Selasa, 05 Maret 2013

DAN JIKA MEREKA MAU BERANGKAT, TENTULAH MEREKA MEMPERSIAPKAN PERSIAPAN UNTUK KEBERANGKATAN ITU

DAN JIKA MEREKA MAU BERANGKAT, TENTULAH MEREKA MEMPERSIAPKAN PERSIAPAN UNTUK KEBERANGKATAN ITU

Oleh : Abu Sa’ad Al-’Amili

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Dan tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang zalim. wa ba’du :

Setiap amalan mempunyai sebab-sebab dan mukadimah-mukaddimah. Demikian juga, beramal untuk dien Allah, berusaha menerapkan syariat-Nya dan memerangi musuh-musuh-Nya, tentu lebih berhajat kepada mukadimah-mukaddimah dan syarat-syarat, yang oleh syariat diistilahkan dengan kata I’DAD. Sebagaimana firman-Nya : (Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi, juga kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang. Dengannya kalian menggentarkan musuh-musuh Allah, musuh-musuh kalian dan musuh-musuh lain yang tidak kalian ketahui, namun Allah mengetahui mereka.”) QS. Al-Anfal :60.

Banyak kalangan berbeda pendapat tentang teknis i’dad. Setiap pihak memahaminya sesuai dengan pemahamannya tentang taghyir yang diinginkan. Sebagian pihak memahami i’dad terbatas pada aspek tarbiyah semata, dengan cara meluluskan tenaga-tenaga profesional secara akhlak dan suluk. Menurut mereka, ini sudah cukup untuk mengadakan perubahan (taghyir) yang diinginkan, tanpa perlu jenis-jenis i’dad yang lain.

Sebagian pihak lain memahami, bahwa i’dad adalah masuk ke lembaga-lembaga pemerintahan untuk melakukan perubahan dari dalam, sehingga bisa menghindari kerrugian materi dan jiwa.

Sebagian pihak lain memahami, i’dad cukup dengan memiliki personal dan senjata, lalu menerjuni kancah peperangan tanpa perlu mengadakan lembaga-lembaga dan usaha-usaha yang mendukung aspek militer.

Sebagian pihak lain juga beranggapan bahwa i’dad cukup dengan menekuni bidang tarbiyah secara teori, sambil menunggu adanya penyeru kepada jihad, untuk selanjutnya pada hari diumumkannya perang segera bergabung ke dalam barisan tanpa perlu ada i’dad ‘amali untuk menghadapi hari H tersebut. Persangkaan mereka ini, didustakaan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya (Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka mempersiapkan persiapan untuk keberangkatan itu) QS. Al-Taubah :46.

Demikianlah, banyak pendapat dan madzhab umat Islam tentang i’dad. Karena urgensi tema i’dad ini, saya akan berusaha membahas beberapa syubhat seputar tema ini, tanpa perlu saya sebutkan lagi secara rinci dalil-dalil syar’i dan realita yang mewajibkan i’dad, karena pembahasan mengenai hal itu sudah sangat banyak dan mencukupi bagi orang yang masih mempunyai hati, mau mendengar dan menyaksikan.


Tergesa-gesa Melakukan Perlawanan

Mereka mengatakan : i’dad berarti tergesa-gesa melakukan perlawanan sebelum persiapannya matang dan sempurna. Itu artinya membunuh dakwah yang masih dalam buaian, bahkan mengusik perhatian para thaghut untuk mengawasi para da’i. Akibatnya, thaghut membunuh, menangkap dan mengejar para da’i. Ujung-ujungnya, thaghut menekan (mempersempit ruang gerak) kaum muslimin dan finishnya, memberangus para aktivis Islam. Kita terpaksa memulai segalanya dari nol, sebagaimana dahulu kita memulai. Realita adalah bukti yang paling nyata bagi orang yang memperhatikan.

Saya katakan :

Sesungguhnya satu hal yang disepakati oleh seluruh orang yang berakal dalam medan pergerakan Islam saat ini, adalah pentingnya menyiapkan sebuah kekuatan yang layak (cukup) untuk menyingkirkan pemerintahan-pemerintahan murtad lagi busuk, yang tidak bisa disikapi kecuali dengan kekuatan dan senjata…pemerintahan-pemerintahan murtad ini didukung oleh negara-negara salibis dan zionis dengan segenap faktor penguat dan penjaga eksistensinya…untuk meneruskan tugas memberangus agama ini, memecah belah potensi umat Islam dan mencairkannya agar mengabdi kepada kepentingan mereka, serta menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka, dengan seluruh sarana perusak yang mereka miliki.

I’dad menuntut kita menggumpulkan segenap kemampuan dan meletakkannya pada tempat yang sesuai. I’dad yang diminta adalah i’dad secara mantap dan menyeluruh, termasuk di dalamnya i’dad materi yang —bagi orang yang memperhatikan— menjadi bagian pokok dari kekuatan pemerintah-pemerintah murtad. Pemerintah-pemerintah murtad ini tidak mengenal bahasa dialog dan bahasa damai, tidak memberi ruang kepada lawannya untuk menyebarkan dakwah dan bergerak secara bebas. Ini semua menandaskan bahwa memiliki kekuatan adalah program yang harus diprioritaskan dalam usaha i’dad.

Persoalan tekanan para thaghut kepada para da’i, penangkapan, pembunuhan atau pengejaran… akan senantiasa menunggu para da’i dalam setiap masa. Ini semua merupakan salah satu tanda kebenaran manhaj, dan kita memang harus menanggung resiko itu dalam perjalanan dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fi sabilillah kita. Ini semua sudah menjadi sunah semua dakwah. Para pengikut kebatilan tidak akan pernah membiarkan pengikut kebenaran berada dalam keamanan dan keselamatan, sekalipun para pengikut kebenaran sendiri telah memutuskan tidak akan menyerang kebatilan tersebut atau memulai perang melawannya. Sekedar adanya kebenaran disamping kebatilan, sudah cukup untuk membuat kebatilan teusik, terganggu dan berusaha keras untuk mencabut kebenaran sampai ke akar-akarnya.

Jadi, sebenarnya yang tergesa-gesa melakukan perlawanan adalah thaghut dengan bala tentaranya, karena takut kepada eksistensi kebenaran (Dan mereka akan senantiasa memerangi kalian sampai mereka memurtadkan kalian, jika mereka mampu = QS. Al-Baqarah :217). Baik anda mempersiapkan kekuatan atau duduk-duduk saja bersama orang-orang yang enggan berjihad ; tangan orang-orang kafir dan murtad akan tetap menjamah, memurtadkan dan menggoyahkan akidah anda. Inilah tujuan akhir mereka.

Adapun ungkapan mereka bahwa hal ini akan membunuh dakwah yang masih dalam buaian, maka ini merupakan sebuah kesalahan besar. Sesungguhnya dakwah akan tersebar dan menancap dengan kuat dalam jiwa (baik jiwa para pengikutnya maupun jiwa orang-orang yang mengikuti perkembangan beritanya) pada masa-masa ujian, kesusahan dan tamhish (penapisan, penyaringan). Bukan berarti kami cinta dan rindu dengan ujian. Sama sekali tidak, namun memang itulah sebuah keniscayaan yang pasti. Pukulan yang tidak mematahkan tulang punggungmu, justru akan semakin menguatkanmu. Belum lagi keteguhanmu di atas dien ini —di tengah derasnya ujian, badai cobaan dan pengejaran — akan mempengaruhi musuhmu, sebelum mempengaruhi rekanmu. Terlebih lagi dengan banyak orang yang berada di daerah-daerah gurun dan memegang tongkat (sekedar menonton dan menunggu-nunggu berita –pent) ; keteguhan dan kesabaran anda memegang prinsip akan menjadi sebab berbondong-bondongnya mereka masuk dalam dien ini. Jadi, inilah jalan tersebut, dan sekali-kali anda tidak akan menemukan perubahan dan pergeseran pada sunatullah.

Adapun mereka yang berguguran di tengah jalan…merupakan sebuah kebaikan dan maslahat bagi dakwah apabila mereka gugur. Mereka lemah, karenanya tidak mungkin mampu meneruskan perjalanan ini. Justru, keberadaan mereka di tengah-tengah barisan mengundang kekalahan dan kelemahan.

Berbagai ujian dan kemudian tamhish merupakan sebaik-baik sarana untuk memurnikan barisan, sebagai ganti dari mengumpulkan orang-orang yang tak “berisi”, yang berbuah kepada perkumpulan buih bak buih banjir, lebih banyak merusak daripada memberi manfaat. Inilah yang hari ini kita saksikan di kancah perjuangan, sebuah perkumpulan yang tidak merefleksikan perkumpulan ideologis “prinsip” yang dengannya Allah memenangkan dien-Nya.


I’dad menyadarkan musuh akan adanya bahaya dan mendorong mereka untuk mengambil kewaspadaan.

Ada syubhat lain, mereka mengatakan : bila kita melakukan i’dad, thaghut akan merasakan keberadaan kita dan mereka segera tersadar untuk memberangus kita.”

Saya katakan :

Ketahuilah, i’dad itu tidak tuntas di ruang-ruang bawah tanah (semata), namun tuntas dalam realita. Ada amal-amal yang termasuk bagian dari i’dad yang tidak bisa dilakukan kecuali secara terang-terangan. Meskipun, banyak dan bahkan sebagian besar amal i’dad harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak boleh diketahui oleh musuh. Kami bukan orang-orang yang menyerukan untuk tergesa-gesa melakukan aksi atau memancing musuh untuk menggiring kita ke dalam pertempuran-pertempuran “sampingan” dan “pinggiran” yang tidak ada maslahatnya bagi kita. Kita harus mengetahui kapan kita harus keluar beraksi sesuai dengan pilar-pilar kekuatan yang kita miliki dan berdasar program-program yang sesuai dengan i’dad yang telah kita lakukan. Ini secara teori. Tetapi, dalam praktek dan realita di lapangan, anda terkadang kesulitan menerapkan program-program anda, dan terkadang anda terpaksa untuk melakukan beberapa kegiatan secara terang-terangan, sehingga mau tidak mau sebagian kerahasian terungkap. Dalam perjalanan, tentu saja akan ada kerugian-kerugian, karena jalan ini penuh dengan onak, duri dan rintangan….tidak selamanya mulus.

Siapa mengira ia bisa melewati seluruh mata rantai i’dad tanpa diketahui atau musuh tersadar atas sebagian gerak-geriknya, …sesungguhnya ia lalai dari sunatullah dalam dakwah. Hendaknya ia mencari dunia lain untuk bergerak dan sunah yang lain untuk dakwahnya yang asing tersebut.

Ungkapan mereka, bahwa kita menyadarkan musuh dan mengingatkan mereka untuk mewaspadai kita…adalah ungkapan yang tidak benar. Musuh tahu pasti bahwa pengikut sejati kebenaran pasti mempersiapkan kekuatan untuk memerangi mereka. Tentunya, dikecualikan orang-orang yang kalah mental dan selalu menunggu-nunggu datangnya mukjizat… juga orang-orang yang jatuh dalam asuhan thaghut, yang meminta keringanan thaghut untuk diperbolehkan melakukan kegiatan-kegiatan politik legal dan konstitusional sesuai dengan hukum thaghut, dan mengakui keabsahan pemerintahan thaghut. Mereka ini…thaghut tak perlu memandang dan menghitung mereka. Realita menjadi bukti terbesar atas apa yang saya katakan ini. Adapun mujahidin, selalunya mereka ditakuti oleh para thaghut…mereka selalu berhitung seribu kali terlebih dahulu. Inilah makna firman Allah Ta’ala (Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi, juga kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang). Untuk apa, wahai Rabb ? (Dengannya kalian menggentarkan musuh-musuh Allah, musuh-musuh kalian dan musuh-musuh lain yang tidak kalian ketahui, namun Allah mengetahui mereka.) QS. Al-Anfal :60. Persoalan mempersiapkan kekuatan, harus memenuhi tujuan ini, yaitu menimbulkan teror dan ketakutan di hati musuh. Bukan sekedar bersembunyi dan beraktifitas dalam kegelapan total, takut akan menyadarkan dan membangunkan kewaspadaan musuh akan keberadaan kita, sebagaimana persangkaan banyak pihak.

Ya, kita memang ingin menakut-nakuti dan menteror mereka… sehingga mereka memperhitungkan kita… sehingga masyarakat mengetahui bahwa Islam mempunyai kekuatan, sehingga mereka bergabung ke dalam barisan mujahidin yang saat itu sedang dalam fase i’dad.


I’dad menyebabkan bahaya bagi dakwah dan menghalangi pembentukan qoidah sholabah.

Mereka mengatakan : I’dad menyebabkan bahaya besar bagi kelangsungan dakwah secara umum, dan bahkan menyebabkan segala usaha ishlah (reformasi /merubah keadaan / taghyir) tercabut sampai ke akar-akarnya. Akhirnya, lemah dan tidak mampu membuat sebuah qoidah yang mantap dan stabil…dan inilah realita yang ada.

Saya katakan :

Masalah i’dad membahayakan dakwah sudah saya bahas di atas. Sudah saya terangkan bahwa dakwah justru akan semakin intensif dan produktif pada saat perkumpulan (organisasi / jama’ah) berada pada fase ujian dan tamhish…karena yang bergabung ke dalam barisan pada saat seperti itu mengetahui benar resiko yang menunggunya dalam perjalanan. Perkumpulan akan kosong dari unsur-unsur kemunafikan dan kelemahan. Sebagaimana dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada fase Makkah, di mana tidak ada nifak dan orang-orang munafik.

Adapun membangun qoidah, yaitu qoidah sholabah (fondasi yang mantap) yang kuat menahan bangunan di atasnya…maka ini persoalan lain. Tidak mungkin akan terjadi dan terbangun kecuali lewat madrasah ibtila’ wa tamhish…(Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan saja mengatakan kami telah beriman, padahal mereka belum diuji ?). QS. Al-Ankabut :2. Membangun pondasi pada masa lapang dan urusan sedang enak (mudah), justru akan menghasilkan bangunan “buih” seperti kondisi kita hari ini ; jumlah banyak namun produktifitas kecil, kalau bukan nihil. Kecuali pada perkumpulan-perkumpulan yang timbul pada masa ibtila’, tamhish dan perlawanan terhadap musuh.

Sesungguhnya fondasi yang kuat dan sejati, tidak bisa diciptakan dalam waktu-waktu luang dan lewat tarbiyah teoritis semata..tetapi lewat ranjau-ranjau ; ibtila’, tamhish dan harakah. Sebenarnya siapa yang membuat musuh gentar ; puluhan ribu qo’idun ataukah puluhan orang-orang yang bergerak ? Lihatlah realita kita supaya kalian bisa mengerti kebenaran yang terang ini. Jama’ah-jama’ah beranggotakan puluhan ribu, bahkan jutaan, namun thaghut sama sekali tidak memperhitungkan mereka…karena manhaj damai mereka, karena jalan perjuangannya sesuai dengan undang-undang thaghut. Sementara jama’ah-jama’ah jihad yang hanya beranggotakan beberapa puluh orang, thaghut mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencari-cari sisa-sisa anggotanya, untuk dikepung dan diperangi siang dan malam.
Jadi, siapa sebenarnya yang lebih kuat dan layak diikuti ?


Perlunya Mengambil Pelajaran Dari Sejarah

Mereka mengatakan ; mestinya mengambil pelajaran dari sejarah…mestinya melihat kepada setiap harakah yang ada, bagaimana bisa berhasil atau gagal…bahkan sebelum itu semua, mestinya melihat kepada dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, bagaimana bermula…lalu melihat kepada harakah-harakah zaman sekarang, bagaimana mengalami kekalahan telak dan tidak meraih keberhasilan. Sebab semua kegagalan tersebut adalah tergesa-gesa ingin memetik buah, sebelum membangun fondasi yang kuat…atau membuka persoalan dan memberi isyarat kepada thaghut akan kedatangan dan planing kita.

Saya katakan :

Sejarah membuktikan kebalikan dari apa yang mereka katakan. Setiap harakah yang menemui kegagalan, adalah harakah yang hanya mencukupkan diri dengan modal suara kebenaran dan lalai dari mempersiapkan modal kekuatan militer. Harakah mengira, dengan modal kebenaran di tangan…mereka pasti mencapai kemenangan, dan thaghut akan menyerahkan urusan kepadanya dalam sebuah nampan emas. Maka yang terjadi justru sebaliknya, harakah dihantam dengan keras. Namun kesalahan ini selalu saja diulangi, dan tragisnya harakah-harakah ini terperosok ke dalam lubang yang sama.

Lihatlah —jika anda mau— harakah-harakah Islam yang menempuh perjuangan politik di negeri-negeri kaum muslimin ; apa yang telah mereka petik dari sikap berlamban-lamban, menunggu matangnya buah dan tidak segera memetiknya ?

Mereka justru menuai badai bencana demi bencana, yang mengakibatkan kemunduran dan kekaburan dakwah…thaghut mampu menguasai para pengikutnya ; menjebloskan mereka ke sel dan menggantung sebagian mereka. Mereka, secara tidak paham, selalu mengulang-ulang firman Allah, (Tahanlah tangan kalian dari berperang, tegakkanlah sholat dan tunaikanlah zakat). QS. Al-Nisa’ :77.

Atau firman Allah (Sungguh, sekiranya engkau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu) QS. Al-Maidah :28.

Mestinya, yang lebih layak kita lakukan saat memaparkan perjalanan sejarah…adalah memaparkan dan menyodorkan contoh-contoh dan usaha-usaha percobaan yang berhasil, untuk kita kaji secara mendalam…bukan mengkaji secara mendalam usaha-usaha percobaan yang gagal dan kesalahan-kesalahan manusiawi (human error) sehingga melemahkan semangat masyarakat untuk bergerak dan meraih kembali peran yang pernah dimiliki.

Kurangnya i’dad untuk menghadapi pertempuran, itulah sebab yang melatar belakangi banyak kekalahan dan kegagalan ini. Sekiranya mereka mempunyai kekuatan yang seharusnya (cukup), tentulah mereka tidak akan memetik panen yang pahit selama beberapa dekade ini.


Tidak Membangkitkan (Kemarahan) Musuh

Di antara syubhat mereka yang ganjil dan mengherankan : mereka mengajak untuk tidak membangkitkan (kemarahan) musuh, tidak mengajak masyarakat untuk melawan penguasa kafir tersebut, dan membahas masalah penguasa secara umum saja (takfir mutlaq, pent), tidak secara khusus (takfir mu’ayyan, pent).

Saya katakan :

Ini sarana-sarana yang bid’ah, tidak pernah dilakukan oleh para salaf terdahulu, bertentangan dengan jalan yang ditempuh oleh para nabi dan rasul, bahkan di saat mereka dalam keadaan lemah, tertindas, diboikot dan pengikutnya sedikit.

Bagaimana kita bisa diam dari membangkitkan kemarahan musuh dan diam dari mengajak masyarakat untuk berjihad melawan musuh ? Padahal itulah inti seluruh dakwah ? Bukankah dakwah tauhid dan akidah —dalam dien kita— tegak di atas itsbat (penetapan) dan nafyun (peniadaan) ? Peniadaan seluruh rububiyah dan ‘uluhiyah dari para thaghut, dan penetapan rububiyah dan uluhiyah untuk Allah Rabb semesta alam : Laa Ilaaha Illallahu ?

Apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dan para nabi sebelum beliau diam dari ; mencela sesembahan-sesembahan kaumnya, membongkar kepalsuannya dan menghasung masyarakat untuk mengkufurinya ?

Inilah cara membangun qaoidah sholabah yang benar, bukan dengan diam dari (menyingkap kekufuran) undang-undang dan para thaghut tersebut… agar dakwah tidak diganggu, sebagaimana yang mereka angan-angankan.

Dakwah kepada tauhid yang murni, kepada akidah wala’ dan bara’, menyebar luaskannya di tengah masyarakat… adalah bagian sesungguhnya dari i’dad secara teori … yaitu menerangkan hakekat dasar-dasar dan inti pokok permasalahan yang menjadi pilar tegaknya kebatilan… berusaha sungguh-sungguh untuk menghancurkan dan meruntuhkannya dari fondasinya.

Lalu, bagaimana “bahasa umum” yang harus kita gunakan untuk menerangkan ayat-ayat dan hadits-hadits ? Apakah kalian menginginkan kami bermudahanah (berkompromi dengan thaghut) ? Ataukah kalian menginginkan kami beriman dengan sebagian dien dan kufur dengan sebagian lainnya, sehingga kami tidak mengejutkan para thaghut…lalu para thaghut tidak marah, tidak menutup pintu-pintu dakwah, dan tidak merampas kebebasan bergerak kita ?

Lho, memangnya selama ini kita bebas bergerak di bawah kekuasaan para thaghut murtad tersebut ?

Sesungguhnya para thaghut murtad selalu membuat batasan-batasan dan pintu-pintu penutup, sampai dalam bidang dakwah sekalipun. Mereka membuat garis-garis dan lingkaran yang anda tidak boleh melanggar atau keluar darinya. Itulah dienul muluk (aturan main para penguasa), sebagaimana disebutkan oleh Rabbul ‘Izzah. Bagaimana kita menerima syarat-syarat ini untuk merusak dan mengkaburkan agama kita sendiri, sehingga kita termasuk dalam golongan yang disebutkan oleh Allah Ta’ala (Yaitu orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur’an terbagi-bagi.Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua. QS. Al-Hijr :91-91).

Saya memohon kepada Allah dengan al-Asma’ al-Husna dan al-Shifat al-’Ula agar menunjukkan kepada kita jalan-jalan i’dad yang sebenarnya, dan menjauhkan kita dari syubhat-syubhat dan jalan-jalan setan yang melemahkan semangat kita dari kewajiban i’dad untuk menolong dien-Nya dan menghidupkan sunah nabi-Nya. Amien.

Sumber: ishoba.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar