Rabu, 27 Maret 2013

Dua Tahun Revolusi Suriah, Mau Ke Mana?

Deraa, sebuah kota kecil, 125 km Selatan kota Damaskus. Pada hari itu, tanggal 15 Maret 2011, 15 anak belia, berumur sekitar 9-15 tahun menuliskan slogan anti rezim Bashar Assad di dinding sekolah mereka. Aparat keamanan pun sontak bertindak brutal, menangkap mereka. Tidak terima dengan penangkapan tersebut, para sesepuh Deera turun ke jalan, menuntut pembebasan ke 15 anak tersebut. Negoisasi berjalan alot, bahkan berujung gagal dan akhirnya memunculkan unjuk rasa anti rezim Bashar Assad.Siapa sangka, dari kejadian ini, Revolusi Suriah pecah dan hingga kini telah mencapai 2 tahun usianya.
Siapa tak kenal rezim Bashar Assad. Rezim ini telah berkuasa dengan tangan besi, diktaktor dzolim turun temurun, sejak zaman Hafez Assad (1969), hingga kini di tangan Bashar Assad, 44 tahun sudah Suriah, salah satu negara yang masuk Bumi Syam, dikendalikan oleh sebuah rezim sesat ideologi gado-gadi, Nushairiyah, campuran beberapa keyakinan seperti Syi’ah, Hindu, dan aliran kebatinan.
Syekh Abu Mush’ab As Suri, ulama sekaligus Mujahid asal Suriah menuliskan dalam bukunya, “Rezim Nushairiyah” menjelaskan bagaimana dinasti Al Assad ini menjadi imperium Alawiyyah Nushairiyah yang mengancam setiap detik nyawa Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Bumi Syam.
Menurut beliau, Hafidz Al Assad, adalah seorang sosialis progresif yang sadar tidak akan mampu untuk melawan maut, untuk kemudian mempersiapkan anaknya, Basil Al Assad, untuk menggantikan posisinya dalam kerajaan Alawiyyah Nushairiyah. Dalam menjalankan rencana busuknya itu, Hafidz dibantu oleh AS dan Yahudi, dan penguasa-penguasa Arab. Rencana sudah dijalankan sedemikian rupa, tapi Allah mencabut nyawa putra mahkota (Basil Al Assad) dengan sebuah kecelakaan lalu lintas.
Assad akhirnya mengajukan putra keduanya, Bashar yang waktu itu masih berusia 34 tahun, dipaksa untuk melanjutkan estafet imperium Syi’ah Nushairiyah bercampur dengan ideologi sosialis komunis Partai Ba’ats, sehingga lengkaplah sudah kekejian dan kesesatan rezim Al Assad, berkuasa 44 tahun menindas rakyatnya, utamanya Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Jihad, Inti Tsunami Revolusi Suriah
Saat ini adalah masanya revolusi. Sunnah tadaffu (konflik) antara al haq wal batil tidak dapat dibendung lagi di Bumi Syam yang diberkahi tersebut, yakni Suriah. Siapa sangka, corat coret anak-anak belia yang menyindir rezim kejam Bashar Al Assad telah memicu gelombang tsunami revolusi Suriah atau yang juga dikenal sebagai Musim Semi Negara-Negara Arab (Arab Springs) di Suriah, dan kini telah memasuki dua tahun.
Dua tahun tentu bukan waktu yang singkat untuk sebuah revolusi yang hingga detik ini masih bergolak. Tidak seperti Tunisia, Mesir, dan Libya yang tsunami revolusinya telah berakhir, revolusi di Suriah masih terus berjalan dan hingga kini banyak pihak yang sangsi akan ke mana revolusi ini akan berakhir.
Dua tahun sudah rezim Bashar Al Assad membantai rakyatnya sendiri dan menyengsarakan jutaan lainnya. Saat ini, sekitar 1 juta rakyat Suriah telah mengungsi ke luar negeri. Sementara itu, 5 sampai 10 juta mengungsi di dalam negeri, dan sebanyak 70.000 jiwa kaum Muslimin telah dibantai oleh rezim Syi’ah Nushairiyah ini.
Apa yang terjadi di Suriah adalah sebuah Revolusi Islam, sebuah sunnah tadaffu (konflik) antara al haq versus al batil. Sebuah perjuangan suci rakyat Suriah, yang bermanhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah melawan rezim tiran penguasanya sendiri yang berideologi gado-gado, Nushairiyah.
Revolusi Suriah adalah sebuah jihad fie sabilillah, perjuangan para Mujahidin yang ikhlas untuk khuruj (keluar) berperang di jalan Allah SWT., yang telah diwajibkan, untuk menggulingkan penguasa thoghut, rezim Bashar Al Assad, yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah SWT.
Revolusi Suriah adalah jihad kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah melawan para pengkhianat Islam, pembantu perang salib modern, Syi’ah Nushairiyah.
Revolusi Suriah adalah sebuah jihad melawan konspirasi salibis yahudi internasional, aliansi segitiga syi’ah internasional, meliputi Iran, Hizbul’latta’ di Libanon, dan syi’ah Nur Maliki di Irak, dan koalisi Partai Ba’ats sosialis komunis internasional.
Apa Solusi Masa Depan Revolusi Suriah?
Kompleksitas dan banyaknya pihak yang berkepentingan di Suriah mengakibatkan hingga saat ini belum juga ada solusi untuk konflik Suriah, demikian para pengamat dan analis berkomentar.
Setiap kali ada usulan solusi politik damai, maka selalu gagal. Bahkan para juru runding, baik dari PBB dan negara-negara besar, sampai frustasi dan tidak tahu lagi bagaimana solusi untuk menyelesaikan masalah Suriah.
Menlu AS, Jhon Kerry, sebagai pihak yang paling khawatir terhadap konflik Suriah bahkan telah memberikan lampu hijau untuk menyuplai senjatake pihak oposisi moderat. Menurut Hussein Abdul Ghani, pengamat politik asal Suriah, dalam sebuah artikel di Al Hayat, Rabu (6/03) alasan AS menyuplai senjata ke pihak oposisi moderat adalah untuk :
1.Memperkuat milisi bersenjata moderat yang belakangan kalah pamor dengan kelompok radikal (Baca : Mujahidin) terutama Mujahidin dari Jabhah Nushroh
2.Meningkatkan daya tawar politik untuk menekan Damaskus dan Moskow, agar bisa terjadi transaksi politik yang sesuai dengan aspirasi pihak oposisi, yakni hengkangnya Bashar Al Assad.
Tentu saja, ada udang di balik batu dalam setiap tawaran AS, karena AS tidak akan pernah memberikan bantuan apapun kecuali ada keinginan atau bergaining (tawar-menawar) politik di balik itu. As tidak akan pernah rela terhadap Revolusi Suriah, khususnya jika kemenangan jatuh ke tangan Mujahidin.
Dengan demikian, tawaran suplai senjata dari AS hanya sekedar alat tekan politik untuk memenuhi kepentingan rahasia AS di Suriah, khususnya mempertahankan hegemoni dan kepentingan-kepentingan AS yang semakin hancur lebur.
Diplomasi dan hegemoni AS terus saja merosot di Timur Tengah dan hal itu diakui oleh AS sendiri dan bisa dilihat dan dibaca oleh siapapun. Lawatan Jhon Kerry, Menlu AS ke Timteng, bahkan “turun”nya Obama ke Palestina dan Israel tidak mampu menutupi AS yang mulai kedodoran melawan gelombang tsunami Revolusi dahsyat yang terus mendera kawasan Timur Tengah, khususnya Suriah.
Gelombang Revolusi telah berhasil menumgbangkan rezim-rezim diktaktor untuk kemudian melahirkan people power yang merasa berhak menentukan nasibnya sendiri. AS menghendaki, setelah revolusi maka rakyat akan menyelenggarakan pemilu yang demokratis (menurut mereka). Namun harapan AS kandas, karena pasca revolusi kondisi bukan aman malah berkembang menjadi anarkis, karena kebebasan yang kebablasan.
Wilayah-wilayah yang sebelumnya dilanda revolusi menjadi wilayah yang “bebas” dan tak bertuan. Kondisi seperti ini menjadi kekhawatiran banyak pihak, khususnya mereka khawatir karena kondisi seperti ini (chaos) dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh Mujahidin.
Beberapa peristiwa dicatat oleh banyak kalangan telah membuktikan bahwa kondisi yang kacau dapat dimanfaatkan oleh kelompok ekstrimis atau teroris (Baca : Mujahidin), misalnya seperti yang terjadi di Libya pada 11 September 2012, tepatnya di Benghazi, dimana dubes AS untuk Libya, Christopher Stevens, tewas di kantornya sendiri.
Juga di Tunisia, dimana tokoh oposisi nasional pada akhir Februari lalu tewas, yakni Chokri Belaid. Juga di Tunisia, gerakan dakwah dan jihad Anshor Shariah menjadi begitu solid, berkembang, dan menentukan, dimana mereka sering berkonsolidasi dan melakukan multaqod da’wiy (pertemuan para tokoh) untuk menggagas masa depan Tunisia yang lebih Islami.
Di Mesir, revolusi yang terjadi dua kali itu dan melambungkan nama Tahrir Square, hingga saat ini masih belum seperti yang diharapkan, baik dari pihak AS dan sekutu-sekutunya, karena masih kacau, juga dari sisi Mujahidin tentunya. Perkembangan baiknya adalah munculnya konsolidasi dan persekutuan diantara para tokoh Tayyar Salafi Jihadi, di bawah satu wadah Anshar Sharia, yang mana mereka selalu aktif memantau dan mempersiapkan revolusi Islam yang lebih tepat sasaran dan tujuan, yakni penegakan syariat Islam secara sempurna.
Dalam bahasa lain, situasi dan kondisi pasca revolusi di negara-negara Timur Tengah dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin jika Mujahidin dapat bertahan, mendapatkan momentum penting dan strategis untuk kemudian memanfaatkannya menuju jalan untuk tamkin. Hal ini pula yang nampaknya menjadi solusi terbaik bagi Revolusi Suriah, meskipun hingga genap dua tahun ini belum juga berakhir.
Mujahidin Dan Kekuatan Tersembunyi Raksasa Yang Tidur
Dua tahun revolusi Suriah bagi kaum Muslimin secara umum dan khususnya di Suriah adalah terwujudnya Suriah atau Bumi Syam sebagai bumi jihad dan Mujahidin. Suriah yang disadari oleh kaum Muslimin sebagai Bumi Syam yang diberkahi menjadi magnet bagi Mujahidin manca negara untuk berkumpul dan berjuang bersama.
Abu Abdullah Al Ghazi, seorang tokoh terkemuka dari Jaish Al Ummah pernah berpidato dan mengatakan bahwa Syam harus dilihat dengan terbuka sebagai “Pasar Jihad”. Beliau pun meminta para Mujahidin untuk segera mengambil inisiatif dengan mendirikan Negara Islam di Syam dan segera pula membangun kembali aturan Allah atas tanahNya setelah Mujahidin mampu mencabut kejahatan tiran (Assad) dan membalas darah yang telah ditumpahkan dan kehormatan yang dilanggar.
Mujahidin Suriah, pada hari Rabu, 12 Desember 2012 telah berkumpul membentuk Brigade Ansar Al Khilafah, dimana mereka berjanji setia untuk menggulingkan rezim Syi’ah Nusairiyah, thoghut Bashar Assad, dan kemudian menegakkan Khilafah.
Mujahidin yang bersepakat untuk membentuk Brigade Ansar Al Khilafah di Aleppo tersebut adalah dari Brigade Ansar Sharia, Brigade Abdullah Ibn Zubaer, Brigade “Rijalullah” (The Men of Allah), Brigade Asy Syahid Mustafa Abdul Razaq , Brigade “Suyufurrahman” (The Sword of The Most Compassionate).
Kabar terbaru yang cukup menggembirakan kaum Muslimin pasca dua tahun revolusi Suriah adalah terbentuknya Dewan Syuro Mujahidin Suriah. Dalam sebuah rilis atas nama Dewan Syuro Mujahidin Suriah, mereka menyatakan bahwa mereka adalah “Harakah Jihadiyah yang bermanhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berusaha untuk menerapkan syariah Islam di Suriah dan menggulingkan thogut-thogut di Syam, merupakan gabungan batalion (brigade) di setiap kota seperti Aleppo, Hama, Homs dan Damaskus, yang telah berpartisipasi dalam sebuah operasi yang paling penting yaitu serangan ke atas resimen 111 di pangkalan Sheikh Sulaiman sehingga dapat membebaskannya.”
Terbentuknya Dewan Syuro Mujahidin Suriah bisa dikatakan selangkah lagi menuju tegaknya Daulah Islam Suriah, apakah dalam bentuk Imarah Islam terlebih dahulu atau langsung berbentuk Khilafah Islam.
Mujahidin Jabhah Nusrah, sebagai sebuah kekuatan yang sangat diperhitungkan baik oleh kawan maupun lawan di Suriah, dikabarkan ikut serta dalam pembentukan Dewan Syuro Mujahidin di kota Aleppo tersebut, termasuk Mujahidin dari Ahrar As Syam, Mujahidin Salafi Jihadi Suriah, dan Mujahidin Brigade Tawhid sebagai kekuatan-kekuatan yang paling bersemangat menggelorakan pertempuran-pertempuran besar di Aleppo.
Sebagaimana diketahui, Mujahidin Jabhah Nushroh bahkan telah terlebih dahulu menegakkan Komite Syariah untuk Wilayah Timur (kadang disebut sebagai Imarah Islam Suriah) di daerah sepanjang lembah Sungai Eufrat yang berada di bawah kendali mereka. Di kawasan ini, syariat Islam telah diberlakukan, seperti di kota-kota Raqqah, dan Deir Al Zour.
Dari fakta-fakta ini terbukti dan terpampang harapan besar kepada seluruh Mujahidin Bumi Syam, bahwa Raksasa yang sedang tertidur dari umat ini, yakni Khilafah akan bangkit kembali dari bumi yang diberkahi tersebut, yakni Bumi Syam. Kemungkinan inilah (tegaknya Khilafah) yang sangat dikhawatirkan oleh seluruh pihak yang bertikal di Suriah, kecuali kaum Muslimin di seluruh dunia yang memang sudah merindukan tegaknya kembali Khilafah Islam.
Syekh Abu Mush’ab As Suri dalam bukunya “Rezim Nushairiyah” menukilkan beberapa hadits terkait Bumi Syam yang diberkahi dan kabar-kabar gembira akan tegaknya kekuasaan Islam di sana.
Rasulullah SAW., bersabda : “Asal negeri kaum mukminin adalah di Syam” (HR Ahmad dan Ibnu Sa’ad)
Juga sabdanya: “Aku melihat tiang-tiang Al-Kitab tercabut dari bawah bantalku. Aku melihat bahwa ia adalah cahaya terang yang mengarah ke Syam. Ketahuilah bahwa iman itu ada di Syam apabila telah terjadi fitnah.” (Hadits Shahih)
Rasulullah juga bersabda : “Akan keluar api pada akhir zaman dari Hadramaut menggiring manusia.” Kami bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kalian harus berada di Syam.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Al Fitan)
Rasulullah SAW., bersabda pula : “Benteng pertahanan kaum Muslimin pada hari Malhamah adalah di daerah Al-Ghauthah hingga sisi kota yang bernama Damaskus, pusat dari kota-kota Syam.” (HR Abu Daud, Hakim, dan Ahmad)
Juga sabda beliau : “Isa bin Maryam a.s., turun di menara putih sebelah timur Damaskus.” (HR At Thabrani)
Juga kabar pamungkas dari Rasulullah SAW., akan segera tegaknya kembali Khilafah yang bermanhaj kenabian. Rasulullah SAW., bersabda :
“…Kemudian akan ada Khilafah di atas Minhaj Nubuwwah.”
Kabar gembira dari Nabi Muhammad SAW., akan kemenangan umat Islam di Bumi Syam yang diberkahi satu persatu mulai menampakkan kebenarannya hingga nanti datangnya (malhamah kubro) huru hara besar, di mana kita (umat Islam) memerangi yahudi sedangkan kita di sebelah timur sungai dan mereka (yahudi) berada di sebelah baratnya, persis sebagaimana dikabarkan Nabi SAW., bahwa akhirnya pohon-pohon dan batu-batu ikut berperang bersama kita, hingga akhirnya Al Quds di Palestina bisa dibebaskan oleh kaum Muslimin. Allahu Akbar!
Wallahu’alam bis showab!
M Fachry
International Jihad Analysis
Senin, 13 Jumadil Ula 1434 H/25 Maret 2013 M
Al-Mustaqbal Channel-Masa Depan Islam
http://al-mustaqbal.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar