Selasa, 20 November 2012

Renungan - Belajar Dari Sejarah Kegagalan Membebaskan Palestina

Tahun 1965,1966,1967, Gamal Abdul Nasher mengatakan : “Kami telah menciptakan rudal Zhahir (yang menang) Qahir (yang perkasa) dan Nasher (yang menang). Rudal-rudal ini akan menghantam kota Tel Aviv dari Qahirah. Kami meluncurkannya dari Qahirah dan akan menghantam kota Tel Aviv.”

Radio-radio pemerintah Mesir mulai menyiarkan provokasi "Buatlah dirimu lapar wahai ikan-ikan! … mengapa harus melaparkan diri? –kami (tentara mesir) akan melempar mayat-mayat yahudi di laut—wahai ikan-ikan, tunggulah daging orang-orang Yahudi... "

Tahun 1967 Abdul Nasher menggerakkan tentara ke Sinai. Hampir-hampir bangsa Palestina terbang karena kegembiraan dan karena tergila-gila dengan kebesaran Abdul Nasher. maka mulailah dibuat theme song  tentang perang yang liriknya ditulis oleh Abdul Halim (seorang artis) dan dikumandangkan terus menerus untuk memantapkan spirit dan mental tentara Mesir di padang pasir sebagai ganti mengucapkan :


“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya.” (QS. Al-Hajj : 40)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah : 119)

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu …” (QS. Muhammad : 7)


dan sebagai ganti mengucapkan do’a


“Ya Allah, dengan bantuan-Mu kami menyerang (musuh), dengan bantuan-Mu kami bergerak dan dengan bantuan-Mu kami berperang.”
- HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i (lihat kitab ‘Aunul Ma’bud juz VII hal. 295)


Setiap hari Abdul Nasher mengatakan : “Ummu Kultsum bersamamu dalam peperangan. Abdul Halim bersamamu dalam peperangan.” Tiap hari Ummu Kultsum datang. Pada saat itu ia masih hidup. Penyanyi perempuan inilah yang merusak kehidupan dalam hati generasi muda. Mereka menganggapnya sebagai idola!

Presiden tersebut mengatakan pada tanggal 27 Mei, dalam Konferensi Pers yang dihadiri oleh wartawan dari seluruh dunia : “Kami akan memerangi orang-orang Yahudi dan mereka yang berada di belakangnya. Yakni Amerika. …”

Propaganda dan provokasi Abdul Nasher ikut menaikan semangat bangsa Palestina serta menumbuhkan harapan besar bagi mereka. Malah bahkan menimbulkan sikap optimisme yang berlebihan terhadap mereka. Mereka berkata : “Kita akan memetik jeruk dari Yafa … kita akan berhari raya Adh-ha di atas kota Karmal … di Haifa.”

Salah seorang di antara mereka menanyakan kepada kawannya : “Berapa wanita Yahudi yang akan kau ambil sebagai budak? berapa yang akan kamu ambil? Di sini tidak ada batasan bagi wanita Yahudi. Bisa sepuluh, dua puluh … Sesukamulah. Bisa jadi kamu memperoleh 100 hamba perempuan.”


Pada tanggal 4 Juni. Pertempuran direncanakan akan dimulai pada esok pagi. Duta Amerika menghubungi Gamal Abdul Nasher pukul 7 sore dan mengatakan padanya : “Jangan menyerang …"

Pada pukul 3 pagi tanggal 5 Juni, duta Rusia menghubunginya dan membangunkan tidur Gamal Abdul Nasher … Duta tersebut mengatakan padanya : “Jangan menyerang dulu!"

Tinggal dua jam lagi dari waktu untuk menyerang Israel, apa yang diperbuat pasukan Mesir/ Apa yang diperuat oleh para perwira? Para perwira angkatan udara di mana gerangan mereka? Di barak-barak mereka atau di tangsi-tangsi mereka dalam keadaan siap siaga? Tidak …. Mereka tidur karena semalaman menikmati pesta yang diramaikan oleh salah seorang penari wanita. Seorang penari wanita yang akhirnya Allah memberikan taubat kepadanya!!


Bagaimana kesudahannya dan siapakah yang bertanggung jawab atas pesta dansa tersebut? Dia adalah Penasehat pada Korps Angkatan Udara. Siapakah dia? Dia adalah Barukh Nadil. Siapa sebenarnya Barukh Nadil? Dia adalah orang Yahudi yang menjabat sebagai penasehat pimpinan Angkatan Udara Mesir dari sejak tahun 1954 sampai tahun 1967 … 13 tahun 'rela' menjadi mata-mata!

Jam 2 pagi Barukh Nadil berkata –berdasarkan apa yang saya baca dari buku tulisannya-. Dia menulis sebuah buku yang menceritakan kejadian tragis pada bulan Juni tahun 1967. Judulnya adalah Hancurnya pesawat-pesawat di waktu fajar. Dalam buku tersebut, dia bercerita tentang musibah itu:


“Pukul 2 pagi pesta usai. Saya masih diliputi kekhawatiran. Jika para penerbang itu kembali ke rumah, maka mereka akan terbangun pada pukul 5 … dan para perwira penerbang tentu akan mengemudikan pesawat-pesawat tempur dan menggempur kota Tel Aviv … maka saya berfikir sejenak dan berkata dalam hati : “Apa yang harus saya perbuat? Mendadak saya mendapat pemecahannya. Para perwira itu saya bagi menjadi dua kelompok. Yang laki-laki ke satu sebelah, dan yang wanita ke sebelah yang lain. Kemudian saya katakan pada mereka : “Kalian yang laki-laki adalah pesawat MIG Mesir, dan kalian yang wanita adalah pesawat Mirage Israil.” Sekarang saya mau melihat bagaimana pesawat MIG Mesir merontokkan pesawat Mirage Israil.”

Maka pesawat MIG pun dapat merontokkan pesawat Mirage. (Maksudnya yang laki-laki bermesra-mesraan dengan wanita.) Maka demikianlah, pada malam yang menyimpan bara api itu mereka bermabuk-mabukan dan membuat kegaduhan sampai pukul 4 pagi …

Kata Barukh Nadil lebih lanjut : “Mereka pulang ke rumah-rumah mereka dan menjatuhkan kepala mereka di atas bantal. Saya sendiri menaiki pesawat terbang saya untuk melihat langit kota Qahirah. Awan hitam menyelubungi langit kota Qahirah akibat asap dari pesawat-pesawat tempur yang terbakar dan lapangan terbang yang tergempur bom. Jam 5 pagi Israel menyerang pangkalan militer mesir terlebih dahulu"


Bayangkan saja, serangan pertama israel diarahkan ke pesawat-pesawat tempur. Jendral Hob, Panglima Komando angkatan udara Israil, mengatakan : “Kami memata-matai kawasan udara Mesir, ternyata di atas sana hanya tersisa sebuah pesawat tempur" … satu pesawat tempur?!

Bandingkan dengan kondisi di wilayah Amerika di waktu damai, Amerika menerbangkan sepertiga pesawat tempurnya secara rutin di atas wilayah udaranya. Mereka beralasan : Jika negara kami dibom secara tiba-tiba oleh musuh dengan rudal-rudal nuklir atau senjata yang lain, sehingga membakar seluruh pesawat yang ada di bumi, maka kami masih mempunyai sepertiga dari armada pesawat kami di udara ….


Hanya ada satu pesawat yang terbang di udara!! Kata Jendral Hob lebih lanjut : “Jam 4.55 pesawat itu turun dan melandas di lapangan terbang. Selanjutnya kami menyerang selama tiga jam … seluruh pangkalan udara kami sapu dengan bom. Sedikit sekali perlawanan yang diarahkan ke pihak kami …"

Tiga jam!! dari pukul 5.00 sampai pukul 8.00. Dan Pesawat MIG Mesir sedang tidur dan baru bangun sesudah zhuhur…


Maka berakhirlah jalannya sandiwara tersebut. Lalu keluar perintah kepada pasukan yang berada di gurun Sinai. Apa bahasa yang dipergunakan dalam perintah tersebut? "Pesawat-pesawat telah hancur, maka lemparkan senjata dan mundurlah, jangan mundur dengan membawa senjata!! (mundur dgn menyerah)" Dan hampir saja pasukan Mesir mati kehausan dan kelaparan kalau saja Yahudi tidak memperkenankan mereka menyeberangi terusan Suez.

Sesungguhnya orang-orang yang hendak melindungi harta, darah dan kehormatan kaum muslimin

Sesungguhnya orang-orang yang hendak menjaga agama Allah

Sesungguhnya orang-orang yang bermaksud melindungi tempat-tempat sucii

Sesungguhnya orang-orang yang hendak mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin dan membersihkannya dari kotoran/najis Yahudi, akan tetapi mereka tidak memyiapkan diri dan mempersiapkan dirinya dalam kemah-kemah penggemblengan dan mu’askar-mu’askar, serta tidak menjadikan senjata sebagai bagian dari darah mereka dan hidup mereka, tidak larut dalam naungan Al-Qur'an dan bahkan masih terlena oleh kesenangan dunia. Serta terdapat dalam dirinya rasa sombong dan angkuh... mereka tidak akan bisa membebaskan Al-Aqsha...... mesikpun ia memiliki ratusan pesawat tempur dan pasukan...

Seorang Mujahid shiddiq yang tak dikenal namanya (yang apabila hadir di tengah-tengah manusia, tidak dikenali, dan  apabila mereka tidak ada, maka tidak ada yang merasa kehilangan). Mereka akan bersiap-siap dengan sebaik-baik persiapan untuk peperangan, dan tidak akan jauh dari zikir dan tasbih, serta tidak lalai dalam urusan ibadah.  Mereka juga tidak menyisakan waktu untuk mendengar gunjingan atau fitnahan atau hasutan atau aduan.  Karena perkara yang mereka hadapi lebih besar lebih agung, dan lebih penting untuk diperhatikan daripada menaruh perhatian kepada suara katak atau suara burung gagak.  Sesungguhnya perkara itu lebih besar, dari semua itu.


Dalam hadits hasan yang diriwayatkan dari salah satu dari Ashabus Sunan disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash :   “Rasulullah SAW berjalan melintasi kami ketika kami sedang memperbaiki  gubug kami yang telah reot.  Beliau bersabda : “Aku pikir perkara akhirat itu lebih penting dari memperbaiki gubug itu” - Hadits shahih (lihat Shahih Al Jami’ Ash Shaghir 2789)

Dan kita saat ini sibuk memperbaiki gubug kita. Ketahuilah bahwa perkara akhirat itu lebih penting dari memperbaiki gubug.  Karena itu, masalah akhirat selalu menyibukkan kehidupan para mujahid yang shiddiq, taqarrub kepada Allah dalam i'dad & jihad telah memalingkan mereka dari segala sesuatu. Dan mereka lah yang akan membebaskan Al-Aqsha



Abu untuk Al-Mustaqbal.Net
(source: disadur & dikembangkan dari petikan ceramah Tarbiyah Jihadiyah, Abdullah Azzam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar