Sabtu, 01 Desember 2012

Ketegaran sebuah keluarga Mujahid Poso !


 foto ilustrasi

BISMILLAAH...

Kali ini saya akan menceritakan sebuah keluarga sederhana,sebuah keluarga yang rela hidup dengan segala resiko, agar dapat ikut andil dalam menegakkan kalimatillah.

Abu Azzam, begitu nama yang cocok untuk sang ayah, saya mengenal beliau di tahun 2000an, seorang yang tegas, penuh semangat dan berani.

Datang dari sebuah kota di daerah jawa dengan niat membantu saudarahnya yang terzalimi di Poso, walau tidak di serahi tugas kemiliteran seperti harapannya tidak membuat beliau patah semangat, beliau tetap istiqomah berdakwah, memahamkan umat akan dien ini, bahkan saat masa tugasnya usai beliau tidak mau berlama lama hidup tenang, beliau memboyong keluarganya hijrah ke bumi ribath dan jihad Poso.

Kehidupannya yang sangat sederhana membuat banyak ikhwan bersimpati, tapi harga dirinya membuatnya tidak gampang menerimah pemberian ikhwa2, berbagai macam usaha dia lakoni untuk menopang hidup keluarganya.agar trtap bisa bertahan di tempat yang ia harap bisa menunaikan puncak ibadah dalam dien ini, yaitu berjihad dengan harta dan jiwanya.

Alhamdulillah, penantian beliau untuk turut turun ke medan jihad akhirnya tercapai, dalam peristiwa pertempuran 22 januari beberapa tahun lalu, beliau mendapat kesempatan berhadapan langsung dengan dengan musuh2 dien ini, beliau maju menerjang barisan thogut laaknaatullah, sungguh keberanian yang jarang di miliki manusia, beberapa tembakan thogut menghantam dada beliau, namun kiranya rezeki syahid belum Allah berikan, peluru2 itu mental tidak menembus dada beliau, bukannya bersyukur seperti kebiasaan banyak orang saat selamat dari bahaya, beliau malah berseru, "Astagfirullah...., ya Allah, dosa apa yang telah ku perbuat? " (sehingga tidak di beri kesyahidan).saat itulah sebuah peluru menembus tangan beliau.

Saat ikhwan2 mundur beliau tertangkap oleh thogut dan sungguh, singa tetaplah ganas walau dalam kurungan, saat di introgasi oleh Surya Dharma yang saat itu menjadi petinggi Densus 88 laknatullah bukannya takut,beliau bah kan sempat mengancam, "tunggu, jika saya keluar akan saya bunuh kamu!".

Bebas dari penjara beliau kembali ke Poso, kembali mendakwahkan tauhid, membakar semangat perwira ikhwan2,. kiranya penjara semangkin membuat beliau cinta kepada jalan ini. Beberapa kali saya sempat berbincang dengan beliau, 'jika bisa memilih takdir, jelas ana memilih mati syahid daripada di tangkap! tapi takdir telah diatur, kita tinggal menjalani, begitu ucapan beliau yang masih terngiang, Umi Azzam istri beliau juga wanita perkasa, dengan 7 orang anak dan kehidupan pas2an tidak membuat Umi Azzam bersedih apalagi mengeluh, beliau begitu sabar dan qona'ah, berusaha tetap membahagiakan suami tercinta, turut ambil peranan, berdakwah dari majlis ke majlis, pernah suatu saat Abu Azzam bertanya,
 
 "Mi,sekarang antum kok kurus sekali ya, sudah tidak seperti dulu?", 
 
bukan mengeluh, beliau menjawab, "ya iya Bi, dagingnya udah di bagi2 sama anak2."
 
Begitupun saat sang anak tertua bertanya kepada beliau, 
 
"Mi, kenapa ana seperti di pisahkan dari keluarga, selalu di suruh tinggal di pondok pesantren?
 
 dengan lembut beliau menyahut, 
 
 "Kita ini hidup di dunia sebentar, biarlah kita terpisah pisah hidup di dunia insya Allah kita akan berkumpul kelak di akhirat yang kekal".

kini keluarga Abu Azzam kembali mendapap ujian, Abu Azzam kembali di tangkap oleh keparat Densus 88 laknatullah, semogah Allah menjaga mereka, dan tetap menjadikan keluarga yang istiqomah di atas dien ini.menjadi teladan bagi keluarga kita semua.

*Oleh akhuna Haydar SY -semoga Alloh menjaganya-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar