Selasa, 19 Februari 2013

Operasi Memalsukan Bendera

Sepertinya saya terlambat membaca artikel Menyingkap Syubhat Berbahaya atas Nama Peringatan Adanya Operasi Bendera Palsu sebagai nasehat atas coretan-coretan sebuah majalah haraky yang disiratkan terkesan “sangar” dalam menganalisa ibadah jihad diberbagai propinsi baru-baru ini.


Saya sendiri bukan pembaca majalah tersebut apalagi pelanggan setia, jadi wajar jika tidak tahu kenangan i’dad Aceh ternyata masih dikangeni oleh banyak kalangan, walhamdulillah semoga menjadi salah satu barakah i’dad Aceh dan tentu barakah serta kafarah bagi seluruh partisipan. Sekalipun bukan pembaca, saya mengaguminya sebagai media perlawanan Islam dengan kegigihan para pendirinya yang penuh pengorbanan, ketulusan, biaya dan kesetiakawanan sampai kemudian diterima oleh komunitas dengan terjunnya para profesional di bidangnya.


Dari daftar artikel yang disinggung oleh Abu Zubair hafidhahullah yang pernah saya baca hanya “Sang CEO”, itupun disebuah situs Islam. Dalam hati, sempat tersentak dengan kalimat di akhir artikel, kemudian saya bergumam “Oh ternyata istri beliau kerja di BNN? Subhanallah”. Adakah yang salah? Walau jujur diakui, kalimat tersebut serius menggalang opini para pembaca awam atau fanatik atas shohihnya aroma false flag, waspadalah! Waspadalah! Semoga tazdkiroh Akh Abu Zubair dapat bermanfaat untuk pihak terkait dan kaum muslimin umumnya.


Kalau menurut saya, rekaan beberapa penulis tersebut dapat sedikit dimaklumi dan semoga bukan karena kesengajaan beliau-beliau. Saya mengatakan demikian melihat posisi keilmuan dan jam terbang perjuangan yang jauh dibawah para penulis. Saya hanya orang yang tahu akhir cerita sebuah jama’ah, bukan ditengah apalagi di awal namun saya bukan seorang oportunis.


Dimaklumi, karena para penulis menganalisa dari sudut pandang yang terbentuk di tempurungnya sendiri. Pola kerja terstruktur dan sistem hirarkis tersentralisasi yang dianut oleh ekosistemnya kadang akan membentuk pola pikir, pola pandang, pola rasa dan pola sikap mencurigai (baca: mewaspadai) setiap aktivitas (terutama berbau jihad) diluar lingkungannya. Hampir setiap jama’ah yang memilih sistem kerja struktural susah lepas dari sikap berat menerima terhadap pihak anggota yang dicap berjalan diluar komando atau anasir asing yang belum direkomendasikan atasan.


Pola kerja sel modular atau meminjam istilah dalam sebuah pedoman perjuangan sebuah jama’ah disebut “desentralisasi banyak inti” diakui memiliki kelemahan diantaranya penetrasi intelejen, namun juga diingat sistem kerja sentralisasi pun tidak lepas dari kelemahan itu, bahkan inilah yang menyebabkan Syeikh Abu Mus’ab As-Sury hafizhahullah menyebutnya sebagai jama’ah balon, sebesar apapun akan bledos dengan satu tusukan jarum pentul.


Walhasil, jika kita berbicara penetrasi intelejen, semua sistem memiliki potensi kerawanan yang sama. Jadi jika Al-Qoidah Aceh, sel-nya Bang Pepi, sel Cirebon, sel Medan, sel Poso, sel Bima disinyalir tersusupi maka JAT, FPI, DI atau jama’ah sentral lainnyapun tidak bisa merasa bersih dari operasi intelejen tersebut, bahkan yang paling dikhawatirkan adanya personal-personal inti yang telah dilemahkan atau ditekan untuk menghancurkan ruh perlawanan jihadiyah!


Pola dasar kerja intelejen dalam menunaikan misi infiltrasi berbeda-beda di setiap bentuk organisasi. Pada sistem organisasi desentralisasi banyak inti, thaghut berusaha untuk menyusup, memancing dan kemudian menangkap serta membubarkan sel tersebut. Biaya yang dibutuhkan terlalu tinggi dan tidak menjamin terhentinya perkembangan sel lain, justru malah makin berbiak. Dalam banyak kasus, identitas sang intel terkuak.


Misi intelejen pada sistem organisasi piramida lebih berbahaya dan sulit diidentifikasi, sebab intelejen menyusup dengan sangat natural mengikuti pola-pola khas binper dan binter organisasi tersebut. Belum lagi tekanan dan usaha kontak dengan jajaran tinggi jama’ah yang toleran diajak bicara. Misi utama mereka tidak untuk menghancurkan jama’ah, namun mengambil alih kontrol baik secara langsung maupun tak langsung dan kemudian merubah pola rasa, pola pikir, dan pola sikap seluruh anggota jama’ah secara perlahan namun pasti sesuai dengan yang mereka kehendaki. Pembinaan asamu wa thoat yang ekstrim menjadi titik lemah mudahnya seluruh jaringan dalam satu tubuh dikendalikan. “Ahsan antum ngikut qiyadah”, menjadi petuah ampuh untuk memandulkan daya inisiatif dan kritis para anggota jama’ah.


Ada sebuah teori kuno yang baru-baru ini dilontarkan oleh BNPT, berdamai dengan kelompok radikal bukan teroris dan terus berperang dengan kelompok radikal teroris serta membenturkan antara dua kelompok radikal tersebut. Strategi adu domba Islam secara menyeluruh dengan biaya murah. Sangat berbahaya, dikantong-kantong harakah Islam kita merasakan hawa ini dan yakinlah mereka tidak mungkin berdamai dengan kelompok pengusung syariat Islam apapun, seluruhnya akan ditumpas habis. Wa makaru wa makarullah wallahu khairul makirin.


Selain teori bendera palsu, masih ada teori lain yang amat sangat berbahaya, teori memalsukan bendera namanya. Teori ini muncul pasca kegagalan salibis internasional mencegah operasi-operasi individu atau sel jihadiyah pasca diumumkannya “tatanan dunia baru" pada tahun 1990 ditandai dengan pendudukan Teluk. Teori ini mengambil sasaran psikologis ummat dengan memanfaatkan trauma sejarah era rezim diktaktorisme atas banyaknya operasi bendera palsu yang sukses kemudian membenturkan satu harakah dengan harakah lain.


Lalu terjadi serangan-serangan kecil mematikan diseluruh penjuru dunia yang dilakukan oleh perseorangan atau kelompok kecil dengan berbagai modus dan senjata, hingga pisau dapur! Sampai kemudian Al-Qaida secara khusus melatih para prajurit untuk melakukan operasi dengan bentuk seperti itu dengan penekanan modus peledakan dan martir dengan sasaran yang langsung merugikan keamanan atau ekonomi barat agar efek terornya lebih dahsyat.


Serangan WTC dan Pentagon menjadi titik balik puncak kegilaan Amerika akibat rasa malu dan emosi tak terkendali. Munculah video, makalah, image propaganda yang menggiring opini seolah-olah tragedi buah kesengajaan pemerintah federal bekerjasama dengan Mossad dan bin Ladin. Tentu kita masih ingat dengan video berjudul Konspirasi Runtuhnya Gedung WTC 11 September 2001, betapa buruknya pengaruh pemutar balikkan fakta mempengaruhi mentalitas ummat.


Begitu pula Bom Bali, Marriott sampai amaliyat jihadiyah setelahnya dari Aceh hingga Bima pihak intelejen berupaya untuk rame-rame menempel seolah-olah itu dilakukan tidak murni dari kelompok jihadiyah Islamiyah. Hendropiyono secara tegas meragukan statemen pertanggung jawaban serangan ganda di Hotel Marriott dan Rizt Carlton oleh Tanzhim Al-Qoidah hanya untuk membantu menutupi rasa malu Amerika. Permadi dengan lantang menuduh Malaysia sengaja mengirim Ust. Noordin dan DR. Azhari rahimahumallah untuk menghancurkan parawisata Indonesia.


Di I’dad Aceh, polemik Sufyan At-Tsaury dan Yusuf Qordhowi menjadi bulan-bulanan permainan “isu penyusupan" untuk menjatuhkan moril partisipan, di Cirebon berkembang dugaan kesemangatan Syarif rahimahullah disetir oleh intelejen, di Palu tiba-tiba muncul petugas-petugas yang mengaku-aku terlibat penembakan dan di Bima santer dibicarakan intelejen bermain dalam memanfaatkan (katanya) “pemahaman takfir ekstrim” yang dianut oleh kelompok pesantren UBK yang seterusnya merembet pada JAT, persis seperti eksperimen jihad Al-Jazair.


Pada pola organisasi sentral, para qiyadah puncak dituntut untuk percaya dengan informasi-informasi dari qiyadah bawah, begitu pula sebaliknya. Masing-masing personal dilarang untuk meloncat lapisan kedua diatasnya, jika ada yang nekat, qiyadah atas hanya akan merujuk pada informasi jajaran qiyadah bawah valid atau tidaknya informasi tersebut. Desain satu pintu ini sangat efektif untuk mereduksi dan menetralisir serangan isu dan propaganda musuh, syaratnya jajaran qiyadah benar-benar rasyid.


Sebaliknya, krisis keqiyadahan yang hampir menimpa seluruh sofwah pasca WTC, justru menempatkan sistem satu pintu menjadi suburnya serangan isu dan propaganda ini. Bila pucuk pimpinan menyatakan si U terindikasi intel, maka isu akan berkembang tidak terkendali ke seluruh jaringan, sampai-sampai ikhwan yang tidak mengenal si U turut latah. Maka berkembanglah statemen-statemen si anu Mr. X, si B orang yang gak jelas, mereka dimanfaatkan thaghut untuk menghancurkan suatu jama'ah jihad, hati-hati dengan N, H ikhwan yang berbahaya, UY telah keluar dari jama'ah harap waspada dsb, dsb sampai tuduhan negatif pada amaliyah jihadiyah... wa hasbiyallah wa nimal wakil.


Saya sebagai seorang alumni madrasah sofwah sistem sentral (walhamdulillah) dan seorang yang turut diuji dengan statemen-statemen diatas berhusnuzhan, semua ini bukan atas kesengajaan namun karena krisis multidimensi yang menimpa tanzhim-tanzhim sofwah struktur piramid. Sekali lagi, tragedi ini karena krisis pada tubuh jama’ah-jama’ah sofwah yang berdampak pada situasi kepanikan luar biasa. Bahkanpun jika ada suatu jama'ah jihadiyah yang kemudian memiliki paradigma rancau pada aqidah, jihad sampai kekeliruan penetapan 1 syawal, itu akibat dampak krisis tersebut.


Diakui, ikhwan-ikhwan yang bergerak dengan sistem sel dan fardi memang masih lemah kualitasnya, amniyahnya atau tidak paham prosedural (ada yang bilang karbitan, ok lah..), tapi tunggu dulu, tatkala krisis menimpa organisasi induk, muaskar-muaskarnya, para ulama dan du'at, para tokoh-tokoh serta komandan jihad senior, dan terutama pasca kesyahidan amir Abu Muawwidz dan Ust. Urwah rahimahumallah, para ikhwan tersebut terpaksa harus melanjutkan misi pelaksanakan perlawanan berdarah tanpa bimbingan yang cukup.


Kelemahan-kelemahan tersebut bukan berarti aktivitas jihadi yang mereka lakukan tersusupi. Kalau kita mau bicara penyusupan, maka kita harus memiliki uji fakta lapangan yang dihasilkan dari proses pengolahan produk intelejen. Produk intelejen yang berkualitas harus melewati proses panjang seperti pencatatan, penilaian, penafsiran dan prakiraan. Masing-masing proses juga harus melalui beberapa tahapan dengan kehati-hatian yang tinggi, misalnya proses penafsiran akan melewati tahapan akumulasi, inkubasi, ilunisasi dan tabayun wa tasabut. Gak sesederhana itu menarik kesimpulan sebagaimana dikatakan “tidak sesederhana itu menegakkan Islam”. Belum lagi pendistribusian produk intelejen yang tidak bisa semaunya dewe disebarkan kemana-mana. Jadi sama-sama intropeksi lah...


Saya melihat, penulis tidak disiplin dalam mengikuti prosedur pengolahan produk intelejen, banyak proses yang diloncati sehingga kesimpulan hanya menggunakan pendekatan prakiraan analogy forecasting (prakiraan yang hanya didasarkan pada unsur-unsur yang hampir sama dengan apa yang pernah terjadi, yaitu operasi false flag di jaman orde baru/trauma orba).


Penulis juga gegabah dalam membuat prakira ketahanan gerakan jihad lain atau resistance forecasting, seolah-olah gerakan lain diluar struktur jama'ahnya mesti rentan tersusupi.


Sekalipun asas masholih dan madhorot serta pemilihan sasaran para mujahidin menjadi salah satu ajang kritikan, toh murtadin dan salibis internasional terpaksa harus mengakui kegeraman mereka atas serangan-serangan kecil sporadis dan potensi radikalisme jihad di Indonesia yang makin susah dikendalikan.


Ancaman nyata radikalisme yang semakin liar tersebut berimbas pada terhambatnya upaya ekploitasi asing menghisap sumber daya alam di bumi syuhada ini terutama sektor pertambangan. Hengkangnya ExxonMobil dari pengelolaan gas di Aceh yang menyisakan tragedi HAM dan misteri limbah mercuri yang entah dimana disembunyikan, keraguan Google berinventasi karena tidak adanya jaminan keamanan data center yang disyaratkan, batalnya RIM memproduksi BlackBerry dengan alasan yang sama dan lesunya investor asing dalam pengelolaan migas dalam kurun 10 tahun belakangan, sebagai fenomena menggembirakan sangat merugikan ekonomi Barat yang semakin lemas menghadapi daf'us shoil mujahidin terutama di Afghanistan dan Iraq.


Disaat negera-negara APEC pemufakat pasar bebas berusaha memproteksi perdagangan dan sektor strategis dengan menciptakan hambatan non tarif untuk melindungi kekayaan nasional masing-masing, pemerintah Indonesia justru semakin membuka keleluasaan yang luar biasa terhadap investor asing bahkan memprivatisasi BUMN kemudian hasilnya dibagi-bagikan kepada geng koruptor. Memilukan, garam dan lele saja wajib impor!


Hanya mujahidin yang sanggup mengorbankan harta dan nyawanya dibantu dengan ummat melindungi seluruh kekayaan alam Nusantara ini untuk dikembalikan kepada pemilik sebenarnya, membebaskannya dari cengkraman kapitalisme dan mengusir asing dari campur tangan kedaulatan muslimin termasuk tuntutan kembali kepada hukum syariat Islam yang pernah berabad-abad diterapkan di negeri kepulauan Malaka ini.


Kita semua berharap, kelemahan Amerika beserta wukalanya menuju titik hancur akan memberikan kesempatan bagi jama’ah-jama’ah Islam untuk lepas dari krisis dan kembali menunjukkan izzah dengan mengirim squad-squad jihad sebagaimana awalnya. Kita bersama-sama berada digarda depan perlawanan ummat dengan berbagai konsentrasi dan kemampuan baik bidang dakwah wa tarbiyah, politik dan pemikiran atau i’dad dan qital, menciptakan iklim revolusi jihad semesta tidak untuk saling menjegal. Bukankah kita sama-sama memiliki slogan “berjihad bersama ummat?”.


Sekedar mengingatkan kuliah dari Syeikh Abu Mus’ab dalam Dakwah Muqawamah:


Tidak boleh mencela terhadap jihad dan mujahidin serta personal-personal yang melakukan perlawanan dengan alasan membongkar syubhat pada dirinya maupun yayasannya, bahkan sekalipun dengan alasan keadilan. Sebab tujuan keberadaannya dan pembenaran kerja di daerah itu adalah untuk jihad dan perlawanan menciptakan iklim dukungan untuk perlawanan.

Bagaimana mungkin perlawanan akan bangkit dan berkelanjutan jika para da'i, pemikir dan para pemimpin umat mendistorsi jihad dan mujahidin, merusak reputasi perlawan dan para pelaksanannya.


Begitu pula wajib bagi mujahidin yang melakukan perlawanan serta departemen media informasi jihad tidak boleh mencela lapangan kerja dakwah dan perlawanan damai atau dengan menggelari mereka qoidun – sekalipun mayoritas dari mereka memang benar-benar qoidun -, selama mereka tetap dalam kerangka membangun perlawanan. -selesai-



Di hari fitri ini, moment saling memaafkan, merelakan dan muhasabah. Beban berat pekerjaan mujahidin yang memilih resiko melanjutkan benturan langsung dengan deputi penindakan penguasa murtad seringkali memancing emosi tatkala yang lebih senior bermain teori bendera konspirasi atau bahkan malah hormat bendera merah putih ketika darah kaum muslimin kembali dan terulang tumpah membasahi bumi pertiwi.


Mohon maaf dan taqabalallah minna wa minkum...




Syawal 1432


Ikhwanudin LaTansani
 
source : forum al-busyro 

2 komentar: