Sabtu, 02 Maret 2013

RUNTUHNYA NYALI SANG KOMANDAN DI GUNUNG BIRU (dialog imajinasi antara warga dengan salah satu komandan lapangan TNI)

RUNTUHNYA NYALI SANG KOMANDAN DI GUNUNG BIRU
(Dialog Imajinasi antara warga dengan salah satu komandan lapangan TNI)

Sore itu angin bertiup pelan, mendung mulai menutupi langit, terlihat sekumpulan warga sedang duduk-duduk santai di teras sebuah rumah sambil menikmati secangkir kopi dan pisang goreng. seorang anggota TNI terlihat ikut bergabung dan ngobrol dengan mereka.
"Gimana pak, kerasan ya tinggal di sini? tanya seorang warga.
"Ya, gimana lagi Daeng, kerasan ngga kerasan ya harus tetap tinggal pak. jawab sang TNI,
"Tapikan enak disini komandan, udaranya sejuk, bisa santai. sahut warga yang lain,
'Kalau mau santai dan enak si, saya lebih suka di rumah pak, kumpul dengan keluarga, tapi namanya juga tugas mau gimana lagi." jawab TNI dengan liri, "kami semua ini kalau memang bisa menolak pasti tidak ada yang mau dikasih tugas di sini Daeng, kami lebih pilih tugas di tempat lain. belum lagi kalau mau berangkat istri dirumah sudah nangis-nangis ketakutan duluan.berat rasanya pak.
"iya ya pak, katanya sudah tembus operasi ke gunung ya pak?"
"iya pak, kami sempat naik dan tembus ke danau di atas.jauh juga pak."
"sama ama BRIMOB ya pak?'
"aduh pak.kecewa betul kami ini sama BRIMOB itu.cerita aja besar, nyali tidak ada, mereka maunya cuma patroli naik motor, tidak mau menyisi gunung. padahal ini tugas mereka.tapi kami yang jadi korban. apalagi anggota densus sombong betul mereka itu."
"kok bisa pak?
"iya pak,dari awal kami sudah jengkel sama mereka maunya ngatur, tapi datang giliran menyisir hutan mereka pasti berjalan paling belakang, kalau pulang mereka paling duluan. perlengkapan mereka lebih lengkap, makanan lebih enak, gaji lebih banyak, kami mau dijadikan tameng sama mereka, kurang ajar betul mereka itu."
"baru bagaimana keadaan di atas pak?"
"susah betul naik keatas gunung itu pak, terjal, kita mesti banyak merangkak. banyak jurang dan dinding terjal berbatu belum lagi kalau di tembak dari atas.
"tidak takut pak?"
"ya takut juga pak, ngga bisa dengar suara sedikit langsung kami rentet pak, jaga kemungkinan, cari amannya Daeng."
"terus di atas bagaimana pak?"
"jangan bilang orang pak, kami sebenarnya sempat ketemu kelompoknya Santoso di atas pak, kami sempat negosiasi dengan mereka, mereka suruh kita pulang pak.
"kok bisa?"
"iya pak, mereka suruh kami pulang, mereka bilang tidak ada urusan dengan TNI, mereka mau Densus yang naik. Densus yang mereka tunggu.
"terus pak?"
"ya kami balik pak, kita sudah dikepung sama mereka, biar cuma dilempar batu dari atas mati semua kami.., aduh pak, banyak mereka, bukan hanya 30an orang biar wanita ada pak. badannya besar besar pak. saya yakin bukan orang sini mereka, seperti badan orang-orang luar negeri. ngeri betul kita pak, terpaksa tarik mundur pasukan pak.:
" kok ngga melawan pak?'
"adu pak, kami ini juga manusia pak, kami juga tahu mereka itu tidak takut mati, mereka di sana cari surga, lah kita, cuma cari makan. lebih baik kami mundur daripada mati disana pak."
emangnya saat itu BRIMOB tidak ikut pak?"
"wala, brimob ngga bakalan berani ke atas pak, cuma menang gaya aja mereka. kalo mereka ikut naik, abis sudah kita pak, saya saja gemetar ketakutan pak."
"ngeri juga komandan ya,"
"aya ini kalau cuma bisa pindah tugas, mau pindah pak, biar bayar juga mau pak, susah melawan orang ngga takut mati gitu pak.'

NB: tulisan ini berdasarkan cerita beberapa personil TNI kepada warga Tamanjeka. Tulisan ini bukan bermaksud keberpihakan kami terhadap TNI, hanya menggambarkan hancurnya moral personil thogut NKRI dan kepengecutan mereka
 
source : Dayan WK, FB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar