Selasa, 04 Desember 2012

BAHAYA DHO’FUN- NAFS DALAM JIHAD

Mujahid yang mempunyai tabiat dasar mudah emosi, sedang tabiat dasarnya tersebut belum dipoles dengan tarbiah, mengandung bahasa potensial, baik bagi eksistensi imannya maupun masa depan perjuangan secara kolektif.

Orang yang mudah naik darah berpeluang untuk mudah dipancing melakukan tindakan sebelum waktunya. Hal itu dikarenakan sifat bawaannya cenderung tidak mampu menahan diri hingga tindakan yang dilakukannya tidak menunggu waktu yang tepat. Ibarat menembak, dia sudah memberondong musuhnya sebelum masuk jarak tembak yang afektif .

Tentu saja hal itu menjadikan serangannya tidak efektif, keberadaannya telah diketahui sehingga mudah bagi musuh untuk mengantisipasi serangannya, melokalisir posisinya, dan melakukan serangan balik.

Singkatnya, bawaan dasar mudah naik darah potensial untuk ta’ajjul (tergesa gesa bertindak) dan kehilangan sifat ta-anni (hati hati dan penuh perhitungan).

Ibnul Qoyyim mengutip perkataan Muawiyyah bin abu Sufyan

,”Saya seorang penakut, jika tidak ada peluang akan tetapi saya seorang pemberani jika peluang terbuka”. [Al Fawa-id]

Orang sering menganggap mudah marah identik dengan syuja’ (pemberani), padahal keduanya berbeda.Ghodbah (mudah marah) adalah keadaan dimana seseorang tidak mampu mengendalikan kemarahan dan melampiaskan kemarahan itu seketika, sedang syuja’ (pemberani) adalah keadaan seseorang yang mampu me-manage rasa takut yang menyergap jiwanya, sehingga tidak tenggelam dalam kepanikan, bertindak secara benar dengan kadar yang tepat dan pada waktu yang tepat pula.

Marah tatkala melihat saudara muslim dibunuh tanpa hak, disiksa, dan dipenjarakan secara tidak adil maka adalah wajar, bahkan menunjukkan kecemburuan kepada islam dan solidaritas terhadap sesama muslim.

Tetapi melampiaskannya seketika tanpa mengukur kemampuan dan jamaah terhadap setiap reaksi balik yang akan dihadapi menjadikan kemarahan itu seperti senjata yang menerkam diri dan jamaahnya.

Begitu pula jiwa yang lembut, perasaan kasih sayang, mudah tersentuh melihat penderitaan orang lain merupakan kebaikan yang dikaruniakan Alloh kepada seorang hamba. Kelebihan seperti itu bisa berubah menjadi potensi kelemahan bagi seorang hamba yang sedang mendapat ujian sebagai tawanan.

Saat fisiknya dikuasai oleh musuh maka mereka akan mengamati dan menguji.

Jika ternyata si hamba tersebut ternyata seorang yang gampang terenyuh, tidak tega terhadap penderitaan orang lain, maka didatangkanlah istri dan anaknya oleh musuh tersebut, disediakan biaya besuk dan di fasilitasi tempat menginap ditambah cerita pilu karena istrinya menjadi single parent mengurus anak dan rumah tangga.

Sebuah amunisi musuh digelontorkan kepada mujahid yang tertawan dengan sifat kelembutannya yang sekaligus padanya menempel kelemahan.

Musuhpun tau benar kapan saatnya membentangkan tangannya untuk mulai dengan metode soft dalam melumpuhkan lawannya, wal ‘iyaadzu billah.

Jika ternyata si mujahid yang tertawan tersebut mempunyai sikap kecenderungan sikap tidak kompromi, tegas apalagi cenderung kasar, maka lain lagi yang dilakukan musuh terhadapnya.

Dipersempit dan dikurangi hak haknya ,begitu pula hak istri dan anak anaknya untuk sekedar bertemu dengan nya, untuk sekedar memberikan support mental dalam menghadapi ujian masing masing.

Tak jarang dilakukan operasi khusus melalui tangan terselubung untuk melakukan stigmatisasi kepada keluarga dan anak anak yang ditinggalkan...

Sehingga bumipun terasa sempit dengan keluasannya.Wallohu Al Musta’an.
Catatan Abdullah bin Fulan, FB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar