Sabtu, 09 Juni 2012

Sikap Taliban Terhadap Gugurnya Pemimpin Jihad dan Semangat Uhud


Sikap Taliban Terhadap Gugurnya Pemimpin Jihad dan Semangat Uhud

Sikap Taliban Terhadap Gugurnya Pemimpin Jihad dan Semangat Uhud
يا ايها النبي حرض المؤمنين على القتال
“Wahai Nabi, kobarkanlah semangat kaum mukminin untuk berperang” (Q.S Al-Anfal:65)


Oleh Abu Asybal Usamah
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Yang mengatur siang dan malam, Membagi rezki diantara makhluk-Nya, Yang Maha Adil lagi Maha bijaksana. Aku bersaksi tiada Ilah melainkan Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Utusan-Nya yang telah menunaikan amanah, menyampaikan risalah, menasehati ummat dan berjihad di jalan Rabb-Nya dengan sebenar-benarnya jihad serta meninggalkan ummatnya diatas manhaj yang terangbenderang, tidak ada seorangpun yang menyimpang darinya kecuali akan binasa. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan keharibaan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat dan orang-orang yang masih istiqomah di atas manhaj beliau.
Allah memerintahkan Nabi, dalam surah Al-Anfal ayat 65, agar mengobarkan semangat para sahabat untuk berperang fi sabilillah demi membela Islam dan muslimin. Pada saat perang Badr, ketika pasukan musyrikin mendekati barisan kaum muslimin, Rasulullah berseru:”Berdirilah kalian (untuk menyemabut perang) menuju surga yang luasnya antara langit dan bumi”. Umair bin Al-Hammam berdiri:”luasnya anatara langit dan bumi!”. Beliau bersabda:”ya”. Umair berkata:”Ckckck”. Beliau bertanya:” apa yang membuatmu sampai berkata “Ckckckck”? Ia menjawab:”Mudah-mudahan saya menjadi penguninya”. Rasulullah menjawab:”Kamu termasuk penghuninya”.
Kemudian Umair memecahkan sarung pedangnya dan mengeluarkan beberapa buah kurma. Ia memakan berapa buah darinya dan membuang kurma yang tersisa seraya berkata:”Jika aku masih hidup dan memakan kurma itu berarti itu adalah kehidupan yang panjang”. Kemudian ia maju ke medan perang dan gugur sebagai syahid.
Lantas apa maksud dari kisah dan judul yang akan kita bahas. Sesungguhnya itu sangat berkaitan erat mengingat kita diperintahkan untuk mengobarkan semangat jihad fi sabilillah dan memenuhi seruan jihad.
Menghindari Tersebarnya berita yang Melemahkan Kaum Muslimin dan Mengubahnya Menjadi Gelora Juang Yang Berkobar-Kobar

Ada penggalan kisah di perang Uhud yang memberikan pesan agar kita menghindari “desas-desus” berita yang bisa melemahkan kaum muslimin lalu kita menyikapinya dengan “pas” meskipun berita tersebut masih belum jelas kepastiannya. Kisah tersebut memberikan pesan berarti dan terlihat jelas pada sikap Taliban.
Pada saat kaum muslimin mengalami keguncangan di  medan Uhud muncul teriakan “Muhammad telah terbunuh”. Teriakan tersebut dalam riwayat disinyalir bersumber dari Syaithan atau jin yang berperawakan sejengkal, dia disebut izib.
Saat mendengar teriakan terebut kaum muslimin langsung lemah dan patah semangat yang hampir mengantarkan kaum muslimin pada  kebinasaan. Namun hal tersebut langsung disikapi oleh seorang sahabat bernama Anas bin An-Nadhr dengan hal yang berbeda. Dia tidak menafikan kabar tersebut  agar menenagkan para sahabat dan juga tidak membenarkan kabar tersebut karena belum diketahui kepastiannya.
Namun apa yang dilakukan oleh sahabat Anas? Ia berseru:”Apa yang kalian tunggu, mereka bilang kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah meninggal. Apa yang kalian perbuat setelah sepeninggalnya? Maka matilah kalian diatas sesuatu yang beliau gugur diatasnya (yaitu dijalan jihad)”. Kalimat ini tidak membenarkan gugurnya beliau karena disitu dia mengatakan “mereka bilang” dan juga tidak menafikan karena setelahnya ada kalimat yang “seolah-olah” menerima omongan tersebut. Namun kalimat ini menghancurkan dinding-dinding kegelisahan dan keputusharapan.
Korelasi Sikap Taliban dan Semangat Uhud
Begitu juga dengan Taliban. Saat gencar-gencarnya media memberitakan serangan di Abottabat yang mengakibatkan gugurnya Komandan Tertinggi Al-Qaidah , Syaikh Usamah bin Ladin -Taqabbalahullah- , maka Zabihullah selaku Jubir Imarah Islam Afghanistan, segera menampik kabar tersebt dan mengatakan bahwa Syaikh Usamah masih hidup lagi diberi Rezki. Namun beliau menyetir ayat “Janganlah kalian menganggap orang yang terbunuh dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Rabb mereka lagi mendapatkan Rezki”. Beliau tidak menafikan dan juga tidak membenarkan. Hanya saja media sekulerlah yang mengatakan bahwa Taliban menafikan. Padahal sesungguhnya pesan tersebut lain.
Secara kejiwaan, ketika seorang komandan gugur, maka prajurit akan kelabakan karena kehilangan figure yang mengatur strategi perang dan fase-fase penetrasinya. Apalagi sosoknya sudah melekat dalam jiwa prajuritnya. Maka berita yang dihembuskan tentang kematiannya akan memberikan kontribusi untuk membuyarkan semangat prajurit tersebut.
Forum-forum diskusi pun memberikan sumbangsih dalam menyikapi hal tersebut. Mereka sadar bahwa mereka harus menyusul komandanya ketika mereka ditinggal pergi. Karena kehidupan sebenarnya telah didapatkan oleh sang komandan. Maka tunggu apalagi, rapatkan barisan kuatkan azam dan maju ke medan untuk menyambut kehidupan hakiki. Karena gugur sebagai syuhada adalah dambaan seorang mukmin. Inilah semangat yang dapat kita ambil dari sikap Taliban dan penggalan periastiwa Uhud.
Wallahu Ghalibun ‘ala amrihi walakinna aktsrannasi la ya’lamun

source : voa-islam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar