Selasa, 29 Januari 2013

Imarah Islam Azawad, Tanda Semakin Dekatnya Pembebasan Andalusia ?


Mujahidin_Afrika_Utara 

Ditengah sengitnya perang Salib modern yang di deklarasikan oleh Salibis eropa yang dipimpin oleh AS, banyak kejutan yang dilakukan umat Islam, dimulai dari berdirinya Daulah Islam Iraq, Imarah Islam Waqar (AQAP), pecahnya Arab Spring, Jihad Suriah dan yang tak kalah mengejutkan publik barat adalah berdirinya Imarah Islam Azawad, sebuah kekuatan Islam dari gurun pasir sahara.
Imarah Islam Azawad di deklarasikan pada tanggal 5 Rajab 1433 Hijriyah / 26 Mei 2012 lalu di kota Gao. Wilayah gurun pasir sahara ini awalnya merupakan wilayah Republik Mali, tetapi pejuang kemerdekaan bersama mujahidin berhasil menguasai dan menyatakan kemerdekaan Azawad pada awal tahun 2012 lalu setelah mereka berhasil mengusir Tentara Nasional Mali.
Imarah Islam Azawad sekarang diperkuat oleh koalisi mujahidin yang terdiri dari mujahidin lokal Harakah Anshorud Dien, Mujahidin Gerakan Tauhid dan Jihad untuk Afrika Barat, mujahidin internasional Al Qaeda Afrika Barat (AQIM/Al Qaeda in Islamic Maghrib).
Kemunculan mujahidin Azzawad, tidak bisa dilepaskan oleh akar sejarah mereka, dimana sebelumnya di wilayah tersebut pernah berdiri sebuah daulah yang menjadi kekuatan Islam di Maghrib dan Andalusia. orang barat menyebutnya sebagai Al Moravids, menunjuk pada nama Al Murabithin (mujahidin yang berjaga-jaga di daerah perbatasan musuh).
Apakah kemunculan Imarah Islam Azawad ini adalah tanda, bangkitnya daulah Al Murabithin ? dan tanda dekatnya pembebasan Andalusia ? Wallahu a’alam, yang pasti mereka (Imarah Islam Azawad) adalah sekelompok mujahidin yang mempunyai visi dan misi yang sama dengan daulah Al Murabithin. Hal inilah yang mendorong koalisi salibis mati-matian menghalangi berkembangnya Imarah Islam Azawad.
Sejarah Berdirinya Daulah Al Murabithin
 
Daulah ini berkuasa dari tahun (448-541 H / 1056-1147 M), dearah kekuasaannya meliputi wilayah maghrib yaitu Maroko, Sahara Barat, Gibraltar, Tlemcen (Aljazair), Senegal, Mali dan wilayah Andalusia yaitu Spanyol dan Portugal.
Sebelum berdirinya daulah ini, wilayah maghrib telah sampai pada kondisi yang memprihatinkan, dimana kekuasaan khilafah berhamburan, dan berpecah menjadi imarah-imarah kecil, sementara itu wilayah Afrika bagian utara diserang oleh orang-orang Norman yang membawa misi kedengkian kaum Salib.
Diantara sederetan kondisi yang suram ini, munculah di tengah padang pasir besar Afrika sebuah kelompok kekuatan Islam yang menyerukan untuk kembali berpegang teguh dengan Agama Islam dimana ini merupakan unsur pokok kekuatan kaum muslimin. Dan mulailah babak kehidupan baru, yaitu dengan menjadikan Islam sebagai undang-undang hukum yang mengatur kehidupan manusia di segala aspek kehidupan.
Adalah Asy Syaikh’ Abdullah bin Yasin rahimahullah, beliau mendapat tugas mulia, sebagai seorang pengajar. Beliau mulai menyampaikan dakwah tentang wajibnya kembali berhukum kepada syariat Islam dalam keadaan sedang melakukan ribat (berjaga-jaga dimedan tempur) beliau menimbang-nimbang tempat manakah yang lebih tepat, di Senegal atau di Nigeria.
Berkumpulah disekitar beliau sekelompok orang dari daerah lamtunah, salah satu daerah yang masuk wilayah Shanhajah seperti jadalah dari kalangan Al Baranis Al Barbar. Jumlah mereka mencapai 1000 orang laki-laki. Disebutlah mereka dengan nama ‘Al Murabithin’ nisbat kepada ribath yang dilakukan oleh ‘Abdullah bin Yasin, dimana mereka mengambil pengaturan agama maupun strategi jihad di dalam kelompok ini (Al Murabithin). merubah mereka yang semula penggembala unta menjadi sekelompok mujahidin yang mengemban dakwah tauhid, untuk meluruskan pemahaman aqidah. Mereka juga dinamakan dengan Al Mulatstsimin atau Al Mulatstsimah (orang-orang yang memakai penutup muka).
Pemimpin Al Murabithin yang terkenal adalah Yusuf bin Tasyifin rahimahullah, (nama beliau pernah dijadikan oleh AQIM sebagai sebuah nama brigade mujahidin di mali)  yang berhasil menyatukan wilayah Maghrib dan menyelamatkannya dari perpecahan, juga berhasil melenyapkan berbagai kemungkaran. Mereka berhasil menghilangkan pajak-pajak yang dzolim. Mereka membagi seperlima dari harta rampasan perang kepada Al Murabithin dan para fuqha (ulama). Mereka juga berhasil menerapkan Syariat Islam yang saat itu sudah mulai ditinggalkan, mereka juga berhasil menumpas sekte Rafidhah sehingga anggota sekte sesat Rafidhah yang tersisa ruju kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Dengan demikian daulah Al Murabithin telah siap untuk melebarkan sayapnya ke arah Andalusia (Spanyol dan sebagian Portugal). Yusuf bin Tasyifin pun telah merencanakan hal ini, dan mulailah ia membuat kapal-kapal yang nantinya digunakan untuk menyeberangi laut (yang memisahkan Afrika dengan daratan Andalusia).
bersambung, insyaaAllah.
sumber : diolah buku Pertempuran Sengit di Andalusia antara Islam dan Nashrani karya Dr. Jamil ‘Abdullah Muhammad Al Mishri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar