Minggu, 04 November 2012

Reportase Kemarahan Ummat Islam Poso atas Kebiadaban Kepolisian RI

Laporan ke-09

بسم الله الرحمن الرحيم

Reportase Kemarahan Ummat Islam Poso atas Kebiadaban Kepolisian RI
----------------------------------------------------------------------------------

Kami awali reportase ini dengan mengangkat judul di atas, yaitu "Reportase Kemarahan Ummat Islam Poso atas Kebiadaban Kepolisian RI" dimana hal ini memang begitu relitanya, karena memang Ummat Islam di Poso ini memang sudah merasa gerah, marah dan jengkel atas kebiadaban Kepolisian RI selama ini.

Kaum Muslimin Poso tidak akan pernah lupa selamanya akan Pembantaian Malam Lebaran 2006, 11 Januari 2007 dan 22 Januari 2007, dimana Kepolisian RI memasukkan orang-orang luar non-Poso untuk membantai Ummat Islam di Poso, terlebih lagi mereka yang didatangkan ini adalah mayoritas dan atas arahan orang Kristen, dimana mereka masih sangat memiliki trauma yang mendalam atas Tragedi Pembantaian Ummat Islam oleh Kongkoli (Kristian) di Pondok Pesantren Wali Songo, Kilo 9, Buyung Katedo, dll.

Dan di hari Sabtu 3 November 2012, kejadian pembantaian itu terulang kembali, maka dengan berbondong-bondong seluruh kaum Muslimin di Poso Kota dan sekitarnya bahu-membahu memberikan perlawanan dan pembelaan terhadap saudaranya yang telah dibantai hari ini, dan memang terbukti di lapangan bahwa mereka yang turun di jalan-jalan dan memberikan perlawan kepada Kepolisian itu tidak hanya mereka yang sering orang mengatainya sebagai "Teroris" saja, tapi juga masyarakat pada umumnya, para pemabuk, preman-preman pasar, anak-anak sekolah, ibu-ibu, hingga anak-anak kecil.

Itulah mengapa kami mengambil judul itu, supaya Kaum Muslimin lainnya tau dan melek bahwa ternyata selama ini kita ini dibodohi dan dibuat bodoh oleh Kepolisian RI, sudah terlalu banyak luka-luka Kaum Muslimin Indonesia terhadap Kepolisian RI ini, mulai dari tilang lantas, mafia hukum, korupsi, hingga pembantaian, baik itu terhadap mahasiswa, mujahidin maupun masyarakat muslim secara umum. Oleh karenanya, inilah saatnya kita bangkit atas nama Dien ini, atas nama Dienul Islam ini, mari kita BANGKIT melawan KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA, Sang Penindas, Sang Penjajah dan kaki tangannya Amerika dan sekutunya, musuh Ummat Islam sedunia...!!!

Kemudian, kami akan paparkan kejadian yang terjadi hari Sabtu 3 November 2012 di Poso Kota, khususnya di Desa Kayamanya dan sekitarnya.

Shubuh di hari Sabtu 3 November 2012 di masjid Muhammadiyah Al-Muhajirin Kayamanya Poso Kota juga sebagaimana hari-hari biasanya, Ustadz Yasin fakkallahu asroh wa ro'aahu dan Akhuna Kholid rahimahullah wa taqobbalah sholat shubuh berjamaah sebagaimana biasanya.

Tiba-tiba pada pukul 06.00 WITA tepat, terdengar rentetan tembakan dari arah masjid Al-Muhajirin, semua masyarakat terkaget-kaget mendengarnya, ada apakah gerangan yang terjadi...???

Masyarakat pun mulai saling bertanya-tanya tentang perihal kejadian, hingga terdengarlah kabar bahwa Ust. Yasin sebagai salah seorang Ustadz yang cukup disegani di Kota Poso oleh semua kalangan ditangkap Aparat Densus 88 dan juga terdengar kabar bahwa beliau sempat ditembak saat beliau sudah dibawa masuk ke dalam Mobil Densus.

Mulailah timbul kemarahan masyarakat Poso, khususnya di sekitar masjid Al-Muhajirin Kayamanya Poso Kota, dan mulai bersitegang terhadap Aparat yang mengadakan penangkapan dengan melempari mereka dengan batu-batu sambil meneriaki mereka dengan kata-kata penghinaan atas mereka. Tapi sepertinya, hal itu tidak diperdulikan oleh Aparat, makanya kemudian masyarakat yang memang memiliki "Lontong" (istilah untuk Bom Pipa yang dibakar dengan daya ledak High Explosive) untuk jaga-jaga, segera membakar dan melemparnya ke arah Pasukan Dajjal tersebut, dan larilah mereka terbirit-birit.

Setelah Aparat lari dari TKP, mulailah masyarakat mendekat dan mengecek apa yang telah terjadi, dan ternyata memang bahwa Ust. Yasin telah diculik oleh Densus 88 dan dimasukkan mobil kemudian ditembak di dalam mobil saat dalam keadaan tak berdaya. Juga bahwa Akhuna Kholid taqobbalahullah yang rumahnya berada di belakang rumah Ust. Yasin, juga ditangkap dan dibunuh secara sadis oleh Para Thoghut tersebut.

Bertambah marah lah para masyarakat, hingga kemudian mereka mulai sidikit demi sedikit bergerak ke arah Jalan Pulau Irian Jaya hingga sampai di dekat Bundaran Pasar Central, tepatnya di depan Bank Syariah Mandiri Poso Kota, disitulah kemudian masyarakat muslim memukul tiang listrik di beberapa tempat berkali-kali untuk mengajak masyarakat lainnya untuk ikut serta dalam pembelaan ini.

Setelah sempat bersitegang dengan Aparat di tempat tersebut, khususnya dengan Si Banci Yonce sebagai Anggota Densus 88 yang bertugas di Poso, masyarakat pun mundur setelah di desak oleh Aparat hingga kembali ke Masjid Al-Muhajirin. Setelah blokade terhadap jalan yang mengarah ke Masjid Al-Muhajirin Kayamanya tidak dijaga lagi oleh Aparat, sekitar pukul 08.00 WITA datanglah berduyun-duyun masyarakat muslim lainnya dari desa-desa sekitar di Poso Kota, seperti Gebang Rejo, Lawanga, Bonesompe, Moengko dan yang lainnya, mereka semua berkumpul di Masjid Al-Muhajirin Kayamanya yang letaknya memang tepat di depan TKP penangkapan.

Di situlah kemudian disusunlah rencana-rencana untuk mengadakan pembelaan terhadap Ummat Islam yang didzolimi dan dibantai oleh keparat-keparat yang suka mengacau Keamanan di Nusantara ini. Di situ juga lampiasan kemarahan diarahkan kepada salah satu Wartawan Metro TV, dimana sebelumnya Metro TV telah menyiarkan pemberitaan yang sangat menusuk hati kaum Muslimin yang telah mengabarkan bahwa bahwa saat penangkapan terjadi tembak-menembak, sungguh sangat menyakitkan sekali berita dusta itu, saat ada kaum muslimin yang ditembak kemudian tersungkur dan kemudian diberondong lagi kepalanya dalam jarak dekat, hingga terpancarlah isi kepala hingga ke atap dan darahnya pun menggenang di pasir-pasir di halaman Sekolah SD 27 Poso, mereka berani-beraninya mengatakan adanya tembak-menembak.

Sungguh sangat biadab polisi negeri ini dan sangat sangat tak berperikemanusiaan. Dimana kalian wahai para pengusung HAM...??? Dimana kalian wahai para pengusung pri-kemanusiaan...???

Masyakarat juga sempat menangkap intel-intel bersenjata yang mencoba untuk masuk ke area Masjid Al-Muhajirin, tapi kemudian cuma diusir saja karena ternyata mereka dari Intel TNI. Hal ini juga menjadi peringatan kepada TNI, jangan sekali-kali mereka membela Kepolisian dalam kegiatan mereka memerangi Ummat Islam dan Mujahidin, karena jika mereka ikut turut serta membantu dan kemudian mereka pulang tanpa kepala, maka jangan salahkan kami, kami sudah sangat sering membiarkan intel-intel TNI berkeliaran di sekitar kami, tapi nanti kalau kalian sudah sudah mulai berkianat terhadap kami, maka kami pun juga tak akan tinggal diam.

Pada pukul 09.00 WITA diutuslah rombongan ibu-ibu bersama keluarga dari Akhuna Kholid untuk mendatangi Mapolres Poso dan mendesak untuk segera memulangkan jenazah Kholid yang telah mereka bantai pagi ini, akan tetapi ternyata pihak kepolisian pun masih bersikeras untuk tetap membawa jenazah tersebut ke Jakarta yang sebelumnya telah diterbangkan ke Palu, hingga akhirnya sekitar pukul 11.00 WITA datanglah para kaum lelaki menuju Mapolres Poso untuk ikut mendesak pemulangan jenazah tersebut, dan pulanglah ibu-ibu kembali ke rumah. Akan tetapi hal ini justru membuat Keparat semakin represif dalam menangani massa, hingga masyarakat pun semakin tambah marah dan berusaha membakar apa saja di Jalan Utama Pulau Sulawesi hingga akhirnya ketika sekitar pukul 12.00 WITA, sebagian massa kembali ke masjid untuk Sholat Dzuhur berjama'ah, akan tetapi hal ini justru dimanfaatkan Polisi untuk memukul mundur massa.

Setelah Sholat Dzuhur, ternyata keparat-keparat itu sudah mulai memblokade Jalan Pulau Sabang yang mengarah ke Masjid Al-Muhajirin, maka akhirnya masyarakat pun terpancing kembali Kemarahan mereka yang telah reda sejenak dengan menunaikan Sholat Dzuhur berjamaah untuk kembali menghadang Polisi di Simpang 3 Pulau Sabang dan Pulau Nias, tepatnya di Masjid Riyadh Kayamanya sembari mengucapkan Takbir dan memukul-pukul tiang listrik yang ada. Akan tetapi sangat terlihat sekali kesombongan dan keangkuhan dari keparat-keparat keamanan itu, apalagi kini mereka di-support oleh teman-teman elit mereka dari luar Poso hingga memuncaklah arogansi mereka dan bertambah brutal dalam menangani massa.

Sebenarnya masyarakat Poso sudah sangat sabar-sabar sekali untuk tidak mengeluarkan lontong-lontong mereka dari penyimpanan mereka, akan tetapi saat masyarakat sudah terkumpul di ujung Pulau Nias tersebut, justru mereka disambut oleh suara tembakan beruntun yang sangat keras sekali suaranya serta dalam intensitas waktu yang cukup lama yang diperkirakan ribuan amunisi terhambur begitu saja hanya sebagai ajang unjuk gigi mereka. Akan tetapi hal itu justru membuat masyarakat yang pada awalnya sudah marah, ditambahi marah lagi dan terus diprovokasi oleh Kepolisian yang Angkuh itu sendiri hingga makin meluap-luaplah kemarahan Masyarakat Muslim Poso terhadap Kepolisian RI atas tingkah laku mereka yang notabenenya adalah pendatang dari luar Poso malah justru semakin menambah ribut dan kacau situasi Kota Poso, sebagaimana yang dahulu pernah terjadi tahun 2006-2007 dimana polisi-polisi pendatang BKO Kelapa Dua memasuki Poso dengan kebencian dan keluar Poso dengan meninggalkan ratusan gadis-gadis Poso yang telah mereka hamili. Wallahul Musta'aan...!!!!

Dan kemudian terjadilah pelemparan-pelemparan lontong ke arah Polisi, hingga Polisi pun semakin menghambur-hamburkan amunisi mereka (lantaran mereka sepertinya juga semakin depresi karena tidak bisa memenangkan perang mereka di Gunung Tamanjeka) dan menembaki kubah Masjid Riyadh serta menangkapi sekitar 9 warga yang kebetulan berada dalam Masjid tersebut dan menginjak-injak masjid dengan sepatu laras mereka serta menggeledah apa yang ada di dalamnya, termasuk menaiki atap masjid. Betapa sangat tampak sekali profil Kepolisian Republik Indonesia yang begitu sangat memusuhi Ummat Islam dan ingin menghinakan simbol-simbol Keislaman di Negeri ini, setelah sebelumnya juga Presiden SBY menerima Penghormatan sebagai Ksatria Salib Agung oleh Ratu Elisabeth Inggris. Apakah kalian Ummat Islam sudah tahu hal ini...??? Camkan hal itu baik-baik...!!!

Di simpang 3 itulah masyarakat Muslim Poso terbagi 2 kelompok, sebagian mundur ke jalan Pulau Nias dan sebagian lainnya mundur masih di jalan Pulau Sabang.

Yang mundur ke jalan Pulau Nias, keparat-keparat itu hanya berani maju tak lebih sekitar 50 meter saja dari simpang 3 dan ketegangan berangsur-angsur mereda sekitar pukul 15.00 WITA ketika tiba waktu Sholat Ashar.

Akan tetapi yang mundur di jalan Pulan Sabang (sebagai jalan utama Trans Sulawesi), mereka terus didesak mundur dengan sombong dan angkuhnya oleh keparat-keparat Thoghut itu sampai di sekitar Dealer Hadji Kalla atau sekitar 3 kilometer dari Pusat Kota Poso hanya untuk unjuk kebolehan mereka dengan menggunakan Mobil Baracuda mereka, dan hal itu terus berlangsung hingga sekitar pukul 17.00 WITA dengan terus menghambur-hamburkan tembakan-tembakan peluru tajam ke arah massa.

Jadi kalau ada yang bertanya, siapa yang membikin Kota Poso Lumpuh...???

Jawabannya adalah POLISI dengan segala kesombongan dan keangkuhan mereka.

Kalau memang hanya untuk menenangkan masyarakat, tentunya sebelum dzuhur semua sudah bisa terkendali, akan tetapi karena Keangkuhan mereka lah dan sikap ngotot mereka untuk tetap ingin membawa jenazah Akhuna Kholid untuk dibawa ke Jakarta, hal inilah yang semakin membuat runcing permasalahan, ditambah lagi sikap-sikap arogansi Polisi di lapangan yang seolah-olah stress dan ingin unjuk kebolehan terhadap masyarakat bahwa mereka itu "Kuat", karena sebelumnya telah kita lihat bersama bahwa Polisi sama sekali tidak berani mendekati Tamanjeka dan menyerahkan urusan itu kepada TNI, akan tetapi saat di media mereka terus dibuat malu karena tidak mampu menyelesaikan kasus Tamanjeka, maka mereka pun coba-coba memberanikan diri menanganinya, walhasil beberapa personel mereka melayang. Itulah balasan dan hadiah bagi orang-orang yang sombong dan angkuh...!!!

Ketahuilah, Allah Ta'ala tidak akan pernah tidur dan tinggal diam, apalagi terhadap orang-orang yang memusuhi Dien-Nya dan para pemeluk Dien-Nya.

Di sini timbul sebuah pertanyaan, ada apakah gerangan hingga mereka ngotot untuk membawa jenazah ke Jakarta dan mempertahankan mati-matian keinginan mereka ini...??? Silahkan di jawab sendiri.

Pasca ketegangan antara kepolisian dan masyarakat yang menjadikan Kota Poso lumpuh selama beberapa jam, timbullah inisiatif dari dari masyarakat, tokoh agama, anggota DPRD untuk mendesak Kepolisian untuk segera mengembalikan Jenazah Akhuna Kholid ke pihak keluarga untuk tidak menimbulkan kericuhan lebih luas.

Kepolisian yang tadi nya sangat ngotot sekali mempertahankan mati-matian keinginan mereka membawa jenazah ke Jakarta walaupun sudah didesak oleh pihak keluarga dan masyarakat, setelah pedebatan yang cukup alot dan didesak oleh yokoh-tokoh Agama, Anggota Dewan yang pihak-pihak lain (termasuk semua pengguna jalan yang merasa terganggu perjalanan mereka juga menyuarakan hal tersebut), akhirnya pihak Kepolisian mengabulkan keinginan pihak keluarga untuk mengembalikan jenazah ke pihak keluarga, dan pada pukul 15.00 WITA itu juga jenazah berangkat menuju Poso dengan perjalanan darat, padahal sebelumnya naik pesawat terbang lhooo...!!! Aneh kan...??? Berangkat ke Palu seolah-olah seperti orang kaya punya banyak uang hingga untuk 1 Jenazah dengan jarak dekat saja mereka rela mengantarnya pake pesawat, tapi saat memulangkan kok seolah-olah tiba-tiba apes, kayak orang habis bangkrut saja.

Wa makaruu wa makarallah, wallahu khoirul maakirin

Maka, klaim Mabes Polri yang mengatakan bahwa sesungguhnya pihak Kepolisian telah mengajak dan merangkul masyarakat, tokoh-tokoh Agama, Anggota Dewan dan lainnya untuk membahas situasi Kota Poso hari Sabtu kemarin adalah sungguh klaimnya orang gila semata, karena justru mereka lah yang sebenarnya sangat egois yang tidak mau kepentingannya dicampuri oleh pihak-pihak lain, dan dengan kekuatan yang mereka miliki mereka halalkan segala cara untuk mewujudkan kehendak-kehendak yang mereka inginan.

Sungguh betapa bejat dan nistanya Kepolisian Republik Indonesia ini, sampai-sampai pasca adanya ketegangan di sepanjang jalan Pulau Nias dari Kayamanya hingga Moengko yang mengakibatkan banyaknya sampah-sampah di sepanjang jalan tersebut, baik itu batu-batu, kayu ataupun benda-benda besar lainnya yang memadati jalan tersebut, maka dengan sigapnya TNI membersihkan itu semua setelah semuanya mereda, masyarakat pun tahu dan melihat itu semua. Akan tetapi, yang Penulis tidak habis pikir, sampai hal yang sekecil itupun, itu juga di klaim oleh Pihak Kepolisian RI bahwa mereka lah yang membersihkannya, coba saja baca di Media Massa, dan tidak sedikitpun menyebut TNI. Masya Allah...!!! Geleng-geleng kepala saya memikirkan hal ini semua.

Begitu juga saat penemuan mayat Polisi, semua orang tahu kan kalau yang menemukan pertama adalah TNI...??? Tapi mengapa kok yang naik pangkat diduga sukses menemukan mayat Busuk itu adalah Polisi, bukan TNI...???

Memang, penjahat itu tetaplah penjahat, walaupun ia berbaju seorang Seorang Ustadz, seperti Si Botak Rafly Amar yang menjadi Ustadz di sebuah pertemuan HTI, atau juga Si Anton Bahrul Alam yang diagung-agungkan memajukan Dakwah Jamaah Tabligh di kalangan Kepolisian. Tapi tetap saja, penjahat tetaplah penjahat...!!! Apalagi si Timur Pradopo, waaah, itu sudah dedengkotnya, bukankah ia turut serta juga dalam Pasukannya SBY yang memberikan dukungan terhadap Pasukan Serbia saat mereka membantai dan genosida terhadap Kaum Muslimin Bosnia...???

Sungguh, darah-darah kaum Muslimin mengalir dalam tangan-tangan mereka...!!!

Alhamdulillah dengan idzin Allah, ketegangan hari itu berangsur-angsur mereda di sore hari, dan tepat setelah sholat maghrib, datanglah Ambulance yang membawa jenazah Akhuna Kholid taqobbalahullah dan disambut pekikan Takbirrr, Allahu Akbar...!!!

Setelah diperiksa, ditemukan beberapa luka jahitan bekas tembakan, diantaranya di dada sebelah kanan dan kiri hingga tembus ke belakang, luka tembak pada lutut hingga menjadi bengkok sebelah kanannya, luka jahit di puncak dan kepala belakang yang diduga akibat berondongan tembakan jarak sangat dekat hingga menembus ke dagu sebelah kanannya, adapun antara perut hingga lutut tidak diperiksa, dan yang menjadi kebiasaan jenazah Mujahidin yang ditawan oleh pihak Kepolisian adalah selalu ada luka jahit yang sangat panjang, mulai dari pangkal leher hingga ke perut sekitar 40 cm, akan tetapi yang menjadi sebuah keajaiban dan membuat haru para pelayat adalah darahnya yang masih terus menetes walaupun sudah diganti kain kafannya dan wajahnya yang menampakkan Senyuman orang yang sedang tidur.

Subhanallah... Allahu Akbar...!!!

Dan benarlah firman Allah Ta'ala dimana sesungguhnya orang terbunuh di jalan Allah itu tidaklah mati, tapi mereka tetap hidup dan masih diberikan rizki oleh Allah dan posisi mereka dalam keadaan gembira.

Sebuah mimpi yang selalu diceritakan oleh Akhuna Kholid taqobbalahullah kepada teman-temannya bahwa ia pernah bermimpi melihat bulan yang terbelah menjadi dua, di situ ada sebuah pintu yang memancarkan keindahan yang sangat yang belum ia lihat keindahan itu sebelumnya. Subhanallah...!!!

Saat jenazah Akhuna Kholid tiba di Poso, Kota Poso seakan-akan menangis dan tiba-tiba turunlah hujan yang sangat deras mengguyur Kota Poso, sebuah hujan Sakinah/ketenangan bagi orang-orang yang beriman yang telah mempersembahkan salah satu Ummatnya dalam membela Dienullah dan melawan kedzoliman serta keangkuhan thoghut-thoghut durjana yang rela melakukan apa saja demi imbalan dunia yang sangat sedikit yang mereka dapatkan.

Setelah hujan tersebut agak reda dan cuma gerimis-gerimis kecil, malam itu juga sekitar pukul 20.30 WITA, jenazah Akhuna Kholid taqobbalahullah dikebumikan di pemakaman yang ada di Desa Kayamanya dan diringi oleh pekikan-pekikan Takbir para pelayat yang mengiringinya.

Keesokan harinya, salah seorang teman dekat Akhuna Kholid taqobbalahullah bercerita bahwa ia bermimpi dalam tidurnya melihat Akhuna Kholid bangun dari tidurnya dengan kondisi luka persis sebagaimana yang disebutkan di atas dan menggerakkan badannya sebagaimana seperti orang yang bangun tidur, temannya ini pun terkejut dan menanyakan, "mengapa kok kamu bangun?", "lha memang kenapa, saya tidak apa-apa kok", jawab Kholid, temannya ini pun bergumam, wah ini Kholid mati bo'ong-bo'ongan ini. Demikian cerita singkat dari teman beliau dengan sedikit perubahan tanpa merubah isinya.

Masya Allah... Subhanallah...

Banyak sekali Ibroh, Hikmah dan Karomah yang terjadi di Hari Sabtu 3 November 2012 di Kota Poso ini, tentunya bagi mereka yang mau mengamati dan merenungkannya. Dan insya Allah Gerakan Masyarakat Muslim dan Persatuan Ummat Islam khususnya yang berada di Kota Poso ini menjadi pertanda dan awal kemenangan dan Tamkin di Nusantara ini bi idznillah.

Takbirrr... Allahu Akbar...

Tak lupa untuk selalu mendoakan Para Mujahidin di manapun mereka berada, khususnya yang berada di Nusantara ini, karena sebagaimana telah diulang-ulang bahwa kemenangan Mujahidin adalah masa depan Kaum Muslimin dan kekalahannya ada mimpi buruk Ummat Islam, karena merekalah Pengawal Inti dari keberlangsungan Ummat Islam yang siap menjaga dan membela Kaum Muslimin dari serangan-serangan dan tipu daya orang-orang kafir yang selalu berupaya untuk merongrong eksistensi Ummat ini.


Poso,

4 November 2012, 11:49 WITA 
-----------------------------------------
AMZ melaporkan untuk THORIQUNA
------------------------------
-----------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar