Kamis, 29 November 2012

Kesepakatan Israel-Palestina, Kemenangan Siapa?

Lebih dari Sepekan Israel menggempur Gaza dengan berbagai senjata beratnya, sudah dapat ditebak ratusan orang dari penduduk Gaza tewas mengenaskan dan seperti biasa anak-anak selalu menjadi sasaran tembak roket-roket Israel. Kini pengalaman pahit tersebut sudah berlalu dengan disepakatinya perjanjian Israel-Hamas (Palestina). Anak-anak kembali bersekolah, kehidupan berangsur-angsur kembali normal.

Perjanjian yang prakarsai Amerika-Mesir tersebut kini menyisakan berbagai tanda tanya dan analisa. Benarkah perjanjian tersebut menguntungkan kaum Muslimin? Atau hanya menguntungkan segelintir orang atau tepatnya hanya menguntungkan kelompok tertentu saja? Benarkah perjanjian tersebut strategis bagi kaum Muslimin? Benarkah perjanjian tersebut strategis bagi pembebasan Palestina? Apakah benar perjanjian tersebut menandakan Israel kalah perang lawan Hamas? Atau ada analisa lain seputar perjanjian ini yang belum terungkapkan?

Perjanjian Israel-Hamas Bukan Perjanjian Israel-Perlawanan Palestina

Perjanjian yang dibangun Israel-Hamas (Palestina) dengan prakarsa Amerika dan Mesir tidak bisa dianggap sebagai perjanjian permanen antara agresor Yahudi Israel dengan seluruh kelompok perlawanan Palestina seperti Jihad Islamiy, Majlis Syuro Mujahidin, Jama’ah Tauhid Wal Jihad dan lainnya. justru realita yang kita lihat bersama bahwa perjanjian damai tersebut adalah perjanjian damai antara Israel-Hamas. Perjanjian tersebut tidak melibatkan kelompok perlawanan lainnya yang bercokol di Gaza. Disinilah letak masalahnya.

Memang benar Hamas adalah kelompok yang dominan di Gaza tapi bukan berarti Hamas berhak ‘melenggang kangkung’ membangun perjanjian damai dengan Israel tanpa rembukan dengan kelompok perlawanan Palestina lainnya apalagi memaksakan isi perjanjian tersebut kepada kelompok perlawanan lainnya yang ada di Gaza. Justru disinilah masalahnya, bisa saja perjanjian yang disepakati Israel-Hamas menjadi pemicu bentrokan berdarah antara Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya. Sebab dalam perjanjian tersebut Hamas menjadi pihak yang bertanggung jawab atas serangan perlawanan Palestina lainnya yang ditujukan kepada Israel, dan sama-sama kita ketahui kelompok perlawanan Palestina lainnya tidak akan pernah berniat untuk mundur dari jihad melawanan agresor Yahudi Israel.

Wal hasil, hasilnya sudah dapat diduga Hamas bisa saja (baca : sangat rentan) akan berbenturan dengan kelompok perlawanan Palestina lainnnya. Inilah yang kemudian kita khawatirkan, sesama kelompok perlawanan Palestina saling bertikai.

Memang licik Yahudi Israel, mereka hendak menciptakan api permusuhan di dalam barisan kelompok perlawanan Palestina. Dan sekarang Hamas terjebak menjadi ‘polisi keamanan Israel’ yang harus selalu siap menghadang serangan apapun yang ditujukan kepada Israel dari seluruh kelompok perlawanan Palestina.

Perjanjian Israel-Hamas Dan Politik Belah Bambu

Perjanjian Israel-Hamas pada hakikatnya adalah politik belah bambunya Israel. Bingung dengan perlawan terus menerus dari faksi-faksi gerakan perlawanan Palestina, akhirnya Israel memainkan politik licik dengan menggempur Gaza (baca : membunuh Ahmad Al-Jaabariy komandan senior Brigade Al-Qossam, sayap militer Hamas 14 November yang lalu) kemudian membangun kesepakatan dengan salah satu kelompok dominan di sana yang kemudian akan menjadi polisi Israel untuk mengamankan dan mengontrol gerakan perlawanan Palestina lainnya.

“Kalau tidak licik bukan Yahudi Israel namanya”, mungkin itu adalah gambaran yang tepat untuk menggambarkan wajah asli Yahudi Israel, malu membangun perjanjian dengan Hamas dia meminta Amerika untuk memprakarsai perjanjian Israel-Palestian (baca : Hamas). Amerika kemudian menekan Mesir, sadar bahwa pimpinan Mesir (Presiden Mursi) satu jama’ah dengan Hamas kemudian Amerika menekan Mesir untuk menjadi fasilitator perundingan damai Yahudi Israel-Palestina.

Kalau kita perhatikan dengan seksama poin-poin perjanjian Israel-Palestina (Hamas) poin-poin tersebut berpotensi menciptakan perpecahan di dalam tubuh kelompok perlawanan Palestina. Perhatikan poin-poin perjanjian Israel-Palestina:

Pertama, Israel harus menghentikan semua agresinya ke Gaza baik dari darat, laut dan udara. Itu termasuk menghentikan aksi provokasi dan penembakan terhadap orang (Baca: individu tertentu seperi yang menimpa Ahmad Al-Jaabariy).

Kedua adalah faksi-faksi perlawanan menghentikan semua aktivitas perlawanannya dari Gaza ke Israel. Itu termasuk penghentian tembakan roket dan serangan dari perbatasan. (dikutip dari Republika Online).

Perhatikan poin awal dimana Israel berjanji akan menghentikan agresi militernya ke Gaza dan Israel juga berjanji akan menghentikan serangannya kepada individu tertentu seperti yang dilakukan Israel terhadap Ahmad Al-Jaabariy pada 14 November kemarin. Kemudian janji Israel tersebut harus ditebus Hamas dengan sikap yang ‘tegas’ (Baca : keras, refresif) terhadap kelompok perlawanan Palestina lainnya. Hamas berjanji akan menghentikan seluruh operasi perlawanan kelompok perlawanan lainnya. Nah, inilah yang berpotensi menjadi pemicu bentrokan berdarah Hamas versus kelompok jihad lainnya.

Masa Depan Islam

Satu hal sulit untuk dipungkiri, bahwa gerakan Islam dewasa ini berasal dari rahim yang sama, atau paling tidak ada irisan-irisan yang memiliki keterkaitan dan hubungan satu dengan yang lain. Oleh karena itu lazimkah kita saling bertikai padahal perlawanan kita masih rapuh dan gamang? Padahal cita-cita kita satu? Yang kita ingingkan dan harapkan pun satu?

Apakah harus terbentang perbedaan yang begitu besar kalau ternyata yang dituju adalah pulau impian yang sama?. Masa depan Islam kitalah yang melukisnya, apakah etis ketika melukis masa depan ini kita mewarnainya dengan coretan jelek yang akan dicatat sejarah.

Hari ini tuntutan gerakan Islam jelas, yang dituntut gerakan Islam pada umumnya dari Hamas (Baca : Ikhwanul Muslimin) adalah kebijakan yang sesuai dengan keuntungan dan kepentingan Islam dan kaum Muslimin sekalipun barat, PBB, NATO dan pihak liberal sekuler tidak meridhoinya. Yang ingin kita tegakkan adalah kehidupan yang dinaungi syariat-Nya bukan kehidupan madani yang sejahtera, yang hendak kita bangun adalah Daulah Islamiyah dengan asas ubudiyatullah bukan daulah sekuler yang dikuasai kursi-kursi parlemennya, yang kita inginkan adalah negara-negara kaum Muslimin yang terpecah menjadi lebih 50 negara atas ketetapan para penjajah menjadi negara yang satu, yaitu Khilafah Islamiyah, bukan negara yang terpecah-pecah yang dikuasai parlemennya.

Jalan perjuangan ini telah memasuki musim seminya, mungkin saja kita melalui sepertinya atau justru lebih dari itu. Ini berarti hari-hari ke depan akan ada benturan yang tidak akan terelakkan. Kalau kebijakan yang kita gelar adalah kebijakan yang tidak berani konfrontatif dengan pihak-pihak di atas, maka sampai kapan pun syariah tidak akan dapat kita tegakkan.

Khilafah yang kita impikan hanya akan menjadi angan-angan saja (Baca : retorika dakwah untuk menyihir kader). Justru dengan koperatifnya kita terhadap musuh-musuh agama (dalam politik jahiliyah bisa saja menjadi teman) akan mengorbankan hubungan ukhuwah dan ta’awun sesama gerakan Islam.

Wal hasil, di akhir tulisan ini patut kita ajukan lagi pertanyaan penting, Perjanjian Israel-Hamas Kepentingan Siapa? Kepentingan kelompok tertentu atau kepenting Islam dan kaum Muslimin?

Wallahu’alam bis showab!


Tabi Dakwah Najd
Analis Shariah Institute
Selasa, 13 Muharram 1434 H/27 November 2012 M
Al-Mustaqbal.net-Masa Depan Islam
http://al-mustaqbal.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar