Jumat, 22 Maret 2013

Pentingnya Doa Bagi Mujahidin

Pentingnya Doa Bagi Mujahidin

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Penguasa alam semesta. Apa yang Dia kehendaki terwujud; dan apa yang tidak dikehendaki olehnya tak pernah wujud. Shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Wajib diyakini setiap muslim, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh sebab fisik saja. Inti utamanya terletak pada ketergantungan diri kepada Allah, Rabb semesta alam. Ini diwujudkan dengan memperbanyak doa saat di medan jihad. Yakni kaum muslimin dan para mujahidin menengadahkan tangan-tangan mereka kepada Allah dengan penuh ketundukan dan kerendahan, agar Allah menolong agama-Nya dan menghancurkan musuh-musuh-Nya. Dengan izin Allah, kemenangan atas musuh Islam akan diraih.
Namun perlu diketahui, tidak cukup hanya dengan doa. Harus pula disiapkan sebab-sebab fisik untuk meraih kemenangan berupa persiapan kekuatan dan senjata dalam jihad Bil Anfus (jihad dengan jiwa), perbekalan dan biaya dalam jihad bil maal, dan jihad media sebagai praktek jihad bil alsun (lisan); serta sarana-sarana lain yang dibutuhkan dalam perang antara kekuatan Islam dan kekuatan kafir.
Sesungguhnya para sahabat telah mempraktekkan doa untuk kemenangan Islam ini; bersamaan dengan itu mereka maju ke medan perang. Mereka serius berdoa dengan segala ketundukan dalam menjalankan proyek perjuangan untuk kemenangan agama Allah. Karenanya sebelum berangkat perang, mereka diingatkan bahwa sebab utama kemenangan adalah doa. Penyempurnanya adalah perjuangan, amal, dan personel mujahidin. Adapun orang yang banyak berdoa tapi tidak punya proyek nyata (jihad) untuk kemenangan agama ini, maka ia seperti seorang pelajar yang memiliki prestasi buruk lalu ia bedoa kepada Allah agar sukses dalam studinya dan lulus dengan nilai baik. Tapi ia tidak belajar dan tidak melakukan persiapan ujian, apakah ia akan sukses dalam studinya tersebut? Pastinya tidak. Maka perlu diketahui, dien ini memerlukan pasukan-pasukan yang siap memenangkannya di seluruh lapangan perjuangan.
Kemenangan bukan hanya dengan doa saja sebagaimana pula tidak dengan kekuatan fisik semata. Tidak pula ditentukan oleh banyaknya jumlah personelnya. Sesungguhnya kemenangan bisa diraih dengan menggabungkan semua itu dan tidak memisahkan sebagiannya dari yang lain.
Allah telah mengisahkan tentang Thaluth dan pasukannya saat pasukan Iman berjumlah lebih sedikit ini akan menghadapi pasukan Jalut yang berjumlah lebih besar, mereka berdoa:
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
"Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 250)
Maka mereka berhasil mengalahkan dan menghancurkan tentara Jalut dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sebab-sebab yang mereka usahakan, "Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut." (QS. Al-Baqarah: 251)
Doa Rasulullah Saat Perang Badar
Sejarah peperangan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membuktikan pentingnya doa dalam amaliyah jihad. Yakni saat perang Badar, tepatnya pada malam peperangan, di mana para sahabat tertidur kecuali Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Beliau tidak tidur di malam itu. Beliau shalat di bawah batang pohon dan banyak berdoa di sujudnya "Ya Hayyu Ya Qayyum," beliau mengulang-ulangnya  dengan meminta pertolongan kepada Allah. (Al-Bidayah wa al-Nihayah: 5/82)
Kemudian saat pagi tiba dan terlihatlah pasukan Quraisy, beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam berdoa,
اللّهُمّ هَذِهِ قُرَيْشٌ قَدْ أَقْبَلَتْ بِخُيَلَائِهَا وَفَخْرِهَا ، تُحَادّك وَتُكَذّبُ رَسُولَك ، اللّهُمّ فَنَصْرَك الّذِي وَعَدْتنِي ، اللّهُمّ أَحِنْهُمْ الْغَدَاةَ
"Ya Allah, Inilah Quraisy, mereka datang dengan segala kesombongan dan kebanggan mereka. Mereka menantang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, kurniakan kemenangan yang telah Engkau janjikan kepadaku . Ya Allah, binasakanlah mereka pada pagi ini." (Sirah Ibnu Hisyam: 3/164)
Diriwayatkan dari Umar bin Khathab Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Pada perang Badar, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melihat para sahabatnya berjumlah 300 lebih sedikit, dan melihat kepada kaum musyrikin berjumlah seribu lebih. Kemudian beliau menghadap kiblat sambil mengangkat tangan dengan selendang dan surban di pundaknya, beliau berdoa,
اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِى مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِى الأَرْضِ
"Ya Allah, penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, tidak ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi ini." (HR. Muslim dan Ahmad)
Beliau terus menerus meminta pertolongan dan berdoa kepada Allah sehingga jatuhlah kain surban dari kedua pundaknya. Abu Bakar menghampiri dan meletakkan kembali kain surban itu di pundaknya. Abu Bakar terus berada di belakang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu berkata:
يَا نَبِىَّ اللَّهِ كَذَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ
"Wahai Nabi Allah! Inilah sumpahmu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang dijanjikan-Nya kepadamu.
Inilah keadaan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya dalam perang Badar, mereka banyak berdoa kepada Allah. karenanya, Allah menyifati mereka sbeagai orang-orang yang banyak beristighatsah (memohon pertolongan) kepada-Nya, banyak berharap dan berdoa kepada-Nya,
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّى مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُرْدِفِينَ
"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut"." (QS. Al-Anfal: 9)
Pertanyaan bagi kita, di mana posisi kita dari meneladani Rasulullah bersama para sahabatnya dalam mendoakan kemenangan untuk mujahidin dan mendoakan kehinaan atas musuh-musuh mereka?
Bagi mujahidin (aktifis jihad) saat berperang agar banyak menengadahkan tangan kepada Allah dengan penuh kerendahan untuk memohon pertolongan kepada-Nya. Harapannya, Allah akan mengijabahi doa kita sehingga menaklukkan musuh-musuh kita, memenangankan peperangan kita, menambah jumlah pasukan dari sisi-Nya sebagaimana yang pernah diberikan kepada Rasulullah dan para sahabatnya, yakni pasukan malaikat yang diutus dari sisi-Nya saat mereka berdoa kepada Allah dalam perang Badar. Dengan ini orang-orang kafir menjadi ciut hatinya dan lari terbirit-birit dengan kekalahan.
Ringkasnya, doa dan memohon pertolongan kepada Allah dalam peperangan harus menyatu dalam diri mujahidin saat berada medan jihad. Doa menjadi senjata utama yang tak boleh mereka tinggalkan. Karenanya Syaikh al-Mujahid Abu Hamzah Al-Muhajir dalam kitabnya Zaad al-Mujahid, mencantumkan doa sebagai bekal bagi mujahidin para bab-bab awal dari kitabnya tersebut, yang ini menunjukkan pentingnya bekal doa dalam jihad.
Imam Al-Tirmidzi menulis bab dalam kitab Jami'-nya, "Bab tentang doa apabila berperang". Lalu beliau menyebutkan hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila berperang, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ أَنْتَ عَضُدِي وَأَنْتَ نَصِيرِي وَبِكَ أُقَاتِلُ
"Ya Allah, Engkau adalah lenganku (penolongku). Engkau adalah pembelaku. Dengan pertolongan-Mu aku berperang" (HR. Ahmad dan Al-Tirmidzi. Syaikh A-Albani berkata: Shahih).
Semoga Allah melimpahkan kesabaran kepara para mujahidin di mana saja mereka berada, meneguhkan pendirian mereka, dan menghadiahkan kemenangan untuk mereka. Semoga kita dijadikan sebagai bagian dari mereka. Aamiin! Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com/anshoruttauhidwassunnahwaljihad]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar