Selasa, 22 Januari 2013

Catatan Hati Seorang Singa Penjebol Dinding Bengisnya Penjara "Roki Aprisdianto alias Atok Prabowo"

CATATAN  HATI  ORANG  PELARIAN

KATA PENGANTAR
10 Desember 2012 jam setengah delapan malam di terminal kota Madiun, didalam sebuah bus MIRA jurusan Surabaya – Jogyakarta, telah ditangkap seorang pemuda dengan penampilan gaul : Rambut gondrong, mata sipit berkacamata, seperti warga keturunan China.

Semua mata tertuju padanya, rasa heran bercampur keingin tahuan terhadap apa yang sedang terjadi. Ternyata pemuda tersebut adalah buronan yang tengah dicari-cari. Seorang teroris yang tengah kabur dari markas kepolisian itu. Roki Aprisdianto alias Atok Prabowo.

Wajah buronan tersebut bener-bener tidak mirip dengan yang ditampilkan ditivi. Rasa tidak percaya bercampur kekhawatiran jangan-jangan didalam tasnya ada bom aktif.

Didalam bus, tepatnya dibawah jok tempat duduk teroris tersebut, ada beberapa barang yang tercecer disitu yang tidak sempat diteliti oleh polisi. Barang-barana yang entah sengaja ditinggal ataukah terjatuh dari teroris buron tersebut.

Adapun tulisan dengan judul CATATAN HATI ORANG PELARIAN ini, melihat isinya adalah tulisan yang sengaja ditulis oleh teroris buron tersebut. Inilah tulisan yang ditinggalkannya. Sengaja kami upload sebagai pengayaan pengetahuan kita bersama.

Up- load-an ini tidak kami rubah sedikitpun dalam hal isi. Hanya saja beberapa catatan yang terdapat coretan-coretan koreksian, sengaja tidak kami tampilkan karena itu berarti telah diedit atau disortir oleh pemiliknya.

Sebagai pembuka, kami tampilkan juga apa yang dia tinggalkan, berupa selembar kalimat-kalimat ringkas mirip puisi :

HARUS

Bagaimana Aku Merasa Jumawa?
Sementara Sketsa ku Harus Mudik

Waqi’ Memaksa Kakiku

Untuk Berjingkat dititik yang
Disitu Seribu Gendewa Membidikku

Harus Mengendap di Pelataran yang
Dipastikan Sebagai Area Bunuh Diri

Duhai Waqi’ Yang Bisu...
Kenapa?

Kenapa Harus Kau Titahkan Padaku
Dengan Ucapan : HARUS ! ! !
Sehingga Akupun Harus Tergiring
Disana

Ah, Waqi’ Temanku,
Bahasa Isyaratmu Aku Seorang
Yang Bisa Memahaminya

Aku Membaca Amat Jelas Mimikmu
Dan Aku Harus Kesana
Sudah !

Sedangkan Orang Lain Tak Tahu
Bahasamu

Karena Kau Hanya Temanku, Waqi’
Hanya Aku...

(Mbah Goeroe)

Entah apa makna tulisan tersebut, berikutnya kami ketengahkan ke hadapan anda tulisan yang ada di tangan kami ini. Semoga bisa memberi faedah dan pelajaran bagi kita.
Selamat membaca dan menyimaknya. Tulisan yang terkandung nasehat dan penyemangat untuk berjihad dengan jujur.
Salam hormat dari kami, orang yang menyaksikan kondisi penangkapan di Terminal Kota Madiun itu.

Tim Simpatisan
Tegaknya Keadilan


CATATAN  HATI  ORANG  PELARIAN
Sebuah Risalah dari seorang DPO yang kabur dari
Rutan Polda Metro Jaya

Bismillah, Segala puji hanya bagi Allah, dzat yang telah menurunkan syari’at jihad yang mengandungi banyak resiko yang amat berat. Salam serta sholawat senantiasa mengalir atas nabi yang murah senyum lagi suka/sering berperang menghancurkan musuh-musuh Allah. Terlimpah pula atas seluruh keluarga serta sahabat-sahabat Beliau SAW. Aamiin.

Kita berharap senantiasa menjadi pengikut manhaj salaf dengan pemahaman tiga generasi awal Islam, dengan pengetrapan secara maksimal. Laa haula walaa quwwata illa billah.
Wa ba’du!

Risalah ini hanyalah sekeping rasa yang hendak aku tuangkan dalam tulisan sebagai bentuk keprihatinan saking banyaknya komentar-komentar miring, apriori, pengusiran, sikap diam serta tindakan-tindakan yang tanpa disadari sebenarnya menjatuhkan diri sendiri kedalam kebinasaan serta merugikan diri sendiri.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa tiap-tiap aktivitas jihad itu tidak akan pernah sepi dari pencela. Bukan sekedar datang dari musuh-musuh, bahkan kalangan ikhwan pun tak jarang secara langsung maupun tidak, terjebak dalam aktivitas ghibah yang ber-efek menyempitkan ruang gerak si pelaku amaliat tersebut. Memang begitulah karakteristik sebuah amaliat. Dimana, jika tampak keberhasilan dari amaliat tersebut, banyak yang berseru lantang memuji-muji sembari mengklaim diri ikut terlibat atau membangga-banggakan sebagai orang yang pernah mengenalnya. Akan tetapi, ketika amaliat tersebut belum atau tidak jua terlihat “kemenangannya”, maka kata-kata kejipun membanjiri begitu  bandang. Menyalahkan, mencela, menghalang-halangi bantuan yang hendak menyapa, mentahdzir, meng-hajr, dan lain sebagainya.

Sungguh! Sebenarnya ini adalah kerugian yang besar bagi mereka sendiri, yakni orang-orang yang duduk-duduk manis sambil komentar-komentar itu, bukan bagi para pelaku amaliat. Mereka seakan-akan lupa bahwa tidak sama antara merintis dengan sekedar meneruskan. Ya Allah Ya Kareem.

Barangkali, ini adalah salah satu jawaban dari teka-teki mengapa kemenangan dan tamkin tidak segera kunjung di bumi persada nusantara kita ini. Ya, tiap-tiap ujian yang hadir itu adalah penyeleksi (tamhis) bagi kita semua. Beratnya ujian jika tidak kita hadapai atau bahkan kita malah lari menjauh tersebut merupakan tamhis; apakah kita layak menerima rahmat tamkin itu ataukah tidak. Sikap dan tindakan kita terhadap tiap-tiap amaliaters itu merupakan ujian keimanan.

Kemenangan dan tamkin yang saat ini belum bangkit memang sebuah keniscayaan dari sunnatullah, agar orang-orang yang pengecut, tidak terlibat sama sekali, tidak tahan uji dan lain-lain itu; mereka tidak mudah mengaku-ngaku sebagai orang yang memiliki andil. Sebab tegaknya tamkin bersamaan dengan terhinanya orang-orang yang hina. Wallahul Musta’an.

Karenanya, agar diri ini layak menerima amanah berupa tamkin dan syahadah haruslah dihindari jalan-jalan kehinaan tersebut. Yakni sikap buruk kita terhadap para pelaku pergerakan yang tengah bergerak. Jangan mudah memberi komen miring dari sesuatu yang kita tidak ikut terlibat didalamnya. Mending diam dari pada berkoar tentang sesuatu yang tidak dari sumbernya langsung.

Dalam hal ini, aku telah mendengar, baik secara langsung maupun tidak langsung, betapa banyak ghibah bahkan fitnah yang dialamatkan pada salah seorang DPO (Math-lubin) yang lari kabur dari rutan POLDA Metro Jaya lantai empat. Dan orang tersebut adalah aku sendiri; ATOK! Begitulah ikhwan-ikhwan memanggilku. Nyaris tak ada yang tahu nama asliku, kecuali setelah tertangkapnya aku Data diriku pun masuk ke kepolisian, maka sejak saat itu ada beberapa ikhwan tahu bahwa nama lahirku adalah ROKI APRISDIANTO. Sebuah nama yang sudah tidak aku pakai sejak tahun 1999 itu.

Ya! Risalah ini aku sendiri yang menulis tanpa tekanan, pesanan, dan paksaan ataupun rekayasa dari fihak musuh. Aku tuliskan keprihatinan ini secara sadar. Bukan semata-mata lantaran panas hati lantas membela diri. Namun karena rasa sayangku terhadap ikhwan-ikhwan yang acap tergerogoti amalannya disebabkan ghibah dan fitnah yang terus disebarkan tersebut tanpa pernah sekalipun tabayun. “Bagaimana bisa tabayyun? Wong tidak pernah bisa ketemu?!” Maka, jika tidak bisa tabayun lebih baik diam daripada memikul dosa. Ingat! Daging orang Islam itu beracun!

Ikhwah fillah, dahulu aku sering mendengar tentang nasib para DPO yang acap terusir. Mereka kesulitan mendapat pintu dan uluran tangan lantaran ketakutan yang kerap merajai hati orang-orang yang ditemui. Takut dipenjara, takut terpantau, takut terkena peluru misterius yang membedil pecah kepalanya, takut keluarganya ikut-ikutan terjebak dan lain-lain alasan yang memang itu logis.

Berbagai alasan disampaikan guna mengusir secara halus. Minteri (mendikte/menggurui) dengan tidak sopan seakan-akan para DPO itu adalah orang-orang yang kebingungan menemukan jalan buntu serta amat bodoh.

Maka aku katakan; jika kita takut dan khawatir terhadap sesuatu yang menimpa kita, sungguh, para DPO pun memiliki rasa yang sama. Bahkan ketakutan mereka melebihi kita. Sehingga, kewaspadaan mereka pun menjadi sesuatu yang benar-benar sangat diperhatikan oleh tiap-tiap DPO. Mereka singgah ke suatu tempat bukan sekedar ingin main dan main-main. Mereka pasti telah memperhitungkan semua itu. Sebab tidak mungkin ada DPO yang tidak hirau akan keseelamatan nyawanya. Logikanya, filling orang yang merasa diburu (benar-benar diburu) itu pasti lebih sensitif dari kita yang tidak ngapa-ngapain ini. Percuma kita memarahin dan menggurui dengan bahasa yang menghinakan mereka, kalau toh hendak memberikan masukan, alangkah baiknya dengan bahasa yang enak, nikmat didengar dan tidak dimaksudkan untuk segera menyuruh mereka (DPO) pergi dari rumah kita. Apa untungnya sok buron?! Yakni tidak melakukan apa-apa tapi takutnya bukan main. Sebuah ketakutan yang diciptakan sendiri.

Tidaklah kita terhalang dari fadhilah-fadhilah jihad, kecuali disebabkan oleh kemaksiatan-kemaksiatan yang kita lakukan sendiri.
Dan jihad tidak tergantung pada senioritas. Seseorang yang dahulu pernah berjihad, atau orang yang saat ini tengah menjalani kehidupannya sebagai ash-habussijin, belum tentu dia bisa istiqomah. Betapa banyak para senior-senior kabir yang kini telah futur, suka membangga-banggakan pengalamannya dan kedekatannya dengan tokoh-tokoh teruji, tidak mau membela amaliat-amaliat yang dianggapnya tidak satu jama’ah dan lain-lain.

Banyak senior-senior dan ash-habussijjin yang ‘kapok’alias jera dengan kesusahan-kesusahan dalam perjuangan. Banyak yang takut disaingi oleh lahirnya singa-singa baru yang sedang disebut-sebut. Banyak yang takut kehilangan pasukan. Banyak yang turut serta menggembosi ikhwan-ikhwan lain untuk mentahdzir ikhwan-ikhwan lain tanpa bukti yang kuat. Nelangsa....

Banyak yang mlempem tapi mereka malu menampakkan kepengecutannya itu. Mereka suka menebar isyu dan fitnah. Iya! Tapi  memang ini adalah sebuah keniscayaan. Mereka menjadi ‘Slilit’ bagi pergerakan perjuangan Islam. Banyak yang jadi komentator, sementara mereka masih didengar.

Tapi jihad tetap benar-benar tidak terikat dan tidak bisa dipengaruhi oleh figuritas seorang tokoh senior. Ia akan senantiasa berlanjut meski banyak yang telah berguguran dijalan ini.

Namun tidak boleh memungkiri bahwa kita pun butuh sosok yang bisa menjadi penggerak. Dan itu tidak harus orang yang pernah pegang AK-47. Apalah arti pengalaman seabreg kalau kenyataan sekarang cuma jadi kambing?! Hanya pandai beretorika tanpa mau lagi membantu jihad yang tengah membara! Sungguh, hal itu seperti pengalaman dua hari yang berlaku/berjalan selama empat puluh tahun. Walaupun mereka kerap berkicau bahwa telah bersinggungan dengan dunia haroki selama lebih dari 40 tahun.

Karena itu, rumus dalam memilih rekan ataupun ustadz, yakni: “kenalilah dahulu kebenaran itu sendiri, niscaya kita akan mengetahui siapakah orang-orang yang berjalan diatas jalan itu!”

Ini penting banget. Salahnya kita mengambil ustadz berimplikasi pada salahnya kita dalam hal tindakan dan ucapan. Fenomena kayak gini sudah lama terjadi dan telah sering dialami para ikhwan dalam ranah haroki. Satu contoh kasus yang amat populer dikalangan kita yakni santernya fitnah yang kemarin menimpa asy-syahid –kamaa nahsabuhu- Ustadz Urwah. Ketika itu beliau diisyukan sebagai orangnya Nasir Abbas yang amat dekat dengan Densus, dan masih banyak lagi fitnah-fitnah yang diiringi dengan bukti-bukti atau saksi-saksi atau kejadian-kejadian yang jika dihubung-hubungkan membentuk suatu logika yang seakan-akan membuktikan bahwa beliau adalah begini dan begini. Akhirnya beliau pun dijauhi banyak ikhwah. Ditahdzir oleh mulut-mulut jahat para senior sekaliber ustadz-ustadz kabir yang pernah berjihad.

Tidak semua yang kita lihat itu, sesuai dengan kenyataannya. Singkat kisah, maka banyak yang terperangah dan menyesali dzon-dzon yang sebelumnya ikut mereka hembus-hembuskan disaat itu. Kesyahidan serta tanda-tanda yang menguatkan bahwa beliau benar-benar jujur terhadap azzamnya cukup sebagai bukti dan hujjah yang mematahkan fitnah-fitnah yang menerpa tersebut. AllahuAkbar!

Iya, dahulu mereka menjadi DPO dan ter-lepeh, seperti riak lendir yang dimuntahkan amat menjijikkan dalam tatapan orang-orang pengecut. Dahulu mereka terfitnah. Kini, aku sendiri yang mengalaminya. Banyak yang bilang aku keluar dari penjara karena stress. Banyak yang ngomong aku kabur dari polda adalah sebagai jebakan dari Densus. Aku dituduh sebagai orang yang sengaja dilepaskan guna mengungkap jaringan.

Tahu apa mereka tentang niatku dan waqi’ di Polda?
Tanpa tahu kronologi sebenarnya, banyak juga yang memvonisku sebagai orang yang suka melecehkan martabat perempuan dengan cara membaur dalam kerumunan akhwat-akhwat bercadar. Rendah nian penilaian itu. Menuduhku dengan suatu perbuatan yang sama sekali tidak pernah aku lakukan.

Maka, akupun merasa terpanggil untuk menjawab tuduhan-tuduhan tersebut. Bukan lantaran tidak kuat terhadap statemen-statemen murahan itu. Sungguh! Aku sama sekali tidak risau dengan semua itu. Sebab secara hakikat, keadaan ini justru membuatku memanen pahala yang besar. Aku dialiri pahala dari orang-orang yang meng-ghibahi-ku, atau dosa-dosaku yang pekat ini dilimpahkan kepada mereka. Keuntungan yang besar bagiku dan kerugian yang besar-lah bagi tiap-tiap peng-ghibah! Pemfitnah! Pembeo! Penghembus kabar dusta!
Kasihan sekali mereka....

Ya! Agar dosa-dosa mereka tidak terus-terusan menumpuk, perlulah aku jelaskan mengenai perjalananku sampai bisa keluar dari cengkeraman jahat para thawaghit itu. Boleh percaya, boleh tidak! Terserah! Wamaa syi’tum! Yang jelas, membebaskan diri atau membebaskan para tawanan muslim yang ditawan oleh musuh-musuh Allah adalah suatu kewajiban. Betapa, hanya karena adanya satu tawanan muslim yang tertawan, menjadi fardhu ‘ain-lah status jihad yang sebelumnya fardhu kifayah, sebab darah satu orang Islam itu lebih mahal dari pada Ka’bah.

Meski sedih itu pasti ada, tapi aku tidak peduli terhadap sempitnya ruang gerakku yang disebabkan oleh fitnah yang menudingku sebagai orang densus. Beginilah resiko perjuangan. Tidak ada amaliat yang mulus-mulus terus. Pasti pro kontra itu ada.
Tidak perlu bertanya apa misiku keluar dari rutan. Sungguh, ketika kita mengetahui banyak peluang untuk kabur tetapi hal tersebut tidak kita ambil, itu artinya kita telah berdosa. Merasa nyaman dengan fasilitas yang diberikan adalah kebinasaan. Hingga tatkala peluang itu terbuka lebar, akupun berusaha membulatkan tekad. Melawan tiap-tiap ketakutan yang merantai. Membuat perencanaan dan, biidznillah berhasillah langkah ini meninggalkan terali angkuh yang mengurungku.

Seperti mimpi rasanya. Setengah tidak percaya kalau ATOK yang lemah ini bisa meraih kamuliaan ini. Ini benar-benar Rahmat Allah. Bukan semata-mata karena keberanianku mempertaruhkan nyawa.

Aku sadar dengan segala resiko dan konsekwensi yang harus ku hadapi pasca larinya aku dari rutan. Kemungkinan-kemungkinan terburuk telah aku perhitungkan serta siap aku hadapi. Benar, tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Alaisa kadzalik?
Takutkah aku? Tentu! Aku tidak mau berbohong atau sok pemberani.

Jangankan jadi DPO, menjadi orang yang ditemui DPO aja ada ketakutan tersendiri juga. Tak cukup sekedar itu, sampai-sampai difatwakan terhadap segenap anak buahnya untuk menutup pintu atas kehadiran DPO. Dan ini nyata terjadi sejak dulu.
Nah, ketika ruang gerak seorang DPO menyempit lantaran ketakutan-ketakutan para ikhwah, tentu akan lebih menyiksa jika ditambah-tambahi dengan isyu-isyu tidak benar seputar mereka. Jadi DPO memang lebih sengsara daripada jadi orang yang dipenjara. Orang yang dipenjara, mau tidak mau dia harus sabar. Dia dipaksa oleh keadaan untuk tetap tinggal disitu. Adapun dengan DPO, ia memiliki hak, waktu dan kesempatan untuk tidak sabar. Dengan kata lain mereka punya hak pilih/peluang untuk menyerah. Sedangkan menyerah adalah bukti sebuah kegagalan dan ketidak sabaran. Hina!

Semoga aku bisa istiqomah....
Aku berharap bisa membuktikan bahwa kaburnya aku dari polda adalah dalam rangka fiesabilillah. Amaliat. Kalau sekedar untuk bersembunyi, mudah bagiku mencari tempat aman.

Sejak awal telah kufahami bahwa pulang ke rumah adalah bunuh diri. Oleh karena itu berusaha aku lakukan untuk tidak pulang. Silahkan para monyet itu menungguiku di tiap-tiap sudut rumah keluargaku. Tungguilah aku sampai lumutan! Mereka boleh saja berganti shift tiap sekian jam. Mari kita lihat, siapa yang lebih kuat. Wallahul Musta’an.

Kemewahan dan kesenangan adalah musuh jihad!
Merasa aman, nyantai dan pola hidup berleha-leha itu adalah racun! Keterlenaan disaat jihad telah fardhu ‘ain merupakan bencana. Semoga kita faham ini.
Orang yang terbiasa nyantai dan tidak serius, mereka sangat membenci resiko. Padahal tiap-tiap kemuliaan dan pahala pasti berbarengan dengan beratnya resiko ataupun ujiannya.

Terasa janggal dan paradogsal sekiranya kita menginginkan jannah, akan tetapi jalan menuju kesana tidak kita tempuh. Kalau toh mau menempuh, dipilih-pilih mana yang tidak beresiko atau mana-mana yang tidak membahayakan diri, harta dan keluarganya. Aneh. Ingin mendapatkan fadhilah-fadhilah jihad tapi tidak siap menghadapi kerasnya batu cabaran. Jangankan menghadapi, sekedar mendengar ada DPO aja udah khawatir. Takut kalau mampir kerumahnya. Lantas segera ambil langkah antisipasi yang lebay. Waswas tak bisa ditenangkan. Membuat statemen-statemen konyol : “Dia pasti sudah dikuntit. Posisinya pasti sudah diketahui bla.. bla.. bla..”

Maka, ketika ketakutan itu mulai tidak waras, merugilah siempunya rasa itu. Mereka kehilangan kesempatan yang kerap singgah. Entah itu kesempatan menampung DPO, kesempatan membunuh thoghut, kesempatan mengambil fai’, kesempatan berangkat ke medan ma’rokah dan lain-lain kesempatan berharga lainnya.
Ikhwan dengan kwalitas kayak gitu bagaimana bisa membuat perubahan?
Kalau memang benar-benar tidak berani, OK! Tidaklah mengapa. Asal janganlah ikut berceloteh miring tentang apa yang tidak diketahui. Tidak perlu juga membahasakan kecurigaan kita terhadap si DPO kepada anggota jama’ah atau khalayak. Kalau tidak bisa ngomong baik, diam! Simpel bukan? Terlalu banyak obrolan ngalor ngidul hanya akan menambah dosa.

Yup! Lihatlah! Kini aku bisa menulis lagi. Sama seperti waktu aku masih di penjara dulu.
Aku tanya, kalau akau dibilang stres, mungkinkah orang stres masih bisa menulis? Masuk akalkah ada orang stres yang bisa membikin perencanaan-perencanaan kabur dari rutan dengan melewati banyak penjagaan dengan mengelabuhi densus bangkai 88? Kalau orang stres saja bisa lari dari keterhinaan, disebut apakah orang yang tidak bisa lari?! Betapa miskinnya logika berfikir mereka....

Yah, suka-suka kalian mau berkata apa. Toh aku beramal bukan karena makhluk dan bukan karena ingin dilihat!
Adapun dengan tudingan yang mengatakan aku berbaur menyusup dalam kerumunan ummahat, itu adalah fitnah keji. Sampai-sampai dibuat bahan kajian (majelis ghibah) orang-orang salafi maz’um dakhili dalam rangka membuat image yang buruk tentang mujahidin.

Tahu tidak, kenapa sampai sekarang fihak kepolisian tidak mau mempublikasikan sorotan CCTV mengenai hal ihwal lariku dari Polda? Sebab mereka malu ketahuan akan betapa rapuhnya sistem penjagaan mereka di Polda.

Aku benarkan bahwa aku pakai cadar hitam waktu itu. Jangan heran, banyak ikhwan ash-habussijin yang berjualan pakaian disana. Dan aku membelinya tanpa mereka tahu maksud aku membeli jubah lengkap dengan cadar dan kaos kakinya. Aku katakan kepada penjual pakaian sebagai alibi bahwa pakaian tersebut ingin aku hadiahkan kepada seseorang. Sungguh! Tak satupun ikhwan-ikhwan penjara yang tahu rencanaku. Sama sekali tidak ada yang tahu. Aku menngambil pelajaran dari kejadian sebelumku, dimana sempat terjadi rencana kabur. Gergaji sudah dibeli, rencana sudah matang, tapi akhirnya gagal karena banyak yang tidak setuju dengan banyak pertimbangan. Banyak yang tidak mau lari, banyak yang tidak merestui. Tidak perlu aku rinci dimana kejadian tersebut. Yang jelas, adanya satu orang yang mngetahui sebuah rencana, akan menjadikan seribu orang mengetahui. Bukannya aku tidak percaya dengan para ikhwan disana. Aku hanya takut rencana yang telah lama aku susun gagal. Kalau aku tidak ajak-ajak teman, itu karena ikhwan-ikhwan yang aku percaya serta benar-benar bisa menjadi mitraku telah lama dipisahkan dari aku. Mereka beda blok. Ada juga yang telah dipindah di LP, atau ditempatkan di rutan yang lain. Aku bisa saja merekrut beberapa ikhwan satu blok dengan aku. Tapi tidak mau aku lakukan demi keberhasilan misiku untuk keluar dari Polda. Aku tidak mau ambil resiko dengan berspekulasi karena ini masalah besar. Aku tidak mau melibatkan  orang-orang yang belum lama bersinggungan dengan aku. Sementara aku di Polda belum genap satu tahun.

Sebelumnya aku dipenjara di MAKO BRIMOB. Pernah dipenjara di belakang, yakni penjara Provost dan pernah juga di Blok A dan blok C Rutan Mako Brimob. Penjagaan disana (Brimob) super ketat. Waktu kunjungan jam bezuk, polwan dari densus laknatullah ikut menjaga, mengecek dan menggeledah barang bawaan para akhwat. Sangat jauh berbeda dengan Polda yang tidak mengikuti standard penjagaan.
Aku merasakan program deradikalisasi di tiap-tiap rutan amat kuat. Entah itu berupa pemberian fasilitas-fasilitas, atau doktrin-doktrin dari mahasiswa-mahasiswa “Islam” dan orang-orang BNPT yang kerap datang ke MAKO yang “berdakwah” dengan memanggil satu persatu ikhwan untuk diajak dialog. Huft!!! Percuma ngobrol dengan mereka. Bullshit!

Sejak di MAKO aku sudah memikirkan rencana untuk kabur. Tapi peluang disana amat kecil. Susah. Kita sering dikeong, hampir tiap-tiap jam penjaga datang mengecek. Beda banget dengan di Polda. Kalau di Polda, 24 jam pintu sel selalu dibuka. Tapi pintu blok tetap di gembok. Dengan demikian kami bisa saling berkunjung dari sel satu ke sel lainnya. Aku berada di Blok D lantai 4. Tiap lantai memiliki dua blok. Lantai 4 adalah blok khusus teroris. Disebelah blok kami dibatasi dengan ruang kunjungan, masih ada  satu blok yang juga khusus teroris. Kami dibatasi oleh terali dan gerbang besi.

Maaf, aku tidak malu nyebut diri teroris. Aku justru bangga disebut teroris oleh musuh-musuh Islam. Memang, irhabiyun ana! Irhabana mahmud! Mengirhab (meneror) musuh-musuh islam adalah perintah dari langit!
Yak! Rutan Polda Metro Jaya memang aslinya rutan khusus narkoba. Kami; para teroris; adalah tahanan titipan dari densus 88 anti Islam. Jam bezukan cuma hari selasa. Dari jam 10.00 – 14.00 WIB. Kalau tahanan narkoba kunjungan tiap hari dan itu sampai jam 3 sore. Beda jauh ya?

Rutan Polda memiliki 4 lantai. Lantai satu khusus narkoba, lantai dua khusus narkoba perempuan dan bloknya Ali Imron. Perlu diketahui, tiap lantai memiliki dua blok. Lantai tiga juga khusus narkoba, lantai empat khusus teroris. Antara satu blok/lantai tidak bisa saling berbaur karena tiap blok terjeda oleh gerbang yang rapat. Yang bebas naik turun dan dapat izin untuk keluar masuk blok adalah bloknya Ali Imron. Mereka mendapatkan perlakuan istimewa disana. Pintu selalu terbuka lebar-lebar buat mereka.

Meski disana terkategori sebagai bloknya para “komandan”, tapi aku tidak begitu salut dengan mereka. Dari lantai empat kami sering lihat mereka tatkala dapat kunjungan dari Nasir Abbas, Kadensus H. Syafi’i serta beberapa tokoh kontrofersi dikalangan jama’ah, sambutan mereka amat mesra. Salam tempel amat mesranya. Muak aku melihat pemandangan itu dari atas. Terakhir kami lihat Abu Rusydan bareng Nasir Abbas membezuk mereka, bawa banyak oleh-oleh. Kami juga kecipratan oleh-oleh mereka.

Aku mengakui, waktu masih di MAKO kami tidak bisa menghindari salam tempel dari pembesar-pembesar densus karena kondisi kami ketika itu benar-benar berada dalam presser atau tekanan yang sangat. Beda dengan Polda, lebih-lebih lantai dua. Ikhwan-ikhwan di Polda itu banyak. Terkumpul jadi satu. Para penjaga takut menghadapi kami. Wong sipirya aja pernah aku lempar pakai botol kaca dan aku tantang tidak berani dia. John Key Ambon pernah aku lempar dengan gelas juga, penjaga tidak ada yang berani bertanya-tanya siapa si pelempar tadi. Asal mereka tahu bahwa pelakunya teroris, mereka sudah takut. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya mental para polisi itu bener-bener kayak tempe. Saaangat penakut. Padahal mereka punya senjata. Padahal itu ada dalam kandang mereka.
Coba bayangkan, pantaskah sekiranya ada sepuluh orang pemuda Islam merasa takut menghadapi satu polisi yang sendirian di jalan raya itu? Apakah keberanian sepuluh pemuda yang terkumpul menjadi satu masih kalah dengan kepengecutan seorang polisi?

Ini membuktikan bahwa penyakit wahn telah menggerogoti. Telah menyebar sangat akut. Wahn! Cinta dunia dan takut perang! Takut mati karena otak sudah kadung dipenuhi “strategi-strategi” untuk menang tanpa penderitaan. Mungkinkah? Sudah sekian tahun, bahkan puluhan tahun kita diburu terus. Kapan giliran kita memburu?!
Begitulah. Dan, seperti itulah kondisi penjagaan dan para penjaga disana. Aku bersyukur bisa dipindahkan di Polda. Dengan kondisi mereka yang selemah itu, aku bisa kian leluasa mengelabuhi dan membuat mereka kian terlena. Seperti strategi Sun Tsu, “Pura-pura menjadi babi untuk menangkap macan!”. Semakin musuh memandang lemah kita, maka itu semakin bagus. Seperti inilah gerilya. Perangnya fihak lemah terhadap fihak yang kuat. Maka, jangan mengumbar ancaman disaat kita sedang lemah. Biarkan mereka memandang kita sebagai orang yang telah lemah, sebab dengan begitu mereka tidak terlalu mengawasi dan mewaspadai kita. Nah, dicelah itulah kita bergerak!

Aku melihat, sisi penjagaan disana amat lemah. Paling lemah jika dibandingkan dengan rutan-rutan lain. Hanya nama doang yang mentereng : POLDA METRO JAYA. Kenyataannya sistem securitynya sangat kalah jauh dengan polsek.
Ketika aku melihat sistem penjagaan mereka yang amburadul dan begitu nyantainya, lantas aku ambillah moment berharga itu. Sudah menjadi kewajiban bagi para mujahidin untuk terus menempuhi jalan-jalan kemuliaan! Fikiran dan konsentrasi harus terus terfokus pada gerak amaliat! Harus serius! Dimana ada kesempatan, harus segera kita ambil! Ini demi untuk akhirat kita. Maka aku tidak pernah peduli terhadap komentar-komentar orang-orang yang mengatakan bahwa aku ini sangat bodoh. Bodoh karena tidak sabar menunggu waktu yang tinggal beberapa tahun lagi bebas.

Sungguh! Bukan sekedar kebebasan yang aku inginkan. Aku hanya ingin bersegera dari rahmat Allah.
Luka-luka, kelelahan, ketakutan, celaan dan semua onak duri itu adalah keniscayaan yang harus dilalui. Mana ada jihad yang “adhem-adhem” aja?! Sampai semangka itu tumbuh ubannya, tak akan pernah ada jihad yang tanpa pengorbanan.
Ambil syaria’at islam seluruhnya, atau tidak sama sekali. Habis perkara!
Aku tahu, kepada siapa harus menjual nyawa!!!!
OK, tanyakan pada orang-orang tsiqoh di Polda tentang bagaimana kondisi penjagaan disana. Terutama pas waktu kunjungan. Atau, tanyakan pula pada ikhwan-ikhwan yang pernah membezuk disana.

Disana itu, waktu pas jam bezukan, tiap blok dibuka. Jadi, kita bisa keluar masuk ruang bezukan meski kita tidak dibezuk. Pembezukpun juga bebas memasuki blok dan sel-sel kami. Apalagi, diblok kami ada empat kamar yang difungsikan sebagai Ruang Biologis (RB), sehingga para ummahat juga bebas keluar masuk blok kami. Jangan dibilang enak. Dimanapun penjara itu susah. Jauh dari ‘sanak kadang’. Kecuali lantai dua, bloknya Ali Imron CS. Dilantai dua, pembezuk bisa nginep sampai berhari-hari. Wallahi, aku tidak sedang membual!

Adapun dilantai kami, meski kemudahan-kemudahan semisal RB disediakan, akan tetapi semua itu tidak bisa lepas dari politik duit. Kita serba mbayar disana. Money is negosiation in my jail!

Ada anggota densus yang namanya Khaidir, dia bisa, mau dan sering membantu mengusahakan kunjungan diluar jam bezuk, asalkan mbayar. Ini bukan cerita dari orang lain tapi aku tau sendiri karena aku termasuk orang yang pernah juga memakai “jasa”nya dengan beberapa ikhwan lain.
Di Polda tiap pembezuk tidak harus setor KTP, misal ada lima pengunjung, hanya dengan satu KTP mereka sudah boleh masuk/ naik ke atas.

Di ruang bezukan yang kesemuanya adalah kasus terorisme, para pembezuk bisa bebas keluar masuk ruangan tanpa melalui proses cek ulang. Biasanya mereka keluar masuk dalam rangka pergi ke warung buat beli makan siang untuk dimakan bersama-sama. Wallahi, omonganku bisa dipertanggungjawabkan! Terlebih, semua densus yang sering berjaga-jaga disana umumnya lebih suka bercanda-canda mojok sendiri. Mereka lupa dan sama sekali tidak memperhitungkan ghiroh mujahidin yang tak pernah redup.

Dilantai empat, pengecekan cuma dilakukan ketika masuk dan pulang saja. Beda dengan lantai dua, bloknya Ali Ilmron yang sama sekali tidak ada pengecekan. Asal ngomong mau berkunjung ke lantai dua menemui ustadz anu, sudah boleh masuk tanpa ada KTP. Kalau toh harus setor KTP, itu hanya sebatas formalitas belaka. Aneh! Kondisi kayak gitu koq tidak dipakai untuk lari. Udah merasa nyaman sih!
Sengaja aku ungkapkan kondisi di lantai dua Ali Imron, yakni sebagai pemberitahuan mengingat perang ini harus dipimpin oleh orang-orang yang serius, tepat menempatkan wala’ wal baro’ serta tidak mudah menunda-nunda amaliat dengan dalih strategi. Jangan sampai kita tertipu oleh ketokohan seorang senior. Meskipun aku tahu bakal dibenci oleh banyak kalangan, tapi aku tidak peduli. Ini demi untuk menjelaskan kepada ummat.

Perlu dicatat, aku tidak sedang menggeneralisir lantai dua karena tentu masih ada ustadz-ustadz yang masih tsiqoh. Ini hanya cerita tentang keadaan disana.
Aku menyadari, tiap fasilitas dan perlakuan disana adalah rangkaian program deradikalisasi. Termasuk lantai empat juga terus diserang dengan program tersebut. Barangkali orang masih tidak percaya bahwa disana kita bebas pegang HP dan Laptop. Walaupun secara formalitasnya tidak boleh, tapi seluruh penjaga disana tahu kalau kami pegang HP. Wong kami tuh kalau bel-belan suka terang-terangan di depan mereka. Maka tidak perlu heran jika hampir semua ikhwan disana punya akun facebook.

Inilah ujian keimanan bagi mujahid. Kearah manakah fasilitas-fasilitas tersebut hendak dibawa? Disadari atau tidak, dengan adanya HP sanggup mendekatkan orang yang jauh, tapi disatu sisi bisa menjauhkan orang yang dekat. HP bisa menjadi ajang bisnis, menjalin pertemanan, perekrutan, hiburan, kemaksiatan dan lain-lain. Ini tergantung kita.
Dimanapun tempat adalah ujian. Orang penjara pun masih diuji. Dalam ujian ada ujian.

Aqidah wala’ wal baro’ kita diuji disana. Sikap assidda’u ‘alal kuffar, ruhama’u bainahum kita bener-bener terbuktikan di tempat itu. Baik berupa ucapan maupun tindakan. Keseriusan kita menapaki jalan-jalan perjuangan masih tetap harus dibuktikan. Makanya ketika kesempatan emas itu ada didepanku, segeralah aku songsong. Tidak aku sia-siakan.

Aku pun melenggang keluar dengan santainya tapi dalam dada bergejolak gemuruh ketakutan yang begitu sarat. Aku menuruni tiap lantai sendirian. Tidak bersama kerumunan para akhwat/ummahat sebagaimana yang dikoar-koarkan media-media sinting itu. Ya, keluar masuknya pengunjung untuk membeli nasi bungkus sendirian diwaktu-waktu itu merupakan hal biasa disana. Tanpa pengecekan ulang. Mungkin mereka (para penjaga) mengira bahwa aku adalah pengunjung yang hendak turun keluar membeli nasi.

Hmm, maaf.
Satu hal yang ingin aku sampaikan, semoga akhwat yang sandalnya aku pakai tanpa izin ketika itu bisa ridho. Memang ruang bezukan dilantai empat tersebut berupa aula besar berkarpet, semisal masjid, gitu. Untuk masuk kesana mesti lepas sandal. Sementara tempat melepas dan memakai sandal ada di dekat penjagaan. Aku tidak bisa membawa sandal dari ruang sel untuk aku pakai langsumg. Makanya terpaksa harus aku ambil salah satu sandal yang ada disitu.

Afwan jiddan.
Aku tidak tahu milik siapa sandal yang aku ambil tersebut. Semoga si pemilik bisa ridho dan mendapatkan pahala disisi Allah. Amien.
Kita faham, Polda itu begitu luas. Jalannya berliku-liku. Lantas dari mana aku bisa tahu jalan keluar menuju jalan raya?

Ketahuilah, kasus terorisme itu membutuhkan waktu sidang empat bulan. Seminggu dua kali jadwal sidangnya. Tiap kali sidang kita melewati jalan itu-itu aja sehingga kami pun sangat faham route-route menuju keluar. Tidak perlu peta, tidak juga pemandu. Untuk itu jangan heran kalau daerah tersebut seakan-akan telah aku kuasai. Apalagi aku disana masih sering sidang. Yakni sidang saksi untuk beberapa kasus lain yang masih terkait. Karena itulah sampai sekarang aku belum juga dipindahkan ke LP.

Aku bener-bener telah melarikan diri tanpa adanya unsur konspirasi.
Aku banyak memetik pelajaran berharga dengan pengalaman pernah dikurungnya aku dalam terali. Ada yang memprediksi aku akan lebih brutal dari apa yang sebelumnya pernah aku lakukan. Tidak! Tidaklah begitu! Aku bahkan semakin bisa lebih santun. Pengalamanlah yang mencetak aku untuk berusaha seperti itu. Aku tahu musuh-musuh itu jahat. Sadis. Tak berperi kala menyiksa. Tapi mereka juga punya tim yang terus menerus melakukan pendekatan secara persuasif. Maaf, jihad itu harus obyektif. Kelemahan dan kelebihan musuh harus kita jelaskan secara rinci. Tidak sekedar keburukannya saja. Dari situlah aku tidak mau kalah dalam hal perlakuan. Ini bukan mudahanah sebab jihad akan tetap terus aku lakukan.

Membunuh atau terbunuh.
Yuqtal au yaghlib!
Gimana? Apakah kurang jelas ceritaku?

Sunnguh telah kupilih sendiri jalanku untuk tetap lurus dalam amaliah jihadiah. Aku sadar bahwa jalan ini lebih banyak mengandung resiko. Kebebasan dan kesenangan hidup nyaris tidak ada.

Benar-benar aku telah meninggalkan Polda lantai empat. Suatu tempat yang jika dibandingkan dengan posisiku kini sebagai DPO boleh dibilang jauh lebih nyaman.
Ah, Polda. Rasanya masih terasa kebersamaan bersama beberapa ikhwah. Disana kami biasa saling bercanda. Terutama dengan ikhwan-ikhwan bom buku dan kelompok senjata Abu Umar. Tiada hari yang terlewatkan kecuali selalu ada canda disana. Aku sangat sedih berpisah dengan mereka tapi jalan ini lebih wajib untuk ku tempuhi.

Lari dari Polda berarti juga menjauh dari keluarga. Sebab hampir tiap saat aku bisa sering bel-belan dengan istri-istri dan anak-anakku yang sangat merinduiku. Mereka begitu mencintaiku. Mereka adalah keluargaku yang selalu berusaha mempertahankan ikatan cinta sesama kami, meski orang-orang tua kami tidak/belum ridho karena aku teroris.

Subhanallah, aku bersyukur memiliki keluarga yang begitu kuat lagi setia menjaga kehormatan.
Maka akupun juga berusaha untuk lebih mencintai mereka. Dan jalan yang aku lalui ini sebagai bukti besarnya cintaku terhadap mereka semua. Aku sedang bekerja membangun dan memburu bekal keabadian sebagai tempat paling nyaman untuk menjalin cinta. Itulah jannah. Disana ada suara yang lembut memanggil-manggil. Bermahkota kemegahan. Mengalir dibawahnya sungai-sungai nan asri.
Ya, hanya ada dua pilihan. Syurga atau neraka. Itu saja. Tak ada opsi ketiga.
Maafkan aku, kawan-kawan. Jika saat ini kalian lebih dijaga ketat, itu menurutku hal yang biasa. Sebab kita ini adalah SINGA. Sudah sewajarnya singa dijaga dan diawasi.

Adapun dengan kondisi kemarin-kemarin, dimana seperti kondisi dilantai dua Blok Ali Imron, yang bebas keluar masuk area Polda; entah itu dalam rangka menjemput, ikhwan-ikhwan yang mau berkunjung atau dalam rangka apapun; itu menunjukkan bahwa mereka sudah dapat dijinakkan. Sudah tidak berbahaya lagi sehingga bisa bergerak sebebas itu tanpa pengawalan.
Innalillahi, itu Singa apa TIKUS?

Ya, memang tidak ada salahnya memanfaatkan tiap fasilitas dan kemudahan-kemudahan yang ada, bahkan secara adab kita perlu membalas “Perlakuan baik” dari polisi-polisi tersebut dengan menunjukkan sikap lembut akhlaqul karimah, tapi tetap menjaga kemurnian Wala’ wal Baro’ kita. Dan bila perlu do’akan agar mereka mendapat hidayah. Akan tetapi, ketika kita melihat gerbang itu terbuka lebar tanpa penjagaan, maka wajib-lah kita lari. Seperti dimana kondisi ruang bezukan yang juga terbuka lebar untuk bisa keluar dengan mulus itu.
Sementara itu, ketika saat ini aku lari dan lalu menghadapi beberapa kendala yang pelik, aku tidak kaget.

Aku tahu, memang idealnya harusnya sebelum lari dipersiapkan terlebih dahulu ini dan itu. Tapi aku melihat kondisi ikhwan-ikhwan diluar kurang steril. Banyak penyusup sekarang ini. Makanya aku menempuh strategi pendadakan. Suatu strategi yang akan mengagetkan serta mampu membikin ikhwan justru lari, kecuali yang faham militerisme dan ia jujur.

Ya begitulah. Maaf kalau aku rada-rada sok militer!
Kepada ikhwah-ikhwah semua yang aku tinggalkan di Polda, aku minta maaf. Aku tahu pasca keluarnya aku dari Polda tentu membawa efek bagi kalian. RB mungkin sudah tidak ada, penjagaan lebih diperketat, dan beberapa perubahan-perubahan signifikan lainnya. Ya, tapi menurutku hal itu jauh lebih baik daripada terus-terusan hanyut dalam kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh thoghut. Sebab itu adalah fitnah. Harus diakui “kebaikan-kebaikan” yang mereka berikan sebenarnya adalah racun yang membuat diri kita sering berakrab-akrab ria dengan para anshor thoghut.
Kini penjagaan di Polda kayaknya telah disamakan dengan rutan lainnya. Entahlah kalau lantai dua bloknya Ali Imron.

Aku pernah mendengar adanya ummahat yang marah lantaran RB sudah tidak ada lagi disana. Dia menyalahkanku sebagai orang yang telah membuat susah ikhwan-ikhwan lainnya.

Kalau cuma itu masalahnya, ingatlah dengan kasus kasus sebuah LP yang mana RB ditiadakan dikarenakan masalah-masalah sepele yang tidak ada kaitannya dengan perjuangan. Jadi tidak ada nilai pahalanya.

Maaf, bukannya egois.
Bukankah berjuang itu artinya terkorban? Kita harus siap menghadapi resiko apapun. Harus all out siap meninggalkan segala kesenangan-kesenangan hidup. Maaf kalau aku menggurui. Tapi, apakah statemenku salah?

Semoga rangkaian kejadian demi kejadian ini memandaikan kita, kian mendekatkan diri pada Ilahi Robbi, menguatkan azzam kita, melahirkan keseriusan yang jujur, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Mohon do’akan aku, shobat sekalian. Mari kita sama-sama saling membuktikan tauhid kita. Sungguh, dosaku ini amat banyak. Saking pekatnya, aku merasa tidak ada sesuatu yang sanggup membersihkan kecuali hanya dengan jalan syahid. Aku ingin syahid. Dan aku harus syahid. Harus!

Pun demikian, aku tetap akan tempuhi sebab-sebab menuju kemenangan. Kalau toh aku cuma bisa bertahan, maka aku akan melakukan pertahanan terbaik. Yakni, menyerang!

Laa haula wa laa quwwata illa billah.
Aku akan berusaha membalaskan sakit hati kalian. Sesungguhnya kesenangan kalian bukan terletak pada materi dan kenyamanan. Sekedar mengingatkan. Kesenangan kalian ada pada darah musuh-musuh Allah yang muncrat! Sedangkan riski kita, kita ambil dari mulut-mulut mereka!

Ikhwan, bersatulah! Mari sebisa mungkin menghindari kemaksiatan. Jangan tersibukkan dengan aib orang lain. Ya?!
Kemurtadan ada dimana-mana, tapi Abu Bakar sudah tidak ada! Umar sudah tidak ada!

Hukum Allah dicampakkan tapi ummat yang mengaku Islam tidak tergerak hatinya, bahkan cenderung menyibukkan diri dengan hiburan-hiburan, bisnis dan rekreasi belaka. Ingat, jihad adalah rekreasi kita!

Para muwahid ditangkepin, kehormatan wanita-wanita kita dirobek-robek, tiap jengkal tanah berikut segala aset-aset negeri telah dirampas thoghut dan acap dipakai buat pesta pora para penjajah negeri yang berhasa dan warna kulitnya sama dengan kita!

Duhai ikhwan-ikhwan yang tidak terkena udzur, bebaskanlah diri kita dari kehinaan ini! Bebaskanlah dari belenggu kemaksiatan yang disebabkan oleh keengganan beramaliat!

Rasanya sudah terlalu banyak aku menulis. Aku cukupkan saja sampai disini dulu.
Demikianlah risalah ini aku buat, pokoknya aku selalu minta maaf atas segala kesalahanku terhadap tiap-tiap ikhwah. Maafkan aku. Aku hanya berusaha semampuku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti padaku. Entah kemenangan, tertangkap lagi, ataukah syahid.

Wallahu A’lam bi showab.
Aku enggak mudheng.

Lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi telah dituliskan takdir kita.
Kepada Allah kita mohon pertolongan dan perlindungan.

Hmm, iya, pena telah diangkat dan tinta telah mengering. Tapi, aku tidak mau ditangkap lagi. Sebab aku tahu betapa perihnya masa-masa penyiksaan tatkala diinterogasi. Aku tidak mau hal itu terulang lagi.
Wallahu Al Musta’an.

OK, sebagai penutup, aku sampaikan pesan berharga bahwa sekali-kali kita tidak akan mendapatkan kemenangan jika kita tidak tahu sebab-sebab mengapa kita kalah. Dan kunci kemenangan adalah meninggalkan maksiat!
Hakadza!



Dari seorang hamba yang lemah



Roki @ Abu Ibrahim @ Atok Prabowo @ Herucokro @ Mbah Goeroe

sumber : GPT/Fachrurozzi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar