Selasa, 09 Oktober 2012

# Jangan jadikan keluarga sebab penjara #

Jangan jadikan keluarga sebab penjara



Tulisan ini berdasarkan kisah di Dauroh Amniyah sesi 15, dengan tidak mengubah substansi. Bukan pula untuk menakuti-nakuti ikhwah yang hendak beramal islam, tapi justru dimaksudkan untuk menjadi bahan al-hadzr (kewaspadaan), "yaa ayyuhalladziina aamanuu hudzuu hidzrokum !!!." Wallohu muwafiq ilaa aqwami thariq.



Ketika sekelompok anshoruth thogut memantau (muroqobah) seorang ikhwan, bisa dipastikan bahwa keluarganya juga diawasi, di mana keluarganya ? Dimana tinggal anak-istrinya ? dan pertanyaan-pertanyaan sejenis itu. Ingat-ingatlah itu.

Yahya Ayyash -rahmatullohu alaih– bagaimana beliau terbunuh ? Beliau terbunuh ketika mendatangi orang tuanya, rindu pada orang tuanya, maka ia mengunjunginya.. Terbunuhlah dia.


Baitulloh Mehsud, kejadian di Waziristan adalah adalah sebuah kesalahan besar !!.Ketika itu beliau pergi ke rumahnya, sedangkan para jasus tengah menunggu beliau, maka ketika beliau sampai di rumahnya pada malam hari, diseranglah, dan terbunuh –rahimahulloh–.


Banyak ikhwah di Jazirah yang tertangkap ketika ingin bertemu dengan istri-istri dan anak-anak mereka, padahal mereka semua itu berada di bawah pengawasan antho. –gitu juga kan di indonesia sana ??–


Begitu juga banyak ikhwah di Pakistan yang tertangkap di rumah istri-istri mereka. Bahkan sebagian paman, saudara dan bapak mereka yang menyerahkan mereka ke tangan para antho. Parahnya lagi di jazirah itu ada ulama yang menjebak para ikhwah. Seperti Safar Hawali, dia menjebak ikhwan, sehingga tertangkap lah mereka.


Keluarga… Selalunya dia menjadi titik kelemahan manusia, maka wajib hukumnya bagi siapa pun yang ingin berkhidmat terhadap agama Alloh azza wa jalla, harus mengosongkan ... Membebaskan dirinya dari perasaan ini. Seorang mujahid atau yang beramal sirry, dia wajib memenangkan akalnya atas perasaan-perasaan macam ini.


Jangan antum pikir, antho itu main-main, mereka itu menyusun makar siang-malam untuk menangkap antum, atau ya… Megang data dulu lah tentang antum, bila saatnya tiba, baru lah mereka tangkap. Mereka itu tidak disibukan oleh apa pun, Cuma oleh bagaimana caranya bisa menangkap antum !!.


Wahai mas dan mbak mujahid!! Tujuan antho -semoga Alloh memberi mereka hidayah kalau tidak, melaknat dan membinasakan mereka sekalian– itu, hal yang penting buat mereka di dunia ini tidak ada selain bisa meringkus manusia yang namanya mujahidin. Maka siapa pun yang jadi tumpuan ummat, yang beramal jama’i supaya tidak kalah akal sehatnya dari perasaan sesaat ... Kerinduan kepada keluarga. Kalah terhadap rasa-rasa sepi yang terasa di tengah-tengah amaliyah.. Ketika tidak bisa kita bergaul dengan sekitar demi najahul amal ...


Perasaan ada waktunya, akal juga ada waktunya! Tapi ketika dalam amal sirry antum harus memenangkan akal antum di banding perasaan. Wah ... Ayahku, adik ku ... Ibu ku ... Istri ku yang cantik ... Tidak, sekarang urusan Dienulloh di atas mereka semua!. Jangan mengikuti bisikan hati ... Ah sudah lah, sekali ini saja aku maen ke tempat istri ... Ngobrol bentar, menyelesaikan hajat sebentar terus pergi lagi. Sekali aja lah maen ke tempat ibu ... Udah lama gak silaturahmi ... Sekali aja lah. Sekali yang menjadi akhir dari perjalanan mu, seperti yang terjadi pada puluhan ikhwah yang lain, yang mungkin baru saja pekan lalu ngontak antum dari dalam sijn minta tolong diurusi ini dan itu ...


Pengalaman sudah membuktikan, bahwa masalah keluarga ini lubang yang seringkali ikhwah terjerambab di dalamnya. Maka wajib membebaskan diri dari hal ini. Khususnya antum yang memegang kunci amal jama’i baik sebagai amir / qoid. Kalau antum tertangkap , masalahnya tidak berhenti cuma di antum, tapi juga orang-orang di belakang antum. Jadi pikirkan baik-baik. Persiapkan semuanya. Konsepnya kan Iman hijrah jihad. Ada HIJRAH antara iman dan jihad. Ada i’dad sebelum jihad, seperti ada wudhu sebelum sholat. Wallohu a’lam. wafaqona Allohu ilaa aqwami thariq. aamiin.

–Jangan lupa mendoakan kebaikan bagi kami dan semua yang berjuang fi sabilillah dalam doa-doa antum–

Akhukum alfaqir ilaa robbihi, Abdullah Mahfuzat. 
 
sumber : forum at tawbah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar