Sabtu, 09 Februari 2013

Indonesia Budak CIA (Zionis - Amerika)

Terlibat Penyiksaan & Pemindahan Tahanan Rahasia

NEW YORK - Open Society Foundation (OSF), Selasa, 5 Februari 2013, meluncurkan hasil studi berjudul "Globalizing Torture: CIA Extraordinary Rendition and Secret Detention" (Penyiksaan Global: CIA Rahasia Penahanan dan Rendition Luar Biasa).

Studi ini menyoroti program rendition (pemindahan seseorang ke negara lain tanpa melalui proses hukum) dan penahanan rahasia yang dilakukan dinas rahasia Amerika Serikat, CIA, paska serangan teroris 11 September 2001 ke negara itu. Partner CIA dalam program rahasia ini 54 negara, termasuk Indonesia.

Negara-negara partner CIA itu berpartisipasi dalam operasi perburuan tersangka teroris ini dengan berbagai cara: ada yang menyediakan penjara di wilayah mereka;  membantu penangkapan dan pemindahan tahanan; menyediakan wilayah udara domestik dan bandaranya untuk penerbangan rahasia yang mengangkut tahanan; menyediakan informasi intelijen yang mengarah ke penahanannya. Di tahanan, mereka diperlakukan dengan aneka penyiksaan.

Partisipasi masing-masing negara dalam program ini berbagai macam. Polandia dan Lithuania mengizinkan CIA menjalankan penjara rahasia di negara mereka. Sejumlah negara Timur Tengah, Asia, dan Eropa, membantu dengan menyerahkan tahanan kepada CIA. Beberapa di antaranya melakukan penangkapan atas nama CIA. Negara-negara di Timur Tengah menginterogasi tahanan atas nama CIA, seperti yang dilakukan Yordania. Sedangkan Yunani dan Spanyol menyediakan bandaranya untuk memindahkan tahanan secara rahasia.

Inilah negara yang menjadi partner CIA dalam program rahasia tersebut: Afganistan, Albania, Aljazair, Australia, Austria, Azerbaijan, Belgia, Bosnia-Herzegovina, Kanada, Kroasia, Cyprus, Republik Ceko, Denmark, Djibouti, Mesir, Ethiopia, Finlandia, Gambia, Georgia, Jerman, Yunani, Hongkong, Islandia, Indonesia, Iran, Irlandia, Yordania, Kenya, Libya, Lithuania, Macedonia, Malawi, Malaysia, Mauritania, Moroko, Pakistan, Polandia, Portugal, Romania, Arab Saudi, Somalia, Afrika Selatan, Spanyol, Sri Lanka, Swedia, Suriah, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, Inggris, Uzbekistan, Yaman, dan Zimbabwe.

Apa peran Indonesia dalam program rahasia itu? Studi itu menyebutkan, setidaknya ada 3 orang yang ditangkap Intelijen Indonesia yang terkait dengan program itu: Muhammad Saad Iqbal Madni, Nasir Salim Ali Qaru, dan Omar al-Faruq. Madni ditangkap intelijen Indonesia di Jakarta, berdasarkan permintaan CIA. Ia lantas ditransfer ke Mesir. Nasir ditangkap di Indonesia tahun 2003 dan ditahan di sini sebelum ditransfer ke Yordania. Nasir selanjutnya dipindahkan ke fasilitas CIA di lokasi yang tidak diketahui sebelum akhirnya dipindahkan ke Yaman, Mei 2005. Sedangkan Faruq ditangkap di Bogor tahun 2002 sebelum ditahan di penjara rahasia CIA. Dia ditahan di Bagram, Afganistan, tapi melarikan diri, Juli 2005. Faruq mati ditembak pasukan Inggris di Basra, Irak, tahun 2006.

Dalam studi itu OSF itu disebutkan, setidaknya ada 136 orang yang dilaporkan menjadi korban operasi ini. Jumlah sebenarnya bisa jadi lebih banyak, tapi tak akan diketahui secara pasti sampai Amerika Serikat dan para mitranya membuka informasi soal ini kepada umum. Studi ini fokus pada tahanan rahasia CIA, tidak termasuk tahanan yang berada di Penjara Guantanamo, Kuba.

Laporan itu juga menuntut adanya pertanggungjawaban, baik dari Amerika Serikat maupun negara-negara yang membantunya itu. "Dengan terlibat dalam penyiksaan dan pelanggaran lain yang terkait dengan penahanan rahasia dan pemindahan tahanan tanpa proses hukum, pemerintah AS melanggar hukum domestik dan internasional, sehingga mengurangi hak moral dan mengikis dukungan untuk memerangi teroris di seluruh dunia," kata laporan OSF itu.

Studi itu menambahkan, negara-negara lain yang berpartisipasi dalam program itu juga harus ikut bertanggung jawab. Hingga kini, hanya Kanada yang telah meminta maaf atas perannya, sementara tiga negara lainnya -Australia, Inggris, dan Swedia- juga telah menawarkan kompensasi kepada individu yang menjadi korban operasi itu.

Presiden Barack Obama sudah memerintahkan untuk mengakhiri penggunaan interogasi yang keras ketika ia mulai berkantor di Gedung Putih, 2009 lalu. Tetapi OSF mengkritiknya karena masih mengizinkan adanya pemindahan tahanan tanpa proses hukum jika negara-negara tujuan itu berjanji untuk memperlakukan tahanan secara manusiawi.

CIA menolak mengomentari laporan tersebut. Direktur CIA 2006-2009 Michael Vincent Hayden, berbicara dalam pertemuan kelompok pemikir di Amerika Serikat bulan lalu, mengingat kembali apa yang ia sampaikan kepada duta besar Eropa tahun 2007. "Kami berperang dengan Al-Qaeda dan afiliasinya. Perang ini dalam lingkup global dan tanggung jawab moral dan hukum saya adalah memerangi mereka di manapun mereka berada."

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Michael Tene, belum bisa dimintai konfirmasi. Michael, yang sedang berada di Kairo, Mesir, tak bisa dihubungi. [Widad/tmp]

DPR Akan Panggil BIN Terkait 'Bantuan kepada CIA'

 














Jakarta - Terkait laporan tersebut Dewan Perwakilan Rakyat pekan depan akan memanggil Badan Intelijen Negara (BIN) terkait laporan yang mengatakan Indonesia terlibat dalam membantu badan intelijen Amerika CIA untuk menahan dan menyiksa tersangka teroris di seluruh dunia setelah insiden 11 September 2001.

"Laporan tersebut tampaknya telah mendapat perhatian publik. Dengan demikian, kami akan meminta penjelasan BIN dalam sidang minggu depan," kata Mahfudz Siddiq, Ketua Komisi I DPR yang mengawasi pertahanan dan urusan luar negeri, seperti dikutip The Jakarta Post, Kamis 07/02.

Mahfudz mengatakan, badan intelijen negara belum menginformasikan kepada komisi terkait kemitraan dengan CIA.

"Kami ingin tahu detil tentang keterlibatan badan intelijen kami dengan operasi CIA, meskipun BIN bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga asing dalam operasi rahasia," tambah Mahfudz yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Mahfudz menjelaskan bahwa penyiksaan yang dilakukan terhadap tersangka teroris tidak boleh dilakukan, merujuk kepada Konvensi PBB yang menentang penyiksaan.

Sementara itu, juru bicara BIN Ruminta tidak mau memberikan komentar terkait berita ini saat dikonfirmasi The Jakarta Post.

Laporan setebal 213 halaman oleh  Open Society Justice Initiative (OSJI) yang berbasis di New York menunjukkan bahwa Indonesia membantu CIA dengan menangkap tersangka teroris dalam program penahanan rahasia setelah serangan 9/11.

Laporan OSJI terebut mengungkapkan bahwa mantan kepala BIN AM Hendropriyono telah menangkap tiga tersangka teroris sejak tahun 2002, dan membantu pemindahan mereka untuk dibawa ke negara lain secara diam-diam dan mendapat penyiksaan.

Laporan pertama yang diketahui terjadi pada 9 Januari 2002, ketika Hendropriyono menangkap Muhammad Saad Iqbal Madni, warga negara Pakistan-Mesir di Jakarta.

Omar al-Faruq, yang dituding sebagai perwakilan al-Qaidah di Asia Tenggara yang dikabarkan menikah dengan wanita Indonesia, juga ditangkap di Bogor, Jawa Barat, pada tahun 2002, dan kemudian dikenakan tahanan rahasia CIA di Penjara Bagram, salah satu pangkalan militer terbesar AS di Afghanistan.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa Saleh Nasir Salim Ali Qaru alias Marwan al-Adeni juga ditangkap dan ditahan pada tahun 2003 dan dipindahkan tanpa izin dari Indonesia ke Yordania, di mana dia disiksa oleh petugas intelijen Yordania.

Hendropriyono sendiri menolak berkomentar atas laporan OSJI tersebut.

(voa-islam/muslimdaily)

2 komentar:

  1. gunakan tuh cara2 amrik,china,rusia dalam menanmkan ideologinya...dengan belajar mengembangkan tekhnologi biar kgak di pandang sebelah mata...ingin menegakkan ideologi kok malah ngebom sana sini,merusak fasilitas negara,membuat teror thdp rkyat..dripada ngebom2 kan lbih baek bwt berfikir...mpe berbusa cara2 jahiliyah bgaimanapun akan di tentang rakyat..menegakkan ideologi tu pake otak,bukan pake bom...mikirrrrrr!!!goblok....!!

    BalasHapus
  2. kalo model2 ngebom2 di dukung rakyat mustinya blog ini banyak pengunjungnya....tp faktanya malah sebaliknyakan...???

    BalasHapus