Jumat, 08 Februari 2013

Ratusan Pejuang Islam Mali Gugur Akibat Serangan Pasukan Perancis

Ratusan Pejuang Islam Mali Gugur Akibat Serangan Pasukan Perancis

Paris - Diperkirakan ratusan pejuang al-Qaeda gugur sejak berlangsungnya operasi militer Perancis di Mali Utara, ujar Menteri Pertahanan Perancis. Ini sungguh sebuah genoside (pemusnahan) yang dilakukan pemerintah secara biadab terhadap pejuang Islam, yang berkehendak mendirikan Imarah (pemerintahan Islam) di Mali Utara.
Perancis harus bertanggung jawab atas tindakannya yang telah melakukan genoside terhadap para pejuang Islam di Mali Utara, yang sampai ini terus berjuang, meskipun sudah banyak korban yang mereka hadapi.
Langkah Perancis dan Amerika Serikat, serta sejumlah negara Afrika Sahara, melakukan operasi bersama menghancurkan para pejuang Islam di Mali Utara, dan ini merupakan kejahatan yang tidak dapat dimaafkan.
Menteri Pertahanan Perancis, Jean-Yves Le Drian, mengatakan bahwa intervensi militer selama 26 hari telah menewaskan  "beberapa ratus" pejuang Islam di Mali Utara, melalui operasi lewat udara dan darat, dan menghancurkan sejumlah basis militer yang dimiliki para pejuang Islam. Pasukan Perancis dan sejumlah negara Afrika lainnya, mendesak para pejuang Islam Mali, sampai jauh ke arah perbatasan Aljazair, yang terletak di daerah pegunungan yang sangat jauh terpencil di timur laut.
Kementerian pertahanan mengatakan para pejuang tewas dalam serangan udara Perancis, di mana serangna udara mengargetkan para pejuang Islam di Mali Utara, yang sedang melakukan konvoi meninggalkan wilayah-wilayah yang dikuasainya, dan sejumlah kendaraan yang mengangkut pejuang dan peralatan, berhasil dihancurkan, akibat "pertempuran langsung di Konna dan Gao", yang menjadi  kunci sentral dan kota-kota utara.
Korban dipihak Perancis  seorang pilot helikopter  tewas pada awal operasi militer. Sementara dipihak pemerintah Mali, mengatakan 11 tentara yang tewas dan terluka 60 setelah pertempuran di Konna bulan lalu,  tapi belum  mengumumkan berapa jumlah korban yang tewas akibat pertempuran yang sangat hebat melawan pejuang Mali.  Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius mengatakan kepada surat kabar harian Metro, Rabu.
"Saya berpikir bahwa mulai bulan Maret, jika semuanya berjalan seperti yang direncanakan, jumlah pasukan kita harus mengurangi." Hampir 4.000 tentara Prancis saat ini dikerahkan di Mali, dan mantan penguasa kolonial, selanjutnya akan menyerahkan kepada pasukan Uni Afrika.
Pejuang Islam Meninggalkan Mali Utara.
Kementerian Pertahanan Prancis Kidal - kota terakhir jatuh dari mereka yang dikuasai oleh al-Qaeda-yang berhasil diduduki para pejuang Islam di bagian  bagian utara Mali selama 10 bulan - sekarang di bawah kendali pasukan Prancis dan yang didukung 1.800 tentara Chad.
Para pejuang Islam menjuju ke Adrar des Ifoghas yang berada di sekitar Kidal, pemandangan pegunungan terjal sarang lebah dengan gua-gua, di mana mereka diyakini masih menyandera tujuh sandera Perancis.
The MNLA (Gerakan Nasional Pembebasan Azawad) - yang awalnya berjuang bersama para pemberontak, tapi kemudian jatuh dengan mereka - mengatakan itu bekerja dengan Perancis melawan "teroris" di wilayah itu.
The MNLA melancarkan  pemberontakan tahun lalu berperang bertujuan mendirikan sebuah negara merdeka bagi orang-orang gurun suku Tuareg, yang telah lama merasa terpinggirkan oleh pemerintah Mali. Tuareg awalnya berjuang bersama Ansar Dine dan MUJAO, namun kemudian adanya perselisihan dengan  para Islamis, yang mengambil kendali di Mali utara dan melaksanakan hukum Syariah.
Le Drian mengatakan Perancis memiliki "hubungan fungsional" dengan kelompok Kidal, tetapi memerangi teroris bersama mereka adalah "bukan tujuan kami".
Di tempat lain, kekuatan dunia Afrika dan lainnya mengumumkan dukungan mereka untuk proposal yang akan melihat PBB mengerahkan pasukan penjaga perdamaian ke Mali, mengambil alih tanggung jawab dari pasukan Afrika serupa.
Pertemuan Kelompok Dukungan Mali di Brussels difokuskan  bagaimana  memastikan keamanan abadi dengan mendukung demokrasi, pembangunan ekonomi dan hak asasi manusia di salah satu negara termiskin di dunia. Pemain global termasuk PBB dan Afrika menyerukan pemilu - yang berada pengawasan pemerintah sementara Mali, yang
dijanjikan oleh 31 Juli - dan dialog nasional.
Penjajah Perancis bertidak dengan sangat tidak manusiawi, kejam dan melakukan pembantaian terhadap Muslim, yang ingin berlepas diri dengan fihak penjajah, tetapi para pemimpin Mali, nampaknya masih belum dapat mengatasi situasi di wilayah itu.
Semuanya itu, pasti berdampak terhadap masa depan Mali. Di mana para pejuang terus bertekad menegakkan Syariah Islam, sambil melakukan terus memerangi mereka yang proyek penjajah.(af/voa-islam)

1 komentar:

  1. yang di bantai tu bukan muslim tong,tapi pemberontak yg mengatasnamakan islam,kalau bukan pemerontak mn mungkin ajazair memgijinkan wilayah udaranya di lewati pasukan perancis....lagian juga pemerintah mali sendiri yang meminta pemerintah perancis untuk menghalau para pemberontak kek AQ

    BalasHapus