Minggu, 20 Januari 2013

Serangan Pasukan Salibis Perancis Yang Terkutuk Dan Masa Depan Imarah Islam Azawad


Pasukan_Kafir_Perancis 
Kamis, 10 Januari 2013, Gao. Salah satu kota penting yang berada di bawah wilayah kekuasaan Imarah Islam Azawad ini dibombardir oleh pasukan kafir salibis Perancis yang bermaksud menguasai kembali dan merebut kota Konna. Dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur, pasukan kafir Perancis ini secara biadab menghujani kaum Muslimin dan Mujahidin di Imarah Islam Azawad tersebut.
Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius sesumbar mengatakan pergerakan milisi di Mali telah dihentikan.
“Menghentikan teroris, hal itu sudah dilakukan,” kata Fabius pada radio RTL. Jika Perancis tidak mengintervensi, ada risiko bahwa milisi dapat memperluas operasi mereka hingga ke ibukota Mali, Bamako.
Kebohongan Menlu Perancis dan media kafir yang menyebarluaskannya tersebut langsung dibantah oleh komandan Mujahidin. Melalui Sahara Media, sumber informasi terpercaya Mujahidin Imarah Islam Azawad dilaporkan bahwa Mujahidin dari Gerakan untuk Tauhid dan Jihad di Afrika Barat (MUJWA) mengirimkan bala bantuan untuk bergabung dengan Mujahidin dari Imarah Islam Azawad, bertempur di garis depan. Dalam pertempuran tersebut, Mujahidin bahkan berhasil menembak jatuh sebuah helikopter Perancis dan menewaskan setidaknya satu pilot musuh.
Tidak hanya menyerang Imarah Islam Azawad. Dua hari kemudian, yakni Sabtu, 12 Januari 2013, pukul 02.00 pagi, Perancis melancarkan sebuah operasi rahasia, pembebasan sandera, ke Somalia. Lima helikopter Perancis dikerahkan dalam misi rahasia tersebut, menyerang kota Bulo Marer, sekitar 30 km selatan Marka, wilayah Imarah Islam Somalia, Lower Shabeelle.
Serangan terkutuk dari Pasukan khusus Perancis yang ingin membebaskan agen intelijennya, Dennis Allex lagi-lagi gagal dan membuat Perancis kehilangan muka dan mengakibatkan tewasnya beberapa pasukan khusus Perancis, dan melukai yang lainnya.
Bahkan komandan pasukan dalam operasi tersebut tewas mengenaskan
Komandan_Pasukan_Kafir_Perancis_2
meninggalkan banyak harta rampasan perang (ghanimah) serta berbagai informasi penting. Ironisnya lagi, Dennis Allex, akhirnya dieksekusi oleh Mujahidin Al Shabaab akibat dikhianati oleh tuannya sendiri, Perancis.
Perancis Tidak Rela Imarah Islam Azawad Eksis Dan Memperluas Wilayahnya
Awalnya adalah deklarasi Imarah Islam Azawad. Azawad, sebuah wilayah di utara negara Mali tersebut seketika menjadi negara Islam, dengan sebutan Imarah Islam Azawad pada hari Jum’at, 6 April 2012 lalu.
Lahirnya Imarah Islam Azawad, alhamdulillah, hasil perjuangan Mujahidin Anshoruddin yang berkolaborasi dengan pejuang Gerakan Nasionalis Suku Tuareg Pro Kemerdekaan, atau yang lebih dikenal dengan nama MNLA.
Pasca deklarasi, Imarah Islam Azawad terus mengalami perkembangan, termasuk mulai menerapkan syariat Islam di Timbuktu, salah satu kota penting di Azawad, kemudian di kota Gao, dan terus meluas. Tentu saja, perkembangan menggembirakan Imarah Islam Azawad ini mengkhawatirkan musuh-musuh Islam, dari kalangan salibis, terutama Perancis, sang penjajah kolonial yang merasa memiliki Mali.
Awalnya, Perancis tidak berani secara langsung masuk ke Mali dan menghancurkan Imarah Islam Azawad, melainkan menggunakan pemerintahan boneka untuk berhadapan dengan Mujahidin dari Imarah Islam Azawad.
Melalui Menteri Luar Negerinya ketika itu, Alain Juppe, Perancis jauh-jauh hari sudah menegaskan bahwa Perancis tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk menyelesaikan kemerdekaan Azawad.
“Tidak akan ada penyelesaian ketentaraan untuk Tuareg. Penyelesaian politiklah yang kita butuhkan,” demikian kata Juppe. Hal ini karena selain takut, biaya dan kesulitan untuk bertempur di Gurun Sahara, menjadi alasan pertama mengapa tidak ada ekspedisi militer di Azawad.
Salibis Perancis justru menyeru sekutu bonekanya, antek-anteknya yang penurut, seperti pemerintahan boneka Aljazair, Mauritania, dan sekutunya di Mali di kelompok kawasan ECOWAS, untuk berunding, atau membantu memberikan dukungan logistik kepada pasukan kawasan, utamanya untuk menghentikan Mujahidin dalam menyebarkan pengaruhnya di kawasan Afrika dan negara-negara Magribi.
Namun, karena usaha ini gagal, dan pengaruh Imarah Islam Azawad semakin meluas, bahkan dikabarkan sudah hampir mencapai ibukota Mali, Bamako, maka Perancis pun menjilat ludahnya sendiri, menggempur Imarah Islam Azawad.
Nafsu Perancis untuk menyerang dan menggempur Imarah Islam Azawad semakin menggelora sebagaimana ditunjukkan oleh Menteri Pertahanan Perancis, Jean-Yves Le Drian.
“Perancis akan melakukan apapun untuk memerangi kelompok-kelompok jihad yang telah melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir ini”, kata Le Drian. Perancis telah mangadakan kontak dengan menteri pertahanan Amerika Leon Panetta, katanya.
Sebagaimana diberitakan oleh Sahara Media, Komandan mujahidin Anshoruddin
abou oumama
menegaskan pemboman intens yang dilakukan oleh penjajah Perancis terhadap kota Konna.
Setidaknya satu orang Muslimah dilaporkan syahid setelah pasukan penjajah Perancis membombardir kota, dan tercatat telah terjadi gelombang eksodus massal dari warga setempat, tetapi Alhamdulillah penduduk setempat sepenuhnya mendukung Mujahidin.
Komandan Mujahidin Anshoruddin mengatakan bahwa penjajah dan antek-anteknya juga membom masjid kota. Tidak ada korban yang dilaporkan di antara Mujahidin.
Karena agresi terbuka oleh pasukan penjajah Perancis melawan Mujahidin, Al Qaeda Wilayah Islam Maghribi atau yang lebih dikenal dengan singkatan AQIM mengeluarkan peringatan, ditujukan kepada Hollande,
Socialist candidate Hollande news conference in Paris 
di mana Mujahidin telah menyatakan dengan jelas bahwa invasi Perancis terang-terangan dan mencolok akan sangat merugikan dan harus dibayar mahal oleh Paris.
Abdullah al-Shankiti hafidzahullah, salah satu pejabat AQIM, mengatakan bahwa intervensi tentara salib Barat bertujuan untuk menghentikan pelaksanaan Hukum Syariah di Mali (yang dilaksanakan oleh Imarah Islam Azawad).
Beliau mengingatkan Paris bahwa warga Perancis sekarang sedang ditahan oleh Mujahidin, dan berjanji bahwa jika Perancis terus melanjutkan agresi mereka, Perancis akan membayar harga yang sangat mahal.
Sementara itu, komandan penjajah Perancis, Laksamana Edouard Guillaud mengklaim bahwa Perancis hanya ingin menghentikan kemajuan Mujahidin, dan tidak ada rencana untuk menyerang bagian utara Mali (Baca : Imarah Islam Azawad).
Seorang analis, Rudy Atallah, yang memiliki pengalaman yang luas di wilayah tersebut dan menjabat sebagai direktur kontra terorisme Afrika di kementerian luar negeri Amerika, menyakini bahwa jika Mujahidin bisa mempertahankan posisi mereka, mengalahkan penjajah Perancis dan Afrika dan membebaskan kota strategis penting Sevare dengan pangkalan militer utama (satu-satunya bandara di pusat Mali) dari tangan tentara boneka, maka menaklukan Azawad bagi penjajah hampir mustahil.
Perang Ini Adalah Jihad Melawan Tentara Salib
Juru bicara Mujahidin Anshuruddin, Syekh Sanda Ould Bouamama-hafidzahullah-mengatakan bahwa perang ini adalah jihad melawan tentara salib. Jika mereka meminta bantuan dari Perancis, maka kami meminta bantuan dan bimbingan Allah dan dari umat Islam lainnya di wilayah ini.
Alhamdulillah, faktanya Mujahidin dari Tauhid wal Jihad langsung menjawab kewajiban untuk membantu saudara-saudaranya berjihad mengusir penjajah Perancis dari Imarah Islam Azawad.
Meskipun media-media kafir, seperti Reuters terus menebarkan kebohongan dengan mengabarkan kota Konna telah jatuh, hal tersebut justru dibantah oleh para pejabat pemerintahan boneka Mali dengan mengatakan yang sebaliknya, yakni kota tersebut masih di bawah kendali koalisi Islam.
“Ini terlalu dini untuk berbicara tentang pemulihan penuh kontrol atas kota yang kita belum mengendalikannya”, kata seorang kolonel boneka, Diarran Kone.
Seperti dilansir AP, juru bicara Mujahidin Anshoruddin, Syekh Sanda Ould Bouamama-hafidzahullah- mengatakan ia tidak memiliki informasi mengenai situasi di Konna karena kurangnya koneksi:
“Saya tidak dapat memberitahu Anda jika Mujahidin kami masih di kota Konna atau tidak, karena sejak kemarin sore, saya tidak melakukan kontak dengan mereka”, kata Syekh Ould Bouamama Sabtu .
“Dioncounda Traore meminta bantuan dari Perancis, maka kami meminta bantuan dan bimbingan kepada Allah dan dari umat Islam lainnya di wilayah ini, karena perang ini adalah jihad melawan tentara salib”, demikian ujar beliau melalui telepon dari Timbuktu.
Dan pertolongan Allah kepada Mujahidin memang luar biasa. Mujahidin,atas idzin Allah, berhasil menjatuhkan sebuah pesawat helikopter Perancis dan menewaskan pilotnya. Allahu Akbar!
Syekh Sanda, juru bicara Anshoruddin juga mengatakan kepada Reuters bahwa warga Perancis juga akan menjadi target.
“Ada konsekuensi, tidak hanya untuk sandera Perancis, tetapi juga untuk semua warga negara Perancis, di mana pun mereka ditemukan di negeri kaum Muslimin,” kata Syekh Sanda Ould Boumama. “Para sandera sedang menghadapi kematian.”
Kejadian ini melengkapi kekalahan pasukan Perancis tidak hanya di Mali, tetapi juga di Somalia. Pada hari yang sama pasukan Perancis gagal dalam sebuah operasi penyelamatan Denis Allex, seorang agen intelijen Perancis yang ditahan oleh mujahidin Al Shabaab.
Dalam pertempuran tersebut, Mujahidin Al Shabaab berhasil memukul mundur pasukan Perancis yang mengakibatkan satu orang, yakni komandan pasukan khusus Perancis yang diterjunkan untuk memimpin operasi tewas secara mengenaskan. Allahu Akbar!
Ketakutan Perancis juga ditunjukkan oleh pimpinan tertingginya, presiden Hollande, yang segera memerintahkan ditingkatkannya penjagaan sekitar bangunan publik dan alat trasportasi di negara itu.
Sistem waspada anti teror Perancis yang disebut dengan nama “Vigipirate” langsung diaktifkan setelah perintah ini, dengan tekanan pengamanan pada bangunan publik serta jalur transportasi terutama pesawat dan kereta api. Status siaga akan tetap merah, level kedua tertinggi dalam upaya mencegah atau menghadapi aksi terorisme.
Pernyataan ketakutan yang sangat dari presiden Perancis, Hollande itu muncul hanya berselang beberapa jam setelah juru bicara Mujahidin Anshoruddin, Syekh Sanda Ould Boumama mengatakan kepada Reuters bahwa seluruh warga Perancis di seluruh negeri kaum Muslimin akan menanggung konsekuensi atas serangan brutal tersebut. Allahu Akbar!
Perancis Bagian Dari Koalisi Salibis Internasional Untuk Menggempur Imarah Islam Azawad
Peta_Koalisi_Salibis_Serang_Mali
Tidak bisa disangkal lagi, serangan terkutuk Perancis ke Mali, khususnya ke Imarah Islam Azawad, dan juga ke Somalia, merupakan agenda khusus dari Koalisi Salibis Internasional pimpinan AS.
Syekh Hazim Al-Madani dalam bukunya “Hakadza Naral Jihad Wa Nuriduhu” memasukkan Perancis di rangking satu prioritas musuh-musuh Islam. Selain itu, Perancis masuk dalam kategori persekutuan atau koalisi Salibis-Yahudi yang memerangi Islam dan kaum Muslimin tiada henti, hingga hari ini.
Dalam buku Fakta-Fakta Sewindu Perang Salib Baru dijelaskan bagaimana perang dan kiprah negara kafir harbi Perancis dalam memusnahkan Islam dan kaum Muslimin di negeri Maghribi Islami (Aljazair) yang menjadi anteknya.
Melalui pemerintahan bonek Aljazair, Perancis melakukan kristenisasi yang membuat generasi miskin Maghribi memeluk aqidah trinitas dan mengatakan bahwa Allah adalah Al Masih Ibnul Maryam. La haula wa laa quwwata illa billah.
Sedari dulu hingga kini, Perancis memiliki dendam dan permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslimin. Perancis, sebagaimana negara-negara barat kristen tidak rela sedikit pun akan kemajuan Islam dan kaum Muslimin, terlebih lagi jika mereka mampu dan berhasil menerapkan syariat Islam secara sempurna. Untuk itu, mereka atau Perancis selalu membuat kebijakan yang menentang Islam dan kaum Muslimin, serta syariatNya.
Perancis melarang kaum Muslimin di negeri tersebut mengenakan cadar atau burqa. Mereka juga melarang kaum Muslimin untuk membangun masjid dan menaranya, bahkan mengdiskriditkan dan mendzolimi hampir seluruh Muslim di negeri tersebut, khususnya para Muslimah.
Demikianlah kebencian yang sangat dari penjajah Perancis terhadap Islam dan kaum Muslimin, khususnya kepada syariat Islam. Jika kini Perancis menggempur Imarah Islam Azawad, maka pada hakikatnya itu adalah bentuk nyata dari kebencian Perancis terhadap syariat Islam yang semakin berkembang di Imarah Islam Azawad dan kemungkinan besar akan meluas ke seantero Mali, bahkan di negara-negara tetangganya. Hal inilah yang ditakutkan negara kafir harbi tersebut.
Dalam sebuah peta koalisi pasukan Salibis internasional bersama negara-negara bonek mereka, di bawah Perancis untuk menyerang Mali, terlihat negara Inggris, Italy, Belgia, Jerman, Denmark, dan tentu saja Uni Eropa (UE) ikut membantu Perancis dengan berbagai macam bantuan, termasuk dana, logistik, pasukan, dan senjata. Selain itu, Kanada, dan tentu saja AS, sebagai pimpinan perang salib baru, berada di belakang Perancis. Juga pasukan dari negara-negara kafir murtad, negara boneka yang ada di Afrika, seperti Senegal, Burkina, Togo, Nigeria, Benin, dan Niger.
Lebih parah lagi, PBB, yang selama ini masih dianggap sebagai institusi internasional yang netral (padahal PBB adalah antek koalisi Yahudi-Salibis)
PBB Senda Gurau
Ikut mendukung serangan terkutuk militer Perancis ke Mali melawan Mujahidin dari Imarah Islam Azawad. Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan serangan tersebut diharapkan dapat
memulihkan “integritas wilayah dan ketertiban konstitusi Mali”. DK PBB menggelar pertemuan darurat atas permintaan tuan-tuan mereka, khususnya Perancis pada Senin (14/1) di New York setelah serangan tersebut akhir pekan lalu. Setelah pertemuan Dubes Perancis untuk PBB Gerard Araud mengatakan pemerintahnya mendapat “dukungan dan pengertian” dari 14 anggota Dewan Keamanan PBB lain. Namun dia menambahkan bahwa Perancis juga menginginkan segera dikirimnya pasukan dari aliansi negara Afrika Barat “secepat mungkin”. Pasukan ini dikirim dengan payung resolusi DK PBB 2085, yang diteken Desember lalu dan memungkinkan digerakkannya sebuah pasukan beranggotakan 3.000-personil dengan pimpinan negara Afrika untuk turut mengamankan Mali karena situasi di lokasi yang nyaris hampa hukum dan penguasa sah. Pasukan asal Afrika diperkirakan sampai di Mali “dalam beberapa hari dan minggu” ini, kata Araud. Sementara pimpinan pasukan dipegang oleh Nigeria, yang komandannya sudah berada di lokasi.
Perang Besar Segera Terjadi, Khilafah Untuk Imarah Islam Azawad
Anshoruddin_4 
Perang terbuka dengan skala yang lebih besar nampaknya akan segera meletus di Mali. Marah, kecewa, bercampur rasa malu dan sombong menyulut Perancis untuk segera mengirimkan 2.500 pasukan darat untuk berhadapan langsung melawan Mujahidin Imarah Islam Azawad yang dibantu oleh Mujahidin Al Qaeda (AQIM), Mujahidin Tauhid wal Jihad, dan lainnya.
“Akan ada upaya secara bertahap untuk meningkatkan jumlah tentara Perancis hingga 2.500 personel,” kata seorang sumber yang dekat dengan Menteri Pertahanan Perancis, Jean-Yves Le Drian, Selasa (15/1/2013), seperti dikutip dari The Australian.
Sebelumnya, Presiden Francois Hollande sempat mengatakan, bahwa saat ini ada 750 tentara Perancis yang sudah ditempatkan di Mali. Tetapi, Hollande mengakui bahwa angka ini akan meningkat.
Rencana untuk mengerahkan pasukan sebesar itu bertentangan dengan saran para menteri pemerintah, bahwa keterlibatan pasukan darat Perancis akan dibatasi hanya untuk ‘melindungi’ ibu kota Mali, Bamako.
Menurut Le Monde dan media Perancis lainnya, Perancis juga berencana untuk mendaratkan sebuah kontingen besar tentara di kota Mopti, di wilayah tengah Mali. Dari titik ini, tentara Perancis bisa melakukan operasi militer ke wilayah utara negara itu.
Pasukan kafir Perancis telah melakukan invasi militer ke wilayah utara Mali atau di kawasan Imarah Islam Azawad tepatnya sejak akhir pekan lalu. Hal ini dilakukan untuk membendung eksistensi Mujahidin Imarah Islam Azawad yang berhasil menguasai wilayah Mali utara dan terus berkembang.
Tidak bisa disangkal lagi, kini mata seluruh dunia tertuju ke Mali, khususnya kaum Muslimin. Mereka harap-harap cemas dan terus melantunkan doa untuk kemenangan Mujahidin Imarah Islam Azawad yang dibantu oleh Mujahidin lainnya bersiap siaga menahan serangan pasukan kafir Perancis yang dibantu koalisi salibis internasional ditambah pasukan kafir murtad boneka negara-negara Afrika.
Perang besar berskala besar bisa jadi akan segera meletus, meningkatkan eskalasi dan tensi politik dan militer di negeri-negeri bekas jajahan kafir Perancis tersebut. Secara mengejutkan, Mujahidin bahkan melakukan serangan awal, sebagai langkah bertahan terbaik.
Sebuah pasukan Mujahidin yang menamakan dirinya Brigade Khaled Abul Abbas yang dipimpin oleh Abu Mokhtar Bin Mokhtar, menguasai Perusahaan minyak British Petroleum (BP) milik Inggris yang beroperasi di Aljazair.
Melalui juru bicaranya, Mujahidin menyampaikan ke media bahwa mereka berhasil membunuh 2 orang polisi, dan 6 orang lainnya terluka setelah mencoba melawan Mujahidin. Tidak ada dikabarkan adanya korban dari pihak Mujahidin. Mujahidin yang berafilisiasi dengan Al-Qaeda ini juga menyampaikan bahwa mereka menahan 41 para pekerja yang kebanyakan adalah warga negara Amerika, Perancis, Inggris, sisanya adalah beberapa warga negara lainnya seperti Jepang, Norwegia, dan Irlandia.
Mereka (Mujahidin) juga menyampaikan ke media, “Kami adalah dari Brigade Abul Abbas, yang dipimpin oleh Mokhtar Bin Mokhtar” katanya, seraya menyebutkan nama salah satu pemimpin Al Qaeda di Wilayah Barat Afrika. “Kami dikirim dari Mali dan menyususup ke Algeria” lanjutnya.
Tentu saja serangan gerak cepat dan taktis ini membuat syok koalisi salibis internasional dan memporak-porandakan rencana dan koalisi mereka. Perang besar, jihad melawan tentara salib nampaknya akan terus berlangsung dan menentukan masa depan Imarah Islam Azawad pada khususnya, dan kaum Muslimin pada umumnya.
Mujahidin Imarah Islam Azawad telah siap untuk berjihad. Bahkan mereka telah membantah klain media barat bahwa mereka telah dipukul mundur dan keluar dari kota Konna. Saat ini paling tidak telah bersatu antara Mujahidin Imarah Islam Azawad, yang lebih dikenal atau sebelumnya bernama Mujahidin Anshoruddin, kemudian Mujahidin dari Tauhid wal Jihad di Afrika Barat (MUJWA), dan bantuan dari Mujahidin Al Qaeda Wilayah Islam Maghribi (AQIM).
Dukungan dari gerakan-gerakan dakwah dan jihad seluruh dunia pun mulai mengalir ke Mali. Syekh Muhammad al Zawahiri hafidzahullah, adik dari amir Al Qaeda Syekh Ayman al Zawahiri hafidzahullah, kemarin membantu mengatur protes atau demonstrasi di depan
kedutaan Barat, yakni di depan kedubes Perancis di Kairo, memprotes invasi atau penjajahan Perancis atas Mali..
Menurut Agence France Presse (AFP), para pengunjuk rasa mengatakan bahwa Perancis telah “berperang melawan Islam” karena intervensi di Mali. Hal ini sangat jelas bagi kaum Muslimin yang masih diberikan oleh Allah bashirah, bahkan Presiden Perancis menyatakannya sendiri dan dibenarkan oleh firman Allah, Francois Hollande mengatakan bahwa Perancis tidak memiliki kepentingan di Mali kecuali untuk “mempertahankan Prinsip”. Dan kita tahu bahwa prinsip mereka telah tertulis di dalam Al-Qur’an, yakni :
“Orang-orang yahudi dan nasrani itu tidak akan pernah ridho kepadamu sampai kamu mengikuti millah (ajaran) mereka” (QS. Al-Baqoroh (2) : 120)
Dari London, dukungan untuk Mali, khususnya untuk Imarah Islam Azawad datang dari Syekh Anjem Choudary, dan para pendukungnya. Bersama umat Islam di Inggris, Syekh Anjem Choudary memimpin sebuah aksi unjuk rasa di depan kedubes Perancis di London, mengutuk serangan tersebut dan mendukung Mali untuk menegakkan Khilafah!
Dalam video yang telah dirilis, Syekh Anjem Choudary menyerukan “Bebaskan Tanah-Tanah Kaum Muslimin.”, dan meneriakkan, Shariah For Mali, alias Syariat Islam untuk Mali. Beberapa demonstran (terlihat juga anak-anak) membawa poster bertuliskan Jihad, dan Khilafah For Mali atau Khilafah Untuk Mali. Selain Syekh Anjem Choudary, Syekh Abu Izuddin juga terlihat memberikan orasi. Syekh Abu Izuddin sambil berorasi membawa poster bertuliskan : French Army : Crusaders! Pasukan militer Perancis, Tentara Salib!
Tentu saja, saat ini yang dibutuhkan adalah dukungan dari seluruh kaum Muslimin dalam berbagai bentuk dan sarana untuk kaum Muslimin di Imarah Islam Azawad.
azawat 
Bantuan dan dukungan bisa berupa aksi protes atas serangan terkutuk kafir Perancis di seluruh kedubes Perancis, do’a-do’a yang dilantunkan untuk kemenangan Mujahidin Imarah Islam Azawad, dan harapan serta doa agar masa depan Imarah Islam Azawad semakin membaik, penjajah kafir Perancis dapat diusir dari bumi Islam di seluruh Afrika, dan Khilafah Islam bisa ditegakkan di Mali dan sekitarnya. Allahu Akbar!
Wallahu’alam bis showab!
M Fachry
International Jihad Analysis
Sabtu, 7 Robiul Awwal 1434 H/19 Januari 2013 M
Al-Mustaqbal.net-Masa Depan Islam
http://al-mustaqbal.net

1 komentar:

  1. kedatangan pasukan perancis tu br7an untuk membebaskan gangguan AQ,itupun atas permintaan pemerintah Mali sendiri...AQ tak henti2nya membuat resah rakyat kecil....

    BalasHapus