sebagai Rohingya, terutama yang tinggal di negara bagian barat Rakhine, dimana mayoritasnya adalah penganut Buddha dari etnis Rakhine. Muslim di Rakhine, adalah salah satu minoritas di dunia yang paling teraniaya. (siraaj/arrahmah.com)

Pembakaran dan penjarahan terjadi lagi di Maungdaw

MAUNGDAW  - Para personel Nasaka (polisi keamanan perbatasan Burma) dan Hluntin mengepung desa warga Rohingya, Sawmawna Para di dekat Myothu Gyi di Maungdaw dengan dalih mencari senjata yang disembunyikan di desa itu, pada Sabtu (16/6/2012) pagi. 
Desa tersebut dibakar oleh polisi, Hluntin dan etnis Rakhine. Beberapa rumah dibakar hingga menjadi abu dan rumah-rumah yang tersisa dituduh menyembunyikan senjata, sementara dilaporkan tidak ada pria di desa itu. Hanya ada perempuan yang melindungi rumah mereka dari penjarahan, lapor Kaladan Press.
Sementara di desa Apukwa di kota Kyauk Taw sekitar 20 rumah dibakar oleh ekstrimis Rakhine pada Jum'at (15/6) pagi. Pasukan keamanan mendatangi desa itu dan berusaha memadamkan api. Tidak ada informasi korban akibat insiden tersebut. Tentara juga dikerahkan ke desa-desa Rohingya di selatan dan utara Kyauk Taw.
Selain itu para personel Nasaka dari kamp 16 Shwezar, Maungdaw memangil warga Rohingya berdasarkan daftar keluarga mereka dan kemudian merampas perkakas dapur dari rumah-rumah warga Rohingya pada Sabtu (16/6) pagi. Di tempat lain di Banga para di desa Zawmatat, etnis Rakhine beserta Hluntin dan polisi juga menjarah harta milik warga Rohingya, merampas makanann seperti beras dan makanan-makanan lainnya dari rumah Rashid Ahmad pada hari yang sama. (siraaj/arrahmah.com)

Allohumansur MUSLIMINA WA MUJAHIDINA FI ROHINGYA/ARAKAN......!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar